NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pelukan Penyesalan Masa Lalu dan Jangkar yang Diangkat

Malam terakhir di Kerajaan Valeria terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berhembus melewati celah-celah jendela kayu penginapan Bulan Sabit Berdarah, membawa serta aroma garam dari laut barat yang jauh.

Di dalam kamarnya yang remang-remang, Ajil sedang duduk di tepi ranjang, membersihkan bilah pisau peraknya dengan selembar kain. Pikirannya sedang memetakan rute pelayaran menuju Benua Utara yang ekstrem. Namun, ketenangan malam itu terpecah oleh sebuah ketukan yang sangat pelan dan ragu-ragu di pintu kamarnya.

Tok... Tok...

Ajil meletakkan pisaunya. Ia melangkah tanpa suara, lalu membuka pintu kayu tersebut.

Di ambang pintu, berdirilah Karin.

Gadis resepsionis itu tidak lagi mengenakan seragam resmi Guild-nya. Ia memakai gaun katun sederhana berwarna putih pucat yang dibalut mantel wol rajutan. Matanya yang biru terlihat sangat sembab dan merah, pertanda bahwa ia telah menangis berjam-jam sejak insiden di Guild siang tadi. Di tangannya yang gemetar, ia memegang sebuah bungkusan kain berisi bekal makanan—aroma Roti Gandum Daging Asap dan Pai Apel Manis menguar hangat darinya. Dan di atas bungkusan itu, tergeletak kalung dengan liontin kristal biru, Jimat Air Mata Dewi, yang selalu ia kenakan.

Karin menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap langsung mata kelam sang Algojo. Ia tahu bahwa kedatangannya kemari mungkin akan diusir, atau lebih buruk lagi, dicibir oleh elf arogan yang selalu berada di sisi pria ini.

"M-Maaf mengganggu istirahat Anda, Tuan Ajil..." bisik Karin, suaranya parau dan bergetar hebat. Ia menyodorkan bungkusan dan kalung itu ke depan dengan kedua tangannya. "S-Saya tahu Anda tidak membutuhkan ini. T-Tapi besok Anda akan pergi ke Benua Utara. Perjalanan laut sangat dingin dan panjang. I-Ini hanya bekal kecil yang saya buat sendiri... dan jimat ini... kumohon, bawalah. Jika Anda tidak ingin memakainya, simpan saja di dalam saku Anda. S-Saya hanya ingin Anda selamat."

Ajil menatap gadis manusia yang rapuh di depannya ini. Logika dan kedinginan hatinya memerintahkan tangannya untuk tetap berada di dalam saku, memerintahkan mulutnya untuk menolak dan menutup pintu. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu. Ia tidak punya ruang di hatinya untuk cinta wanita lain.

Namun, sesuatu di dalam diri Ajil memberontak. Sebuah perintah yang bukan berasal dari otaknya, melainkan dari dasar nuraninya yang terdalam.

Tanpa disadari, tangan kanan Ajil yang terbungkus sarung tangan kulit perlahan terulur ke depan. Ia mengambil bungkusan bekal dan kalung kristal biru itu dari tangan Karin.

Karin tersentak pelan. Matanya membelalak tak percaya melihat pria sedingin es itu menerima pemberiannya. Pertahanan emosional gadis itu seketika runtuh total. Air mata yang sedari tadi ia tahan kembali tumpah deras membasahi pipinya. Ia menangis sesenggukan, bahunya bergetar hebat di ambang pintu, meratapi cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan namun begitu absolut.

Melihat tangisan itu, mata hitam Ajil tidak memancarkan hawa membunuh. Sebaliknya, tatapannya melembut untuk sesaat.

Ia melangkah maju satu tindak, dan dengan gerakan yang kaku namun sangat perlahan, Ajil merengkuh tubuh Karin yang lebih kecil darinya ke dalam pelukannya.

Karin mematung. Jantungnya seolah meledak. Ia menangis sejadi-jadinya di dada bidang pria berjaket hitam itu, membalas pelukan Ajil dengan cengkeraman putus asa di punggung Malam Abadi-nya.

Namun, pelukan ini bukanlah pelukan cinta dari seorang pria kepada wanita yang ia dambakan.

Sambil memeluk Karin, mata Ajil menatap kosong ke arah lorong kayu penginapan. Ingatannya kembali terlempar jauh melintasi dimensi, menuju kehidupannya di Bumi di masa lalu.

