Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Suasana ruang sidang semakin tegang saat Hakim Ketua memperbaiki letak kacamatanya dan membuka berkas perkara yang paling mendasar.
Dengan suara yang berat dan berwibawa, Hakim mulai dengan kasus tabrak lari yang dilakukan oleh Bima beberapa tahun silam—kejadian tragis yang merenggut nyawa suami pertama Sulfi dan menjadi awal dari segala penderitaan ini.
Yuana, sebagai pengacara korban tabrak lari, berdiri dengan tegak.
Ia tidak hanya membawa nama Sulfi, tetapi juga membawa beban keadilan yang telah tertunda selama bertahun-tahun.
Dengan langkah tenang namun penuh penekanan, Yuana mendekati meja hakim untuk menyerahkan bukti-bukti baru yang selama ini disembunyikan oleh pihak Bima.
"Yang Mulia," suara Yuana menggema di seluruh ruangan, "kami memiliki bukti kuat berupa rekaman CCTV yang sempat hilang dan keterangan saksi ahli mengenai kecocokan kerusakan kendaraan terdakwa dengan benturan yang dialami korban. Ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan tindakan tidak bertanggung jawab yang sengaja ditutupi dengan kekuasaan."
Bima yang tadi tersenyum sinis, kini mulai menunjukkan kegelisahan.
Senyumnya perlahan memudar saat Yuana membacakan kronologi kejadian dengan sangat mendetail, menggambarkan betapa teganya Bima meninggalkan korban di jalanan tanpa pertolongan demi menyelamatkan reputasinya sendiri.
Sulfi yang duduk di kursi saksi merasakan dadanya sesak.
Memori tentang malam berdarah itu kembali berputar di kepalanya seperti film tua yang menyakitkan. Namun, setiap kali ia merasa goyah, ia melirik ke arah Zaidan.
Suaminya itu memberikan anggukan kecil, sebuah kode bisu yang mengatakan bahwa ia aman.
"Saudari saksi," tanya Yuana sambil menatap Sulfi dengan pandangan mendukung, "bisakah Anda ceritakan kembali apa yang Anda lihat di lokasi kejadian sebelum terdakwa melarikan diri?"
Sulfi memejamkan mata sejenak, mengelus perutnya yang mulai terasa sedikit mulas karena ketegangan.
Ia menghirup oksigen dalam-dalam, lalu mulai membuka suara.
Hari ini, di hadapan hukum dan di bawah perlindungan Zaidan, Sulfi tidak akan lagi menjadi korban yang diam.
Ia akan menjadi saksi yang menghancurkan benteng kebohongan Bima.
Suara Sulfi awalnya terdengar bergetar, namun perlahan berubah menjadi tegas dan penuh penekanan.
Di hadapan majelis hakim, Sulfi mulai menceritakan semuanya, mulai dari teror yang ia terima selama berbulan-bulan, pesan-pesan ancaman yang menghantui ponselnya, hingga intimidasi fisik yang ia alami di kedai beberapa waktu lalu.
Ruang sidang menjadi sangat sunyi saat Sulfi sampai pada bagian paling menyakitkan dalam hidupnya: suaminya yang menjadi korban Bima.
Dengan mata yang berkaca-kaca namun tatapan yang tidak beralih dari hakim, ia menggambarkan detik-detik kehancuran hidupnya saat sang suami tewas dalam insiden tabrak lari tersebut.
"Dia tidak hanya menabrak, Yang Mulia," ucap Sulfi dengan suara yang tertahan.
"Dia melihat suami saya terkapar, namun ia memilih untuk memacu mobilnya lebih kencang. Dia mencuri masa depan kami, dan setelah itu, dia mencoba membungkam saya dengan rasa takut."
Bima yang duduk di kursi pesakitan tampak mulai gerah. Wajah sinisnya berganti menjadi kemerahan, ia mencoba memotong pembicaraan, namun teguran keras dari hakim membuatnya kembali terduduk.
Zaidan yang melihat istrinya mulai emosional, mengepalkan tangannya kuat-kuat di barisan penonton.
Ia ingin sekali berlari memeluk Sulfi, namun ia tahu ini adalah panggung kemenangan istrinya.
Ia hanya bisa memberikan kekuatan melalui tatapan mata, mengingatkan Sulfi bahwa ada nyawa kecil di rahimnya yang sedang mendengarkan betapa hebat ibunya berjuang.
Yuana kemudian menunjukkan bukti tambahan berupa catatan medis dan laporan psikologis Sulfi akibat teror tersebut.
Kesaksian Sulfi yang runtut dan penuh emosi itu berhasil menciptakan suasana berat di ruang sidang, menyudutkan Bima ke titik di mana tidak ada lagi celah untuk mengelak.
Keadilan yang tertunda bertahun-tahun itu kini terasa tinggal selangkah lagi.
