NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dibawah Bayangan Elang

Episode 9

Angin malam berembus kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di bawah sinar rembulan yang temaram, bayangan patung Elang Perunggu itu tampak seperti raksasa yang sedang mengawasi seluruh akademi dengan tatapan mengancam.

Reno meratakan tubuhnya ke tanah, bersembunyi di balik semak Juniper yang lebat. Napasnya diatur sedemikian rupa agar tidak mengeluarkan suara. Di kehidupannya yang dulu sebagai Arka, ia sering harus bersembunyi dari kejaran istri istrinya yang sedang marah atau sekadar ingin menghindar dari kejaran wartawan bisnis. Teknik menyelinap bukan hal baru baginya.

"Reno, orang itu... dia bukan orang sembarangan," bisik Nidhogg di dalam pikiran Reno. Aura Nidhogg terasa sangat gelisah. "Dia memiliki bau darah yang sangat pekat. Dia telah membunuh banyak makhluk hidup."

Reno mengangguk pelan dalam hati. Matanya tertuju pada sosok berjubah hitam yang sedang menggali di bawah tumpukan akar pohon tua yang melilit pondasi patung elang. Pria itu bergerak dengan sangat efisien. Setiap ayunan sekopnya tidak menimbulkan suara benturan yang keras.

Srak! Srak!

Setelah beberapa menit menggali, pria itu tiba-tiba berhenti. Ia membungkuk, mengambil sesuatu dari dalam lubang. Sebuah benda kecil yang memancarkan cahaya merah darah yang redup. Begitu benda itu muncul, udara di sekitar mereka seolah olah bergetar hebat.

"ITU DIA! FRAGMEN JIWAKU!" Nidhogg hampir saja berteriak dalam pikiran Reno. "Reno! Jangan biarkan dia membawanya pergi! Itu adalah bagian dari eksistensiku!"

"Sabar, Bodoh! Lihat dia, dia membawa pedang pendek di pinggangnya. Dia pasti seorang penjinak tingkat tinggi," bisik Reno dengan nada yang sangat rendah.

Pria berjubah hitam itu mengamati benda bercahaya itu dengan saksama. "Akhirnya... fragmen pertama ditemukan," gumam pria itu. Suaranya berat dan serak, menunjukkan usia yang sudah tidak muda lagi. "Tuan Besar pasti akan sangat senang."

Reno mengerutkan kening. Tuan Besar? Berarti dia hanya bawahan? Organisasi apa yang mencari fragmen jiwa naga ini?

Saat pria itu hendak memasukkan fragmen tersebut ke dalam sebuah kotak kayu hitam, Reno menyadari bahwa ia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Jika fragmen itu jatuh ke tangan organisasi misterius, peluang Nidhogg untuk pulih akan hilang selamanya, dan hidup Reno akan tetap dalam bahaya.

Reno memutar otak. Ia melihat sebuah dahan pohon kering di dekatnya. Ia mengambil dahan itu, lalu dengan kekuatan penuh, ia melemparnya ke arah berlawanan, jauh ke arah gerbang asrama.

PRAK!

Suara dahan patah itu bergema di tengah keheningan malam. Sosok berjubah hitam itu seketika menoleh. Matanya berkilat tajam di balik lubang penutup wajahnya.

"Siapa di sana?!" seru pria itu. Ia meletakkan kotak kayunya di atas tanah dan menarik pedang pendeknya, lalu bergerak cepat menuju sumber suara dahan patah tadi.

Inilah kesempatan Reno.

"Nidhogg, sekarang! Gunakan kecepatan maksimal mu!"

Reno melompat dari persembunyiannya. Ia tidak lari mengejar pria itu, melainkan melesat menuju lubang galian. Di saat yang sama, Nidhogg meluncur dari kerah baju Reno seperti anak panah merah.

Pria berjubah hitam itu menyadari bahwa ia telah tertipu. Ia memutar tubuhnya dengan sangat lincah, gerakannya hampir tidak terlihat oleh mata manusia biasa. "Bocah nakal! Beraninya kau!"

