seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Malam di koridor rumah sakit terasa begitu sunyi, hanya dipecah oleh suara mesin monitor jantung dari balik kaca ruang ICU. Dinda berdiri mematung, menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang buram. Di belakangnya, Alan masih berdiri tegak, seolah tidak berniat beranjak satu inci pun dari sisi Dinda.
Dinda menoleh, matanya yang sembab menatap Alan dengan dingin. "Pulanglah, Tuan. Dita sudah stabil, dan Dika ada di sini. Kehadiran Tuan hanya akan membuat adik saya terus bertanya-tahu."
Alan menghela napas, ia melangkah mendekat namun berhenti satu meter dari Dinda, menghormati batasan yang baru saja mereka sepakati. "Aku ingin memastikan kalian mendapatkan makan malam yang layak. Aku bisa menyuruh Leo—"
"Tidak perlu," potong Dinda ketus. "Tuan sudah memberikan 'pembayaran' yang lebih dari cukup untuk hari ini. Sekarang, biarkan saya memiliki sisa martabat saya untuk menjaga adik saya tanpa bayang-bayang Tuan di sini. Pulanglah."
Alan menatap Dinda lama, ada guratan penyesalan yang tak kunjung hilang di wajahnya. "Baik. Aku akan pulang. Tapi ponselmu harus selalu aktif. Jika ada apa-apa, atau jika Dika mulai mencurigaimu lagi, hubungi aku. Aku akan menjemputmu besok pagi untuk ke kantor utama."
Tanpa menunggu jawaban, Alan berbalik dan melangkah pergi. Langkah kakinya yang tegas bergema di koridor, perlahan menghilang, meninggalkan Dinda dalam kesunyian yang mencekam.
**
Dinda melangkah kembali ke arah Dika yang duduk meringkuk di kursi besi. Remaja itu mendongak, matanya yang tajam menatap kakaknya dengan penuh selidik.
"Dia sudah pergi?" tanya Dika singkat.
"Sudah, Dik. Tuan Alan harus kembali karena urusan kantor," jawab Dinda sambil duduk di samping adiknya. Ia mengulurkan tangannya, mencoba mengusap rambut Dika, namun Dika sedikit menghindar.
"Kak, aku nggak bisa diam saja melihat Kakak sendirian memikul beban ini," ucap Dika, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Besok aku mau ke pasar lagi. Pak Galih bilang dia masih butuh orang untuk bongkar muat pagi. Uangnya lumayan buat tambahan makan kita sehari-hari, jadi Kakak nggak perlu terus-menerus merasa berhutang budi pada bos itu."
Dinda tersentak. Ia menatap adiknya dengan tegas. "Tidak, Dika. Tidak boleh."
"Kenapa? Aku masih kuat, Kak! Aku nggak mau kita jadi benalu di perusahaan orang lain!" Dika berdiri, emosinya mulai tersulut.
"Dengar, Dika!" Dinda ikut berdiri, suaranya sedikit meninggi namun tetap terjaga agar tidak mengganggu pasien lain. "Tugasmu sekarang adalah menjaga Dita. Dia butuh kamu di sini setiap saat. Kakak akan sangat sibuk di kantor baru, Kakak tidak mungkin bisa bolak-balik setiap jam. Kalau kamu di pasar, siapa yang akan memegang tangan Dita saat dia terbangun ketakutan?"
Dika terdiam, rahangnya mengeras. "Tapi Kak..."
"Tidak ada tapi-tapi," sela Dinda. "Dan satu hal lagi yang paling penting. Ujian Nasional tinggal hitungan hari. Kakak sudah bicara dengan pihak sekolah, lewat telepon tadi saat kamu tertidur sebentar. Kakak sudah minta izin pada wali kelas kalian."
Dika mengerutkan kening. "Izin apa? Kami nggak mungkin ikut ujian kalau Dita masih begini."
Dinda memegang kedua bahu Dika, menatap mata adiknya dalam-diam. "Kalian tetap akan ujian, Dik. Pihak sekolah sudah setuju untuk mengirimkan pengawas ke rumah sakit ini. Kalian bisa ujian di ruang tunggu atau di samping ranjang Dita jika kondisinya memungkinkan. Kakak tidak mau masa depan kalian hancur hanya karena keadaan ini."
"Ujian di rumah sakit? Kak, itu nggak akan fokus!" protes Dika.
"Fokus atau tidak, kamu harus lulus, Dika! Kamu mau jadi kuli panggul selamanya? Kamu harus punya ijazah, harus kuliah. Itu satu-satunya jalan agar kita bisa keluar dari lubang ini dan tidak perlu lagi bergantung pada orang lain," suara Dinda bergetar, menyembunyikan kenyataan bahwa ia sendiri telah "menjual" masa depannya demi masa depan adik-adiknya.
Dika menunduk, menatap lantai rumah sakit yang mengkilap. Ia merasa sesak. Ia tahu kakaknya benar, namun rasa tidak berdaya sebagai laki-laki terus menghantuinya.
"Janji sama Kakak, Dik," bisik Dinda. "Jaga Dita, dan belajar untuk ujianmu. Biarkan Kakak yang mengurus sisanya. Apapun yang terjadi, jangan pernah berhenti sekolah."
