Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia hati
"Ran, lo ngobrol apaan sama Willy?" tanya Freya dengan nada penasaran.
Saat ini Rania dan gengnya sedang berada di sebuah kafe sepulang sekolah. Mereka menyempatkan diri untuk nongkrong sebentar, menikmati minuman sambil melepas penat setelah seharian belajar.
"Ngobrol santai aja." jawab Rania. Lalu ia menatap Freya dengan senyum tipis yang penuh arti. "Lo gak cemburu kan?"
Freya langsung mengerutkan keningnya. "Maksud lo?"
Rania menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menatap Freya dengan tatapan menggoda.
“Gue tahu lo suka, kan, sama Willy,” ucap Rania santai.
Wajah Freya seketika memerah.
“Apaan sih lo,” protesnya cepat.
Rania malah semakin tersenyum.
“Jadi lo gak suka nih?” goda Rania lagi.
Freya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Ya nggak lah,” jawabnya singkat.
“Serius?” Rania menaikkan alisnya. “Padahal Willy suka sama lo, loh.”
Ucapan itu membuat Freya langsung melebarkan matanya.
“Ngaco lo. Mana mungkin Willy suka gue,” ucap Freya tidak percaya.
Rania menatap Freya dengan ekspresi serius kali ini.
“Tapi gue serius, Freya. Willy suka lo.”
Freya terdiam beberapa saat. Ia menatap Rania seolah mencoba memastikan apakah sahabatnya itu sedang bercanda atau tidak.
“Lo serius?” tanyanya pelan.
Rania mengangguk santai sambil menyeruput minumannya. “Serius.”
“Ciee… ada yang salting nih,” goda Bunga sambil menyeringai lebar.
“Cintanya terbalaskan nih,” ledak Balqis sambil menyenggol bahu Freya. Wajah Freya sudah seperti kepiting rebus. Sejak dulu Balqis memang sudah tahu kalau Freya diam-diam menaruh hati pada Willy.
“Ih, apaan sih kalian,” ucap Freya sambil menutupi wajahnya yang semakin merah.
“Kalian cocok kok,” ucap Rania santai sambil menyesap minumannya.
“Boleh tuh dijadikan novel. Judulnya ‘Tetanggaku Idolaku’,” sambung Bunga dengan nada dramatis.
Ucapan itu langsung membuat mereka semua tertawa, sementara wajah Freya semakin memerah karena malu.
“Kapan lo tahu, Ran, kalau Willy suka sama Freya?” tanya Balqis dengan nada penasaran.
“Waktu tadi gue ngobrol sama Willy, gue tahu,” jawab Rania santai.
“Lo desak dia?” tanya Freya cepat.
Rania langsung menggeleng.
“Gak kali. Dulu dia sering cerita tentang lo ke gue, sampai gue bosan dengarnya. Awalnya gue gak sadar kalau dia sebenarnya suka lo, tapi lama-lama gue jadi paham,” jelas Rania.
Balqis mengangguk-angguk kecil.
“Gue pikir dulu Willy suka sama Rania, karena kalian dekat,” sahut Balqis.
“Iya, gue juga ngerasa gitu,” sambung Bunga setuju.
Rania langsung menggeleng pelan.
“Gue gak dekat banget kok. Cuma sering aja ketemu dulu waktu Mommy gue sama Mami Willy arisan. Setiap ketemu, yang dia ceritain pasti Freya,” jelas Rania.
Penjelasan itu membuat Freya semakin tersipu malu.
Bunga yang melihat ekspresi Freya langsung menyenggolnya lagi.
“Cie… salting nih.”
“Kenapa lo gak pernah cerita, Ran?” tanya Balqis lagi.
“Willy suruh gue rahasiain, jadi gue simpan kepercayaannya,” jawab santai Rania.
Balqis langsung mengangguk.
“Iya ya, benar juga. Gue akuin kalau kita cerita sama Rania, pasti aman. Beda nih sama bocah itu,” ucap Balqis sambil melirik Bunga.
“Gue gak gitu ya, Qis,” ucap Bunga sambil cemberut.
“Ngeles aja lo,” balas Balqis santai, membuat yang lain kembali tertawa kecil.
Freya jadi teringat saat pertama kali ia menyukai Willy. Saat itu Freya baru pindah ke mansion yang ia tempati sekarang. Umurnya masih dua belas tahun. Ketika keluarga Freya datang ke mansion itu, Willy yang kebetulan lewat di depan rumah mereka melihat banyak barang bawaan milik keluarga Freya. Dengan inisiatif, Willy ikut membantu membawa beberapa barang.
Di situlah Willy dan Freya mulai dekat. Willy sering mengajak Freya bermain di taman, atau kadang Freya yang lebih dulu mengajaknya. Saat bermain bersama Willy, Freya juga sering membuat camilan bersama bundanya untuk mereka berdua.
