“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak seperti yang kamu duga
“Uhuk! Uhuk…!”
Sekar tersedak teh yang belum sempat ia telan. Dadanya terasa panas. Ia terbatuk-batuk sambil memukul dadanya sendiri.
Langit hanya melirik sekilas.
“Pelan-pelan minumnya,” tegurnya datar.
Sekar menatapnya tak percaya. “Kamu gila, ya, Mas?”
“Tidak.” Jawabannya tenang masih dengan raut datarnya. “Aku serius.”
Sekar meletakkan gelasnya dengan keras di atas dashboard. Napasnya masih tersengal setelah tersedak.
“Maksud Mas ngomong begitu apa? Mau ngejek aku?” Suaranya meninggi. “Mas pikir aku serendah itu? Dengan mudah jatuh ke pelukan orang lain setelah dikhianati suami sendiri?”
Langit tetap fokus ke jalan, membiarkan Sekar meluapkan emosinya.
“Mas pikir pernikahan itu apa? Ganti baju? Tinggal lepas satu, pakai yang lain?”
Sekar mendengkus kesal.
“Lagipula manusia macam apa yang tiba-tiba ngajak menikah perempuan yang jelas-jelas masih sah jadi kakak iparnya sendiri?”
“Aku juga nggak tertarik pada istri orang,” ujar Langit datar. “Tapi aku nggak suka melihat perempuan meratap hanya karena diselingkuhi.”
Sekar mengepalkan tangannya.
“Aku bukan perempuan selemah itu.”
“Bagus.” Langit menoleh sebentar, lalu kembali menatap jalan. “Kalau begitu buktikan. Apa yang mau kamu lakukan setelah tahu suamimu berselingkuh?”
Sekar terdiam tanpa bisa menjawab. Ia memang belum tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini.
“Aku bisa membantumu,” lanjut Langit tenang. “Tapi setelah semuanya selesai, kamu harus menikah denganku.”
Sekar menatapnya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia menghembuskan napas kasar.
“Kayaknya Mas benar-benar kesambet setan kuburan,” ucapnya sinis.
Wajahnya ditekuk, terlihat masam dan kesal.
Langit melirik dari ekor matanya, lalu tersenyum samar. Setidaknya wanita itu sudah tidak tampak seperti orang yang kehilangan jiwa.
Pria itu mengembuskan napas pelan.
“Kamu nggak tahu apa-apa tentang suamimu, Sekar,” katanya akhirnya.
Nada suaranya tetap datar, tetapi ada sesuatu yang lebih berat di balik kalimat itu.
“Dia nggak seperti yang kamu kenal. Ada banyak hal yang nggak pernah terungkap ke luar.”
Sekar mengerutkan kening. Rasa kesal yang tadi meledak perlahan berubah menjadi curiga.
“Maksud Mas apa?” tanyanya tajam. “Mas jangan ngomong setengah-setengah, dong. Kalau memang tahu sesuatu, ya, bilang aja. Mas tahu kalau Mas Raka selingkuh? Apalagi? Dia tidur sama perempuan lain? Atau jangan-jangan selingkuhannya nggak cuma satu? Berapa banyak yang Mas tahu?”
Langit tidak langsung menjawab. Ia menyalakan lampu sein, memutar kemudi perlahan dan masuk ke area parkir.
Sikapnya yang tenang justru membuat Sekar semakin jengkel. Perempuan itu menatap wajah Langit dengan kesal.
Langit menghela napas pendek.
“Suamimu bukan sekadar pria yang selingkuh dengan perempuan lain,” ujarnya akhirnya. “Kalau hanya itu, aku nggak akan repot-repot ikut campur.”
Sekar menegang. “Lalu?”
Hening. Bukannya menjawab, Langit justru membuka sabuk pengamannya.
“Aku akan ungkap semuanya, dan akan kukatakan semuanya setelah kamu setuju menikah denganku. Pikirkan itu baik-baik,” ujarnya.
Ia menoleh ke arah Sekar sekali lagi.
“Pulanglah. Jangan kemana-mana. Ini udah hampir sore. Apa pun masalah yang kamu hadapi, jangan pernah mengabaikan kesehatan janinmu. Dia tanggung jawab kamu sekarang. Jangan jadi ibu yang egois.“
Langit membuka pintu mobil membuat Sekar terkejut. Ia menatap sekeliling dan baru menyadari mereka sudah tiba di kampus tempat Langit mengajar.
Pria itu kembali membuka pintu mobilnya, melongok sedikit.
“Terima kasih tumpangannya. Tapi setelah ini, pikirkan tawaran aku baik-baik.“
Sekar masih menatap pintu mobil yang baru saja ditutup Langit. Kata-kata pria itu masih menggema di kepalanya.
Menikahlah denganku.
Gila.
Benar-benar tidak masuk akal. Laki-laki gila mana yang tiba-tiba melamar kakak iparnya sendiri seperti itu?
Sekar mengembuskan napas kasar. Tangannya mengepal di setir mobil. Langit bukan tipe orang yang suka bercanda, apalagi tentang hal seperti itu. Kalimat lain terlintas di benaknya.
Suamimu bukan sekadar pria yang selingkuh.