Dika akhirnya mengangguk pelan, meskipun hatinya masih dipenuhi kecurigaan pada sosok Alan. "Iya, Kak. Aku janji. Tapi Kakak juga harus janji... kalau pria itu macam-macam, Kakak harus bilang padaku. Aku nggak takut kehilangan bantuan dia kalau itu artinya Kakak harus menderita."
Dinda hanya bisa memeluk adiknya erat, menyembunyikan wajahnya yang kembali basah oleh air mata. “Sudah terlambat, Dik... Kakak sudah hancur,” jeritnya dalam hati.
***
Malam itu, Dinda dan Dika berbagi satu kursi panjang di ruang tunggu. Dita di dalam masih tertidur di bawah pengaruh obat-obatan dosis tinggi. Dinda tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia menutup mata, bayangan kejadian di apartemen Alan kembali muncul. Rasa perih di tubuhnya memang mulai memudar, namun luka di jiwanya justru semakin menganga.
Ia mengambil ponselnya, melihat pesan masuk dari Alan.
“Tidurlah. Besok jam 8 pagi mobil akan menjemputmu di lobby rumah sakit. Aku sudah menyiapkan kontrak resmi untukmu agar Dika tidak curiga.”
Dinda tidak membalas. Ia hanya menatap layar ponsel itu dengan benci. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan.
"Kak, tidurlah. Biar aku yang jaga," gumam Dika yang menyadari kakaknya masih terjaga.
"Iya, Dik. Sebentar lagi," sahut Dinda.
Dinda memperhatikan Dika yang mulai membuka buku catatan sekolahnya di bawah lampu remang koridor. Semangat adiknya untuk belajar di tengah kondisi ini membuatnya sedikit lega. Setidaknya, pengorbanannya tidak sia-sia.
***
Keesokan paginya, suasana rumah sakit mulai sibuk. Dinda membersihkan dirinya di kamar mandi umum rumah sakit, mencoba merapikan pakaiannya yang masih nampak mahal namun kini terasa seperti kain kafan bagi harga dirinya.
Saat ia berjalan menuju lobby, sebuah mobil mewah sudah terparkir di sana. Bukan Alan yang menjemput, melainkan Leo.
"Selamat pagi, Nona Adinda. Tuan Alan menunggu di kantor," ucap Leo sopan sambil membukakan pintu.
Dinda masuk tanpa kata. Di dalam mobil, Leo menyerahkan sebuah map cokelat. "Ini kontrak kerja yang Tuan Alan maksud. Di sana tertulis Nona adalah asisten manajerial dengan fasilitas tempat tinggal dan tunjangan kesehatan keluarga penuh. Ini untuk ditunjukkan pada adik Anda jika dia bertanya."
Dinda menerima map itu dengan tangan gemetar. "Kalian benar-benar menyiapkan semuanya dengan sangat rapi, ya? Bahkan kebohongan pun dibuatkan dokumen resminya."
Leo terdiam, tidak berani menyahut. Ia tahu posisi Dinda saat ini sangat sulit.
Sesampainya di kantor utama Ryuga Corp, Dinda langsung diarahkan ke ruangan Alan. Pria itu sudah duduk di sana, tampak segar dengan setelan jas abu-abu, seolah-olah semalam ia tidak baru saja menghancurkan hidup seseorang.
"Duduklah, Dinda," ucap Alan tanpa mendongak dari berkasnya.
Dinda duduk di hadapannya. "Saya sudah membawa kontrak itu. Apa yang harus saya lakukan hari ini?"
Alan mendongak, menatap mata Dinda yang kini nampak lebih berani namun kosong. "Hari ini, kau akan ikut denganku ke sebuah pertemuan makan siang. Aku akan memperkenalkanmu pada beberapa kolega bisnis... dan mungkin, ibuku akan ada di sana."
Dinda mengepalkan tangannya di bawah meja. "Secepat itu? Tuan bilang saya punya waktu."
"Waktu adalah kemewahan yang tidak kita miliki, Dinda. Ibuku sudah mulai mengirim orang untuk menyelidiki 'kekasih' yang aku ceritakan kemarin. Jika dia menemukanmu di kontrakan kumuh itu lebih dulu, dia akan menghancurkanmu. Tapi jika kau berdiri di sampingku sebagai tunanganku, dia harus berpikir dua kali."
Alan berdiri, berjalan mengitari mejanya dan berdiri tepat di depan Dinda. "Ingat perjanjian kita. Kau hanya perlu berakting. Berikan senyuman terbaikmu, dan biarkan aku yang menangani sisanya. Nyawa Dita dan masa depan Dika bergantung pada seberapa bagus kau bermain peran hari ini."
Dinda berdiri, menatap Alan dengan mata yang menantang. "Saya akan melakukannya. Tapi ingat, Tuan... setelah sandiwara ini selesai di depan orang-orang, jangan pernah berharap saya akan bicara satu patah kata pun pada Tuan di balik layar."
Alan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kemenangan sekaligus kepedihan. "Sepakat."
***
Bersambung...