Dari situlah benih-benih cinta Freya kepada Willy mulai tumbuh. Menurut Freya, Willy adalah orang yang humoris, baik, dan juga ganteng.
Namun suatu waktu, saat mereka mulai masuk sekolah menengah pertama, Willy bersekolah di tempat yang berbeda dengan Freya. Freya justru bersekolah bersama Rania, Balqis, dan Bunga.
Bunga mengode Rania dan Balqis dengan gerakan kecil. Ia melirik ke arah Freya yang tampak tersenyum-senyum sendiri sambil menatap kosong ke depan.
“Ngapain dia senyum sendiri?” bisik Bunga pelan.
Rania yang menyadari hal itu langsung menepuk bahu Freya.
“Freya.”
Freya langsung terkejut.
“Astaga!” ucapnya sambil mengelus dadanya. “Apaan sih, Ran. Bikin kaget aja.”
“Gue cuma tepuk bahu lo pelan ya. Lo aja yang ngelamun,” balas Rania santai. “Lo ngelamunin apa coba sampai senyum sendiri lagi?” ucapnya dengan nada menggoda.
“Kayak orang gila lo, senyum-senyum sendiri,” sambung Balqis.
“Lamunin apa sih, hayo?” tambah Bunga sambil mencondongkan tubuhnya penasaran.
Freya langsung menggeleng cepat.
“Gak lamunin apa-apa kok.”
“Alah, ngeles aja lo. Pasti lo ingat Willy, kan,” ucap Rania sambil menyenggol bahu Freya.
“Gak, Ran. Gak,” ucap Freya cepat mengelak.
“Lo gak usah bohong, Freya. Lo gak bisa bohongin gue,” ucap Rania dengan nada yakin. “Lo tenang aja, gak lama lagi lo jadian bareng Willy.”
“Lo jangan ngomong macam-macam ya sama Willy. Nanti dia ngira gue yang suruh lo,” ucap Freya cepat. Ia jelas tidak ingin terjadi salah paham.
“Lo tenang aja, gue gak akan bilang apa-apa. Tapi feeling gue pasti benar,” ucap Rania.
Cuma manas-manasi dia, batin Rania sambil menahan senyum.
Ting!
Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Rania.
Rania mengambil ponselnya lalu melihat pesan yang baru saja masuk. Ia sedikit menaikkan alisnya saat membaca nama pengirimnya.
“Dari siapa, Ran?” tanya Bunga langsung dengan nada kepo.
“Revano,” jawab Rania singkat.
“Cie… gue semakin yakin kalau Revano suka sama lo, Ran,” ucap Bunga sambil menyeringai.
Rania menaikkan bahunya lalu mengetik sesuatu di ponselnya.
Beberapa detik kemudian, layar ponselnya kembali menyala. Sebuah pesan masuk dari Revano.
Rania membuka pesan itu.
Isi pesannya singkat.
“Udah mau pulang?”
Rania membaca pesan itu dengan alis sedikit terangkat.
“Jangan pulang terlalu malam.”
Rania mendengus pelan.
“Sok akrab banget,” gumamnya lirih.
“Dia chat apa sih?” tanya Bunga makin penasaran sambil mencoba melirik layar ponsel Rania.
Rania tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetik balasan singkat.
“Belum.”
Setelah itu, ia langsung mengunci layar ponselnya dan meletakkannya kembali di meja.
Balqis yang sedari tadi memperhatikan langsung menyeringai. “Balasnya singkat banget.”
“Emang harus panjang?” balas Rania santai.
Bunga terkekeh kecil. “Kasihan banget Revano. Chat-nya perhatian, dibalasnya cuma satu kata.”
Rania hanya mengangkat bahu seolah tidak peduli, lalu kembali menyeruput minumannya. Namun entah kenapa, sudut bibirnya sempat terangkat tipis sebelum ia menatap ke arah luar kafe.
“Gue senang deh kalau lo dekat dengan Revano, Ran,” ucap Freya dengan nada serius.
“Iya, gue juga setuju,” sambung Balqis sambil mengangguk kecil.
“Gue dengar Revano itu gak pernah dekat sama cewek lain,” sahut Bunga.
Rania langsung melirik sekilas ke arah Bunga.
“Lo tahu dari mana?”
Bunga langsung terkekeh kecil.
“Lo kan tahu, gue masuk grup Most Wanted sekolah, hehehe,” jawabnya dengan wajah polos.
Balqis yang mendengar itu langsung memutar bola matanya.
“Terus lo suka sama siapa, Bun? Lo pernah cerita ke gue kalau lo suka sama seseorang,” ucap Balqis tiba-tiba.
Bunga langsung terdiam sejenak.
“Cerita dong, Bun,” desak Freya dengan wajah penasaran.
Bunga terlihat sedikit salah tingkah. Ia menatap satu per satu sahabatnya yang kini menunggu jawabannya.
“Gue suka….”