NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGIT ADALAH NAMA YANG NYATA

Arsa selesai membaca.

Ia tidak mengangkat kepala segera. Matanya tinggal di baris terakhir. Untuk pertama kalinya dalam hidupku — terasa seperti sesuatu yang layak.

Empat tahun. Raka sudah pergi empat tahun. Dan baru sekarang Arsa membaca surat yang ditulis adiknya — bukan kepada dirinya, tapi kepada seseorang yang lebih dipercaya Raka untuk menerima kejujurannya.

Itu yang paling berat. Bukan karena ia merasa cemburu. Tapi karena ada bagian dari dirinya yang bertanya: kenapa bukan kepada saya?

Dan ada bagian lain yang tahu jawabannya. Karena Arsa adalah kakak. Karena Arsa adalah orang yang Raka ingin lihat kuat di depannya. Karena ada hierarki diam-diam dalam setiap hubungan keluarga yang menentukan siapa boleh lemah di depan siapa.

Langit — siapapun Langit — adalah seseorang di luar hierarki itu.

"Arsa." Suara Wren pelan.

Ia mengangkat kepala. Wren menatapnya dengan ekspresi yang tidak menuntut apapun — tidak minta ia bicara, tidak minta ia baik-baik saja, tidak minta ia melakukan apapun kecuali ada.

"Maaf," katanya — dan ia tidak yakin maaf untuk apa.

"Tidak perlu." Wren melipat surat itu kembali dengan hati-hati. "Terima kasih sudah membiarkan saya ada di sini waktu Anda membacanya."

Arsa menatapnya. Frasa yang aneh — terima kasih sudah membiarkan saya ada di sini.

Kebanyakan orang akan bilang terima kasih sudah berbagi atau saya turut berduka. Bukan itu.

Terima kasih sudah membiarkan saya ada di sini.

Seperti seseorang yang tahu betapa berharganya izin untuk hadir.

Nama itu ada di halaman ketiga arsip kampus.

Arsa menemukannya tiga hari setelah pertemuan di kafe, ketika ia menindaklanjuti satu petunjuk kecil dari wawancara kedua dengan Ibu Sari — sebutannya tentang komunitas fotografi kampus tempat Dito aktif, dan kemungkinan Raka terhubung ke sana.

Ia menghabiskan dua hari menghubungi bekas pengurus komunitas itu, berputar melalui beberapa nomor yang sudah tidak aktif dan beberapa orang yang tidak ingat atau tidak mau ingat, sampai akhirnya seorang perempuan bernama Ninda — yang dulu sekretaris komunitas — menjawab dan berkata dengan nada yang langsung waspada: "Tentang Dito atau Raka?"

Ketika Arsa menjawab: keduanya — ada hening panjang di ujung telepon.

"Saya tidak bicara tentang ini sudah lama," kata Ninda. "Tapi saya rasa sudah waktunya."

Mereka bertemu di kafe lain — ini sudah kafe ketiga dalam seminggu, Arsa mulai berpikir hidupnya adalah rangkaian kafe dengan percakapan berat — dan Ninda, dua puluh delapan tahun dengan cara bicara yang hati-hati seperti seseorang yang pernah mengucapkan sesuatu yang tidak tepat dan masih

menyesalinya, meletakkan sebuah binder di meja.

"Ini arsip komunitas dari angkatan kami," katanya. "Saya masih simpan karena saya yang buat. Foto-foto anggota, catatan kegiatan." Ia membukanya ke halaman tertentu. "Ini yang Anda cari, saya rasa."

Foto grup. Dua puluhan orang muda dengan kamera di leher atau tangan, berdiri di depan gedung kampus. Arsa mengenali Dito segera — lebih muda dari foto rumah sakit, matanya lebih hidup. Berdiri di baris kedua, tersenyum.

Di sebelahnya, satu orang ke kanan: seorang pemuda yang lebih kurus, dengan kamera yang terlalu besar untuk tubuhnya, dan senyum yang setengah terbentuk seperti seseorang yang baru saja memutuskan untuk mencoba tersenyum dan belum yakin hasilnya.

Raka.

Arsa menyentuh foto itu dengan ujung jari.

"Mereka kenal di sini?" tanyanya.

"Semester dua. Dito yang mengajak Raka gabung." Ninda mengambil nafas. "Mereka sangat berbeda. Dito itu — Dito bisa bicara dengan siapapun. Charming, tahu cara buat orang nyaman. Raka kebalikannya. Diam, sering di pinggiran. Tapi mereka entah kenapa langsung klop." Ia mengetuk foto itu. "Di komunitas kami, nama panggilan adalah tradisi. Setiap anggota baru dapat nama panggilan dari anggota lama berdasarkan karakter atau kebiasaan mereka." Ia berhenti sebentar. "Dito yang kasih nama panggilan ke Raka."

Arsa sudah tahu ke mana ini menuju, tapi ia menunggu.

"Dia panggil Raka Tanah," kata Ninda. "Karena Raka itu grounded, katanya. Selalu ada. Tidak kemana-mana." Ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut. "Dan Raka balas kasih nama panggilan ke Dito."

