Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara tunang & Akad
Aku bercermin di cermin lemari besar kamarku, kebaya berwarna merah muda sudah membungkus tubuhku dengan sempurna. Aku memandangi pantulan diriku, riasan wajah yang simple, tinggal rambut yang di rapihkan. sesuai kesepakatan hari ini keluarga dewa akan datang untuk meminangku, walaupun aku masih dengan penuh keraguan untuk menerimanya, namun ini demi ayah dan ibu aku ikhlas.
"ndra, sangat cantik. Anak ibu memang sangat cantik, pantes aja banyak yang ngejar ngejar. Tapi anaknya yang terlalu cuek aja" goda ibu yang sudah berpakaian rapi, dengan warna kebaya sama denganku.
"Sandra hanya jaga diri Bu" ucapku sambil tersenyum tipis.
"ayok nak, kita kebawah. Sebentar lagi keluarga dewa datang. Ibu harap kamu bisa menerimanya dengan ikhlas. ndra, ibu tahu sekali di lubuk hati terdalam namanya masih tersimpan. Namun, kamu harus menerima takdir nak, dan mencoba menerima yang baru, rasa cinta bisa tumbuh perlahan dengan seiring waktu. Dengan begini ibu yakin perlahan kamu bisa melupakannya" ucap ibu menggenggam tanganku.
Aku mengangguk, tidak terasa air mataku terjatuh.
keluarga dewa sudah datang lima menit yang lalu, namun sedari tadi entah kenapa aku merasa gelisah dan tidak enak hati, tidak tau kenapa. Di ruang tamu, para tamu yang datang masih mengobrol santai, karena keluarga dewa juga belum sampai semua. Ya Dewa membawa dua mobil keluarga untuk datang menghadiri acara pertunangan ini.
Aku melirik sekitar, tidak sengaja pandanganku berpapasan dengan dewa. pria itu tersenyum hangat padaku. Akupun membalasnya, gelak tawa memenuhi ruang tamu entah apa yang diobrolkan aku tidak memperhatikannya, sedari tadi aku hanya memainkan jari jemariku rasa gelisah ini tak kunjung reda juga.
dertt dertt
Aku melirik ponselku yang sedari tadi terus bergetar, aku membukanya untuk melihat siapa yang menelpon.
Satya?, ada apa kak Satya menelponku, sampai berkali kali.
Ting, bunyi pesan masuk.
kak Satya : ndra, kesadaran Raisya menurun, bisakah kamu datang kesini. Raisa terus menerus memanggil namamu.
Dug sontak saja aku berdiri dari duduk, semua pandangan tertuju padaku, menatapku dengan aneh. Tanganku bergetar air mataku sudah menggenang.
"ayah, ibu aku harus kerumah sakit sekarang, Raisya koma kondisinya darurat" aku sudah berlari, tidak peduli dengan kebisingan di rumah ku.
"ndraa, sabar dulu tenang. Raisya baik-baik saja" ucap ibu yang mengejarku, dan berusaha menenangkan ku.
"ga bisa Bu, Sandra ga bisa tenang dari tadi perasaanku ga enak Bu" ucapku sambil terisak. Aku mengambil kunci mobil.
aku mengendarai mobil setengah sadar dan tidak, air mataku terus berjatuhan, perasaanku semakin tidak karuan. Aku takut, sangat takut kehilangan.
Aku berlari di lorong lorong rumah sakit, aku terus memaksa kaki ku untuk terus kokoh berlari, tidak peduli dengan pandangan orang lain yang melihatku terus berlari.
Aku membuka ruang VIP tempat Raisya, disana Raisya sudah dikerumuni oleh dokter. Aku melihat Satya dan kedua orangtua Satya dan Raisya sudah berada disana, mereka sudah terisak. Aku bingung, kemudian suara gadis kecil yang menyadarkanku.
