Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Sang Bayangan
Udara pagi di kampus biasanya terasa menyegarkan bagi Aluna. Suara riuh mahasiswa yang berdiskusi, aroma kopi dari kafetaria, dan kebebasan untuk melangkah ke perpustakaan tanpa beban adalah hal-hal yang paling ia syukuri.
Namun, pagi ini, semua itu terasa sirna. Saat Bentley hitam milik Bramasta berhenti tepat di depan lobi gedung Fakultas Ekonomi, Aluna merasa seolah-olah ia sedang diantarkan menuju sel isolasi, bukan tempat menuntut ilmu.
Anwar turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Aluna dengan sikap formal yang kaku. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang disetrika sempurna, kacamata hitam yang menutupi matanya, dan sebuah earpiece yang terselip di telinganya.
Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat beberapa mahasiswa yang sedang duduk di tangga lobi berhenti mengobrol dan menoleh dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Pak Anwar, tolong. Kita sudah sepakat semalam, cukup sampai di sini saja. Aku bisa jalan sendiri ke kelas," bisik Aluna, suaranya mengandung nada memohon yang kental.
Ia meremas tali tas bahunya, mencoba menghindari tatapan mata orang-orang yang mulai berbisik.
Anwar tidak bergeming. Ia berdiri tegak seperti pilar beton.
"Maaf, Nona Aluna. Perintah Tuan Besar telah diperbarui subuh tadi. Saya tidak diperbolehkan membiarkan Nona lepas dari jangkauan pandangan saya lebih dari tiga meter, kecuali saat Nona berada di dalam toilet."
"Tiga meter?! Itu gila, Pak! Aku akan terlihat seperti buronan!" Aluna mendesis kesal, wajahnya memerah karena malu.
"Mari, Nona. Kelas Manajemen Strategi akan dimulai lima menit lagi. Saya tidak ingin Tuan Besar menerima laporan bahwa Nona terlambat karena berdebat dengan saya," jawab Anwar datar.
Dengan perasaan dongkol yang membakar dada, Aluna terpaksa melangkah masuk ke dalam gedung.
Setiap langkahnya diikuti oleh bunyi sepatu pantofel Anwar yang mantap di atas lantai granit. Aluna merasa seolah-olah ada bayangan hitam raksasa yang menelan keceriaannya.
Teman-teman seangkatan yang biasanya menyapa dengan lambaian tangan kini hanya berani menatap dari jauh.
Beberapa mahasiswi tingkat bawah bahkan menepi, memberi jalan seolah-olah seorang pejabat tinggi sedang lewat.
Sesampainya di depan ruang kelas 302, Aluna berharap Anwar akan menunggu di kursi tunggu koridor.
Namun, harapannya hancur saat Anwar justru membukakan pintu kelas untuknya dan berdiri tepat di ambang pintu, menghadap ke arah dalam kelas.
"Luna! Ya ampun, ada apa ini?" Sarah menghampiri Aluna saat gadis itu duduk di bangku barisan tengah. Sarah melirik ke arah pintu dengan ekspresi ngeri.
"Kenapa bodyguard-mu berdiri lagi di sana seperti mau menangkap teroris? Pak Gunawan bisa marah kalau melihatnya."
"Aku tidak tahu, Sarah. Daddy benar-benar sedang gila kontrol hari ini," keluh Aluna sambil meletakkan bukunya dengan kasar ke atas meja.
"Aku merasa sangat tercekik."
Tak lama kemudian, Rio masuk ke dalam kelas. Pria itu tampak segar dengan kemeja flanelnya, membawa beberapa buku referensi yang kemarin sempat ia bahas dengan Aluna.
Rio tersenyum saat melihat Aluna, namun senyum itu segera luntur saat matanya bertemu dengan tatapan tajam Anwar yang berdiri di pintu.
Anwar tidak hanya sekadar berjaga; ia menatap Rio dengan pandangan predator yang sangat mengintimidasi.