'Jadi apa maksudnya? Bahkan yang aku dengar tadi sudah cukup menyakitkan? Atau … jangan-jangan Langit memang tahu sesuatu tentang Raka yang selama ini nggak pernah aku lihat?'
Sekar menghembuskan napas panjang sebelum meninggalkan parkiran kampus itu.
***
Malam itu kamar Sekar dan Raka tampak hening. Hanya terdengar suara ritsleting koper yang dibuka-tutup.
Sekar berdiri di sisi ranjang sambil melipat kemeja Raka satu per satu. Tidak ada yang berubah dari luar. Hanya hatinya saja yang terasa seperti diremas.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang meskipun ingin rasanya ia meronta, menamparnya sekuat tenaga dan bertanya apa alasan pria itu selingkuh.
Tapi tidak. Belum saatnya. Sekar memasukkan kemeja terakhir ke dalam koper, lalu menutupnya dengan hati-hati.
“Mas beneran cuma dua hari, kan?” tanyanya pelan.
Raka yang sedang memeriksa ponselnya mengangguk. “Iya, Sayang. Paling lusa udah pulang.”
Sekar mengangguk kecil. Ia menggeser koper itu pelan, lalu duduk di tepi ranjang. Tepat di samping suaminya.
Beberapa detik ia terdiam, seolah ragu.
“Mas …,” panggilnya lagi.
“Hm?”
Sekar menoleh. Tatapannya terlihat biasa saja, bahkan ada sedikit manja di sana—tatapan yang selama ini selalu membuat Raka luluh.
“Beneran aku nggak boleh ikut?”
Raka mengangkat kepala.
Sekar menunduk sedikit, memainkan ujung bajunya seperti anak kecil yang sedang merengek.
“Padahal aku maunya ikut, Mas.” Bibirnya sedikit cemberut. “Anak kita juga pengin bareng terus sama Papanya. Istri lagi hamil, bukannya disayang-sayang, malah ditinggal pergi,” gerutunya setengah merajuk.
Raka tertawa kecil. Ia mendekat, lalu mencolek hidung Sekar.
“Kamu ini. Ini, kan, urusan kerjaan, Sayang. Lagian cuma dua hari, kok. Janji, deh, kapan-kapan kalau pas nggak banyak kerjaan, kita jalan-jalan berdua. Kalau sekarang, takutnya kamu malah bosan di sana.“
Sekar pura-pura menghela napas kecewa. Padahal dalam hati ia tersenyum getir.
'Bilang aja kamu mau mesra-mesraan sama gundik itu, kan, Mas?'
“Iya juga, sih,” gumamnya lirih. “Tapi aku lagi pengin dimanjain.”
Kalimat itu membuat Raka tersenyum tipis. Ia meraih bahu Sekar dan menariknya ke dalam pelukan.
“Sabar, ya, Sayang. Mas, kan, kerja buat kamu, buat anak kita. Cuma bentar doang kok”
Di dalam pelukan itu, Sekar menutup matanya. Aroma parfum Raka masih sama seperti biasanya. Tapi entah kenapa, sekarang terasa menjijikkan.
'Ternyata sepintar itu kamu bersandiwara, Mas. Aku yang begitu bodoh karena percaya sama mulut manismu yang berbisa,' desisnya dalam hati.
***
Malam sudah cukup larut ketika sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan yang sepi. Lampu jalan yang temaram memantulkan bayangan panjang di aspal yang masih basah setelah hujan.
Langit turun dari mobilnya dengan langkah tenang. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara matanya menyapu sekitar sebelum berhenti pada seorang pria yang sudah menunggunya di bawah pohon.
Pria itu mengenakan jaket gelap dan topi yang menutupi sebagian wajahnya.
Tanpa banyak basa-basi, pria itu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tas selempangnya.
Langit menerimanya. Ia membuka amplop itu perlahan, lalu menarik keluar beberapa lembar foto.
Tatapannya langsung mengeras.
Beberapa foto memperlihatkan Anita keluar dari sebuah hotel bersama pria yang berbeda-beda.
“Pria-pria itu bukan orang sembarangan, Pak,” ujar pria itu pelan. “Mereka punya jabatan penting di pemerintahan.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Sepertinya perempuan itu tidak cuma bermain dengan Pak Raka.”
Langit tetap diam.
“Dia juga sedang menjebak seseorang yang jauh lebih besar.”
Langit masih tidak menjawab. Ia hanya menghembuskan napas panjang, lalu memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop.
“Terus awasi,” katanya singkat. “Jangan sampai lengah. Tapi jangan sampai Raka curiga.”
Pria itu mengangguk.
Ia sempat menatap Langit sejenak sebelum berkata ragu, “Pak … Bu Sekar—”
“Dia baik-baik saja,” potong Langit datar. “Kamu cukup lakukan tugasmu dengan baik. Sekar biar menjadi urusanku.”
Pria itu kembali mengangguk, lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
Langit tetap berdiri di sana beberapa saat. Tangannya mencengkeram amplop cokelat itu sedikit lebih erat.
“Jadi ternyata … kamu bukan cuma gundik murahan,” gumamnya pelan.
Tatapannya menajam.
“Menarik.”
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