Pria itu melemparkan sebuah pisau lempar ke arah Reno. Reno melihat kilatan logam yang mengarah ke kepalanya. Dengan refleks yang ia dapatkan dari latihan meditasi bersama Nidhogg, Reno memiringkan kepalanya sedikit. Pisau itu menggores pipinya, namun ia tidak berhenti.

Nidhogg berhasil mencapai kotak kayu itu terlebih dahulu. Cacing kecil itu tidak mencoba mengambil kotaknya, melainkan langsung menempelkan tubuhnya pada fragmen bercahaya merah tersebut.

SREEEET!

Cahaya merah itu mendadak tersedot masuk ke dalam tubuh Nidhogg.

"ARGGHHHH! ENERGI INI! TERLALU BESAR!" Nidhogg berteriak dalam pikiran Reno.

Tubuh Nidhogg yang tadinya hanya seukuran jari kini membengkak, kulitnya pecah dan mengeluarkan cahaya hitam merah yang menyilaukan. Sebuah gelombang energi ledakan (shockwave) terpancar dari titik itu, memukul mundur pria berjubah hitam yang hampir sampai di sana.

BOOM!

Reno terlempar beberapa meter ke belakang, punggungnya menghantam batang pohon dengan keras. "Uhuk!" Reno memuntahkan sedikit darah, dadanya terasa sesak.

Pria berjubah hitam itu juga terhuyung, namun ia berhasil menyeimbangkan diri. Matanya terbelalak melihat fragmen yang dicarinya telah dimakan oleh seekor cacing merah. "Apa?! Apa yang kau lakukan, Bocah?! Kau tahu apa yang baru saja binatang kontrakmu telan?!"

Pria itu meraung marah. Ia tidak lagi peduli dengan kerahasiaan. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, dan tiba-tiba seekor Burung Gagak bermata satu berukuran raksasa muncul dari bayang bayangnya. Binatang kontrak tingkat tinggi!

"Gagak Bayangan, cabik-cabik bocah itu!"

Gagak raksasa itu terbang menukik ke arah Reno dengan kuku-kuku tajam yang siap merobek daging. Reno mencoba bangkit, namun tubuhnya masih terasa lemas akibat ledakan tadi.

"Nidhogg! Bangun! Jangan mati dulu!" teriak Reno.

Tiba-tiba, dari reruntuhan debu di dekat lubang galian, sebuah aura yang sangat dingin dan mematikan meledak. Nidhogg muncul, namun bentuknya sudah berubah. Tubuhnya kini sepanjang lengan manusia, tertutup sisik hitam yang berkilau seperti obsidian, dan di kepalanya muncul dua tanduk kecil yang tajam.

"Beraninya... burung bangkai ini... menyerang tuanku!" suara Nidhogg tidak lagi terdengar serak di kepala Reno, melainkan menggema dengan wibawa yang luar biasa.

Nidhogg melompat dari tanah. Gerakannya tidak lagi merayap, melainkan terbang melesat di udara seperti naga kecil. Ia menabrak Gagak Bayangan itu tepat di dadanya.

CRASH!

Gagak raksasa yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari Nidhogg itu terlempar ke udara, bulu bulunya rontok berserakan. Pria berjubah hitam itu terkejut setengah mati. Bagaimana mungkin seekor cacing atau apa pun makhluk itu bisa menjatuhkan binatang tingkat Perak miliknya hanya dengan satu tabrakan?

"Siapa kau sebenarnya, Bocah?!" teriak pria itu, suaranya mulai bergetar karena takut.

Reno berdiri perlahan, menyeka darah di pipinya. Ia menatap pria itu dengan tatapan dingin, tatapan yang sama saat ia dulu menghancurkan saingan bisnisnya tanpa ampun. "Aku? Aku hanyalah murid baru yang ingin tidur dengan tenang. Dan kau... kau baru saja merusak jam tidurku."

Nidhogg kembali ke samping Reno, melayang-layang dengan aura hitam yang mengancam. Meskipun Nidhogg terlihat sangat kuat sekarang, Reno bisa merasakan melalui kontrak jiwa bahwa Nidhogg sedang memaksakan diri. Fragmen jiwa itu belum sepenuhnya menyatu, dan Nidhogg butuh waktu untuk mencernanya.

