NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Gerbang Besi

Fajar hari ketiga sejak pembantaian di Desa Daun Kering akhirnya menyingsing.

Di perbatasan paling luar Pegunungan Sepuluh Ribu Buas, atap dedaunan mulai merenggang, membiarkan cahaya matahari pagi menyinari hamparan tanah tandus berbatu. Dari balik semak belukar yang rimbun, sesosok pemuda melangkah keluar.

Rambutnya panjang sebahu, kusut masai dan dipenuhi debu. Jubah yang ia kenakan sudah tidak pantas disebut pakaian, hanya berupa cabikan kain kotor yang dilumuri lumpur kering dan noda darah yang telah menghitam. Ia berjalan tanpa alas kaki, menginjak kerikil tajam, namun ekspresinya sedatar air danau yang membeku.

Itu adalah Chu Chen.

Perjalanannya keluar dari Zona Rawa Beracun tidaklah mudah. Ia harus menghindari wilayah kekuasaan Binatang Buas Tingkat 2 lainnya, mengandalkan naluri naga dan kelincahan fisiknya di Puncak Lapis Kelima Alam Penempaan Raga untuk menyelinap bagaikan hantu. Sesekali ia membunuh beberapa binatang tingkat rendah yang menghalanginya, menghisap sisa energi mereka untuk mempertahankan tenaga fisiknya.

Kini, hutan neraka itu telah berada di belakangnya. Di depan matanya, sekitar lima mil jauhnya, menjulang sebuah dinding raksasa berwarna hitam pekat yang terbuat dari balok-balok batu cadas hitam legam yang kasar. Dinding itu membentang membelah cakrawala, memisahkan wilayah liar dari peradaban manusia.

"Kota Gerbang Besi," gumam Chu Chen, mengingat cerita Kepala Desa Lin di masa lalu.

Ini adalah kota perbatasan terbesar di wilayah timur Benua Biru Langit. Kota ini bukanlah tempat bagi rakyat jelata yang damai, melainkan surga bagi para pendekar bayaran, pemburu binatang buas, buronan, dan kultivator pengembara. Hukum di tempat ini sangat sederhana: siapa yang memiliki tinju paling keras, dialah yang membuat aturan.

Chu Chen melangkah menuju kota tersebut. Saat ia mendekati gerbang raksasa setinggi tiga puluh meter yang terbuka lebar, pemandangan dunia kultivasi perlahan terbentang di depannya.

Kereta-kereta kuda yang ditarik oleh Kuda Bersisik Angin berlalu lalang. Sesekali, terlihat kilatan cahaya dari langit saat seorang kultivator Alam Lautan Qi terbang melintas di atas pedang terbang mereka, memicu tatapan iri dari para kultivator Penempaan Raga di bawah.

Chu Chen menutupi Kantong Penyimpanan curiannya di balik sisa jubahnya dengan sangat hati-hati. Ia sangat mengerti pepatah: 'Orang tidak bersalah, tapi membawa harta adalah sebuah kejahatan'. Jika seorang gembel sepertinya terlihat membawa Kantong Penyimpanan, ia akan dikeroyok dan dimutilasi sebelum bisa mengambil sepuluh langkah. Ia hanya membawa sebuah bungkusan kulit serigala berisi beberapa pasang cakar Serigala Tulang Besi yang ia potong semalam.

Ia menyelinap masuk melalui gerbang kota, berbaur dengan kerumunan para pemburu yang baru kembali dari hutan. Begitu melewati lorong gerbang yang gelap, hiruk pikuk kota perbatasan langsung menghantam telinganya.

Jalanan yang diaspal dengan batu hijau dipenuhi oleh berbagai macam toko. Ada Paviliun Obat yang menguarkan aroma pil, Kedai Senjata yang memajang pedang-pedang tajam, dan rumah-rumah pelacuran yang memancarkan aroma bedak murahan.

Namun, penampilan Chu Chen terlalu mencolok. Bau amis darah dan lumpur rawa yang menyengat dari tubuhnya membuat orang-orang di jalanan serta-merta menyingkir dan menutup hidung.

"Minggir, pengemis busuk! Kau mengotori udara!" bentak seorang penjaga toko saat Chu Chen lewat.

