NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Pagi pertama di rumah Bunda dimulai dengan aroma nasi uduk dan emping goreng yang memenuhi udara. Suasana yang seharusnya menjadi liburan singkat bagi keluarga normal, terasa seperti medan ranjau bagi Davino dan Alisa. Davino terbangun tepat pukul 04.30 pagi—instingnya tidak pernah bisa kompromi dengan kenyamanan kasur busa milik kamar lama Alisa. Ia sempat menatap Alisa yang masih terlelap beberapa inci di sampingnya, lalu dengan sigap ia bangkit, merapikan bantal, dan segera mengecek ponselnya untuk laporan dari Alvin.

Di bawah, Bunda sudah sibuk di dapur. Saat Davino turun dengan kaus olahraga hitamnya, Bunda menoleh dengan senyum hangat yang sedikit menyelidik.

"Pagi, Davino. Tidur nyenyak? Kamar Alisa tidak terlalu sempit untukmu, kan?" tanya Bunda sambil meletakkan piring-piring di meja makan.

Davino mencium tangan Bunda dengan sopan. "Sangat nyaman, Bunda. Terima kasih. Maura sudah bangun?"

"Maura masih tidur, kasihan dia. Alisa bilang dia jatuh di kampus, tapi Bunda perhatikan memarnya sepertinya cukup parah ya? Apa tidak perlu dibawa ke rumah sakit untuk rontgen?" Bunda menatap Davino lurus-lurus.

Davino tetap tenang, ekspresi datarnya adalah tameng terbaik. "Alisa sudah memeriksanya semalam, Bunda. Katanya hanya trauma jaringan lunak. Beberapa hari istirahat akan pulih. Kami tidak ingin dia terlalu banyak bergerak dulu."

Bunda mengangguk, namun tatapannya tidak lepas dari Davino. "Kamu tahu, Davino... Alisa itu anak yang tidak bisa berbohong. Semalam dia bilang atap rumah kalian rusak, tapi Bunda tidak mendengar ada berita cuaca buruk atau angin kencang di daerah kalian. Apa sebenarnya yang terjadi?"

Davino terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa membohongi seorang ibu yang membesarkan Alisa sendirian bukanlah perkara mudah. Sebelum ia sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari tangga. Alisa turun dengan wajah yang masih sedikit sembab namun sudah rapi dengan kemeja rumahannya.

"Pagi, Bunda. Mas Davino," sapa Alisa cepat, seolah ingin memutus ketegangan yang ia rasakan dari kejauhan.

"Pagi, Al. Sini sarapan dulu," ajak Bunda.

Sepanjang sarapan, suasana terasa canggung. Davino lebih banyak diam dan fokus pada makanannya, sementara Alisa mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan tanaman hias Bunda. Namun, Bunda Alisa bukan orang yang mudah dialihkan. Ia memperhatikan bagaimana Davino dan Alisa berinteraksi. Mereka sangat sopan satu sama lain, terlalu sopan untuk pasangan yang baru menikah beberapa bulan. Tidak ada sentuhan kecil, tidak ada tatapan mata yang lama, hanya koordinasi yang sangat efisien seperti dua orang rekan kerja.

"Setelah sarapan, Davino ada kegiatan?" tanya Bunda.

"Saya harus keluar sebentar untuk mengecek 'proyek' di rumah kami, Bunda. Ada beberapa hal yang harus saya koordinasikan dengan tukang," jawab Davino kaku.

"Aku ikut, Mas?" tanya Alisa, lebih karena ia tidak ingin ditinggal sendirian menghadapi interogasi Bundanya.

"Tidak, Alisa. Kamu tetap di sini jaga Maura. Kondisinya masih belum stabil," perintah Davino. Nada bicaranya adalah nada perintah seorang atasan, dan Alisa hanya bisa mengangguk patuh.

Begitu Davino keluar dari rumah, ia segera masuk ke mobil operasional yang sudah menunggu di ujung jalan. Di dalamnya, Alvin sudah siap dengan tumpukan berkas dan tablet.

"Raka sudah kita amankan di safe house ketiga," lapor Alvin. "Dia ketakutan setengah mati. Tapi dia bersumpah tidak sengaja mengambil foto itu. Dia cuma ingin tahu Alisa pulang dengan siapa."

