NovelToon NovelToon
Menikahi Duke Misterius

Menikahi Duke Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:JAEMIN NCT / Cinta Seiring Waktu / Barat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.

Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.

Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.

.

.

.

.

terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

.

.

.

Chapter Sebelumnya :

"Kalau begitu… izinkan saya bertanya satu hal."

"Apa?"

"Apakah Anda selalu sekeras kepala ini?"

Bella tersenyum.

"Dan apakah Anda selalu sesulit ini untuk dimengerti?"

Melvin tertawa pelan.

Tawa itu tidak keras, tidak berlebihan, namun cukup untuk membuat suasana yang sempat menegang di antara mereka perlahan mencair. Tapi entah kenapa, justru di balik tawa itu, Bella merasa ada sesuatu yang tetap tertahan. Seperti ada bagian dari diri pria itu yang sengaja ia sembunyikan.

Dan semakin Bella memperhatikannya…

Semakin ia merasa ingin mengetahui.

Kenapa pria ini bisa terlihat begitu tenang… namun terasa begitu berbahaya dalam waktu yang bersamaan?

Kenapa ia bisa tersenyum… tapi matanya tidak sepenuhnya ikut tersenyum?

"Apa yang Anda pikirkan?" tanya Melvin tiba-tiba.

Bella tersentak kecil.

Ia tidak menyangka pria itu akan langsung menangkap perubahan kecil pada ekspresinya.

"Aku hanya berpikir…" Bella mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatapnya. "Bahwa Anda ini cukup aneh."

"Anéh?" Melvin mengangkat alisnya, sedikit tertarik.

"Iya," Bella mengangguk. "Anda seperti dua orang yang berbeda."

Melvin tidak langsung menjawab.

Ia hanya memandang Bella, diam… seolah memberi ruang agar gadis itu melanjutkan.

"Kadang Anda terlihat seperti pria yang sopan dan tenang," lanjut Bella perlahan. "Tapi di saat lain… Anda terasa seperti seseorang yang tidak boleh didekati."

Hening.

Sejenak.

Bella sendiri tidak yakin kenapa ia bisa mengatakan hal itu secara langsung. Biasanya ia akan menahan diri, memilih kata-kata yang lebih aman.

Tapi dengan pria ini…

Semua terasa berbeda.

Melvin tersenyum tipis.

"Dan itu membuat Anda ingin menjauh?"

Bella menggeleng pelan.

"Justru sebaliknya."

Jawaban itu keluar begitu saja.

Tanpa ia pikirkan terlebih dahulu.

Dan saat Bella menyadarinya, pipinya langsung terasa hangat.

Melvin menatapnya.

Dalam.

Sangat dalam.

Seolah-olah ia tidak hanya mendengar jawaban itu… tapi juga mencoba memahami maknanya.

"Berbahaya," gumamnya pelan.

"Apa?"

"Rasa penasaran seperti itu."

Bella menarik napas pelan.

Ia tahu.

Ia seharusnya berhenti.

Seharusnya ia tidak melangkah lebih jauh.

Tapi entah kenapa, kakinya tetap bertahan di tempat.

"Aku sudah diperingatkan sebelumnya," jawabnya pelan.

"Dan Anda tetap di sini."

"Iya."

Melvin menghela napas pelan, lalu menatap ke arah jendela di ujung koridor. Hujan masih turun, membasahi kaca dengan suara yang konstan dan menenangkan.

Namun suasana di antara mereka… jauh dari kata tenang.

Bella menggenggam kipasnya sedikit lebih erat.

Ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus berputar di kepalanya.

Dan sekarang—

Ia tidak ingin menahannya lagi.

"Aku ingin bertanya sesuatu," ucap Bella akhirnya.

Melvin meliriknya sekilas.

"Tentang?"

Bella menelan ludahnya pelan.

"Tentang Anda."

"Itu cukup luas, Nona Winston."

Bella tersenyum kecil.

"Baiklah… kalau begitu aku akan lebih spesifik."

Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap langsung ke mata pria itu.

"Mengapa semua orang memanggil Anda Demon Duke?"

Hening.

Pertanyaan itu menggantung di udara, terasa lebih berat dari sebelumnya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka berbicara—

Melvin benar-benar diam.

Tidak ada senyum.

Tidak ada komentar santai.

Hanya tatapan yang perlahan berubah… lebih gelap, lebih dalam, dan entah kenapa, lebih sulit dijangkau.

Bella bisa merasakannya.

Ia mungkin telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.

Namun ia tidak menarik pertanyaannya kembali.

Ia tetap menunggu.

Beberapa detik berlalu.

Cukup lama hingga Bella mulai berpikir bahwa pria itu tidak akan menjawab.

Tapi kemudian—

"Julukan itu… bukan sesuatu yang diberikan tanpa alasan," ucap Melvin akhirnya.

Suaranya tetap tenang.

Namun ada sesuatu di dalamnya yang berbeda.

Lebih berat.

Bella memperhatikan wajahnya.

"Jadi itu benar?"

"Menurut Anda?"

Bella mengerutkan alisnya sedikit.

"Aku tidak tahu. Itulah kenapa aku bertanya."

Melvin tersenyum tipis.

Namun kali ini… senyumnya terasa dingin.

"Dan jika saya mengatakan bahwa itu benar?"

Bella terdiam.

Ia tidak langsung menjawab.

Ia mencoba membaca pria di hadapannya… mencoba mencari tanda apakah ia sedang bercanda atau tidak.

