NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Adrian melangkah mendekat ke arah Liana yang masih berusaha mengatur napasnya di tengah studio.

Di tangannya, ia memegang sebuah bundel naskah tebal dengan sampul berwarna biru tua yang elegan.

Para kru dan penari lain perlahan menyingkir, memberikan ruang bagi sang produser dan bintang barunya.

Adrian menyodorkan naskah itu dengan tatapan yang jauh lebih serius dari biasanya.

"Ini jiwamu untuk tiga bulan ke depan, Liana," ucap Adrian pelan.

Liana menerima naskah itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena sisa adrenalin tariannya tadi.

Di sampul depan, tertera judul besar dengan huruf emas yang mencolok:

"Gema di Lorong Sunyi"

Liana membaca judul itu perlahan, meraba tekstur kertasnya.

"Gema di Lorong Sunyi?" gumamnya.

"Ya," sahut Adrian, menyandarkan tubuhnya di tiang penyangga kamera yang besar.

"Film ini bercerita tentang seorang wanita yang kehilangan pendengarannya karena duka, tapi ia menemukan kembali bahasa kalbunya melalui gerak tubuh di tempat yang paling tidak terduga. Kamu tidak perlu berakting menjadi orang lain, Liana. Aku ingin kamu menjadi dirimu sendiri di depan kamera."

Liana membuka halaman pertama. Di sana tertulis sinopsis singkat tentang perjuangan, pasar, dan cinta yang tumbuh di antara debu dan keringat.

"Kamu baca dulu skenarionya. Resapi setiap kalimatnya," perintah Adrian sambil melirik jam tangan mewahnya.

"Aku beri waktu satu jam. Setelah itu, kita akan mulai pengambilan gambar tes kamera pertama. Aku ingin melihat bagaimana emosimu menyatu dengan naskah ini."

Liana mengangguk, lalu berjalan menuju sudut studio yang lebih tenang.

Ia duduk bersila di lantai kayu yang dingin, menenggelamkan dirinya dalam barisan kata yang ditulis Adrian.

Tanpa ia sadari, Adrian tetap berdiri di sana, memperhatikannya dari jauh dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kekaguman profesional dan sesuatu yang mulai terasa lebih pribadi.

Liana duduk menyendiri di pojok studio, membalik lembaran naskah

"Gema di Lorong Sunyi" dengan saksama. Namun, gerakan tangannya mendadak terhenti di halaman lima belas.

Matanya membelalak, napasnya tertahan saat membaca barisan dialog dan arahan adegan di sana.

Adegan dimana Sang Penari jatuh ke pelukan Sang Pelindung.

Di bawah rintik hujan buatan, bibir mereka hampir bersentuhan sebagai simbol janji yang tak terucap.

Liana menelan salivanya dan melirik ke arah nama pemeran utama pria yang tertulis di lembar depan: Adrian Pratama

"Ada masalah apa?" tanya Adrian.

Suara berat itu tiba-tiba terdengar tepat di atas kepalanya.

Liana tersentak, hampir saja menjatuhkan naskah tebal itu.

Adrian berdiri di sana, melipat tangan di dada dengan tatapan menyelidik yang tajam namun tenang.

Liana tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menunjukkan paragraf di halaman lima belas itu kepada Adrian.

Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk bagian "adegan romantis" dengan gusar.

"Aku tidak bisa," bisik Liana ketus, wajahnya mulai memanas.

"Bapak bilang saya hanya perlu menari. Kenapa ada adegan seperti ini? Dan kenapa Bapak sendiri yang jadi pemeran utamanya?"

Adrian mengambil naskah itu dari tangan Liana, membacanya sekilas seolah ia sudah menghafal setiap titik dan komanya.

Kemudian ia berjongkok di depan Liana, menyamakan tinggi mereka, membuat jarak di antara keduanya kembali menyempit seperti saat di tukang bakso semalam.

"Liana, lihat aku," perintah Adrian lembut namun tegas.