Bertahun-tahun sebelum ia menikahi Ami, ada seorang wanita yang selalu mengejarnya dengan tulus. Wanita yang selalu membawakannya bekal saat ia bekerja paruh waktu, yang selalu menangis mengkhawatirkannya saat ia sakit. Namun pada akhirnya, Ajil harus memberikan kekecewaan terdalam pada wanita itu karena hatinya telah memilih Ami. Di hari ia menyerahkan undangan pernikahannya, wanita di Bumi itu menangis sama persis seperti Karin saat ini. Dan karena kebodohan serta kekakuannya di masa muda, Ajil pergi begitu saja tanpa pernah sempat mengucapkan satu kalimat perpisahan yang layak untuk menghargai perasaan wanita tersebut.

Ajil memejamkan matanya, menekan rasa sesak di dadanya. Pelukan ini... adalah bentuk permintaan maaf dan ucapan terima kasih yang tertunda ribuan hari.

"Sebuah perasaan yang tulus, meski tidak bisa terbalas, tidak pantas dibuang layaknya debu," gumam Ajil pelan, suaranya yang bariton dan hangat bergetar tepat di telinga Karin, membawa kedamaian yang aneh di tengah isak tangis gadis itu.

Ajil melepaskan pelukannya secara perlahan, menatap mata biru Karin yang sembab.

"Terima kasih, Karin," ucap Ajil dengan ketulusan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun di Valeria. "Aku akan membawa bekal dan jimat ini bersamaku."

Karin menghapus air matanya sambil tersenyum sangat rapuh, namun ada sebuah kelegaan yang luar biasa di wajahnya. Ia tahu pelukan tadi adalah tanda perpisahan dan penolakan yang paling terhormat. Pria ini telah mengunci hatinya, namun ia menghargai perasaannya.

"S-Selamat jalan, Tuan Ajil. S-Semoga Dewi Lumira selalu melindungi Anda," bisik Karin. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu memutar tubuhnya, berlari kecil menyusuri lorong penginapan dan menuruni tangga menuju jalanan malam Valeria, membawa serta patah hatinya yang telah disembuhkan oleh sebuah kepastian.

Tepat saat Karin menghilang di ujung tangga, dari sebuah ceruk gelap di sisi kanan lorong, muncullah Rino dan Richard.

Kedua mantan elit Kelas A+ itu berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersilang. Mereka saling bertukar pandang, menghela napas panjang.

"Kasihan Nona Karin," bisik Richard pelan, menggelengkan kepalanya. "Dia gadis yang sangat baik. Tapi dia menaruh hatinya pada sebuah gunung es yang mustahil untuk dicairkan."

"Ya," Rino mengangguk setuju, menatap pintu kamar Ajil yang mulai tertutup. "Pelukan tadi... sama sekali tidak memancarkan hawa asmara. Tuan Ajil hanya memberikannya sebuah penutup agar gadis itu bisa melanjutkan hidup. Hati Pemimpin kita sudah terkunci rapat, entah untuk siapa."

Di dalam kamar, setelah Ajil menutup pintu dan meletakkan bekal serta jimat itu di atas meja kayunya, udara di sudut ruangan tiba-tiba beriak seperti pantulan air.

Sihir kamuflase angin suci tingkat tinggi yang menyatu dengan partikel udara perlahan pudar. Erina bermanifestasi dari ketiadaan, duduk dengan anggun di atas kursi rotan. Zirah sutra mithrilnya memantulkan cahaya bulan dari jendela. Ia telah berada di dalam kamar itu sejak awal, memata-matai seluruh interaksi Ajil dan Karin.

Erina melipat kedua lengannya di dada. Ia mencoba memasang wajah sinis dan merendahkan seperti biasa, namun matanya memancarkan rasa lega yang tak bisa disembunyikan. Ia melihat jelas bahwa Ajil tidak memiliki perasaan apa pun pada gadis manusia itu.

"Kau terlalu lembut pada serangga yang menangis, Pemimpin," cibir Erina, merapikan rambut peraknya. "Jika aku tidak menahan diriku tadi, aku sudah meniup gadis cengeng itu keluar dari jendela agar tidak menodai jaketmu dengan air matanya."

Ajil menatap Erina dalam diam. Wajahnya telah kembali datar dan dingin.

Namun, di dalam kepalanya, otak Ajil mulai membandingkan. Ia menatap keangkuhan Erina, cara elf itu memiringkan dagunya, rasa cemburu posesifnya yang meledak-ledak, dan kehangatan tersembunyi yang selalu ia berikan saat menyembuhkan luka-lukanya.

Tanpa sadar, dada Ajil berdesir pelan. Sifat Erina... keras kepalanya, cara ia memarahi Ajil saat Ajil terluka ceroboh, dan pengabdiannya yang absolut... sangat persis dengan Ami. Ami yang marah saat Ajil pulang bekerja dengan tangan terluka parah. Ami yang akan mengusir wanita mana pun yang mencoba menggoda Ajil. Meskipun Erina adalah seorang peri berusia ratusan tahun dari dimensi lain, ada fragmen-fragmen jiwa Ami yang tercermin di dalam mata zamrud sang High Elf.