Chu Chen mengabaikan hinaan itu. Ia telah mendengar kata-kata yang jauh lebih buruk selama lima belas tahun hidupnya. Tatapannya terus menyapu jalanan dengan tenang, menelaah kekuatan rata-rata orang-orang di sekitarnya.

Kebanyakan dari mereka berada di Alam Penempaan Raga Lapis Ketiga hingga Keenam, batin Chu Chen. Tidak ada ahli Lautan Qi yang berjalan kaki. Peradaban manusia memang mengumpulkan lebih banyak Qi, tetapi fisik mereka... terlalu rapuh dibandingkan binatang buas.

Setelah berjalan melewati dua persimpangan jalan, Chu Chen berhenti di depan sebuah toko kumuh bertuliskan "Kedai Pertukaran Angin Hitam". Dari luar, toko ini terlihat melayani perdagangan bahan binatang buas tingkat rendah.

Chu Chen melangkah masuk. Lonceng angin bergemerincing kusam.

Di balik meja depan dari kayu keras, seorang pria gemuk dengan kumis melintang sedang menghitung koin emas. Ia mendongak, dan wajahnya langsung berkerut jijik saat melihat penampilan Chu Chen.

"Keluar! Ini bukan dapur umum untuk pengemis!" usir pria gemuk itu sambil melambaikan tangannya seolah mengusir lalat.

Tanpa berbicara sepatah kata pun, Chu Chen melangkah ke meja dan meletakkan bungkusan kulit serigalanya. Ia membukanya, memperlihatkan lima pasang cakar Serigala Tulang Besi yang masih berkilau tajam.

Mata pria gemuk itu sedikit melebar. "Cakar Serigala Tulang Besi? Kualitasnya... sangat utuh. Tidak ada retakan sama sekali. Bagaimana pengemis sepertimu bisa membunuh makhluk Lapis Keempat ini tanpa merusak cakarnya?"

"Tiga koin emas dan satu set jubah kultivator pengembara bersih," potong Chu Chen dengan nada dingin dan tanpa riak perasaan. "Aku tidak di sini untuk bercerita."

Pria gemuk itu menyipitkan matanya, menatap Chu Chen dari atas ke bawah. Ia merasakan bahwa pemuda ini sama sekali tidak memiliki gejolak Qi di Dantiannya. Di dunia ini, tidak ada gejolak Qi berarti fana biasa atau Lapis Pertama.

Sebuah senyum licik terukir di wajah pria gemuk itu. Harga lima pasang cakar serigala ini setidaknya bernilai sepuluh koin emas di pasaran. Anak ini jelas tidak tahu harga, atau... anak ini sedang putus asa dan kelemahan ini bisa dimanfaatkan.

"Tiga koin emas? Kau bermimpi, Nak," cemooh pria gemuk itu. Ia tiba-tiba meraih bungkusan cakar tersebut dan menariknya ke sisinya. "Kau mencuri ini dari mayat pemburu lain, kan? Berani sekali kau membawa barang curian ke tokoku. Untung aku sedang berbaik hati. Aku akan menyita barang ini dan tidak melaporkanmu pada penjaga kota. Sekarang, enyah dari sini!"

Ini adalah hukum rimba versi kota. Pemerasan terang-terangan yang dilakukan oleh yang kuat terhadap yang lemah. Pria gemuk itu sengaja melepaskan aura Lapis Keenam Penempaan Raga dari tubuhnya, mencoba menekan mental Chu Chen hingga berlutut ketakutan.

Bagi seorang fana biasa, tekanan Lapis Keenam akan membuat mereka sesak napas dan lari terbirit-birit.

Namun Chu Chen hanya berdiri diam. Ekspresinya tidak berubah sama sekali. Pria ini mencoba menekannya dengan aura Lapis Keenam? Chu Chen telah menahan tekanan mematikan dari Penatua Alam Lautan Qi dan menelan mentah-mentah pemimpin regu Lapis Ketujuh semalam. Aura pria gemuk ini tidak lebih dari hembusan angin dari seekor anak kucing.

"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi," suara Chu Chen terdengar sangat tenang, terlalu tenang. Matanya yang hitam perlahan memancarkan kilatan emas yang samar. "Tiga koin emas. Dan sebuah jubah."