Tapi seperti biasa—

Ia tidak menemukan apa-apa.

"Apakah Anda ingin aku takut?" tanya Bella pelan.

Melvin menatapnya.

"Lalu, apakah Anda takut?"

Bella menggeleng.

"Seharusnya?"

Melvin melangkah mendekat.

Perlahan.

Sengaja.

Jarak di antara mereka kembali menipis.

"Kebanyakan orang akan menjauh setelah mendengar julukan itu," ucapnya pelan.

"Dan aku bukan kebanyakan orang."

Melvin berhenti tepat di depannya.

Kini, Bella bisa melihat dengan jelas bayangan dirinya di mata kelam pria itu.

"Apa Anda yakin tentang itu?" tanyanya.

Bella menelan ludah.

Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.

Namun kali ini… bukan karena takut.

"Aku tidak melihat seorang iblis di depanku," jawabnya pelan. "Aku hanya melihat seorang pria yang… sulit dimengerti."

Hening.

Sejenak.

Lalu—

Melvin mengangkat tangannya perlahan.

Bella refleks menahan napasnya.

Tangan itu terangkat… mendekat ke wajahnya…

Dan berhenti.

Tepat di dekat pipinya.

Tidak menyentuh.

Hanya… sangat dekat.

Seolah-olah ia sedang menahan dirinya sendiri.

"Anda terlalu berani," gumam Melvin pelan.

Bella tidak mundur.

Walaupun tubuhnya sedikit menegang.

"Mungkin," jawabnya lirih. "Atau mungkin aku hanya ingin tahu."

Melvin menatapnya lama.

Sangat lama.

Seolah-olah ia sedang berperang dengan sesuatu dalam dirinya sendiri.

"Jika Anda ingin tahu," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, "maka Anda harus siap dengan apa yang akan Anda temukan."

Bella mengangkat dagunya sedikit.

"Aku tidak akan bertanya jika aku tidak siap."

Melvin tersenyum.

Namun kali ini, ada sesuatu yang lebih tajam di dalamnya.

"Orang-orang menyebut saya Demon Duke karena mereka melihat apa yang ingin mereka lihat," ucapnya. "Mereka melihat kekejaman, keputusan tanpa belas kasihan, dan hal-hal yang tidak ingin mereka pahami."

Bella terdiam.

Ia mendengarkan dengan seksama.

"Dan Anda?" tanyanya pelan. "Apa yang Anda lihat?"

Pertanyaan itu membuat Melvin berhenti.

Untuk beberapa detik, ia tidak menjawab.

Ia hanya menatap Bella.

Seolah-olah mencoba memastikan sesuatu.

"Seorang gadis yang tidak tahu kapan harus berhenti," jawabnya akhirnya.

Bella menghela napas pelan.

"Aku serius."

"Begitu juga saya."

Hening kembali menyelimuti mereka.

Tapi kali ini, suasananya berbeda.

Lebih dalam.

Lebih… personal.

Bella menggigit bibir bawahnya pelan.

"Aku tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang Anda," ucapnya akhirnya.

Melvin mengangkat alisnya sedikit.

"Oh?"

"Aku lebih percaya pada apa yang aku lihat sendiri."

"Dan apa yang Anda lihat?"

Bella menatapnya.

Lama.

Seolah-olah mencoba merangkai jawabannya dengan hati-hati.

"Aku melihat seseorang yang menyelamatkan orang asing tanpa alasan."

Melvin tidak berkata apa-apa.

"Aku melihat seseorang yang bisa bersikap sopan… tapi juga tidak ragu untuk mengintimidasi orang lain jika perlu."

Masih diam.

"Aku melihat seseorang yang… tidak sepenuhnya jahat."

Kali ini, Melvin tersenyum kecil.

"Penilaian yang cukup berani."

Bella mengangkat bahunya.

"Aku hanya jujur."

Melvin menurunkan tangannya perlahan.

Jarak di antara mereka tetap dekat.

Terlalu dekat.

Dan tanpa mereka sadari…

Ketegangan di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lain.

Sesuatu yang lebih hangat.

Lebih… berbahaya.

"Berhati-hatilah, Nona Winston," ucap Melvin pelan. "Terkadang, apa yang Anda lihat hanyalah bagian yang saya izinkan untuk Anda lihat."

Bella menahan napasnya.

"Apa itu peringatan?"

"Anggap saja begitu."

Bella tersenyum kecil.

"Aku tidak pandai mengikuti peringatan."

Melvin tertawa pelan lagi.

Dan kali ini, ada sesuatu yang lebih ringan dalam tawanya.

Seolah-olah…

Ia mulai menikmati percakapan ini lebih dari yang seharusnya.

"Mungkin itu alasan Anda masih berdiri di sini," gumamnya.

"Dan mungkin itu alasan Anda belum pergi," balas Bella cepat.

Melvin menatapnya.

Lalu, tanpa sadar—

Senyum kecil terukir di bibirnya.

Senyum yang… lebih jujur dari sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya—

Tidak ada jarak di antara mereka.

Bukan secara fisik.

Tapi sesuatu yang lebih dalam.

Sesuatu yang bahkan Bella sendiri tidak bisa jelaskan.

Ia hanya tahu satu hal.

Bahwa malam ini…

Bahwa percakapan ini…

Telah mengubah sesuatu dalam dirinya.

Dan mungkin—

Dalam diri pria itu juga.

1
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut
@RearthaZ
siap kak
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Reva456
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!