"mama ndra, tadi ibu manggil-manggil mama ndra" sontak aku terduduk di lantai rumah sakit, aku memeluk gadis kecil itu, terus menciumi pucuk kepalanya. Dia belum paham apa yang terjadi dengan ibunya.
"maapin mama ndra ya sayang, mama ndra datengnya telat"
"mama ndra kok cantik sekali hari ini, seperti pengantin pengantin yang pernah aku lihat" ucap gadis kecil itu ambil menatapku.
aku kembali memeluknya erat, air mataku terus berderai keluar.
Tidak lama ayah dan ibu menyusul, dengan wajah panik memasuki ruangan.
"keadaan ibu Raisya saat ini sudah stabil, saya pamit permisi" ucap sang dokter yang berlalu.
"sandraaa, mas Satya" ucap Raisya lemah, dia memanggil namaku dan nama suaminya.
"iya sa aku disini, aku menggenggam tangan Raisya yang kini sudah memutih pucat".
"ndra, kangker paruku sudah metas ke otak, harapan untuk sembuh sangat kecil sekali ndra" Raisya berbicara lemah, tetap tersenyum.
aku baru tau kalau selama ini Raisya menyembunyikan penyakitnya dariku, jadi kemarin alasan dia ngidam adalah untuk menutupi agar aku tidak curiga, karena Raisya terus terusan harus bolak balik rumah sakit.
"kenapa kamu rahasiain ini dari sahabatmu sa" dadaku terasa sesak mendengarnya.
Raisya hanya tersenyum.
"aku titip sandrina ya ndra, jaga dia dan sayangi dia anggaplah dia anakmu juga ndra".
"gak sa, kamu pasti sembuh sa, percaya kamu pasti sembuh"
Raisya tetap tersenyum, tangannya mengusap lembut pipiku dengan lemah.
"ndra ada satu permintaanku, ini cukup berat. Tapi ini demi kebaikan sandrina dan mas Satya" Raisya sudah menggenggam tanganku dan menggenggam tangan Satya.
"menikahlah dengan mas Satya ndra, dengan begitu aku tidak akan berat meninggalkan sandrina dan mas satya" ucapnya.
"ga sa kamu pasti sembuh, untuk kali ini tolong semangat untuk sembuh, demi sandrina demi ka Satya sa"
Suasana dirumah VIP mulai tegang, air mata dari kedua orangtua Satya dan Raisya trus bercucuran, begitupun dengan ibu, aku melihat ibu tidak kalah sedihnya dengan aku.
"ndra tolongg, terimalah permintaan dariku sahabatmu ini, yang mungkin ini permintaan terakhir dariku, ayah dan ibu sudah Dateng untuk menyaksikan akad kalian, kamu pun sangat cantik hari ini ndra, langsungkanlah akad di depanku, aku ingin menyaksikannya"
Aku melirik kak Satya, yang sedaritadi menunduk sesekali menyeka air matanya. Sebelum aku mengiyakan perkataan dari Raisya, aku harus meminta persetujuan dari Satya, ayah dan ibu.
aku menghampiri ayah dan ibu untuk memohon keridhoan. Ayah dan ibu tampak mengangguk.
"lalu dengan dewa?" tanyaku, tidak enak juga dengan keluarga dewa yang sudah datang kerumah.
"mereka marah ndra, ada yang pulang juga tadi sebelum ayah kesini, kamu fokus aja disini. Masalah dewa dan keluarganya nanti ayah yang akan minta maaf"
Ayah dan ibu memelukku, ini sungguh berat. Tatapanku beraril pada sosok Satya yang kini sedang termenung di kursi yang ditemani oleh kedua orangtuanya. Lalu orangtua Raisya, mereka sedang memeluk Raisya disana.
"kak Satya, bagaimana ini?" ucapku menghampirinya.
"laksanakan lah ndra, ini permintaan dari Raisya" ucapnya, aku melirik kedua orangtuanya, aku mengangguk hormat. namun mereka membalas sapaan ku wajah yang datar sulit diartikan.