Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Sumsum Darah Bumi dan Hantu yang Pulang
Keheningan di ujung Lorong Nomor Empat terasa purba dan sakral.
Cahaya merah rubi dari kolam kecil itu memantul di wajah Shen Yuan, melukis siluetnya dengan warna darah. Dua belas batang kristal Sumsum Darah Bumi berdiri tegak di dasar kolam yang dangkal, memancarkan energi vitalitas yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa manis.
Logika Shen Yuan berputar cepat, menekan keserakahan yang sempat merayap di hatinya. Di dunia kultivasi, keserakahan yang melebihi kapasitas tubuh adalah cara paling konyol untuk mati.
"Energi di dalam satu batang kristal ini setara dengan ratusan nyawa Iblis Darah yang baru saja kubunuh," gumam Shen Yuan pelan. Ia berjongkok di tepi kolam. "Jika aku menelan semuanya malam ini, Dantian-ku tidak akan meluas; ia akan meledak menjadi serpihan abu, dan aku akan mati sebagai orang kaya yang bodoh."
Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan beberapa kotak kayu cendana kosong yang sebelumnya ia persiapkan untuk menyimpan herba dari pasar gelap. Dengan sangat hati-hati, ia melapisi tangannya dengan Qi cair Lapisan Ketujuh agar energi murni kristal itu tidak merembes keluar saat disentuh.
Ktak... Ktak...
Ia mematahkan sebelas batang kristal itu dari dasarnya, menyimpannya satu per satu ke dalam kotak kayu dengan presisi seorang perajin perhiasan. Cahaya di dalam gua seketika meredup secara drastis.
Kini, hanya tersisa satu batang kristal di dasar kolam. Ukurannya sebesar ibu jari orang dewasa.
Shen Yuan tidak menyimpannya. Ia mengambil kristal terakhir itu, memejamkan mata, dan langsung mengaktifkan Kitab Penelan Surga. Bukan di telapak tangan, melainkan ia melemparkan kristal itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.
BLAAARRR!
Sensasi pertama yang menghantamnya bukanlah rasa sakit, melainkan panas yang absolut. Seolah ia baru saja menelan sepotong matahari yang sedang terbakar.
Kristal itu meleleh begitu menyentuh lautan Qi di perutnya. Energi merah yang membawa esensi kehidupan bumi meledak, membanjiri seluruh meridiannya. Namun kali ini, Benih Hitam tidak mengubahnya menjadi Qi untuk meningkatkan kultivasi. Energi dari Sumsum Darah Bumi memiliki sifat khusus: ia adalah material Penempaan Tubuh tingkat dewa.
Panas itu merayap masuk ke dalam tulang belulangnya. Sumsum tulang Shen Yuan yang tadinya berwarna kelabu kusam, kini mendidih, membuang sisa-sisa kotoran terakhir, dan perlahan berubah warna menjadi seputih giok murni.
Otot-otot di sekujur tubuhnya menegang hingga mengeluarkan suara retakan halus. Serat dagingnya diperas, dihancurkan, dan dirajut kembali dengan kepadatan yang menyamai zirah baja tingkat tinggi.
Shen Yuan menggigit bibirnya hingga berdarah, menahan erangan yang tertahan di tenggorokan. Keringat yang mengucur dari tubuhnya kini benar-benar bening, tidak ada lagi kotoran hitam atau abu-abu. Pembersihan fisiknya telah mencapai tahap kesempurnaan untuk ranah Kondensasi Qi.
Satu jam kemudian, cahaya merah yang memancar dari balik kulitnya perlahan memudar.
Shen Yuan membuka matanya. Tidak ada kelelahan, yang ada hanyalah vitalitas yang meluap-luap. Ia mengepalkan tangan kanannya. Udara di dalam genggamannya meledak pelan karena tekanan otot murni.
"Kultivasiku tetap di awal Lapisan Ketujuh," bisik Shen Yuan, tersenyum puas. "Tapi ketahanan fisik dan kekuatan tulangku... kini cukup kuat untuk menahan ledakan Tinju Runtuh Gunung lima kali berturut-turut tanpa melukai meridianku sedikit pun."
Ini adalah peningkatan yang jauh lebih berharga daripada sekadar naik tingkat Qi. Di dunia di mana semua orang fokus pada sihir dan pedang berterbangan, fisik yang tak bisa dihancurkan adalah kartu as pembawa maut.
Shen Yuan berdiri, membersihkan sisa debu dari jubahnya. Ia berjalan menuju tumpukan abu merah tempat Iblis Darah Mutasi tadi mati. Dengan ujung sepatunya, ia mengais tumpukan abu tersebut hingga menemukan sebuah batu keras berukuran sekepal tangan, berwarna merah kehitaman dan berbau amis.
Itu adalah Inti Darah sang monster. Benda paling keras dari tubuh Iblis yang tidak ikut hancur menjadi abu.
"Bukti penyelesaian misi," gumamnya, memungut batu itu dan menyimpannya di balik jubah.
Ia kembali membalut lengan kanannya dengan perban tebal, memastikan bau herba murahan kembali mendominasi tubuhnya, lalu berjalan keluar meninggalkan lorong gelap yang kini telah kehilangan seluruh sihir dan kengeriannya.