"Langit," kata Arsa.

Ninda menatapnya. "Dari mana Anda tahu?"

"Dito selalu bilang bahwa ia ingin jadi fotografer langit. Bukan potret, bukan jalanan — langit. Awan, bintang, gradien sore hari. Itu passionnya." Ninda menutup binder itu pelan. "Dan Raka yang pertama kali benar-benar memperhatikan itu. Yang pertama kali bilang ke Dito bahwa foto-foto langitnya luar biasa, waktu yang lain masih meragukan." Suaranya turun sedikit. "Jadi ia panggil Dito Langit. Dan nama itu stuck. Hanya Raka yang pakai — yang lain pakai nama asli atau nama panggilan resmi. Tapi Raka selalu Langit."

Ruang di antara mereka terasa penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Arsa namai — bukan hanya informasi baru, tapi perasaan kepingan-kepingan yang selama empat tahun berserakan mulai menemukan posisinya masing-masing.

Tanah dan Langit. Raka dan Dito. Dua orang yang saling memberi nama berdasarkan apa yang mereka lihat di satu sama lain.

"Hubungan mereka," kata Arsa hati-hati. "Seperti apa?"

Ninda menggigit bibir bawahnya sebentar. "Saya tidak mau salah bicara."

"Saya tidak sedang mencari skandal. Saya sedang mencari kebenaran tentang siapa adik saya."

Ninda menatapnya. Menilai. Lalu mengangguk.

"Mereka saling mencintai," katanya sederhana. "Tidak pernah ada label — kami tidak pernah bicara soal itu terbuka. Tapi siapapun yang ada di komunitas itu dan memperhatikan bisa melihatnya. Cara mereka berinteraksi. Cara Dito selalu tahu di mana Raka di ruangan. Cara Raka bisa tenang hanya karena Dito ada di dekatnya."

Arsa mendengarkan.

"Tapi keduanya tidak pernah..." Ninda mengangkat bahu kecil. "Tidak pernah ada yang bergerak lebih jauh. Dito punya masalahnya sendiri yang tidak saya tahu sepenuhnya — ada yang bilang masalah keluarga, ada yang bilang yang lain. Dan Raka — Raka adalah orang yang bisa mencintai seseorang sepenuhnya tapi tidak tahu caranya memulai." Matanya turun ke binder di mejanya. "Mereka kehilangan waktu. Dito mulai sakit di tahun ketiga, dan Raka — Raka seperti tidak tahu bagaimana menghadapi itu. Ia hadir, tapi dari jauh." Jeda panjang. "Lalu Dito pergi lebih dulu. Dan setahun kemudian Raka juga."

Kecelakaan, kata Ibu Sari tentang Raka. Setahun setelah Dito.

Arsa tidak tanya lebih lanjut.

Ia duduk dengan semua informasi itu dan membiarkannya menetap.

Raka menulis dua belas surat kepada Dito. Kepada Langit. Surat yang tidak pernah terkirim, yang mungkin tidak pernah dimaksudkan untuk dikirim, tapi yang ditulis karena ada hal-hal yang terlalu besar untuk disimpan sendiri dan tidak ada cara lain untuk mengeluarkannya.

Dan Dito sudah pergi sebelum membacanya.

Malam itu Arsa mengirim pesan kepada Wren.

Bukan email — kali ini mereka sudah bertukar nomor di akhir pertemuan Sabtu. Pesan singkat, hanya beberapa baris, karena ada hal-hal yang lebih mudah disampaikan singkat:

"Saya tahu siapa Langit. Bisa kita bicara?"

Balas datang sepuluh menit kemudian:

"Saya di studio sampai jam 10. Bisa telepon setelah itu."

Arsa melirik jam. 21.47.

Ia menghabiskan tiga belas menit berikutnya membuka kotak Pak Wahyu lagi — mencari, sekarang dengan konteks baru, apapun yang berhubungan dengan Dito. Foto, surat, catatan. Mencari tanda bahwa Pak Wahyu tahu tentang Raka. Tentang Langit dan Tanah.

Ia menemukan satu hal.

Di bawah tumpukan paling bawah kotak kedua, terbungkus dalam kain putih tipis yang sudah menguning: sebuah buku kecil. Bukan jurnal biasa — ukurannya kecil seperti buku saku, sampulnya hitam, tidak ada label di luar.

Arsa membukanya.

Tulisan tangan yang berbeda dari surat-surat Raka. Lebih besar, lebih tegak, dengan kecenderungan menekan pena lebih kuat di akhir kata. Tulisan seseorang yang menulis dengan niat.

Bukan jurnal Dito. Ini jurnal Pak Wahyu.

Halaman pertama: tanggal dari delapan tahun lalu. Sebulan setelah Dito meninggal.

Kalimat pertama:

"Saya tidak tahu nama anak itu. Tapi ia datang ke rumah sakit setiap hari. Selalu di koridor. Tidak pernah masuk."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!