Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar yang Mengguncang Dunia Alya
Pagi itu rumah keluarga Prameswari masih terasa tenang seperti biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar ruang keluarga dan jatuh lembut di atas sofa krem yang empuk. Aroma kopi hitam yang baru diseduh bercampur dengan wangi roti panggang dari dapur, menciptakan suasana yang sebenarnya sangat damai. Namun kedamaian itu tidak bertahan lama, karena hanya beberapa detik kemudian suara teriakan seseorang mengguncang seluruh rumah.
“Apaaa?! Menikah?!!”
Alya berdiri di tengah ruang keluarga dengan mata membelalak seolah baru saja mendengar kabar paling mengerikan di dunia. Rambutnya masih setengah basah karena baru selesai mandi, beberapa helai bahkan menempel di pipinya. Ia mengenakan kaos longgar dan celana pendek rumah yang membuat penampilannya terlihat santai, kontras dengan ekspresi dramatis di wajahnya. Kedua tangannya terangkat ke udara, sementara suaranya yang keras menggema sampai ke lorong-lorong rumah.
“Ayah, Alya baru dua puluh satu tahun! Banyak negara yang belum Alya kunjungi! Banyak makanan yang belum Alya icipin!” serunya sambil menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi berlebihan. Ia lalu menoleh ke arah ibunya dengan tatapan memelas, seolah mencari sekutu di tengah kekacauan ini. “Bundaaaa, tolonginnn. Masa iya Alya nikah muda? Omaygattt!”
Di seberangnya, Bima Prameswara hanya menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya perlahan. Pria paruh baya itu duduk dengan punggung tegak di kursi ruang keluarga, mencoba mempertahankan ketenangan yang mulai runtuh sedikit demi sedikit. Sementara itu, Lestari ..., istri sekaligus ibu Alya, menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, campuran antara lelah, geli, dan sedikit putus asa.
“Alya,” kata sang ayah akhirnya dengan suara rendah namun tegas, “duduk dulu, siniii.”
“Alya gak mau duduk!” balas Alya cepat tanpa ragu. Ia menyilangkan tangan di dada lalu mulai berjalan mondar-mandir di depan mereka seperti orang yang sedang merancang pidato penting. Wajahnya penuh ekspresi, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar semakin dramatis dari yang sebelumnya.
“Alya masih muda, Ayah. Masih pengen hidup bebas, masih pengen keliling dunia! Alya belum makan ramen asli di Jepang, belum coba pizza di Italia, belum sarapan croissant di Paris!” Ia berhenti sebentar lalu menambahkan dengan semangat, “Alya juga belum coba street food di Korea!”
Lestari akhirnya menutup wajahnya dengan satu tangan, berusaha menahan tawa yang hampir keluar.
“Alya…”
“Tunggu dulu, Bun. Ini serius!” potong Alya cepat sambil mengangkat telunjuk seolah sedang memberikan presentasi penting. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian dengan mata menyipit penuh curiga. “Kalian ini lagi bercanda kan?”
Namun tidak ada yang menjawab.
Sunyi yang tiba-tiba memenuhi ruangan justru terasa jauh lebih berat daripada jawaban apa pun. Alya perlahan menurunkan tangannya, dan untuk pertama kalinya ekspresi dramatis di wajahnya berubah menjadi kebingungan yang nyata.
“…kalian serius?” tanyanya pelan.
Ayahnya mengangguk tanpa ragu.
“Serius.”
Alya langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan suara pelan. Ia menatap langit-langit rumah seolah berharap semua ini hanya mimpi aneh yang akan hilang dalam beberapa detik. “Ya ampun,” gumamnya lemah. “Dunia ini kejam sekali.”
Ibunya menatapnya datar dari seberang meja. “Kamu bisa sedikit lebih dramatis lagi?”
Alya menoleh perlahan ke arahnya dengan wajah serius. “Bisa kok, Bun. Mau Alya nangis sekalian?”
“Ga perlu.”
Bima berdeham pelan sebelum kembali berbicara.
“Alya, dengarkan dulu.”
Alya langsung mengangkat tangan seperti polisi lalu lintas yang menghentikan kendaraan. “Stop.” Ia menunjuk ayahnya lalu mulai menghitung dengan jari.
“Pertama, Alya gak pernah punya pacar serius. Kedua, Alya belum siap menikah. Ketiga…” ia menunjuk pintu depan dengan ekspresi penuh arti, “…Alya bisa kabur dari rumah kapan saja.”
Ibunya langsung menatap tajam. “Kamu berani kabur?”
Alya langsung tersenyum manis, seolah kalimat tadi hanya candaan kecil. “Engga juga sih, Bun.”
Ia kembali menyilangkan tangan dan menatap mereka dengan serius. “Tapi tetap saja..., Kenapa Alya harus nikah?”
Ayahnya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan nada lebih berat. “Karena keluarga kita sedang ada masalah.”
Kalimat itu membuat Alya berhenti bercanda seketika. Ia menatap ayahnya dengan alis berkerut, seolah mencoba memahami sesuatu yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya. “Apa maksudnya?”
Bima tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah map coklat dari meja lalu mendorongnya perlahan ke arah Alya. “Buka.”
Alya mengambil map itu dengan hati-hati. Beberapa lembar dokumen terlihat di dalamnya, dan matanya mulai bergerak membaca baris demi baris dengan cepat. Semakin lama ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya.