"Berhentilah mengintip di dalam kamarku," ucap Ajil dingin, memutus kontak mata dan berjalan menuju ranjangnya. "Tidurlah. Kapal kita berangkat saat matahari terbit."

Erina tersenyum penuh kemenangan. Ia bangkit berdiri, tubuhnya kembali memudar menjadi partikel angin. "Mimpi indah, Ajil. Aku akan selalu menjagamu, bahkan dari bayanganmu sendiri."

Keesokan paginya. Pelabuhan Utama Kerajaan Valeria.

Udara pagi di pelabuhan dipenuhi oleh suara deburan ombak laut barat yang ganas, teriakan para pelaut, dan aroma garam yang menusuk hidung. Di ujung dermaga batu yang kokoh, merapat sebuah kapal Galleon Pemecah Es berukuran raksasa. Kapal ini terbuat dari kayu Pohon Besi dan dilapisi lempengan baja sihir, dirancang khusus untuk menembus lautan beku menuju Benua Utara.

Kelompok Algojo Dimensi berdiri di pangkal dermaga. Ajil dengan Setelan Malam Abadi-nya, Erina dengan busur emasnya, serta Rino dan Richard yang memanggul karung-karung perbekalan.

Namun, keberangkatan mereka tidak dilakukan dalam sunyi.

Di hadapan mereka, berdiri para petinggi Kerajaan Valeria yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Raja Steven, mengenakan jubah kebesarannya, menatap Ajil dengan mata emasnya yang bijaksana. Di belakang sang Raja, berdiri Master Leon dengan zirah mutiaranya, dan Master Reyna dengan busur kilat kuningnya.

"Perjalananmu ke utara tidak akan mudah, Pahlawan," ucap Raja Steven, suaranya yang berwibawa mengalahkan suara ombak. "Para Dwarf adalah ras yang keras kepala. Gunung mereka tertutup, dan hati mereka lebih dingin dari salju yang menyelimuti benua mereka. Jika kau membutuhkan sesuatu, namaku dan otoritas Valeria selalu berada di belakangmu."

"Aku tidak butuh pasukan, Raja. Aku hanya butuh kapal ini tidak tenggelam," jawab Ajil datar.

Leon melangkah maju, menjulurkan tangannya untuk bersalaman, namun ia segera menariknya kembali mengingat sifat dingin Ajil. Sang Master Guild itu hanya tersenyum bangga. "Kau datang ke kota ini sebagai gelandangan tak dikenal, Ajil. Dan hari ini, kau meninggalkannya sebagai legenda yang meruntuhkan gunung. Berhati-hatilah. Iblis mulai bergerak di perbatasan."

"Jaga kotamu sendiri, Leon," balas Ajil.

Saat Ajil memutar tubuhnya menuju tangga kapal, sudut matanya menangkap sebuah pemandangan di atas tumpukan peti kargo kayu tak jauh dari kerumunan.

Kurogane, Master Guild dari Kota Mutiara Merah yang mengenakan haori biru pekat dan topi jerami, berdiri menyandarkan punggungnya di sana. Tangan kanannya bertumpu dengan tenang di atas gagang Katana-nya.

Mata tajam Kurogane dari balik bayangan topinya bertemu dengan mata kelam Ajil. Sang Samurai tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menarik ujung bibirnya membentuk senyum tipis yang penuh dengan rasa hormat seorang pendekar, lalu menundukkan kepalanya sedikit—sebuah gestur pengakuan absolut dari seorang ksatria timur terhadap kekuatan sejati.

Ajil membalas dengan anggukan yang sangat samar, nyaris tak terlihat, sebelum akhirnya ia melangkah naik ke atas geladak kapal raksasa tersebut. Rino, Richard, dan Erina segera menyusul di belakangnya.

Terompet kapal dibunyikan, suaranya menggema membelah langit pagi. Jangkar rantai raksasa ditarik naik. Layar-layar yang ditenagai oleh kristal angin sihir dikembangkan, menangkap hembusan badai laut.

Kapal Galleon Pemecah Es itu perlahan bergerak menjauhi dermaga Valeria, membelah ombak ganas menuju ke arah laut utara yang diselimuti oleh kabut putih misterius.

Ajil berdiri di anjungan kapal, menatap lautan luas di depannya tanpa menoleh ke belakang. Di tangannya, ia menggenggam kalung kristal biru pemberian Karin di dalam sakunya. Satu kepingan Prasasti Dimensi telah ada di tangannya. Benua para Dwarf, tungku peleburan baja dan misteri kuno, kini menunggunya di balik cakrawala yang membeku.

Sang Algojo Dimensi sedang dalam perjalanan, dan Planet Ridokan belum siap menghadapi badai yang akan ia bawa.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!