Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17: Penjara Penyiksaan Darah
Dunia tidak lagi memiliki warna bagi Li Chen. Kegelapan yang menyelimutinya kali ini bukanlah kegelapan dari kekuatannya sendiri, melainkan kegelapan dari jurang keputusasaan yang dingin. Kesadarannya timbul tenggelam di antara rasa sakit yang tajam dan kebas yang mematikan.
Saat matanya perlahan terbuka, hal pertama yang ia rasakan adalah bau karat yang menyengat—bau darah yang membusuk.
Li Chen mendapati dirinya tergantung di tengah udara. Pergelangan tangan dan kakinya dipaku dengan Paku Penembus Tulang yang terbuat dari perak terkutuk, menembus langsung ke saraf-sarafnya. Rantai-rantai besar yang dialiri rune merah darah menahan tubuhnya, menghubungkannya ke empat pilar batu giok hitam di sudut ruangan.
Di bawah kakinya, terdapat sebuah kolam luas berisi cairan merah pekat yang mendidih. Itu adalah Kolam Penyiksaan Darah Myriad, tempat di mana Sekte Teratai Berdarah mengumpulkan darah dari ribuan korban untuk mengekstrak esensi kehidupan secara paksa.
"Ugh..." Li Chen terbatuk, dan setiap gerakan kecil membuat paku di tulang-tulangnya bergeser, mengirimkan gelombang rasa sakit yang sanggup membuat ahli ranah Inti Emas sekalipun kehilangan akal sehatnya.
"Bangun juga kau, Sang Iblis Bintang," sebuah suara serak dan penuh kemenangan terdengar dari balik jeruji besi di depan kolam.
Patriark Xue berdiri di sana, menatap Li Chen dengan mata yang haus akan kekuasaan. Di sampingnya, beberapa tetua sekte sedang sibuk mengatur formasi di sekitar kolam.
"Kau benar-benar mahluk yang luar biasa, Li Chen," lanjut Patriark Xue. "Tangan Dewa menghancurkan separuh Benua Tengah, tapi kau masih bernapas. Bahkan sekarang, tubuhmu sedang mencoba menyembuhkan diri di tengah perak terkutuk ini. Aku belum pernah melihat vitalitas seperti ini."
Li Chen mendongak, rambut peraknya yang kotor menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang merah redup menatap Patriark Xue dengan kebencian yang murni. "Di mana... Yue Yin?"
Patriark Xue tertawa, suara tawanya memantul di dinding penjara yang lembap. "Nona muda itu sedang dipersiapkan untuk menjadi 'Kuali Roh' bagiku. Begitu aku membedahmu dan mengekstrak Inti Matahari Murni yang kau telan dari Lin Feng, aku akan menggunakan darahmu dan jiwa Yue Yin untuk mencapai ranah Transformasi Dewa (Deity Transformation)! Aku akan menjadi penguasa tunggal benua ini!"
Li Chen mencoba meronta, namun rantai merah itu bersinar terang, menyerap Qi hitam yang tersisa di tubuhnya.
"Jangan membuang tenagamu," ejek seorang tetua. "Rantai ini adalah Rantai Pengikat Jiwa. Semakin kau meronta, semakin cepat ia akan menghisap esensi kehidupanmu untuk mengisi Kolam Darah di bawahmu."
Patriark Xue berbalik, meninggalkan penjara itu. "Biarkan dia di sana selama tiga hari. Biarkan Kolam Darah ini melunakkan pertahanan jiwanya sebelum kita mulai membedahnya. Pastikan dia tetap hidup... tapi pastikan dia berharap dia sudah mati."
Kesunyian di Dalam Neraka
Pintu besi besar itu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Li Chen dalam kesunyian yang mencekam. Hanya suara tetesan darah dari luka-lukanya yang jatuh ke kolam mendidih di bawahnya.
"Nak... apakah kau masih di sana?" suara Kaisar Pedang terdengar sangat lemah, hampir seperti bisikan di kejauhan.
"Senior... aku gagal..." Li Chen berbisik parau. "Tubuhku... hancur total. Aku tidak bisa merasakan Inti Hitamku lagi."
"Jangan bodoh!" Kaisar Pedang membentak dengan sisa energinya. "Dantianmu tidak hancur. Ia hanya menutup diri untuk melindungi Jiwa Iblis-mu yang baru lahir. Kau berada di tempat yang paling berbahaya, tapi juga tempat yang paling menguntungkan bagi Seni Penelan Bintang-mu."
Li Chen menatap kolam darah di bawahnya. Uap merah yang naik dari sana mengandung racun yang sangat korosif, namun juga mengandung ribuan esensi darah dari berbagai kultivator dan binatang buas.
