Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Pesta di Atas Puing-Puing
Bubur ayam di pinggir jalan kawasan Menteng itu tidak pernah terasa senikmat ini.
Di bawah lampu jalan yang remang dan ditemani suara bising knalpot motor yang lewat, Elena duduk dengan santai, mengaduk buburnya tanpa memedulikan noda darah kering yang masih ada di ujung lengan jaketnya.
"Kau benar-benar makan itu seolah-olah itu caviar bintang lima," goda Reza sambil menyeka keringat di dahinya.
Di samping mereka, Paman Han tetap waspada, matanya memindai setiap kendaraan yang melambat, meski tangannya juga sibuk memegang mangkuk bubur.
"Ini rasanya menjadi manusia, Rez," jawab Elena pendek.
"Bukan cairan nutrisi biru, bukan makanan diet ketat di rumah sakit Swiss. Cuma nasi lembek, kerupuk, dan kenyataan bahwa aku masih bernapas."
Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima belas menit.
Ponsel Paman Han yang diletakkan di atas meja plastik bergetar hebat.
Ada sebuah notifikasi darurat yang masuk ke sistem keamanan Sarah Foundation.
"Nona, kita punya tamu. Bukan di kantor, tapi di rumah pribadi Anda," bisik Paman Han.
Elena meletakkan sendoknya. Napasnya kembali stabil dan dingin. "Siapa?"
"Seseorang yang menggunakan kode akses tingkat tertinggi. Kode yang seharusnya hanya dimiliki oleh... Haryo Adiguna."
Mereka tiba di penthouse Elena dengan senjata terkokang.
Pintu depan terbuka lebar, dan musik klasik—Moonlight Sonata—mengalun pelan dari pengeras suara di ruang tamu.
Di sofa kulit yang menghadap ke pemandangan kota, seorang pria duduk dengan tenang.
Dia tidak setua Haryo, tapi dia memiliki aura yang sama.
Pria itu berusia sekitar empat puluh tahun, dengan rambut hitam klimis dan setelan jas yang harganya mungkin setara dengan satu unit apartemen di gedung itu.
"Siapa kau?" tanya Elena, pistolnya terarah tepat ke dahi pria itu.
Pria itu berbalik perlahan, memegang segelas wiski milik Elena.
"Kau punya selera yang bagus untuk minuman, Elena. Atau haruskah aku memanggilmu Adik Kecil?"
Elena membeku. "Adik?"
"Namaku Dante. Dante Adiguna," pria itu berdiri dengan gerakan yang sangat halus.
"Haryo bukan cuma punya prototipe di lab. Dia punya anak kandung yang dia sembunyikan di luar negeri untuk menjaga nama baiknya saat dia sibuk bermain Tuhan dengan ibumu."
Reza mendengus sinis.
"Satu lagi anggota keluarga Adiguna yang haus takhta. Apa kau juga mau mengklaim aset Elena?"
"Aset?" Dante tertawa, suara tawa yang terdengar tulus namun mengerikan.
"Aku tidak butuh uang receh dari yayasan ini. Aku datang untuk memberitahu kalian bahwa The Hive yang kalian bakar tadi hanyalah satu dari dua belas fasilitas di seluruh dunia. Dan 'The Origin' baru saja memulai fase pembersihan mereka."
Dante mengeluarkan sebuah proyektor kecil dan menampilkannya di dinding ruang tamu Elena.
Di sana terlihat peta dunia dengan titik-titik merah yang berkedip.
Jakarta, London, Singapura, New York—semuanya adalah target.
"Mereka menyebutnya Operasi Lampu Padam," jelas Dante.
"Mereka akan menghapus semua bukti eksperimen mereka, termasuk kau, Elena.
Dan mereka tidak akan mengirim pembunuh bayaran kali ini.
Mereka akan menggunakan sistem satelit untuk membekukan semua transaksi digital dan mematikan infrastruktur kota tempat target berada."
"Kenapa kau memberitahu kami?" tanya Elena curiga.
"Karena aku juga target mereka," Dante menunjukkan pergelangan tangannya.
Di sana ada tato yang sama dengan Elena, tapi dengan simbol yang berbeda.
"Haryo menjadikanku kelinci percobaan pertama untuk memperpanjang usianya. Aku adalah kegagalan yang dia buang sebelum dia menciptakanmu."
Tiba-tiba, lampu di seluruh Jakarta padam serentak.
Kegelapan total menyelimuti kota.
Suara sirene mulai terdengar di kejauhan, dan sinyal ponsel mereka lenyap seketika.
"Sudah dimulai," bisik Dante.
"Kita nggak bisa lewat lift!" teriak Reza saat gedung mulai bergetar karena sistem cadangan daya gagal berfungsi.
Mereka berlari menuju tangga darurat, namun suara langkah kaki sepatu bot militer terdengar dari bawah.
Pasukan pembersih The Origin sudah masuk ke gedung.
"Lari ke helipad!" perintah Elena.
Di atas gedung, angin malam bertiup kencang.
Paman Han sudah menyiapkan helikopter pribadi, namun sebuah drone tempur besar sudah melayang di udara, menembakkan laser merah ke arah mereka.