Davino mengepalkan tangannya. "Pria itu benar-benar menjadi kerikil dalam sepatuku. Apa yang ada di fotonya?"

Alvin menunjukkan layar tablet. Sebuah foto buram yang diambil dari kejauhan memperlihatkan sebuah mobil boks yang terparkir di belakang rumah sakit. Di kaca spion mobil boks itu, terpantul wajah seseorang yang sangat dikenal Davino. Mantan anggota Satgas yang diberhentikan secara tidak hormat karena terlibat sindikat narkoba tahun lalu: Liam.

"Liam adalah eksekutor mereka," gumam Davino. "Jika dia ada di sana, artinya mereka sedang memetakan rute keluar masuk Alisa. Alvin, perketat pengawasan di rumah Bunda. Aku tidak mau ada satu lalat pun masuk tanpa kita tahu."

"Siap, Kapten. Tapi Vin... ada satu masalah. Ibu mertuamu sepertinya mulai curiga. Anggota kita di luar melaporkan beliau sempat keluar untuk menyiram tanaman dan menatap mereka dengan sangat lama," Alvin mengingatkan.

Davino memijat pangkal hidungnya. "Biarkan saja dulu. Selama mereka tidak masuk ke halaman, Bunda akan tetap aman."

Di rumah, Alisa sedang berada di kamar Maura. Maura tampak sudah lebih baik secara fisik, namun secara psikis, ia masih sering terkejut jika mendengar suara pintu tertutup atau suara keras di luar.

"Kak Alisa... apa mereka akan menemukanku lagi di sini?" bisik Maura sambil memeluk bantalnya.

Alisa mengelus rambut Maura. "Tidak, Ra. Mas Davino sudah menempatkan banyak orang di sekitar sini. Kita aman di rumah Bunda."

"Kak Davino... dia berubah ya," gumam Maura. "Dulu dia tidak sepeduli ini. Tapi sejak ada Kak Alisa, dia jadi lebih... waspada? Atau mungkin takut?"

Alisa terdiam. Takut? Ia tidak pernah membayangkan kata itu melekat pada sosok seperti Davino. Baginya, Davino adalah gunung es yang tidak bisa goyah. "Dia cuma menjalankan tugasnya, Ra. Dia tidak mau kehilangan keluarga yang dia punya."

"Kak Alisa juga keluarganya sekarang," goda Maura lemah.

Alisa hanya tersenyum kecut. Keluarga di atas kertas, batinnya.

Saat Alisa keluar dari kamar Maura, ia mendapati Bundanya sedang berdiri di depan pintu kamarnya sendiri, memegang sebuah kemeja putih milik Davino yang semalam diletakkan di keranjang cucian.

"Alisa, sini sebentar," panggil Bunda dengan nada serius.

Alisa mendekat dengan perasaan tidak enak. "Ada apa, Bun?"

Bunda menunjukkan kerah kemeja Davino. Di sana ada bercak merah kecokelatan yang sudah mengering. "Ini darah, Alisa. Dan ini bukan darah kecil karena tergores. Ini seperti darah dari luka tembak atau sayatan dalam. Dan Bunda lihat lengan Davino diperban tadi pagi."

Alisa menelan ludah. Ia sudah menduga ini akan terjadi. "Itu... Mas Davino kena paku besar saat mengecek atap semalam, Bun. Kan Alisa sudah bilang, strukturnya rapuh."

"Jangan bohongi Bunda, Alisa," suara Bunda mulai meninggi namun tetap terkontrol. "Bunda isteri seorang perwira dulu. Ayahmu tidak pernah pulang dengan darah di kerah karena memperbaiki atap. Dan pria-pria di depan rumah itu... mereka bukan tukang renovasi. Bunda lihat senjata di balik jaket mereka saat mereka sedang merokok di pojok jalan."

Alisa terpaku. Ia lupa bahwa ibunya adalah janda dari seorang perwira menengah kepolisian. Pengalaman hidup tidak bisa ditipu dengan alasan sederhana.

"Katakan yang sebenarnya. Siapa yang diculik? Maura, kan?" tebak Bunda telak.