"Gagak Bayangan, gunakan Tabir Kegelapan! Kita pergi!" perintah pria itu. Ia tahu ia tidak bisa menangkap Reno sekarang karena suara ledakan tadi pasti sudah memancing para penjaga akademi.

Asap hitam tebal tiba-tiba menyelimuti area patung elang. Saat asap itu menghilang, pria berjubah hitam dan gagaknya sudah lenyap tak berbekas.

"Sial... dia lari," gumam Reno.

"Biarkan saja... Reno... aku... aku tidak kuat lagi..." Nidhogg tiba-tiba jatuh ke telapak tangan Reno. Tubuhnya kembali mengecil, sisik hitamnya memudar, meski tidak kembali seutuhnya menjadi cacing merah biasa. Sekarang ia terlihat seperti ular hitam kecil yang memiliki sisik kasar.

"Nidhogg! Kau tidak apa-apa?"

"Aku hanya... butuh tidur... fragmen ini... sangat kuat... jangan biarkan... siapa pun tahu..." Setelah mengatakan itu, Nidhogg benar-benar pingsan.

Reno segera memasukkan Nidhogg ke dalam sakunya. Ia mendengar suara langkah kaki banyak orang dari arah gedung utama. Lampu-lampu sihir mulai dinyalakan.

"Di sana! Suaranya berasal dari patung elang!" teriak salah satu penjaga.

Reno segera berlari ke arah berlawanan, menggunakan bayang-bayang pohon untuk kembali ke asramanya. Ia memanjat tali yang masih tergantung di jendelanya dengan kecepatan penuh. Begitu sampai di dalam kamar, ia segera menyembunyikan talinya dan merebahkan diri di atas kasur, mencoba mengatur napasnya yang memburu.

Pintu asramanya digedor dengan keras beberapa menit kemudian.

"Semua murid! Bangun dan keluar ke lorong! Sekarang!" teriak penjaga asrama.

Reno berpura pura baru bangun tidur dengan wajah mengantuk yang sangat meyakinkan. Ia keluar ke lorong bersama Dito yang tampak sangat kebingungan.

"Ada apa, Reno? Kenapa ribut-ribut begini?" tanya Dito sambil mengucek matanya.

"Entahlah, mungkin ada maling," jawab Reno pendek.

Para penjaga memeriksa setiap kamar dan setiap murid. Saat sampai di depan Reno, salah satu penjaga menatap Reno dengan curiga. "Kau... kenapa pipimu berdarah?"

Jantung Reno berdegup kencang, namun wajahnya tetap tenang. "Oh, ini? Tadi siang saya tidak sengaja terkena ranting saat latihan di taman, Tuan. Saya lupa mengobatinya."

Penjaga itu menatap Reno selama beberapa detik, lalu melihat lencana Reno. "Anak desa dari kelas Instruktur Raka, ya? Hmph, lain kali hati-hati. Masuk kembali ke kamarmu!"

Reno menghela napas lega setelah penjaga itu pergi. Ia kembali ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Ia mengeluarkan Nidhogg yang masih pingsan dan meletakkannya di bawah bantal.

Malam itu, Reno tidak bisa tidur. Ia tahu bahwa mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Organisasi misterius itu pasti akan mencarinya. Pria berjubah hitam itu sudah melihat wajahnya.

Arka, kau ingin hidup tenang, tapi sepertinya dunia ini memang tidak mengizinkannya, batin Reno sambil menatap langit-langit. Baiklah. Jika dunia ingin bermain kasar, maka aku akan menjadi pemain yang paling kasar di antara mereka semua.

Reno memejamkan matanya, merasakan denyut energi baru yang mengalir dari Nidhogg ke dalam tubuhnya melalui kontrak jiwa. Reno merasa otot ototnya semakin menguat, dan energi mentalnya melonjak drastis.

Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan Reno sudah memiliki kartu as yang tidak diduga oleh siapa pun, fragmen jiwa naga kuno yang mulai bangkit.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!