"Dengarkan aku, Li Chen. Paku perak di tulangmu menyegel aliran Qi-mu ke luar, tapi mereka tidak bisa menghentikan tarikan gravitasi di dalam jiwamu. Jangan mencoba melawan rasa sakitnya. Telanlah rasa sakit itu. Gunakan Kolam Darah ini bukan sebagai siksaan, tapi sebagai tungku pemandianmu."
Li Chen memejamkan matanya. Ia mulai mengaktifkan Seni Penelan Bintang pada tingkat seluler.
Biasanya, teknik ini menyerap energi dari udara atau musuh. Namun kali ini, Li Chen harus menyerap racun yang sedang menghancurkan tubuhnya sendiri. Setiap kali uap racun dari kolam darah masuk ke paru-parunya, ia memaksanya masuk ke dalam meridiannya yang hancur.
ARGHHHHH!
Rasa sakitnya seribu kali lebih hebat dari saat ia berada di tungku Mo Gui. Rasanya seperti ribuan ulat api sedang menggerogoti setiap sarafnya. Paku perak di tangannya mulai bergetar, bereaksi terhadap energi negatif yang mulai berkumpul di dalam tubuh Li Chen.
Tamu dari Kegelapan
Di tengah proses penyiksaan diri itu, sebuah suara pelan terdengar dari sel di sudut paling gelap penjara, sel yang terpisah oleh segel yang lebih kuat dari milik Li Chen.
"Teknik yang menarik... Kau mencoba mengubah racun darah menjadi fondasi baru? Kau benar-benar gila, Nak."
Li Chen membuka matanya yang bersimbah darah. Ia melihat sesosok pria tua yang dirantai dengan cara yang lebih mengerikan darinya. Pria itu tidak hanya dipaku, tapi tubuhnya ditembus oleh tujuh pedang tulang yang mengunci tujuh titik meridian utamanya. Rambutnya putih panjang dan wajahnya dipenuhi luka bakar, namun matanya memancarkan wibawa yang tak bisa disembunyikan.
"Siapa... kau?" tanya Li Chen.
Pria tua itu tersenyum pahit. "Namaku sudah lama dilupakan. Tapi dulu, orang-orang memanggilku Yue Zhan. Pemimpin sah Sekte Teratai Hitam... dan ayah dari gadis yang kau cari."
Mata Li Chen melebar. "Ayah... Yue Yin?"
"Ya," Yue Zhan menatap Li Chen dengan tatapan menyelidik. "Aku merasakan aura putriku pada dirimu. Dan aku juga merasakan aura 'Sembilan Bintang'. Jadi... nubuat itu benar. Benih yang dibuang itu telah kembali untuk menghancurkan kebunnya."
Yue Zhan menghela napas, darah hitam merembes dari mulutnya. "Dengarkan, Nak. Patriark Xue telah mengkhianatiku sepuluh tahun lalu. Ia bekerja sama dengan Sekte Pedang Langit untuk menggulingkanku karena aku menolak menyerahkan rahasia 'Darah Dewa'. Sekarang, ia menggunakanmu untuk memicu kebangkitan Darah Dewa tersebut secara paksa."
"Apa itu Darah Dewa?" tanya Li Chen, sambil terus menyedot energi dari kolam darah di bawahnya.
"Darah Dewa bukanlah cairan," jawab Yue Zhan. "Itu adalah sisa-sisa kemauan dari Dewi Teratai Purba, yang tak lain adalah nenek moyangmu. Xue ingin menggabungkan darah Iblis Bintang-mu dengan warisan Teratai milik Yue Yin untuk menciptakan mahluk sempurna yang bisa melampaui hukum Langit."
Yue Zhan menatap rantai yang mengikat Li Chen. "Kau tidak akan bisa mematahkan rantai itu dengan kekuatan fisik. Rantai itu memakan Qi. Satu-satunya cara adalah dengan membanjirinya."
"Membanjirinya?"
"Ya. Kolam di bawahmu mengandung esensi dari puluhan ribu nyawa. Jika kau bisa menelan seluruh kolam itu dalam satu waktu, energi yang meledak akan melampaui kapasitas serap rantai tersebut. Tapi risikonya... jiwamu akan meledak jika kau tidak bisa menahan beban memori dari puluhan ribu nyawa yang mati di sana."
Li Chen menatap cairan merah yang mendidih di bawahnya. Itu adalah tantangan terbesar bagi Seni Penelan Bintang. Ini bukan lagi tentang menyerap energi, tapi tentang menelan lautan penderitaan.
"Aku sudah terbiasa dengan penderitaan," kata Li Chen, suaranya berubah menjadi sangat dalam, bergetar dengan kekuatan Jiwa Iblis-nya.
