NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Penyerahan Terakhir ​

​Pintu jip putih milik keluarga Vance terbanting keras. Ezra berlari menembus kabut, wajahnya tampak liar karena ketakutan. Saat ia sampai di ambang pintu bengkel tua itu, matanya langsung menangkap sosok Liora yang sedang dipapah oleh Sora.

​"Liora!" Ezra menyerbu masuk, mengabaikan Hael yang berdiri menghalangi jalan. Ia langsung merengkuh Liora ke dalam pelukannya, menangis di bahu wanita itu dengan suara yang memilukan. "Jangan pernah lakukan itu lagi... kumohon... aku hampir gila di pesawat tadi..."

​Sora melepaskan pegangannya pada Liora. Tangannya kini terasa kosong, namun anehnya, hatinya tidak lagi terasa seberat biasanya. Ia berdiri di sana, hanya beberapa jengkal dari pelukan hangat itu—pelukan yang selama sepuluh tahun ia impikan untuk dirinya sendiri.

​Ezra mendongak, menatap Sora dengan mata yang memerah. "Sora... aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu. Kamu benar-benar... kamu selalu ada saat aku membutuhkanmu. Kamu menyelamatkannya. Kamu menyelamatkan kami."

​Sora menatap Ezra. Ia melihat pria itu dengan cara yang berbeda sekarang. Ezra tetap tampan, tetap memiliki suara yang menenangkan, namun ia bukan lagi pusat semesta Sora. Ia hanya seorang pria yang sangat mencintai wanita lain, dan itu bukan kesalahan Ezra—itu adalah kenyataan.

​"Aku tidak menyelamatkan 'kalian', Ezra," ucap Sora datar. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan sebagai manusia."

​Ezra tertegun mendengar nada suara Sora yang asing baginya. "Ra, apa maksudmu? Kamu sedang marah? Aku janji, setelah ini semuanya akan berbeda. Aku akan meluangkan waktu untukmu, aku akan—"

​"Tidak perlu, Ezra," Sora memotong kalimat itu. "Waktumu adalah milik Liora. Dan waktuku... waktuku sudah habis untukmu. Aku sudah memberikan setiap detiknya selama sepuluh tahun terakhir, dan malam ini adalah detik terakhir yang bisa kuberikan."

​Sora merogoh saku mantelnya, mengeluarkan kunci cadangan rumah Ezra yang selama ini ia pegang untuk berjaga-jaga jika Ezra butuh bantuannya. Ia meletakkan kunci itu di atas sebuah jam meja tua yang sudah mati di samping Ezra.

​"Jangan meneleponku lagi jika dia menghilang. Jangan mencariku saat kamu butuh sandaran. Carilah sandaranmu pada wanita yang kamu pilih," lanjut Sora.

​Hael, yang sejak tadi hanya menonton, perlahan berjalan mendekati Sora. Ia meletakkan tangannya di pinggang Sora, sebuah gerakan yang mengejutkan baik bagi Sora maupun Ezra.

​"Sudah cukup dramanya, Vance," ucap Hael dengan nada dingin yang penuh kemenangan. "Pemain penggantimu sudah memutuskan untuk berhenti dari pertunjukan ini. Sekarang, bawa pulang wanitamu dan perbaiki hidupmu sendiri."

​Ezra menatap tangan Hael di pinggang Sora, lalu menatap wajah Sora yang tampak sangat tenang. Ada kilat kehilangan di mata Ezra—sebuah kesadaran yang terlambat bahwa ia baru saja kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah arloji porselen yang diperbaiki. Ia kehilangan hati yang paling tulus yang pernah mencintainya.

​"Sora... kamu serius?" tanya Ezra lirih.

​Sora tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berbalik, membelakangi pelukan itu, membelakangi aroma kayu manis yang pernah ia puja, dan melangkah menuju pintu keluar. Setiap langkahnya terasa ringan, seolah-olah beban ribuan ton telah terangkat dari pundaknya.

​Ia berjalan melewati Hael, namun Hael tetap mengikutinya dari belakang, menjaganya seperti bayangan yang setia. Saat mereka sampai di luar, fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Warna oranye kemerahan mulai menyapu kabit sungai yang kelam.

​"Kamu melakukannya," bisik Hael saat mereka sampai di depan jipnya.

​Sora menatap langit yang mulai terang. "Aku melakukannya. Aku berjalan membelakangi mereka tanpa menoleh."

​"Dan bagaimana rasanya?"

​Sora tersenyum, senyum pertama yang benar-benar tulus dalam waktu yang sangat lama. "Rasanya seperti jam di dadaku akhirnya mulai berdetak lagi, Hael. Tapi kali ini, aku yang memutar kuncinya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!