Rio ragu sejenak, namun ia memberanikan diri untuk mendekati meja Aluna. "Hai, Luna. Bagaimana kabarmu? Aku sudah membawakan buku yang aku janjikan—"
Belum sempat Rio menyelesaikan kalimatnya, Anwar berdeham sangat keras dari arah pintu.
Suara itu cukup kuat untuk membuat seisi kelas terdiam. Anwar melangkah dua tindak masuk ke dalam kelas, matanya terkunci pada tangan Rio yang memegang buku.
"Nona Aluna sedang dalam jam pelajaran. Mohon letakkan buku itu di atas meja dan kembali ke kursi Anda yang berjarak dua meter dari Nona," ujar Anwar dengan nada suara yang rendah namun penuh ancaman.
Wajah Rio memucat. Ia menatap Aluna dengan bingung dan sedikit rasa takut. "Aku... aku cuma mau meminjamkan buku, Pak."
"Letakkan. Dan. Menjauh," perintah Anwar lagi, kali ini dengan penekanan yang tidak menerima bantahan.
Aluna merasa air mata kemarahan mulai mendesak keluar. "Pak Anwar! Cukup! Dia temanku!"
Anwar hanya menunduk sedikit tanpa mengubah ekspresinya.
"Perintah Tuan Besar, Nona. Tidak ada kontak fisik atau interaksi jarak dekat dengan lawan jenis selama di area kampus."
Rio akhirnya meletakkan buku itu dengan tangan gemetar dan mundur perlahan, memilih duduk di barisan paling belakang, jauh dari Aluna.
Sarah yang duduk di samping Aluna hanya bisa menganga tak percaya. Suasana kelas menjadi sangat canggung dan dingin.
Mahasiswa lain yang tadinya ingin menyapa Aluna langsung mengurungkan niat mereka. Mereka tidak ingin berurusan dengan pria menyeramkan yang tampaknya siap mematahkan leher siapa pun demi tugasnya.
Selama dua jam kuliah berlangsung, Aluna tidak mencatat satu patah kata pun.
Pikirannya melayang pada Bram. Ia membayangkan pria itu sedang duduk di kantor mewahnya, mungkin sedang memantau posisinya melalui GPS atau mendengarkan suaranya melalui gelang sialan ini.
Rasa kesal Aluna berubah menjadi kebencian sesaat. Bagaimana bisa seseorang yang mengaku mencintainya justru menghancurkan dunianya dengan cara seperti ini?
Puncaknya adalah saat jam istirahat tiba. Biasanya, Aluna, Sarah, dan beberapa teman lainnya akan pergi ke kafetaria untuk makan bakso atau sekadar mengobrol.
"Ayo, Luna. Kita ke kafetaria, aku lapar sekali," ajak Sarah sambil membereskan tasnya.
Aluna berdiri, namun Anwar sudah lebih dulu menghadang jalan mereka di pintu kelas.
"Maaf, Nona Aluna. Untuk makan siang hari ini, Tuan Besar sudah menyiapkan fasilitas khusus. Anda diminta menuju ke ruang VVIP di gedung rektorat yang sudah disewa untuk satu jam ke depan."
"Apa?! Makan di gedung rektorat sendirian? Aku mau ke kafetaria dengan Sarah!" seru Aluna, suaranya mulai meninggi hingga menarik perhatian dosen yang masih membereskan meja.
"Makanan sehat dari restoran bintang lima sudah disiapkan di sana, Nona. Tuan Besar khawatir makanan di kafetaria tidak terjamin kebersihannya dan lingkungannya terlalu bising untuk Nona. Mari, mobil sudah menunggu di lobi samping untuk mengantar Nona ke gedung sebelah."
"Aku tidak mau! Aku bukan tawanan!" Aluna mencoba menerobos, namun Anwar dengan cepat menghalangi langkahnya tanpa menyentuh, hanya menggunakan tubuh besarnya sebagai barikade.
"Nona, mohon jangan memaksa saya untuk menelepon Tuan Besar sekarang juga. Anda tahu apa konsekuensinya jika beliau harus turun tangan sendiri ke sini," ancam Anwar secara halus.