“…hutang?” gumamnya pelan.
Lestari menunduk tanpa berkata apa-apa.
Alya membaca lagi, kali ini lebih teliti. Angka-angka yang tertulis di dokumen itu membuat perutnya terasa dingin. Ia menutup map tersebut perlahan dan menatap ayahnya dengan wajah serius.
“Ini serius?”
Ayahnya mengangguk. “Bisnis ayah sedang tidak baik.”
Alya terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya, “Dan solusi kalian… adalah menikahkan Alya?”
Ibunya menghela napas panjang. “Tidak sesederhana itu.”
“Kelihatannya sangat sederhana dari sudut pandang Alya,” balasnya cepat dengan wajah yang di lipat-lipat.
Ayahnya kemudian berkata, “Orang yang akan menikahimu adalah cucu dari relasi lama kakekmu.”
Alya mengangkat alis tinggi. “Relasi lama? Ayah, itu kedengarannya seperti plot sinetron jadul.”
Lestari menahan senyum kecil. “Alya.”
“Serius loh, Bun.” Ia menyandarkan punggung ke sofa dengan santai. “Terus siapa orangnya?”
“Adrian Wijaya,” jawab ayahnya.
Alya mengernyit. “Siapa?”
Ibunya terlihat sedikit terkejut. “Kamu engga tahu?”
Alya menggeleng santai. “Harusnya Alya tahu?”
“Dia cukup terkenal,” kata ayahnya.
“Terkenal di mana?”
“Di dunia bisnis.”
Alya langsung menepuk tangannya dengan ekspresi paham. “Ah. Pantes Alya gak tahu.”
Ibunya menatapnya lelah. “Alya.”
“Ya?”
“Orang ini direktur muda di perusahaan ponsel terbesar di Asia.”
Alya berkedip beberapa kali sebelum duduk tegak.
“Direktur?”
“Iya.”
“Umurnya?”
“Dua puluh delapan tahun.”
Alya langsung membuat wajah kaget berlebihan. “Tua sekali.”
“Alya,” tegur ibunya.
“Ya kan?” balas Alya tanpa rasa bersalah.
Ibunya menghela napas lagi. “Dia hanya tujuh tahun lebih tua dari kamu.”
“Tujuh tahun itu banyak, Bun.”
Ayahnya menatap putrinya dengan serius. “Dia orang baik.”
Alya menyipitkan mata curiga. “Kalimat itu selalu dipakai sebelum seseorang dijodohkan.”
Ibunya hampir tertawa.
“Pertemuan pertama kalian besok,” lanjut ayahnya.
Alya membeku.
“Besok?”
“Iya.”
Ia langsung berdiri lagi dengan ekspresi tidak percaya.
“Besok?! Ayah ini cepat sekali! Alya bahkan belum sempat mental preparation!”
Ibunya mengangkat alis. “Kamu kira ini interview kerja?”
“Ini lebih parah dari interview kerja!”
Alya berhenti berjalan lalu menatap mereka lagi. “Dan kalian serius ingin Alya menikah dengan orang yang bahkan belum Alya kenal?”
Ayahnya menjawab pelan, “Ini hanya kontrak Alya.”
Alya mengedipkan mata. “Kontrak?”
“Iya. Pernikahan kontrak.”
Ia terdiam beberapa detik sebelum bertanya lagi,
“Berapa lama?”
“Satu tahun.”
Alya berpikir sejenak lalu mengangguk pelan. “Oke… ini semakin terdengar seperti drama Korea.”
Ibunya menahan senyum.
“Kalau hanya kontrak berarti nanti bisa cerai?” tanya Alya lagi.
Ayahnya mengangguk. “Iya.”
Alya menatap langit-langit rumah dengan ekspresi berpikir dalam. “Menarik.”
Ibunya menyipitkan mata. “Kamu sedang merencanakan sesuatu.”
Alya menoleh dengan senyum yang sedikit… licik. “Kalau dia tidak suka cewek berisik,” katanya pelan, “berarti Alya harus jadi cewek paling berisik di dunia.”
Ibunya langsung menghela napas panjang. “Alya…”
“Serius loh, Bun. Kalau Alya bikin dia ilfeel, dia pasti yang minta cerai duluan!”
Ayahnya menatapnya datar. “Itu bukan tujuan pernikahan.”
“Tapi itu tujuan Alya, Yahhh Ayahhh.”
Ia tertawa kecil sebelum memeluk ibunya tiba-tiba.
“Sayanggg, Bundaaa, Lopyu mwah mwahhh.”
“Alya!” seru ibunya sambil mendorong kepalanya menjauh.
Namun Alya hanya tertawa lalu berjalan menuju tangga dengan langkah ringan. Sebelum naik sepenuhnya, ia berhenti dan menoleh ke arah ruang keluarga.
“Semoga dia sabar,” katanya santai.
“Kenapa?” tanya ibunya curiga.
Alya tersenyum lebar.
“Karena Alya akan jadi istri paling cegil yang pernah dia temui.”
Dan tanpa ia sadari, di tempat lain di kota yang sama, seorang pria bernama Adrian Wijaya sedang melihat foto dirinya di atas meja kerja, tanpa tahu bahwa calon istrinya sudah merencanakan sesuatu yang akan membuat hidupnya jauh lebih kacau dari yang ia bayangkan.