Liana terpaksa mendongak, menatap mata cokelat gelap milik Adrian yang kini tampak begitu serius.

"Ini hanya pura-pura. Ini akting, Liana. Di depan kamera, aku bukan Adrian si produser, dan kamu bukan Liana si penjual daster. Kita adalah dua jiwa yang saling menemukan dalam cerita ini," ucap Adrian, suaranya merendah, mencoba menenangkan badai kecemasan di hati gadis itu.

"Tapi saya tidak pernah dan saya tidak tahu cara melakukannya," bantah Liana lagi, teringat bagaimana jantungnya hampir copot hanya karena kecupan di pipi kemarin sore.

Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini tidak mengandung ejekan.

"Aku akan membantumu. Aku akan membimbing setiap gerakanmu sampai kamu merasa nyaman. Anggap saja ini bagian dari tarianmu, sebuah tarian emosi."

Adrian mengulurkan tangannya, menunggu Liana untuk bangkit.

"Percayalah padaku untuk tiga bulan ini. Aku tidak akan membiarkanmu terlihat buruk di depan kamera."

Liana menatap tangan besar Adrian. Ia tahu ia sudah terjebak dalam komitmen ini, namun bayangan harus berdekatan sedekat itu dengan "Tuan Buaya Darat" ini mulai membuatnya merasa bahwa tiga bulan ke depan akan menjadi waktu terpanjang dalam hidupnya.

Lampu-lampu studio yang benderang mulai terasa panas menyengat kulit Liana.

Di tengah set yang dirancang menyerupai lorong kota tua yang temaram, mesin hujan buatan mulai meneteskan air, menciptakan suasana melankolis yang sempurna.

Adrian sudah berdiri di sana, mengenakan kemeja yang basah kuyup, menatap Liana dengan tatapan karakter pria yang penuh kerinduan.

"Kamera siap! Action!" seru asisten sutradara.

Liana melangkah maju, namun tubuhnya terasa seberat timah.

Saat ia harus jatuh ke pelukan Adrian, ia justru tersandung kakinya sendiri.

Wajahnya kaku, matanya berkedip terlalu cepat karena gugup.

"Potong!" teriak sutradara dari balik monitor.

"Liana, kamu terlalu kaku. Ulangi lagi!"

Percobaan kedua gagal. Percobaan ketiga pun sama.

Liana merasa puluhan pasang mata kru di balik kamera mulai menilainya dengan sinis.

Rasa percaya dirinya yang tadi sempat membumbung tinggi saat menari solo, kini hancur berkeping-keping.

"Potong! Liana, ini adegan cinta, bukan adegan tabrakan!" seru sutradara lagi.

Adrian, yang sudah basah kuyup dan mulai kelelahan karena pengulangan berkali-kali, akhirnya kehilangan kesabarannya.

Nafasnya memburu, ia menatap Liana dengan rahang mengeras.

"Liana! Fokus! Apa susahnya hanya bersandar di pundakku? Kita sudah mengulang ini sepuluh kali!" bentak Adrian, suaranya menggelegar di seluruh studio yang mendadak hening.

Liana tersentak. Bahunya bergetar hebat. Bentakan itu adalah titik terakhir pertahanannya.

Air matanya yang sejak tadi ia tahan kini tumpah, bercampur dengan rintik hujan buatan yang membasahi pipinya.

"Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak bisa!" teriak Liana dengan suara parau yang menyayat hati.

"Aku bukan aktris!! Aku ini hanya penjual daster! Kamu yang memaksaku ke sini!"

Liana menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah di tengah set mewah itu.

Melihat Liana hancur, kemarahan Adrian menguap seketika, digantikan oleh rasa sesal yang menghujam jantungnya.

Ia melihat sekeliling, menyadari para kru sedang berbisik-bisik menyaksikan drama nyata di depan mereka.

"Semua keluar!" perintah Adrian tegas, suaranya tidak lagi marah, tapi penuh otoritas.

"Kru, teknisi, semuanya, tinggalkan studio sekarang. Kita istirahat satu jam!"