Alisa akhirnya luluh. Ia mengajak ibunya duduk di sofa ruang tengah yang sepi. Dengan suara pelan dan air mata yang mulai menggenang, Alisa menceritakan semuanya—kecuali soal perjanjian satu tahun mereka. Ia menceritakan penculikan Maura, ancaman Black Cobra, dan alasan kenapa mereka harus mengungsi ke sini.

Bunda terdiam lama setelah mendengar penjelasan Alisa. Wajahnya yang semula keras perlahan melembut, digantikan oleh rasa khawatir yang mendalam.

"Kenapa kalian tidak bilang dari awal? Bunda bisa bantu jaga Maura dengan lebih waspada," ucap Bunda pelan.

"Kami tidak ingin Bunda panik, Bun," sahut Alisa.

"Dan Davino... apa dia memperlakukanmu dengan baik di tengah semua kekacauan ini?" tanya Bunda, menatap mata putrinya.

Alisa mengangguk kecil. "Dia menjagaku, Bun. Sangat menjagaku."

"Tapi Bunda tidak melihat cinta di mata kalian," ucap Bunda tiba-tiba, membuat jantung Alisa seolah berhenti berdetak. "Bunda melihat tanggung jawab. Bunda melihat rasa hormat. Tapi Bunda tidak melihat tatapan seorang suami yang memuja istrinya. Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu yang lain?"

Alisa tercekat. Pertanyaan ibunya jauh lebih berbahaya daripada ancaman senjata Liam. Sebelum Alisa bisa menjawab, pintu depan terbuka. Davino masuk dengan langkah cepat, wajahnya tampak lebih tegang dari pagi tadi.

"Alisa, kita harus bersiap. Ada pergerakan mencurigakan dua blok dari sini. Musuh sepertinya sudah mendeteksi lokasi kita lewat sinyal radio yang digunakan salah satu tetangga Bunda yang kebetulan seorang amatir radio," lapor Davino tanpa menyadari suasana tegang antara ibu dan anak itu.

Davino berhenti saat melihat wajah Bunda yang serius dan mata Alisa yang berkaca-kaca. Ia segera menyadari bahwa rahasia "renovasi atap" sudah terbongkar.

"Bunda... saya minta maaf karena harus melibatkan rumah ini dalam bahaya," ucap Davino dengan nada penuh penyesalan.

Bunda berdiri, ia berjalan menghampiri Davino dan menepuk bahu menantunya itu. "Jangan minta maaf untuk sesuatu yang menjadi tugasmu, Davino. Jaga putriku. Jaga Maura. Jika rumah ini harus hancur untuk melindungi kalian, Bunda tidak keberatan. Tapi satu hal... jangan pernah biarkan Alisa merasa sendirian di dunia yang gelap seperti duniamu."

Davino menatap Bunda, lalu beralih pada Alisa. Ia melihat kerentanan yang nyata di sana. Namun, alih-alih memberikan kata-kata manis, Davino justru kembali ke mode profesionalnya.

"Terima kasih, Bunda. Alisa, ambil tas daruratmu. Kita tidak akan pindah, tapi kita akan memperketat perimeter. Kamu dan Maura tetap di kamar lantai atas bersama Bunda. Apapun yang terjadi di bawah, jangan turun kecuali aku yang memanggil," instruksi Davino.

Malam kedua di rumah Bunda tidak lagi diawali dengan aroma masakan, melainkan dengan bunyi kokang senjata dari arah halaman dan keheningan yang mencekam. Di dalam kamar atas, Alisa duduk di antara Maura dan ibunya. Ia memegang erat gelang darurat pemberian Davino.

Di bawah, Davino berdiri di balik bayangan pintu depan, menatap monitor kecil yang terhubung dengan kamera pengawas. Ia tahu Liam dan kelompoknya tidak akan menunggu sampai pagi. Dan ia juga tahu, setelah malam ini, sandiwara pernikahannya dengan Alisa tidak akan pernah sama lagi di mata ibu mertuanya. Tidak ada cinta, mungkin. Tapi ada sesuatu yang mulai mengikat mereka lebih kuat dari sekadar janji di atas kertas: rasa saling membutuhkan untuk tetap hidup.

"Mereka datang," bisik Davino ke arah earpiece-nya saat sebuah mobil hitam melambat tepat di depan gerbang rumah Bunda.

Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, rumah masa kecil Alisa menjadi benteng terakhir mereka.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!