Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan di Tengah Jalan
Malam perlahan turun.
Langit yang tadi berwarna jingga
kini berubah menjadi gelap pekat.
Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.
Tapi di dalam workshop,
waktu seolah tidak berjalan.
Suara alat masih terdengar.
Dentingan logam.
Desisan mesin.
Dan percakapan singkat antar teknisi.
Di tengah semua itu
Ryan berdiri diam.
Tangannya masih memegang alat.
Namun ia tidak lagi bekerja.
Tatapannya kosong.
Terfokus ke satu titik tanpa benar-benar melihat.
Pikirannya terganggu.
Bukan karena pekerjaan.
Bukan karena tekanan.
Tapi karena satu hal sederhana
pesan.
Pesan dari Arini.
“Aku mau ketemu kamu. Sekarang.”
Kalimat itu pendek.
Namun dampaknya
tidak sederhana.
Ryan menghela napas panjang.Perlahan.
Seolah mencoba menenangkan sesuatu di dalam dirinya.
Namun tidak berhasil.
Ia menatap mobil balap di depannya.
Mobil yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Mobil yang bisa mengubah hidupnya.
Namun untuk pertama kalinya
fokusnya terpecah.
“Bang?”
Suara salah satu teknisi memanggilnya.
Ryan tersadar.
Menoleh.“Iya?”
“Bagian ini lanjut sekarang atau besok?”
Ryan menatap bagian yang dimaksud.
Biasanya ia akan langsung menjawab.
Namun kali ini ia butuh beberapa detik.
“Lanjutkan saja dulu,” katanya akhirnya.
“Siap, bang.”Ryan mengangguk lalu ia meletakkan alat di meja kerja.Gerakannya pelan.Tidak terburu-buru.Namun jelas
ia sudah mengambil keputusan.
Ia melepas sarung tangan.
Membersihkan tangannya dengan kain.
Namun noda oli itu
tidak benar-benar hilang.
Seperti pikirannya.
“Bang, keluar?” tanya teknisi lain.
Ryan menjawab singkat,“Iya. Ada urusan.”
Tidak ada yang bertanya lagi.
Namun beberapa orang saling pandang.
Mereka tahu ini bukan urusan biasa.
Ryan berjalan keluar dari workshop.
Begitu pintu terbuka
udara malam langsung menyambutnya.
Dingin Namun terasa segar.Ia berhenti sejenak menarik napas dalam.
Suasana di luar jauh lebih tenang.
Tidak ada suara mesin.
Tidak ada tekanan.
Namun justru
di sinilah pikirannya semakin ramai.
Ryan memasukkan tangannya ke saku.
Menyentuh ponsel itu Seolah memastikan
pesan itu benar dan Ia mengeluarkannya.
Melihat layar sekali lagi.Nama itu masih sama.Arini.
Ryan menatapnya beberapa detik.
Dalam pikirannya
terlintas banyak hal Kenangan.
Pertemuan pertama.
Percakapan-percakapan kecil.Dan perasaan
yang tidak pernah benar-benar hilang.
“Kenapa sekarang…” gumamnya pelan.
Namun ia tahu ini bukan soal waktu.
Ini soal keadaan.
Ryan memasukkan kembali ponselnya.
Ia berjalan menuju mobilnya.
Langkahnya mantap.
Namun tidak cepat.
Seolah setiap langkah sedang dipikirkan.
Ia membuka pintu mobil.
Masuk dan Duduk Namun ia tidak langsung menyalakan mesin. Tangannya berada di setir.terdiam namun Matanya menatap ke depan.
Kosong.
Beberapa detik berlalu.Lalu ia menutup matanya sejenak.Dalam kegelapan itu
semuanya terasa lebih jelas.
Dua dunia.Dunia yang baru saja ia masuki
penuh peluang.Penuh risiko.
Dan masa depan.
Dan dunia yang belum selesai
penuh dengan perasaan.Penuh kenangan.
Dan luka.Ryan membuka matanya.
Tatapannya berubah.
Lebih tenang,Lebih siap.Ia menyalakan mesin Mobil bergerak perlahan.
Keluar dari area workshop.
Jalanan kota mulai lengang.
Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan.
Memberikan cahaya yang tidak stabil.
Ryan mengemudi tanpa suara.
Radio mati.Ponsel diam.Hanya suara mesin
dan pikirannya sendiri.Sesekali ia melihat ke luar.Orang-orang berjalan.
Beberapa tertawa.
Beberapa sibuk dengan urusan masing-masing.
Dunia tetap berjalan.
Seolah
tidak peduli dengan apa yang sedang ia rasakan.
Ryan tersenyum tipis.
Namun hambar.
“Hidup orang lain… sederhana ya,” gumamnya.
Namun ia tahu
itu hanya terlihat dari luar.
Di sisi lain kota
Arini berdiri di depan jendela kamarnya.
Lampu di dalam ruangan tidak terlalu terang.
Memberikan bayangan lembut di wajahnya.
Tangannya menggenggam ponsel.
Erat.
Namun ia tidak mengetik apa-apa.
Ia hanya menunggu.
Matanya menatap keluar.
Namun pikirannya
jauh lebih jauh dari itu.
Tentang masa depan yang sudah ditentukan.
Tentang keputusan yang bukan miliknya.
Dan tentang seseorang
yang mungkin adalah satu-satunya harapannya.
“Aku egois…” bisiknya pelan.
Namun tetap
ia tidak berhenti menunggu.
Kembali ke jalan
mobil Ryan berhenti di lampu merah.
Cahaya merah menyinari wajahnya.
Ia menatap lampu itu.
Diam.
Seolah
menunggu sesuatu.
Seperti hidupnya saat ini.
Di satu sisi
ia ingin maju.
Di sisi lain
ada sesuatu yang menahannya.
Lampu berubah.
Hijau.
Ryan tidak ragu lagi.
Ia menginjak gas.
Mobil melaju.
Keputusan
sudah diambil.
Beberapa menit kemudian
ia tiba di lokasi.
Sebuah kafe.
Tidak terlalu besar.
Namun cukup tenang.
Lampunya hangat.
Suasananya damai.
Kontras
dengan apa yang ia rasakan.
Ryan turun dari mobil.
Menutup pintu perlahan.
Ia berdiri di depan.
Menatap ke dalam.
Dan di sanalah
ia melihatnya.
Arini.
Duduk sendiri.
Di sudut ruangan.
Tangannya masih memegang ponsel.
Namun matanya
tidak melihat layar.
Ia sedang menunggu.
Ryan menarik napas dalam.
Dadanya terasa sedikit berat.
Namun ia tetap melangkah.
Pintu terbuka.
Suara lonceng kecil terdengar.
Arini langsung mengangkat kepala.
Dan untuk beberapa detik
mata mereka bertemu.
Waktu seolah berhenti.
Tidak ada kata.
Namun semua
sudah terasa.
Ryan berjalan mendekat.
Perlahan.
Setiap langkah
membawa lebih banyak beban.
Namun juga
lebih banyak kepastian.
Ia berhenti di depan meja itu.
Arini menatapnya.
Matanya
tidak lagi setenang dulu.
Ryan menarik kursi.
Duduk.
Dan di antara mereka
terbentang sesuatu yang tidak terlihat.
Jarak.
Perasaan.
Dan pilihan
yang tidak mudah.