NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendaftaran Dan Pertemuan Dengan Sang Putri

Cahaya matahari pagi yang hangat menyelinap masuk melalui jendela besar di kamar baru Arlan, memantul di lantai marmer yang mengilap. Arlan terbangun tepat saat lonceng kota berbunyi tujuh kali. Dia tidak lagi terbangun oleh suara atap yang bocor atau hawa dingin yang menusuk tulang, melainkan oleh kenyamanan yang selama tujuh tahun ini hanya menjadi mimpi bagi ibunya. Arlan bangkit dari tempat tidur, merasakan kelembutan karpet bulu di bawah kakinya. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia sudah sangat terbiasa dengan kemewahan seperti ini, namun ada rasa puas yang berbeda saat dia mendapatkannya kembali melalui kekuatannya sendiri di dunia ini.

Setelah membersihkan diri dan mengenakan seragam calon mahasiswa akademi yang telah disiapkan, Arlan turun ke lantai bawah. Elena sudah menunggunya dengan sarapan yang sangat layak. Ada roti gandum segar, madu hutan, dan buah buahan yang manis. Elena tampak jauh lebih segar, meskipun gurat kecemasan masih sesekali terlihat di matanya. Dia tahu bahwa hari ini Arlan akan melangkah masuk ke pusat kekuasaan kerajaan, tempat di mana intrik dan bahaya jauh lebih besar daripada di Desa Oakhaven.

"Arlan, makanlah yang banyak. Hari ini akan menjadi hari yang panjang bagimu," ucap Elena sambil meletakkan segelas susu hangat di depan Arlan.

Arlan mengangguk pelan. "Ibu tidak perlu khawatir. Di tempat seperti akademi, mereka lebih mementingkan aturan dan etiket. Tidak akan ada orang yang berani menyerang secara terang terangan seperti di hutan."

Meskipun berkata demikian, Arlan tahu itu adalah kebohongan kecil untuk menenangkan ibunya. Di tempat di mana para jenius berkumpul, serangan bisa datang dalam bentuk politik, pengucilan, atau tantangan duel yang sah secara hukum. Arlan menghabiskan sarapannya dengan cepat. Dia bisa merasakan aliran energi dari Gerbang Ketiga yang mengalir stabil di dalam tubuhnya. Dia sudah siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di pendaftaran nanti.

Tepat pukul delapan, sebuah ketukan terdengar di pintu depan. Master Eldrian datang sendiri dengan jubah penyihir agungnya yang berwarna biru tua. Kehadiran seorang Penyihir Agung di depan rumah seorang mahasiswa baru adalah pemandangan yang sangat langka dan pasti akan memicu pembicaraan di Distrik Akademis. Eldrian menyapa Elena dengan sangat sopan sebelum mengajak Arlan pergi menuju gedung administrasi pusat akademi.

Perjalanan menuju gedung pusat memakan waktu sekitar lima belas menit dengan berjalan kaki melewati taman taman akademi yang sangat indah. Di sepanjang jalan, Arlan melihat ratusan mahasiswa lama yang mengenakan seragam dengan berbagai warna tanda tingkatan. Mereka menatap Arlan dengan penuh rasa ingin tahu, terutama saat melihat Master Eldrian berjalan di sampingnya. Bisik bisik mulai terdengar, menanyakan siapa anak kecil yang mendapatkan perlakuan istimewa tersebut.

"Akademi Astra dibagi menjadi tiga fakultas utama," Master Eldrian menjelaskan sambil berjalan. "Fakultas Sihir untuk para penyihir, Fakultas Ksatria untuk pengguna senjata, dan Fakultas Pendukung untuk para peneliti. Berdasarkan kemampuanmu, kamu secara resmi dimasukkan ke dalam Fakultas Ksatria. Namun, karena hasil potensimu adalah nol mana, akan ada banyak perdebatan di antara para instruktur mengenai penempatan kelasmu."

Arlan hanya mendengarkan dengan tenang. "Saya tidak keberatan ditempatkan di kelas mana pun, Tuan. Selama saya diberikan akses ke perpustakaan dan fasilitas latihan fisik, itu sudah cukup bagi saya."