Satu per satu orang meninggalkan ruangan hingga menyisakan kesunyian yang mencekam. Adrian mendekati Liana yang masih sesenggukan.

Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar sapu tangan kain berwarna biru gelap yang masih kering.

"Liana..." panggilnya lembut.

Adrian menyodorkan sapu tangannya, menunggu sampai Liana mau menerimanya.

"Aku minta maaf, aku yang salah," ucap Adrian dengan nada yang sangat tulus, jauh dari sosok produser yang angkuh.

"Aku terlalu terbawa emosi karena tekanan proyek ini. Tolong, jangan menangis lagi ya?"

Adrian berlutut di depan Liana, membiarkan celana mahalnya kotor oleh lantai yang basah.

Ia menatap Liana dengan mata yang memohon ampun, menyadari bahwa ia baru saja melukai perasaan wanita yang sebenarnya ingin ia lindungi.

Adrian mendudukkan tubuhnya di lantai studio yang masih basah oleh sisa hujan buatan, mengabaikan kemeja mahalnya yang kini kotor.

Ia menepuk lantai di sampingnya, mengisyaratkan Liana untuk ikut duduk.

"Kamu tahu, Liana? Film pertamaku dulu adalah bencana total," ucap Adrian sambil menatap kosong ke arah deretan kursi penonton yang gelap.

"Aku dipecat oleh investor di hari pertama syuting karena aku terlalu sombong dan tidak mau mendengarkan siapa pun. Aku pulang ke rumah, mengunci diri, dan menangis persis seperti yang kamu lakukan tadi."

Liana perlahan menurunkan tangannya dari wajah, menatap Adrian dengan mata yang masih sembab.

"Bapak pernah menangis?"

"Tentu saja. Aku manusia, bukan robot produser," jawab Adrian dengan senyum tipis yang tulus.

"Kegagalan itu yang mengajariku bahwa seni bukan soal kesempurnaan teknis, tapi soal keberanian untuk terlihat rapuh. Jadi, jangan takut terlihat kaku. Aku di sini untuk jatuh bersamamu."

Perkataan Adrian meresap ke dalam hati Liana, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Rasa sesak di dadanya perlahan berganti dengan tekad baru.

Liana mengusap sisa air matanya dengan sapu tangan Adrian, lalu bangkit berdiri.

Ia mengulurkan tangannya pada Adrian, membalas budi pria itu tadi.

"Ayo kita coba lagi. Sekali lagi," ucap Liana mantap.

Adrian bangkit, matanya berbinar melihat api semangat yang kembali menyala di mata Liana.

Ia memberikan kode rahasia dengan lambaian tangan kecil kepada operator kamera yang mengintip dari balik tirai.

Tanpa suara instruksi yang keras, kamera mulai berputar secara sembunyi-sembunyi.

Action!

Liana mulai melangkah. Kali ini, tidak ada keraguan.

Ia berjalan mendekat ke arah Adrian bukan sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari melodi yang sama.

Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa senti, Liana tidak lagi tersandung. Ia masuk ke dalam pelukan Adrian dengan gerakan yang mengalir alami, seperti air yang menemukan muaranya.

Chemistry itu meledak seketika. Liana menyandarkan kepalanya di bahu Adrian yang kokoh, sementara tangan Adrian melingkar protektif di pinggangnya.

Napas mereka memburu dalam ritme yang sama.

Perlahan, tubuh Liana mulai bergerak. Ia tidak hanya berpelukan; ia mulai menari.

Sebuah tarian dalam pelukan yang intim, penuh dengan kerinduan dan janji yang tak terucap.

Adrian mengikuti setiap gerakan Liana dengan sempurna, seolah mereka adalah dua kepingan puzzle yang akhirnya menyatu.

Di balik monitor di ruang kontrol, para kru yang menonton lewat kamera tersembunyi menahan napas.

Mereka tahu, mereka baru saja mengabadikan momen paling jujur dan indah dalam sejarah karier Adrian.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!