Li Chen melepaskan semua pertahanannya. Ia membiarkan gravitasi jiwanya menarik seluruh cairan di dalam Kolam Penyiksaan Darah ke atas.
Ledakan di Penjara Darah
BZZZZZZZT!
Cairan merah di kolam itu mulai berputar, membentuk pusaran raksasa yang naik menuju tubuh Li Chen. Saat cairan itu menyentuh kulitnya, paku-paku perak di tubuhnya mulai membara putih. Rantai Pengikat Jiwa bersinar dengan cahaya merah yang menyilaukan, mencoba menyerap energi yang masuk, namun volume energinya terlalu besar.
"Seni Penelan Bintang: Sembilan Gerbang Pembantaian—Gerbang Kedelapan: Lautan Darah Abadi!"
Li Chen meraung. Seluruh penjara bawah tanah bergetar hebat. Dinding-dinding batu mulai retak.
Puluhan ribu memori korban Kolam Darah menghantam kesadaran Li Chen. Ia melihat wajah-wajah orang tua, anak-anak, dan prajurit yang tewas di tangan Sekte Teratai Berdarah. Teriakan mereka memenuhi kepalanya, mencoba merobek kewarasannya.
"Tetaplah sadar, Li Chen! Kau adalah lubang hitam! Kau adalah akhir dari segala cerita! Jangan biarkan mereka mengendalikanmu, JADILAH TUAN ATAS MEREKA!" raung Kaisar Pedang.
Mata Li Chen berubah menjadi perak murni dengan pusaran merah di tengahnya.
"DIAM!" teriak Li Chen kepada suara-suara di kepalanya. "Kalian semua... jadilah kekuatanku untuk membalas dendam kalian!"
BOOOOOOOOOOM!
Rantai Pengikat Jiwa hancur berkeping-keping. Paku-paku perak terlontar dari tubuh Li Chen seperti peluru, menghancurkan pilar-pilar giok hitam.
Li Chen mendarat di dasar kolam yang kini telah kering kerontang. Tubuhnya tidak lagi kurus atau hancur. Otot-ototnya terdefinisi dengan sempurna, kulitnya memancarkan cahaya merah tembaga yang redup, dan luka-lukanya telah menutup sepenuhnya, meninggalkan bekas luka berbentuk rune kuno.
Ia berdiri, dan aura yang terpancar darinya menyebabkan seluruh penjara itu mulai membeku—bukan karena es, tapi karena kehadiran maut yang begitu pekat.
Li Chen berjalan menuju sel Yue Zhan. Dengan satu lambaian tangan, tujuh pedang tulang yang mengunci tubuh pria tua itu hancur menjadi debu.
Yue Zhan jatuh ke pelukan Li Chen, menatap pemuda itu dengan ngeri sekaligus bangga. "Kau... kau benar-benar melakukannya. Kau telah mencapai ranah Jiwa Baru (Nascent Soul) dalam kondisi paling mustahil."
"Belum selesai," kata Li Chen, suaranya seperti guntur yang tertahan. "Aku merasakan Yue Yin. Dia ada di Aula Utama. Ritualnya sudah dimulai."
Li Chen mengangkat kepalanya, menatap langit-langit penjara yang terbuat dari lapisan beton dan formasi pelindung setebal sepuluh meter. Ia mengepalkan tinjunya, dan energi hitam-emas mulai terkumpul di lengannya.
"Patriark Xue... kau ingin melihat iblis yang sebenarnya?"
Li Chen menghantamkan tinjunya ke langit-langit.
DUARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!
Seluruh markas Sekte Teratai Berdarah yang berada di atas gunung bergetar hebat. Puncak gunung itu meledak dari dalam, memuntahkan pilar cahaya hitam yang menembus awan dan mengubah siang menjadi malam seketika.
Li Chen melesat keluar dari reruntuhan, membawa Yue Zhan di satu tangannya dan pedang Takdir Sembilan Bintang di tangan lainnya. Di atas sana, di Aula Utama yang sekarang terbuka lebar karena ledakan, ia melihat Patriark Xue sedang berdiri di atas altar, tangannya memegang belati yang diarahkan ke jantung Yue Yin yang terikat.
"XUE!" raung Li Chen, suaranya membelah langit.
Patriark Xue menoleh, wajahnya pucat pasi melihat sosok yang seharusnya sudah mati itu kini berdiri di atas awan dengan kekuatan yang melampaui imajinasinya.
"Kau... bagaimana mungkin?!"
Li Chen tidak memberikan jawaban. Ia hanya mengangkat pedangnya, dan sembilan bintang hitam di belakang punggungnya mulai bersinar dengan cahaya kematian yang murni.
"Malam ini, Sekte Teratai Berdarah akan dihapus dari sejarah."