Fajar menyingsing di Ngarai Angin Melolong. Cahaya matahari pagi mengusir bayang-bayang tebing merah, menyinari perkemahan kumuh para penambang.
Mandor Wang dan belasan penambang duduk meringkuk di balik barikade kayu, mata mereka merah karena tidak tidur semalaman. Tidak ada suara jeritan dari dalam tambang, tidak ada ledakan. Hanya keheningan panjang yang menyiksa.
"Dia pasti sudah mati," bisik salah seorang penambang dengan bibir bergetar. "Anak muda itu terlalu sombong. Kita harus lari sekarang, Mandor."
Mandor Wang menghela napas panjang, air mata keputusasaan menggenang di pelipisnya. Ia baru saja akan memberi perintah untuk membereskan barang, ketika suara langkah kaki yang teratur terdengar dari mulut tambang.
Tap... Tap... Tap...
Seluruh penambang menahan napas. Mereka mencengkeram beliung dan tongkat besi mereka erat-erat. Jika yang keluar adalah monster itu...
Namun, dari balik tirai bayangan gua, sosok berjubah sutra putih melangkah keluar. Topi bambunya sedikit miring, mantel kusamnya dipenuhi debu batu, dan lengan kanannya masih terbalut perban.
Shen Yuan berjalan dengan langkah gontai yang sengaja ia buat-buat, napasnya terdengar berat seolah ia baru saja lolos dari lubang jarum. Ia berhenti di depan barikade kayu, menatap Mandor Wang yang mematung dengan mulut ternganga.
"T-Tuan Kultivator... Anda... Anda masih hidup?!" teriak Mandor Wang histeris, jatuh berlutut saking leganya.
Shen Yuan melemparkan sebuah benda kecil ke arah Mandor Wang. Benda itu mendarat di tanah dengan bunyi buk yang keras. Itu adalah sepotong kecil taring Iblis Darah yang sengaja ia patahkan dari Inti Darah sebagai suvenir untuk para penambang.
"Iblis Darah Mutasi. Puncak Lapisan Keenam," ucap Shen Yuan dengan suara serak, memainkan perannya sebagai pemuda yang kelelahan. "Makhluk itu sudah hancur bersama sebagian besar lorong nomor empat. Mulai hari ini, tambang ini aman."
Mandor Wang memungut taring mengerikan itu dengan tangan gemetar, lalu bersujud berkali-kali ke arah Shen Yuan. "Dewa penolong! Anda adalah dewa penolong kami! Bagaimana Anda bisa mengalahkan monster seperti itu sendirian?!"
"Sekte membekaliku dengan Gulungan Formasi Peledak Api tingkat tinggi," jawab Shen Yuan tenang, memberikan alibi yang mustahil dibantah oleh manusia biasa. "Ledakannya menelan monster itu, tapi hampir membuatku terkubur hidup-hidup. Aku butuh kuda baru. Kudaku mati di depan ngarai."
Para penambang yang tadinya ketakutan kini bersorak kegirangan. Mereka segera membongkar perkemahan, dan beberapa orang berebut menyiapkan kuda terbaik milik tambang untuk sang pahlawan.
Tidak ada yang meragukan ceritanya. Bagi mereka, kultivator dan gulungan sihir adalah hal yang lumrah. Mereka tidak tahu bahwa "ledakan api" yang membunuh monster itu sebenarnya berasal dari kepalan tangan pemuda pendiam di depan mereka.
Tiga hari kemudian, di bawah terik matahari siang, Paviliun Misi Sekte Langit Berkabut masih sibuk seperti biasanya. Murid-murid luar berlalu-lalang, berdebat tentang harga herba dan tingkat kesulitan misi.
Diakon bermata satu duduk di balik meja kayunya, menguap bosan sambil mencoret beberapa nama dari daftar perkamen.
"Misi pengawalan ke Lembah Hitam gagal... Misi Ngarai Angin Melolong... ah, bocah pelayan sombong itu sudah lewat dari batas waktu pelaporannya. Pasti sudah jadi kotoran monster," gumam sang Diakon, mengangkat kuas merahnya untuk mencoret nama Shen Yuan dari daftar hidup.
Plak!
Sebuah medali perunggu dan sebongkah batu merah kehitaman yang memancarkan aura amis darah tiba-tiba dilemparkan ke atas meja kayunya, mendarat tepat di atas perkamen daftar nama.
Diakon itu tersentak kaget. Ia mendongak dengan marah, bersiap memaki murid yang berani bertindak kurang ajar. Namun, makiannya tersangkut di tenggorokan saat melihat siapa yang berdiri di seberang meja.
Shen Yuan.
Pemuda itu masih mengenakan jubah sutra yang sama, tertutup debu perjalanan. Lengan kanannya masih diperban rapi. Wajahnya di balik topi bambu terlihat kuyu (hasil dari memucatkan aliran darahnya sendiri dengan Qi), namun matanya menatap tajam ke arah sang Diakon.
