Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Latihan Malam dan Pengendalian Energi
Malam menyelimuti pegunungan dengan tenang. Langit dipenuhi bintang yang bersinar terang, sementara angin dingin berhembus perlahan melewati pepohonan tinggi. Di depan gua latihan yang sederhana, Goo Yoon berdiri dengan pedang di tangannya. Nafasnya perlahan terlihat dalam udara dingin malam itu.
Han Seol berdiri beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan dengan mata tajam namun tenang.
“Latihan malam adalah bagian terpenting dari perjalanan seorang pendekar,” kata Han Seol dengan suara rendah. “Pada malam hari, pikiran manusia lebih tenang. Energi di alam juga lebih mudah dirasakan.”
Goo Yoon mengangguk pelan. Ia mulai memahami bahwa latihan seorang pendekar bukan hanya tentang mengayunkan pedang sekuat tenaga. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kekuatan fisik.
“Sekarang,” lanjut Han Seol, “duduklah dan tutup matamu.”
Goo Yoon menurut tanpa ragu. Ia duduk bersila di tanah batu yang dingin. Pedangnya ia letakkan di pangkuannya. Perlahan ia menutup mata, mencoba menenangkan pikirannya.
“Rasakan napasmu,” kata Han Seol. “Tarik napas perlahan… lalu lepaskan.”
Goo Yoon mengikuti instruksi itu. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Beberapa kali ia mengulanginya sampai detak jantungnya mulai stabil.
Pada awalnya, pikirannya masih dipenuhi berbagai hal—pertarungan yang telah ia lalui, musuh yang mungkin datang, dan tanggung jawab besar yang ia pikul sebagai pewaris teknik Pedang Langit.
Namun perlahan, semua pikiran itu mulai memudar.
Yang tersisa hanyalah suara angin, desiran daun, dan aliran energi halus yang terasa di dalam tubuhnya.
“Tuan muda,” kata Han Seol pelan, “energi seorang pendekar tidak hanya berasal dari kekuatan otot. Energi sejati berasal dari keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa.”
Goo Yoon mulai merasakan sesuatu yang baru. Di dalam tubuhnya, seolah ada aliran hangat yang bergerak perlahan. Energi itu bergerak dari perutnya, naik ke dada, lalu mengalir menuju kedua tangannya.
Sensasi itu sangat aneh namun juga menenangkan.
“Itu dia,” kata Han Seol ketika melihat perubahan pada aura Goo Yoon. “Itulah energi dalam yang mulai bangkit.”
Goo Yoon membuka matanya sedikit. “Energi dalam?”
Han Seol mengangguk.
“Setiap pendekar memiliki energi dalam. Tapi kebanyakan orang tidak pernah belajar mengendalikannya. Tanpa pengendalian, energi itu hanyalah kekuatan liar yang tidak berguna.”
Goo Yoon kembali menutup matanya. Kali ini ia mencoba mengikuti aliran energi itu dengan lebih sadar. Ia merasakan energi hangat itu bergerak perlahan di tubuhnya.
Awalnya alirannya tidak stabil. Kadang terasa kuat, kadang menghilang.
Namun Goo Yoon terus mencoba.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Langit malam semakin gelap, dan suhu udara semakin dingin. Namun Goo Yoon tidak lagi merasakannya.
Tubuhnya terasa ringan.
Energi yang tadinya tidak stabil kini mulai mengalir lebih teratur.
Han Seol memperhatikan dari kejauhan dengan senyum tipis.
“Bakatnya memang luar biasa,” gumamnya dalam hati.
Tidak semua orang bisa merasakan energi dalam secepat ini. Bahkan banyak pendekar yang membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk memahami dasar pengendalian energi.
Namun Goo Yoon berbeda.
Tekadnya kuat, pikirannya fokus, dan darah pendekar legendaris mengalir di tubuhnya.
Beberapa saat kemudian Han Seol berkata, “Sekarang berdirilah.”
Goo Yoon membuka mata dan perlahan berdiri. Tubuhnya terasa berbeda—lebih ringan, namun juga lebih kuat.
“Ambil pedangmu,” kata Han Seol.
Goo Yoon mengambil pedangnya dan berdiri dengan posisi siap.
“Sekarang ayunkan pedangmu perlahan,” lanjut Han Seol.
Goo Yoon mulai mengayunkan pedangnya dengan gerakan lambat.
WHOOSH.
Suara angin terdengar pelan saat pedang itu bergerak.
“Sekarang gunakan energi yang kau rasakan tadi,” kata Han Seol.
Goo Yoon mencoba memusatkan energi hangat dari dalam tubuhnya menuju tangannya. Ia merasakan energi itu mengalir ke pedang yang ia pegang.
Lalu ia mengayunkan pedangnya lagi.
WHOOSH!
Kali ini suara angin terdengar lebih kuat.
Bahkan dedaunan di tanah ikut bergetar oleh hembusan energi dari ayunan pedang itu.
Mata Goo Yoon sedikit melebar.
“Aku… merasakannya.”
Han Seol tersenyum.
“Itulah kekuatan pengendalian energi. Dengan teknik yang benar, satu ayunan pedangmu bisa menjadi dua kali lebih kuat dari sebelumnya.”
Goo Yoon mencoba lagi.
Ia memusatkan energi, lalu mengayunkan pedang.
WHOOSH!
Gerakannya semakin halus.
Energinya semakin stabil.
Setelah beberapa kali latihan, Goo Yoon mulai memahami bagaimana cara mengalirkan energi dari tubuhnya ke pedang.
Namun tiba-tiba Han Seol mengangkat tangannya.
“Cukup.”
Goo Yoon berhenti.
“Kau sudah melakukannya dengan baik malam ini,” kata Han Seol. “Namun jangan terlalu memaksakan diri. Pengendalian energi membutuhkan latihan bertahap.”
Goo Yoon mengangguk.
Meski tubuhnya tidak terlalu lelah, ia bisa merasakan bahwa energinya sedikit berkurang.
“Kembali duduk,” kata Han Seol.
Goo Yoon kembali duduk bersila.
“Kau harus belajar mengisi kembali energimu,” lanjut Han Seol. “Seorang pendekar yang tidak bisa memulihkan energinya akan kalah dalam pertarungan panjang.”
Goo Yoon menutup mata lagi.
Ia kembali merasakan aliran energi di tubuhnya. Kali ini ia mencoba menenangkan aliran itu, bukan memaksanya bergerak.
Perlahan energi itu kembali stabil.
Beberapa saat kemudian Goo Yoon membuka matanya.
Langit malam mulai berubah.
Cahaya fajar samar terlihat di ufuk timur.
Mereka telah berlatih sepanjang malam.
Han Seol menatap langit yang mulai terang.
“Mulai hari ini,” katanya, “latihanmu akan menjadi lebih berat.”
Goo Yoon berdiri dan menggenggam pedangnya dengan tekad baru.
“Aku siap, Guru.”
Han Seol menatap muridnya dengan bangga.
Perjalanan Goo Yoon untuk menjadi pendekar terkuat masih sangat panjang.
Namun malam itu menandai langkah penting.
Untuk pertama kalinya, Goo Yoon benar-benar mulai memahami kekuatan energi dalam yang akan menjadi dasar dari semua teknik pedangnya di masa depan.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/