"Reza, pegang ini!" Elena melemparkan senapan elektromagnetik (EMP) yang ia simpan di loker darurat di helipad.
DUM!
Tembakan EMP itu meledak di udara, mematikan sirkuit drone tersebut hingga jatuh menghantam lantai beton.
Mereka melompat ke dalam helikopter tepat saat pintu tangga darurat diledakkan dari dalam.
"Ke mana kita, Nona?" tanya Paman Han sambil memacu mesin helikopter.
"Ke laut," jawab Elena.
"Satu-satunya tempat yang tidak punya kabel internet atau satelit pengintai yang akurat adalah kapal selam tua milik kakekku di lepas pantai Kepulauan Seribu."
Di dalam helikopter yang terbang rendah di atas laut untuk menghindari radar, Elena menatap Dante yang duduk di pojok.
"Jadi, kau mau kita bekerja sama?"
Dante menatap Elena dengan mata yang dingin namun ada secercah rasa persaudaraan di sana.
"Kita adalah sisa-sisa dari dosa Haryo, Elena. Kalau kita nggak bersatu, 'The Origin' bakal menulis sejarah baru di mana kita nggak pernah ada."
Elena menoleh ke arah Reza yang sedang memeriksa sisa peluru.
"Rez, kau siap untuk jadi pahlawan dunia nyata?"
Reza tersenyum, meski wajahnya penuh luka.
"Aku lebih suka jadi pendamping ratu yang paling dicari sedunia. Ayo kita hancurkan satelit mereka."
Kapal selam tua itu muncul ke permukaan, sebuah besi raksasa yang berkarat namun masih berfungsi.
Di dalamnya, mereka membangun markas komando terakhir.
Paman Han menghubungkan server portabel mereka ke sistem komunikasi satelit ilegal yang tidak bisa dilacak oleh The Origin.
"Nona, saya sudah menemukan lokasi satelit pengendali 'Lampu Padam'," lapor Paman Han.
"Tapi kita butuh kode biometrik dari dua subjek prototipe untuk mengirimkan perintah self-destruct."
Elena menatap Dante. "Kau dan aku?"
Dante mengangguk.
"Dua kegagalan Haryo akan menjadi akhir dari mimpi-mimpi gila 'The Origin'."
Mereka menempelkan telapak tangan mereka ke sensor biometrik yang sudah dimodifikasi Paman Han.
Energi dari server mulai bekerja, mengirimkan data enkripsi langsung ke orbit.
Di layar monitor, mereka melihat titik-titik merah di peta dunia perlahan menghilang.
Lampu-lampu kota di seluruh dunia mulai menyala kembali.
Sistem kontrol 'The Origin' runtuh karena serangan dari dalam sistem mereka sendiri.
"Berhasil," desis Reza, hampir tidak percaya.
Namun, Elena tahu ini belum benar-benar berakhir.
Dia berdiri di menara kapal selam, menatap cakrawala di mana matahari mulai terbit sekali lagi.
"Dante," panggil Elena.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Menghilang," jawab Dante singkat.
"Dunia ini terlalu bising untuk orang yang seharusnya sudah mati seperti aku."
Elena mengangguk. Dia memahami perasaan itu.
Dia menoleh ke arah Reza yang berdiri di sampingnya, merangkul pinggangnya dengan posesif.
"Dan kau, Elena?" tanya Reza.
Elena menatap tato 01 di tangannya.
Dia mengambil sebilah pisau kecil dan dengan gerakan cepat, dia menggoreskan garis menyilang di atas tato tersebut.
Dia tidak lagi memedulikan kode itu.
"Aku akan hidup," ucap Elena tegas.
"Bukan sebagai Elena Adiguna, bukan sebagai Subjek 01. Tapi sebagai wanita yang akan memastikan tidak ada lagi 'Hive' atau 'Origin' yang tumbuh di dunia ini. Aku akan menjadi bayangan yang menjaga cahaya."
Matahari pagi menyinari wajah Elena, memantul di permukaan laut yang tenang.
Sang Nyonya yang Terbuang kini telah menemukan rumahnya yang sesungguhnya: bukan di dalam gedung mewah atau kekuasaan, melainkan di dalam kebebasan untuk menentukan takdirnya sendiri.
Paman Han mendekat, memberikan sebuah amplop kecil.
"Ini untuk Anda, Nona. Dari Sarah."
Elena membuka amplop itu.
Di dalamnya ada sebuah kunci kecil dan koordinat sebuah desa kecil di lereng gunung di Jawa Tengah.
Di baliknya tertulis: "Tempat di mana bunga lili asli tumbuh. Aku menunggumu, putriku."
Air mata menetes di pipi Elena, tapi kali ini bukan karena sedih. Dia tersenyum.
"Paman Han, putar balik," perintah Elena. "Kita punya satu janji yang harus ditepati."
Kapal selam itu perlahan tenggelam kembali ke pelukan samudra, membawa para penyintas menuju masa depan yang tidak lagi ditentukan oleh laboratorium, melainkan oleh hati yang berani mencintai.
Bersambung...
Ayo buruan baca...