menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
BAB 9: Cahaya Pagi di Balik Kaca Setinggi Langit
Cahaya matahari pagi Tokyo yang pucat menembus celah-celah tirai otomatis penthouse mewah itu, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Di dalam kamar utama, keheningan yang intim masih menyelimuti atmosfer, aroma sisa gairah semalam bercampur dengan wangi pinus dan musk yang khas dari tubuh Aurelius.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu kayu ek besar itu terdengar pelan namun tegas, sebuah ritme yang sangat dikenal oleh Aurelius. Itu adalah ketukan Yoto—ketukan yang menandakan bahwa dunia luar, dengan segala kerumitan takhta dan intriknya, telah datang menagih kehadirannya.
Aurelius, yang kini lebih suka disebut Ren dalam ruang privat ini, mengerang pelan. Ia bangkit dari sisi Hana, berhati-hati agar tidak mengusik tidur lelap wanita itu. Ia menyambar jubah sutra hitam panjang yang tersampir di kursi malas, mengikat talinya dengan kuat di pinggang, lalu melangkah menuju pintu.
Saat pintu terbuka sedikit, wajah kaku Yoto menyambutnya. "Maaf mengganggu istirahat Anda, Tuan Muda," ucap Yoto sambil menunduk hormat.
"Ada apa, Yoto?" suara Ren serak khas bangun tidur, namun tetap membawa otoritas yang tajam.
"Tuan Besar Maximilian telah menanyakan keberadaan Anda sejak pukul enam pagi tadi. Beliau tidak senang mengetahui putra sulungnya tidak kembali ke Mansion setelah pesta Moretti berakhir. Beliau meminta penjelasan segera."
Ren menyandarkan bahunya di bingkai pintu, matanya yang tajam menatap lorong apartemen yang sepi. "Katakan pada Ayah bahwa aku pulang terlalu larut dan tidak ingin membangunkan seisi Mansion dengan deru mesin Bugatti. Apartemen ini lebih dekat dari lokasi pesta. Aku akan menghadapnya sore nanti, setelah urusan bisnisku di sini selesai."
Yoto terdiam sejenak, matanya sempat melirik sekilas ke arah dalam kamar yang remang-remang, namun ia segera menunduk kembali. Sebagai asisten yang setia, ia tahu persis siapa yang ada di dalam sana. "Baik, Tuan Muda. Saya akan menyampaikan alasan tersebut. Namun, Tuan Besar juga menyebutkan bahwa Kaito Shimada terus menghubungi kantor pusat, menanyakan keberadaan Nona Asuka."
"Blokir semua akses komunikasinya," perintah Ren dingin. "Jika dia berani melangkah satu inci pun ke gedung ini, biarkan tim keamanan kita menanganinya secara permanen. Pergilah."
Ren menutup pintu tanpa menunggu jawaban. Ia membuang napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kemarahan yang dipicu oleh nama Kaito. Ia berbalik dan berjalan kembali menuju ranjang besar di tengah ruangan.
Di sana, Hana masih tertidur lelap. Selimut sutra putih yang mahal hanya menutupi separuh tubuhnya, mengekspos bahu yang halus dan punggung yang indah. Tanpa sehelai pakaian pun, Hana tampak begitu rapuh namun mempesona di mata Ren—seperti porselen berharga yang baru saja ia selamatkan dari reruntuhan.
Ren duduk di tepi ranjang, matanya melembut. Tangannya yang besar, yang semalam mencengkeram penuh gairah, kini bergerak dengan kelembutan yang mustahil. Ia mengelus pipi Hana dengan punggung jarinya, membelai garis rahang wanita itu hingga ke telinganya.
"Hana..." bisiknya lirish.
Hana mengerang kecil, bulu matanya yang lentik bergetar sebelum akhirnya matanya terbuka perlahan. Begitu ia melihat wajah Ren yang berada sangat dekat darinya, sebuah senyum malu-malu merekah di bibirnya. Ia teringat segalanya—semua sentuhan, semua desahan, dan bagaimana pria ini menjemputnya dari neraka Kaito semalam.
"Selamat pagi," suara Hana parau, terdengar sangat manis di telinga Ren.
"Selamat pagi, Meneer," jawab Ren dengan candaan kecil yang hanya ia tunjukkan pada Hana. Ia membungkuk, memberikan ciuman ringan di kening Hana. "Kau tidur sangat nyenyak. Apakah aku terlalu melelahkanmu semalam?"