Eldrian tersenyum tipis. "Kamu tetaplah anak yang rendah hati, Arlan. Tapi ingat, di sini, kelas menentukan fasilitas yang kamu dapatkan. Kelas A memiliki akses ke sumber daya terbaik, sementara kelas D hanya mendapatkan sisa sisanya. Aku akan berusaha menempatkanmu di kelas yang layak."

Mereka sampai di depan sebuah gedung raksasa yang terbuat dari batu putih dengan pilar pilar tinggi yang dihiasi patung pahlawan masa lalu. Ini adalah Gedung Administrasi Pusat. Di dalamnya, suasana sangat sibuk. Banyak calon mahasiswa baru yang sedang mengantre untuk pendaftaran fisik dan pengambilan seragam resmi. Arlan melihat banyak anak bangsawan dengan pakaian mewah yang didampingi oleh pelayan pelayan mereka.

Saat Arlan masuk ke dalam aula pendaftaran, suasana mendadak menjadi hening sejenak. Kehadiran Master Eldrian membuat semua orang memberikan jalan dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Eldrian membawa Arlan langsung menuju meja pendaftaran khusus bangsawan dan jalur prestasi. Di sana, seorang wanita paruh baya dengan kacamata perak sedang memeriksa tumpukan dokumen.

"Tuan Eldrian, Anda datang sendiri?" wanita itu bertanya dengan nada terkejut.

"Ya, aku ingin mendaftarkan Arlan Vandermir secara langsung. Dia adalah pemegang Medali Undangan Langit tahun ini," jawab Eldrian sambil meletakkan dokumen pendaftaran Arlan di meja.

Mendengar nama Vandermir dan Medali Undangan Langit, orang orang di aula tersebut mulai berbisik dengan lebih kencang. Nama Vandermir masih sangat sensitif di telinga masyarakat ibu kota. Banyak yang menatap Arlan dengan tatapan tidak suka, menganggap seorang keturunan pengkhianat tidak pantas mendapatkan medali kehormatan tersebut.

Tepat saat petugas pendaftaran akan mengambil dokumen Arlan, suara langkah kaki yang teratur dan anggun terdengar dari arah pintu masuk samping aula. Kerumunan mahasiswa dan bangsawan di aula itu seketika membelah, memberikan jalan yang sangat luas. Seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun berjalan masuk dengan dagu yang terangkat tinggi. Dia mengenakan gaun sutra berwarna putih dengan sulaman emas yang sangat rumit. Rambutnya berwarna perak berkilau, senada dengan warna mata birunya yang tajam dan jernih. Di belakangnya, empat ksatria berbaju zirah perak mengikuti dengan langkah yang serempak.

"Itu Putri Seraphina..." bisik salah satu calon mahasiswa di belakang Arlan. "Putri ketiga kerajaan yang dikatakan memiliki Berkah Dewa Cahaya tingkat tertinggi dalam sejarah."

Arlan berdiri diam, tidak ikut menundukkan kepala seperti orang lain. Dia memperhatikan gadis itu dengan pandangan yang analitis. Di kehidupan lamanya, Adit pernah bertemu dengan banyak pemimpin negara dan anggota keluarga kerajaan, jadi dia tidak merasa terintimidasi oleh status seseorang. Yang menarik perhatian Arlan adalah aura mana yang terpancar dari tubuh Seraphina. Mana itu sangat murni, sangat tenang, namun memiliki daya ledak yang sangat besar. Seraphina adalah seorang jenius sejati, jauh lebih kuat daripada Julian yang hanya mengandalkan obat obatan.

Putri Seraphina berhenti tepat di samping Arlan. Dia menoleh dan menatap Arlan dengan pandangan yang penuh dengan rasa ingin tahu. Seraphina tampaknya menyadari bahwa ada seseorang yang tidak menundukkan kepala kepadanya.

"Jadi, kamu adalah anak yang dibicarakan oleh Master Eldrian?" suara Seraphina terdengar sangat merdu namun memiliki tekanan yang kuat. "Anak tanpa mana yang mendapatkan Medali Undangan Langit?"

Arlan menatap balik mata biru Seraphina tanpa rasa takut sedikit pun. "Nama saya Arlan Vandermir, Tuan Putri. Benar, saya tidak memiliki mana."

