NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Bima bergerak cepat, jauh lebih cepat dari pikirannya sendiri yang masih kacau. Tangannya gemetar saat merobek kain dari bajunya, lalu mengikat pergelangan tangan Aira yang berlumuran darah. Darah itu hangat, terlalu hangat, dan terus merembes melewati sela-sela kain.

“Aira… bertahanlah,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Tanpa menunggu lebih lama, Bima mengangkat tubuh Aira. Tubuh itu terasa ringan, terlalu ringan untuk seseorang yang selama ini selalu terlihat kuat di hadapannya. Kepalanya terkulai lemah di bahu Bima.

Beberapa pintu kamar kos terbuka. Para tetangga yang mendengar keributan mulai keluar, wajah mereka dipenuhi rasa penasaran yang berubah menjadi keterkejutan begitu melihat darah.

“Ya Tuhan… itu Aira?” bisik salah satu dari mereka.

“Apa yang terjadi?”

Bima tidak menjawab. Ia tidak punya waktu untuk menjelaskan, bahkan tidak punya keberanian untuk menatap mereka. Tanpa berkata apa pun, ia membawa Aira keluar dan segera memasukkannya ke dalam mobil.

Pintu ditutup keras. Mesin dinyalakan. Mobil melaju kencang, meninggalkan suara bisik-bisik dan tatapan penuh tanya di belakang.

Di dalam mobil, hanya ada suara napas Bima yang tidak teratur dan detak jantungnya yang terasa menghantam dadanya sendiri.

Pikirannya kacau.

Apa yang sebenarnya ia lakukan selama ini?

Apakah ia memang seegois itu?

Ia menggenggam setir lebih erat, rahangnya mengeras.

Ia ingin membalas sakit hatinya. Ia ingin Aira merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan, bagaimana rasanya dihancurkan. Itu saja.

Namun yang ia lihat sekarang bukanlah pembalasan.

Ini kehancuran.

Dan entah kenapa, ia tidak merasakan kemenangan sedikit pun.

“Kenapa…” bisiknya lirih.

Ia melirik ke arah Aira yang terbaring di kursi belakang. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, dan napasnya lemah.

Ketakutan itu datang begitu saja.

Bima, yang selama ini merasa mampu mengendalikan segalanya, kini justru merasa tidak berdaya.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sakit. Bima turun dengan tergesa-gesa, membuka pintu belakang, lalu kembali mengangkat Aira.

“Tolong! Tolong!” serunya saat memasuki ruang IGD.

Beberapa perawat segera menghampiri.

“Pasien kehilangan banyak darah!” kata Bima cepat.

Aira langsung dipindahkan ke brankar. Tangan-tangan terlatih mulai bekerja, membawa Aira masuk ke dalam ruang penanganan darurat.

Pintu tertutup.

Dan dalam sekejap, Bima ditinggalkan sendirian.

Ia berdiri beberapa detik, lalu perlahan duduk di kursi tunggu. Tangannya masih berlumuran darah Aira. Ia menatapnya lama, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Waktu berjalan lambat.

Satu menit terasa seperti satu jam.

Bima menundukkan kepala, menyandarkan sikunya di lutut, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ia teringat masa lalu.

Aira yang tersenyum di sampingnya saat SMA. Aira yang selalu ceria, selalu penuh semangat, selalu menjadi seseorang yang membuat hari-harinya terasa lebih ringan.

Apakah semua itu hanya permukaan?

Apakah selama ini Aira menyimpan luka yang tidak pernah ia lihat?

Atau… ia memang tidak pernah benar-benar mencoba melihat?

“Aku ini…” gumamnya lirih, suaranya penuh penyesalan.

Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.

Karena bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menyebut dirinya.

Satu jam berlalu.

Akhirnya, pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar, melepas sarung tangan sambil berjalan mendekati Bima.

Bima langsung berdiri.

“Dok… bagaimana keadaannya?” tanyanya, suaranya tegang.

Dokter itu menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Pasien selamat.”

Bima menghela napas panjang, bahunya sedikit turun, namun wajahnya masih tegang.

“Sayatan di pergelangan tangannya tidak cukup dalam untuk menyebabkan kematian,” lanjut dokter itu. “Namun, dia kehilangan cukup banyak darah. Kami sudah menanganinya. Saat ini kondisinya stabil, tapi masih perlu observasi.”

Bima mengangguk pelan.

“Terima kasih, Dok…”

Dokter itu kemudian bertanya, “Anda keluarganya?”

Pertanyaan itu membuat Bima terdiam.

Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya menjawab, “Saya… atasannya.”

Dokter itu sedikit mengernyit, tapi tidak memperpanjang.

“Baik. Untuk sementara, tunggu saja sampai kondisinya benar-benar stabil. Setelah itu, pasien kemungkinan akan sadar.”

“Baik, Dok.”

Dokter itu pergi, meninggalkan Bima kembali sendirian dengan pikirannya.

Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Ayunda,” katanya begitu panggilan tersambung. “Ke rumah sakit sekarang. Aira…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Namun nada suaranya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.

Beberapa waktu kemudian, Ayunda datang dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya pucat, napasnya terengah.

Di matanya terlihat jelas kepanikan.

Ia langsung menuju kamar perawatan tempat Aira dipindahkan. Melihat Aira terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang, dengan selang infus terpasang di tangannya, Ayunda menutup mulutnya.

“Aira…” bisiknya, suaranya bergetar.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Namun ia tidak menangis lama. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Bi… cepat ke rumah sakit,” katanya dengan suara terburu-buru. “Aira… Aira di sini…”

Setelah itu, ia menutup telepon dan berjalan keluar mencari Bima.

Ia menemukan pria itu duduk termenung di kursi tunggu, menatap lantai seolah tidak ada hal lain yang lebih menarik untuk dilihat.

Ayunda berjalan cepat mendekatinya.

“Pak Bima,” panggilnya, suaranya tegas meski emosinya jelas tidak stabil. “Apa yang terjadi?”

Bima mengangkat wajahnya perlahan.

“Aira…” ia berhenti sejenak. “Saya menemukannya di kos. Dia sudah seperti itu. Tangannya…”

Ia tidak sanggup melanjutkan.

Ayunda menatapnya tajam.

“Menyayat tangannya?” tebak Ayunda.

Bima mengangguk pelan.

“Dia kehilangan banyak darah. Tidak sadarkan diri.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Namun hanya berlangsung sesaat.

Karena kemudian, emosi Ayunda meledak.

“Ini semua karena Anda!” suaranya meninggi, membuat beberapa orang di sekitar menoleh.

Bima terdiam.

“Kalau saja Anda berani bersikap tegas dari awal, semua ini tidak akan terjadi!” lanjut Ayunda, matanya penuh amarah. “Anda tahu apa yang dilakukan Pandu! Anda melihat semuanya! Tapi Anda diam!”

Bima menunduk.

Ia tidak membela diri.

Karena ia tahu… Ayunda tidak salah.

“Anda memilih diam karena dia sahabat Anda, kan?” suara Ayunda bergetar. “Atau karena dia anak orang penting?”

Tidak ada jawaban.

“Sekarang lihat akibatnya!” lanjutnya. “Aira hampir kehilangan nyawanya!”

Setelah itu, Ayunda menunjuk ke arah luar.

“Pergi,” katanya dingin. “Tolong… jangan mendekati Aira lagi.”

Bima terdiam beberapa detik.

Lalu ia berdiri.

Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kesedihan.

“Baik,” katanya pelan.

Tidak ada pembelaan. Tidak ada bantahan.

Ia berbalik, lalu berjalan pergi.

Langkahnya berat.

Setiap langkah terasa seperti hukuman.

Dan mungkin memang itu yang pantas ia terima.

Sore harinya, suasana rumah sakit kembali berubah ketika dua orang datang dengan wajah panik.

Seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang tampak lebih tua darinya.

Bibi dan paman Aira.

Begitu melihat kondisi Aira, sang bibi langsung terdiam. Tangannya gemetar, matanya menatap keponakannya dengan tidak percaya.

“Aira…” suaranya pecah.

Ia mendekat, lalu memegang tangan Aira dengan hati-hati.

“Kenapa bisa seperti ini…” bisiknya, air matanya mulai jatuh.

Paman Aira berdiri di samping, wajahnya tegang, rahangnya mengeras menahan emosi.

Ayunda yang berdiri di dekat mereka akhirnya berbicara.

“Bibi… Aira… dia punya masalah di kantor.”

Bibi Aira menoleh.

“Masalah apa?” tanyanya dengan suara gemetar.

Ayunda menarik napas dalam.

“Dia diganggu oleh seorang manajer,” katanya perlahan. “Orang itu… anak dari seseorang yang sangat berpengaruh di perusahaan.”

Wajah bibi Aira berubah.

“Diganggu?” ulangnya.

Ayunda mengangguk.

“Aira melawan. Tapi… dia justru diancam. Katanya… dia bisa dipenjara.”

Bibi Aira menutup mulutnya, menangis semakin keras.

“Ya Tuhan… Aira…” isaknya.

“Dia tidak pernah cerita…” lanjutnya dengan suara hancur. “Selama ini dia selalu bilang baik-baik saja…”

Paman Aira mengepalkan tangannya.

“Siapa orang itu?” tanyanya dengan suara rendah, menahan amarah.

Ayunda terdiam sejenak.

Namun akhirnya ia menjawab, “Namanya Pandu.”

Nama itu menggantung di udara.

Membawa serta kemarahan, rasa bersalah, dan luka yang belum selesai.

Di dalam ruangan itu, Aira masih terbaring diam.

Namun di sekelilingnya, semuanya telah berubah.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!