"Misi Merah. Ngarai Angin Melolong. Selesai," ucap Shen Yuan singkat, nadanya sedingin baja. "Itu Inti Darah monsternya sebagai bukti."
Diakon bermata satu itu terbelalak lebar. Tangannya gemetar saat mengambil batu merah kehitaman tersebut. Sisa fluktuasi Qi liar yang menempel pada batu itu tidak bisa dipalsukan. Itu murni milik Iblis Darah Mutasi, entitas yang bisa membantai satu tim Lapisan Kelima dengan mudah.
"K-Kau... bagaimana kau bisa... lenganmu..." Diakon itu tergagap, kehilangan seluruh kata-katanya. Murid-murid di sekitar Paviliun Misi mulai berhenti beraktivitas, berkerumun dan berbisik-bisik melihat pemandangan mustahil itu.
Pelayan cacat itu... kembali hidup-hidup dari Misi Merah?!
"Saya menggunakan tiga Gulungan Petir dan Formasi Peledak yang saya beli dengan semua tabungan Batu Roh saya di pasar gelap," jawab Shen Yuan, mengulang naskah alibinya dengan nada datar yang penuh kepahitan palsu. "Saya memancingnya ke lorong sempit dan meledakkan seluruh dindingnya. Saya hampir kehilangan lengan kiri saya karena runtuhan batu."
Shen Yuan menunjuk ke arah Inti Darah itu. "Apakah sekte peduli dengan cara muridnya menyelesaikan misi, atau sekte hanya peduli pada hasilnya, Diakon?"
Diakon itu menelan ludah. Alibi itu masuk akal. Sangat masuk akal. Siapa pun yang cukup gila untuk mempertaruhkan nyawa dan seluruh hartanya demi meledakkan gua bisa saja membunuh monster Lapisan Keenam. Ini membuktikan Shen Yuan tidak memiliki kekuatan yang menyimpang, ia hanya sangat nekat dan licik.
"S-Sekte hanya menilai hasil," jawab Diakon itu, buru-buru mengambil sekantong beludru dari laci mejanya, menghitung isinya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Lima Batu Roh Tingkat Menengah. Seratus Poin Kontribusi. Sesuai perjanjian, Tuan... Shen Yuan."
Bahkan nada bicara Diakon itu berubah, menambahkan kata 'Tuan'. Rasa hormat di dunia kultivasi tidak selalu lahir dari kekuatan murni; terkadang ia lahir dari kegilaan seseorang dalam bertahan hidup.
Shen Yuan mengambil kantong beludru itu dengan tangan kirinya, menyimpan kembali medali perunggunya, lalu berbalik dan berjalan keluar dari Paviliun Misi membelah kerumunan murid yang otomatis memberinya jalan.
Berita kembalinya Shen Yuan menyebar lebih cepat daripada api di padang rumput kering. Dalam waktu kurang dari dua jam, seluruh Pelataran Luar tahu bahwa pelayan yang menumbangkan Lin Feng bukanlah sekadar orang yang beruntung, melainkan orang gila yang sanggup meledakkan gunung demi menyelesaikan misi merah.
Di Paviliun Anggrek, kediaman keluarga Lin.
Lin Hai mendengar laporan itu dari salah satu anak buahnya. Gelas arak di tangannya terlepas, pecah berkeping-keping di lantai kayu. Wajahnya yang tadinya memerah karena alkohol seketika berubah sepucat kertas.
"G-Gulungan peledak?" bisik Lin Hai, napasnya memburu. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya.
Pikirannya langsung melompat pada nasib tiga pembunuh yang ia kirim seminggu yang lalu. Mereka menghilang tanpa jejak. Mungkinkah... mungkinkah pelayan gila itu juga menjebak mereka dengan gulungan peledak di tengah hutan?!
"Dia bukan pelayan... dia monster yang sakit jiwa," gumam Lin Hai, melangkah mundur hingga menabrak dinding. Ketakutan yang merayap di hatinya kini telah mengakar menjadi teror absolut. "Suruh semua orang mundur. Jangan ada yang berani mendekati paviliunnya. Jika dia bisa meledakkan monster tingkat enam, dia tidak akan ragu meledakkan kita saat kita tertidur!"
Di kamarnya yang sunyi, Shen Yuan menyalakan sebuah lampion kecil. Ia melepaskan perban di lengan kanannya, menatap kulitnya yang utuh dan kuat, lalu meletakkan lima keping Batu Roh Tingkat Menengah di atas mejanya.
Sebuah senyum miring yang sesungguhnya terbentuk di wajahnya.
Semuanya berjalan tepat seperti yang ia kalkulasikan. Dengan satu alibi gulungan peledak, ia menutupi seluruh kekuatan Lapisan Ketujuhnya, menjelaskan kematian aneh monster misi, sekaligus memberikan teror psikologis yang logis kepada keluarga Lin agar mereka tidak berani mengganggunya.
Permainan bertahan hidup di pinggiran sekte telah ia menangkan dengan sempurna. Kini, mata Shen Yuan mulai menatap lebih tinggi, ke arah ujian berikutnya: Pelataran Dalam, tempat di mana naga-naga sesungguhnya berkumpul.