Seraphina sedikit menyipitkan matanya. Dia merasa ada yang aneh dengan Arlan. Sebagai pengguna Berkah Cahaya, dia memiliki kemampuan untuk merasakan kejujuran dan keberadaan energi di sekitarnya. Namun, saat menatap Arlan, dia merasa seperti menatap ke dalam sebuah sumur hitam yang sangat dalam dan tak berdasar. Dia tidak bisa merasakan aliran mana, namun dia merasakan adanya getaran yang sangat kuat di bawah permukaan kulit Arlan.

"Vandermir, ya?" Seraphina tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. "Nama yang memiliki sejarah panjang di kerajaan ini. Aku berharap medali itu tidak diberikan kepada orang yang salah. Akademi Astra bukan tempat untuk orang lemah yang hanya mengandalkan keberuntungan."

"Kekuatan saya bukan berasal dari keberuntungan, Tuan Putri," jawab Arlan dengan nada yang sangat tenang. "Tapi jika Anda ingin memastikannya, saya yakin akademi akan memberikan banyak kesempatan untuk itu di masa depan."

Suasana di aula menjadi sangat tegang. Semua orang terkejut dengan keberanian Arlan membalas perkataan sang putri secara langsung. Master Eldrian tampak sedikit cemas dan mencoba menengahi situasi.

"Tuan Putri, Arlan baru saja sampai di ibu kota. Dia masih harus menyesuaikan diri dengan lingkungan akademi," ucap Eldrian dengan sopan.

Seraphina kembali menatap Arlan sekali lagi sebelum berbalik pergi. "Kita akan lihat seberapa jauh teknik fisikmu bisa bertahan melawan kehendak dewa, Arlan Vandermir. Jangan mengecewakanku saat ujian penempatan kelas nanti."

Seraphina melanjutkan langkahnya menuju area VIP gedung administrasi diikuti oleh para pengawalnya. Kerumunan orang mulai menarik napas lega setelah ketegangan itu berakhir. Arlan tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung sang putri yang menjauh. Di kehidupan keduanya ini, dia menyadari bahwa musuh musuhnya bukan lagi sekadar preman desa atau bangsawan kelas rendah. Dia baru saja menarik perhatian dari puncak kekuasaan kerajaan.

"Itu adalah langkah yang sangat berani, Arlan," bisik Master Eldrian sambil mengusap keringat di dahinya. "Putri Seraphina adalah murid kesayangan Raja dan salah satu mahasiswa paling berpengaruh di akademi. Menarik perhatiannya berarti kamu akan berada di bawah pengawasan ketat mulai sekarang."

"Itu justru lebih baik, Tuan," jawab Arlan sambil menerima kartu identitas mahasiswa barunya. "Semakin banyak orang yang mengawasiku, semakin sulit bagi musuh musuh lamaku untuk melakukan tindakan kotor secara sembunyi sembunyi."

Arlan menyimpan kartu identitasnya di balik saku seragamnya. Dia merasa sangat puas dengan pertemuan pertamanya di akademi. Dia sudah menandai Seraphina sebagai tolok ukur kekuatan di tempat ini. Dia tahu bahwa untuk bisa berdiri sejajar atau bahkan di atas orang orang seperti Seraphina, dia harus segera membuka Gerbang Keenam.

Setelah menyelesaikan pendaftaran, Arlan diberikan jadwal kelas dan peta kompleks akademi. Dia akan memulai hari pertamanya sebagai mahasiswa besok. Arlan berjalan keluar dari gedung administrasi, menghirup udara akademi yang kaya akan mana. Dia menyadari bahwa dunia barunya yang luas dan berbahaya baru saja terbuka lebar.

"Adit yang dulu hancur karena dia tidak punya kekuatan untuk melawan penguasa," gumam Arlan dalam hati saat dia berjalan kembali menuju rumahnya. "Tapi Arlan yang sekarang tidak akan pernah hancur. Aku akan menjadi badai yang membuat takhta mereka bergetar."

Malam itu, Arlan kembali berlatih dalam kesunyian rumahnya. Dia mulai mempelajari gulungan kuno pemberian kakek tua mengenai anatomi energi kehidupan. Dia menyadari bahwa pertemuannya dengan Seraphina adalah peringatan bahwa dia harus menjadi jauh lebih kuat lagi. Di ibu kota ini, hanya yang terkuat yang bisa menuliskan hukum mereka sendiri. Dan Arlan Vandermir sudah bertekad untuk menjadi penulis hukum tersebut.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!