Wajah Hana memerah seketika. Ia menarik selimut sutranya lebih tinggi hingga menutupi hidungnya, hanya menyisakan matanya yang jernih. "Kau tahu jawabannya, Ren-san."
Ren tertawa rendah, suara tawa yang jarang sekali terdengar oleh dunia luar. Ia berdiri dan berjalan menuju lemari besar di sudut kamar, mengambil sebuah jubah mandi tebal berbahan katun Mesir berwarna putih bersih. Ia melemparkannya dengan lembut ke arah Hana.
"Pakai ini. Aku akan membuatkan sarapan. Kita butuh tenaga sebelum menghadapi badai yang akan datang hari ini."
Hana bangkit, membiarkan selimutnya jatuh saat ia mengenakan jubah putih yang tampak terlalu besar di tubuh mungilnya. Lengan jubah itu menutupi tangannya sepenuhnya, membuatnya terlihat menggemaskan. Ia mengikuti Ren menuju dapur terbuka yang mewah di lantai utama apartemen.
Di sana, pemandangan yang tersaji membuat Hana terpaku. Aurelius Renzo von Hohenzollern—pria yang semalam berdiri di samping orang terkaya nomor satu dunia, pria yang ditakuti oleh Kaito Shimada—kini sedang berdiri di depan kompor dengan jubah hitamnya yang tersingkap di bagian dada. Ia sedang memecahkan telur dan memotong asparagus dengan kemahiran yang sama seperti saat ia memegang kunci pas di bengkel.
Hana mendekat, duduk di kursi tinggi di meja island dapur. "Aku tidak menyangka Tuan Muda Hohenzollern bisa memasak."
Ren meliriknya sambil membalik omelette di atas wajan. "Aku tinggal sendirian di Berlin selama tiga tahun saat kuliah. Ayahku ingin aku merasakan penderitaan, jadi dia hanya memberiku apartemen tanpa pelayan. Aku belajar bahwa jika aku ingin makan enak, aku harus melakukannya sendiri."
Ren meletakkan dua piring berisi sarapan bergaya Eropa yang tertata cantik di depan Hana. Ada omelette lembut, roti panggang dengan mentega truffle, dan potongan buah segar. Ia kemudian menuangkan kopi aroma Blue Mountain ke dalam cangkir porselen.
"Makanlah," ucap Ren, duduk di samping Hana.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, sebuah kemewahan yang tidak pernah Hana dapatkan di rumahnya sendiri. Di sini, di lantai paling atas Tokyo, tidak ada teriakan ayahnya, tidak ada ancaman Kaito. Hanya ada dia dan Ren.
Ren memperhatikan Hana yang makan dengan lahap. Ia meraih tangan Hana, mengusap jemari wanita itu dengan ibu jarinya. "Dua minggu, Hana. Berikan aku waktu dua minggu. Aku akan membereskan semua kontrak keluarga Shimada dan memaksa ayahmu membatalkan pertunangan itu tanpa merusak Asuka Group."
Hana menatap Ren dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku, Ren? Kau bisa memiliki wanita mana pun di dunia ini. Kenapa harus aku, putri dari perusahaan yang hampir hancur?"
Ren meletakkan garpunya. Tatapannya menjadi sangat dalam, menembus langsung ke dalam jiwa Hana. "Karena saat kau datang ke bengkel kotor itu, kau tidak melihat emas di belakang namaku. Kau melihatku sebagai Ren. Kau memberiku cokelat saat semua orang memberiku tuntutan. Di dunia yang penuh dengan transaksi, kau adalah satu-satunya hal yang tulus yang pernah kutemukan."
Ren berdiri, menarik Hana ke dalam pelukannya. Di tengah dapur mewah itu, dengan sinar matahari yang semakin terang, mereka berpelukan erat. Jubah hitam dan putih mereka kontras satu sama lain, melambangkan dua dunia yang berbeda namun kini terikat oleh takdir yang tak terelakkan.
"Aku akan melindungimu, Hana. Meskipun aku harus menghancurkan separuh ekonomi Jepang untuk melakukannya," bisik Ren di telinga Hana.
Hana menyandarkan kepalanya di dada bidang Ren, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang namun kuat. Ia tahu, di balik kemewahan apartemen ini dan keromantisan sarapan mereka, perang besar baru saja dimulai. Tapi untuk saat ini, di pelukan Ren, ia merasa telah menemukan rumah yang sesungguhnya.