"Anak keparat, kau tuli—"

Pria gemuk itu kehilangan kesabarannya. Tangan kanannya yang gemuk terulur, mencoba meraih leher Chu Chen untuk melemparnya keluar toko.

Namun, sebelum jari pria itu menyentuh kerah bajunya, pergerakan dunia di mata Chu Chen seolah melambat.

Slap!

Tangan kanan Chu Chen bergerak lebih cepat dari kilat, mencengkeram pergelangan tangan pria gemuk itu di udara.

Pria gemuk itu terkejut. Ia mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Chu Chen terasa seperti jebakan baja yang tidak bisa digoyahkan. Seberapapun kuat ia mengerahkan tenaga Lapis Keenamnya, tangan remaja kurus di depannya tidak bergeser satu cun pun.

"Kau..." Pria gemuk itu memucat. Keringat dingin tiba-tiba membasahi punggungnya. Ia menyadari sebuah kengerian yang terlambat: kekuatan fisik pemuda ini tidak masuk akal!

"Tidak ada yang boleh merampas milikku lagi," bisik Chu Chen, memiringkan kepalanya sedikit.

KRAK!!

"AAAAAAARGHHH!"

Jeritan melengking merobek kesunyian toko. Chu Chen memutar pergelangan tangan pria itu setengah putaran ke arah yang berlawanan. Tulang lengannya patah seketika, menembus kulit dan menyemburkan darah segar ke atas meja.

Pria gemuk itu ambruk ke lantai di balik meja depan, memegangi lengannya yang hancur, gemetar hebat dalam rasa sakit yang membutakan.

Chu Chen melangkah memutari meja. Ia tidak menggunakan Seni Kaisar Naga. Pria busuk ini tidak pantas mengotori darah naganya, dan menggunakan sihir pelahap di tengah kota terlalu berisiko mengungkap jati dirinya. Ia hanya menunduk, menatap pria yang merintih itu dengan mata pemangsa.

"K-koin... ambil koinnya! Ambil semuanya! Tolong jangan bunuh aku!" erang pria gemuk itu sambil menangis, menunjuk ke arah kotak kayu di bawah meja.

Chu Chen menendang kotak itu hingga terbuka, memperlihatkan ratusan koin emas dan beberapa koin perak. Ia hanya mengambil lima koin emas, lalu menatap sebuah pintu di belakang toko yang tampaknya mengarah ke ruang ganti.

Beberapa menit kemudian, Chu Chen keluar dari toko itu. Ia tidak lagi terlihat seperti pengemis hutan.

Kini ia mengenakan jubah kultivator berwarna hitam legam dengan jahitan sederhana. Rambutnya telah diikat rapi ke belakang. Meskipun wajahnya masih menyimpan sedikit sisa kepolosan remaja lima belas tahun, ketajaman di matanya dan pedang baja biasa yang terselip di pinggangnya membuat siapa pun yang berpapasan dengannya secara naluri memberi jalan.

Ia membersihkan tangannya dan berjalan menuju pusat kota, mencari kedai teh yang ramai. Tempat paling berisik adalah tempat terbaik untuk mencari kabar berita.

Begitu ia duduk di sudut sebuah kedai teh dua tingkat dan memesan secawan air hangat, telinganya langsung menangkap pembicaraan dari meja sebelah yang diisi oleh tiga kultivator muda.

"Kau sudah mendaftar? Kudengar tahun ini persyaratannya sangat ketat."

"Tentu saja! Ini adalah Sekte Awan Suci! Mereka hanya membuka perekrutan Murid Luar tiga tahun sekali. Siapa yang tidak ingin masuk ke dalam sekte raksasa?"

"Tapi perjalanan ke Kota Kekaisaran Langit... itu berjarak sepuluh ribu mil dari sini. Kita harus menyewa tempat di Kapal Terbang Awan Merah bulan depan jika ingin tiba tepat waktu untuk ujian masuk."

Mendengar itu, mata Chu Chen yang memegang cawan teh sedikit menyipit.

Sekte Awan Suci. Perekrutan Murid Luar bulan depan, batinnya, sebuah rencana yang gila mulai tersusun di dalam benaknya yang dingin. Tampaknya, langit sendiri yang sedang membukakan gerbang untukku.

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!