Ketukan palu hakim bergema tiga kali, menandakan hakim meminta waktu istirahat sampai akan dilanjutkan nanti pada siang hari.
Ketegangan yang tadinya memenuhi ruangan perlahan mencair saat para pengunjung mulai meninggalkan kursi mereka.
Sulfi mengembuskan napas panjang, bahunya yang sedari tadi tegang akhirnya meluruh.
Zaidan segera menghampiri istrinya di kursi saksi sebelum petugas membawanya keluar.
Ia berlutut di samping Sulfi, menggenggam tangannya yang masih terasa dingin.
"Kamu hebat, Sayang," ucap Zaidan dengan suara rendah yang penuh kebanggaan.
Ia tahu betapa besarnya keberanian yang dibutuhkan Sulfi untuk mengungkit kembali luka lama di depan orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Zaidan kemudian membimbing Sulfi menuju ruang tunggu saksi yang lebih privat dan tenang.
Kemudian ia membuka bekal dan meminta agar istrinya makan terlebih dahulu.
Ia mengeluarkan kotak makan berisi buah-buahan segar dan camilan bergizi yang sudah ia siapkan sejak pagi.
"Makan sedikit ya, demi si kecil. Dokter bilang kamu tidak boleh telat makan, apalagi setelah tekanan emosional seperti tadi," ujar Zaidan sambil menyodorkan potongan buah apel ke arah Sulfi.
Sulfi tersenyum lemah, menerima suapan dari suaminya.
Rasa mual yang sempat mengancam tadi perlahan mereda berkat perhatian Zaidan.
Di ruangan yang sunyi itu, ia merasa energinya kembali pulih.
Bekal yang disiapkan Zaidan bukan sekadar makanan, melainkan simbol bahwa ia tidak lagi berjuang sendirian.
Di sela suapannya, Sulfi menatap Zaidan dengan penuh syukur.
Sementara itu, di luar ruangan, Bima sedang berdiskusi sengit dengan pengacaranya, namun bagi Zaidan dan Sulfi, waktu istirahat ini adalah momen untuk menguatkan hati sebelum mereka kembali ke ruang sidang untuk memberikan pukulan terakhir bagi kebohongan Bima.
Suasana ruang sidang kembali memanas setelah jeda istirahat berakhir.
Satu jam berlalu, kembali sidang dibuka dengan agenda pemeriksaan silang. Kali ini, giliran pihak lawan yang mencoba menyerang.
Pengacara Bima menyudutkan Sulfi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak dan menyakitkan.
Ia mencoba mempertanyakan kredibilitas ingatan Sulfi mengenai kejadian tabrak lari itu, bahkan mencoba mengaitkan emosi Sulfi dengan kondisi kehamilannya agar kesaksiannya dianggap tidak objektif.
"Bukankah Anda hanya ingin membalas dendam karena kondisi emosional Anda yang sedang tidak stabil?" cecar pengacara itu dengan nada tinggi.
Sulfi yang merasakan perutnya kram tiba-tiba akibat ketegangan yang memuncak, sempat terdiam sejenak sambil memegangi perut bawahnya. Namun, rasa sakit itu justru memicu kekuatan baru.
Ia menatap tajam pengacara itu, mengabaikan rasa mulasnya, dan memberikan jawaban yang sangat telak.
"Keadilan tidak butuh emosi yang stabil, tapi butuh kejujuran. Fakta bahwa suami saya meninggal karena klien Anda tidak akan berubah, meski Anda mencoba menyerang kondisi saya seribu kali lagi!" tegas Sulfi.
Jawaban itu begitu lugas dan logis hingga membuat pengacara Bima kalah telak; ia terbungkam dan tidak bisa memberikan pertanyaan lanjutan.
Melihat wajah Sulfi yang sedikit meringis menahan kram, Hakim Ketua segera menutup sesi pemeriksaan saksi.
Zaidan yang sejak tadi bersiaga langsung melompat dari kursinya.
Dengan sigap, Zaidan menuntun istrinya untuk kembali duduk di barisan depan, menjauh dari kursi saksi yang panas itu.
"Tarik napas, Sayang. Pelan-pelan," bisik Zaidan sambil mengusap punggung Sulfi, memberikan kenyamanan di tengah rasa sakit yang melanda perut istrinya.
Kini, seluruh ruangan diliputi keheningan yang mencekam sambil menunggu sidang putusan. Hakim tampak berdiskusi serius, sementara Bima hanya bisa menunduk dengan wajah pucat, menyadari bahwa benteng pertahanannya telah hancur oleh keberanian seorang wanita yang tengah mengandung.
Di samping Sulfi, Zaidan terus menggenggam tangan istrinya, bersiap untuk mendengar akhir dari perjuangan panjang mereka.