Mendengar ancaman itu, kaki Aluna terasa lemas. Ia membayangkan jika Bram benar-benar datang ke kampus. Keributan yang terjadi pasti akan jauh lebih besar.
Bram memiliki kekuasaan untuk membeli kampus ini jika ia mau, dan Aluna tidak ingin namanya semakin tercemar sebagai "anak emas" yang aneh.
Dengan bahu yang merosot lesu, Aluna menoleh ke arah Sarah. "Maaf, Sarah. Sepertinya aku harus pergi."
"Sabar ya, Luna... hubungi aku kalau kau butuh sesuatu," bisik Sarah penuh simpati.
Aluna berjalan mengikuti Anwar menuju ruangan VVIP yang dimaksud.
Di sepanjang jalan, ia merasa seperti pesakitan yang sedang dikawal menuju ruang eksekusi.
Sesampainya di ruangan itu, sebuah meja panjang sudah tertata rapi dengan hidangan mewah yang aromanya sangat menggoda, namun bagi Aluna, bau makanan itu terasa seperti mual.
Ia duduk sendirian di ruangan luas yang dingin oleh AC. Anwar berdiri di depan pintu yang tertutup, menjaganya dari luar. Aluna meraih ponselnya, jari-jarinya gemetar. Ia ingin memaki Bram, ia ingin berteriak bahwa ia membenci pria itu.
Namun, setiap kali ia membuka kolom pesan, ia teringat bahwa setiap ketikan jarinya dipantau.
Ia menyentuh gelang emas putih di pergelangan tangannya. Kilauan berliannya seolah mengejeknya. Kau cantik, tapi kau adalah borgol, batinnya pahit.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Itu dari Rio melalui aplikasi pesan pribadi.
Rio: Luna, kau tidak apa-apa? Pria itu benar-benar menyeramkan. Kalau kau merasa terancam, katakan padaku. Aku bisa melaporkannya ke pihak keamanan kampus.
Jantung Aluna berdegup kencang. Ia ingin membalas, memperingatkan Rio agar jangan mencampuri urusan ini karena Bram sangat berbahaya.
Namun, sebelum ia sempat mengetik satu huruf pun, pesan itu tiba-tiba terhapus secara otomatis dari layarnya.
Sebuah pesan baru masuk, tapi bukan dari Rio.
Daddy: Jangan pernah berpikir untuk membalasnya, Aluna. Makan makananmu, habiskan sayurnya, dan bersiaplah untuk kelas berikutnya. Aku memperhatikanmu, Sayang.
Aluna melempar ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi dentuman keras. Air matanya pecah.
Ia terisak sendirian di ruangan mewah itu. Ia merasa benar-benar terisolasi. Bram tidak hanya mengawasi fisiknya melalui Anwar, tapi pria itu sudah merasuki setiap jengkal privasi digitalnya.
"Aku membencimu, Daddy... aku membencimu," bisik Aluna lirih di sela isakannya.
Namun, di dalam lubang telinga Bram yang sedang berada di tengah rapat direksi, suara isakan itu terdengar sangat jernih.
Bram tidak marah didengar kata 'benci' itu. Ia justru tersenyum tipis di balik berkas laporan keuangannya.
Bagi Bram, kebencian Aluna adalah bentuk emosi yang masih menunjukkan bahwa gadis itu sangat terikat padanya. Dan selama Aluna terikat, Bram merasa ia telah menang.
Bram mematikan mikrofon di mejanya sejenak dan berbisik pelan, seolah Aluna ada di depannya.
"Bencilah aku sepuasmu, Aluna. Tapi kau tidak akan pernah bisa pergi. Kau terlalu berharga untuk kubiarkan bebas di dunia yang kotor ini."
Siang itu, Aluna kembali ke kelas dengan mata sembap yang ditutupi bedak tipis. Ia tidak lagi bicara pada siapa pun. Ia duduk diam, menatap kosong ke depan, sementara di ambang pintu, bayangan hitam Anwar tetap setia menunggunya, memastikan bahwa sang putri tetap aman di dalam sangkarnya yang tak terlihat.