Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Parfum yang Menenangkan
Rumah itu kini tak lagi berbau seperti pembersih lantai yang steril dan hampa. Begitu Nara melangkah masuk ke ruang tengah, indra penciumannya langsung disambut aroma rempah rendang yang kuat dan gurih, bercampur dengan kehangatan jahe yang menenangkan. Suara denting spatula dan tawa renyah Widya dari arah dapur memberikan nyawa pada bangunan minimalis ini—sesuatu yang selama ini absen dari kehidupan Arga.
"Nara, sudah pulang, Sayang?" Widya muncul dengan celemek berbunga, tangannya masih memegang lap. "Mana Arga?"
"Baru saja parkir mobil, Bu," jawab Nara, mencoba melepaskan penat di bahunya dengan sebuah senyum.
Tak lama, Arga masuk. Jasnya sudah tersampir di lengan, dan dua kancing kemeja teratasnya sudah terbuka—pemandangan yang selalu membuat Nara sedikit kehilangan fokus. Arga mencium tangan ibunya dan Tante Sarah dengan hormat, sebelum tatapan matanya bertemu dengan Nara. Ada sebuah pesan tersirat di sana: Waktunya mulai berakting.
Makan malam berlangsung dengan penuh interogasi terselubung. Tante Sarah terus-menerus memuji betapa serasinya mereka, sementara Widya sibuk menaruh potongan rendang terbaik ke piring Arga dan Nara.
"Kalian ini jangan terlalu gila kerja. Ingat, rumah tangga itu butuh waktu buat... saling mengenal lebih dalam," ujar Tante Sarah dengan nada penuh arti yang membuat Nara pura-pura sibuk mengunyah.
Setelah makan malam yang terasa seperti ujian lisan itu berakhir, jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Widya dan Tante Sarah sudah masuk ke kamar tamu di lantai bawah setelah memastikan "anak-anak mereka" naik ke lantai atas.
Begitu pintu kamar utama tertutup, keheningan yang berbeda menyergap. Bukan keheningan kantor yang kaku, melainkan keheningan yang sarat akan ketegangan fisik.
"Aku mandi duluan," ujar Nara cepat, menyambar piyamanya dan melesat ke kamar mandi sebelum Arga sempat bersuara.
Di bawah pancuran air hangat, Nara mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia tahu apa yang menantinya di luar sana: satu tempat tidur, satu selimut, dan satu malam panjang tanpa sekat sofa. Setelah hampir tiga puluh menit, ia akhirnya keluar dengan piyama katun berlengan panjang, merasa sudah cukup "terlindungi".
Arga sedang duduk di tepi ranjang, sedang memeriksa tabletnya. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos hitam polos dan celana pendek santai. Aroma sabun maskulinnya mulai memenuhi ruangan, bertabrakan dengan aroma vanila dari lotion yang Nara gunakan.
"Giliranmu," ucap Nara lirih, tanpa berani menatap mata suaminya.
Arga bangkit dan masuk ke kamar mandi. Saat pria itu pergi, Nara segera naik ke sisi kanan tempat tidur, menarik selimut hingga sebatas dada, dan membelakangi sisi kiri. Ia menutup matanya rapat-rapat, mencoba memaksakan diri untuk segera tidur sebelum Arga kembali.
Namun, tidur tak kunjung datang. Ia mendengar suara air berhenti, pintu kamar mandi terbuka, dan langkah kaki Arga yang pelan mendekati ranjang. Nara merasakan kasur di belakangnya sedikit amblas saat Arga merebahkan tubuhnya.
Lampu kamar dimatikan. Hanya ada cahaya remang dari lampu jalanan yang menembus gorden.
Nara merasa seluruh tubuhnya kaku. Ia bisa merasakan panas tubuh Arga yang berada hanya beberapa jengkal di belakang punggungnya. Suasana begitu sunyi hingga ia bisa mendengar napas Arga yang teratur. Dan di sanalah aroma itu muncul—bukan bau rempah rendang atau sabun mandi, melainkan bau parfum Arga yang samar, bercampur dengan aroma alami tubuhnya yang maskulin.
Anehnya, bau itu tidak membuatnya terancam. Justru, aroma itu terasa sangat menenangkan, seolah memberikan rasa aman di tengah badai kepura-puraan yang mereka jalani.
"Nara," suara Arga memecah kesunyian, terdengar berat dan sangat dekat di telinganya.
"Ya?" bisik Nara, masih membelakangi Arga.
"Jangan tidur terlalu pinggir. Kamu bisa jatuh."
Nara terdiam sejenak, lalu perlahan menggeser tubuhnya sedikit ke tengah. Ia merasakan gerakan Arga yang juga menyesuaikan posisi. Tiba-tiba, ia merasakan tangan Arga menarik selimut, memastikan bahu Nara tertutup rapat.
"Tidur lah. Ini hari yang panjang," gumam Arga.
Nara akhirnya memberanikan diri untuk menghela napas panjang. Ia menghirup dalam-dalam aroma parfum Arga yang tertinggal di bantal dan udara di sekitarnya. Perlahan, ketegangan di bahunya mencair. Di bawah satu selimut ini, di antara bau parfum yang menenangkan itu, Nara menyadari satu hal yang membuatnya takut: ia mulai menikmati kehadiran pria kaku ini lebih dari yang seharusnya ia izinkan dalam kontrak mereka.
---
Nara memejamkan mata, namun indra penciumannya justru menjadi lebih tajam. Bau parfum Arga—perpaduan antara sandalwood dan sedikit aroma citrus yang segar—seolah membungkusnya dalam gelembung perlindungan. Ia tidak pernah menyangka bahwa aroma seorang pria bisa terasa sesolid ini, seolah mampu menahan beban pikiran yang sejak pagi menghimpitnya.
Di sisi lain ranjang, Arga sendiri tidak benar-benar tertidur. Ia bisa merasakan pergerakan kecil Nara, napas perempuan itu yang perlahan mulai teratur, dan aroma vanila lembut yang menguar dari rambutnya. Bagi Arga yang terbiasa hidup dalam presisi dan garis-garis tegas, kehadiran sosok lembut di sampingnya ini adalah variabel yang mengacaukan seluruh sistemnya.
Tengah malam, hujan kembali turun. Kali ini tidak disertai guntur yang menggelegar, hanya rintik konsisten yang mengetuk-ngetuk jendela kaca. Suhu di dalam kamar menurun drastis seiring dengan AC yang bekerja maksimal.
Dalam tidurnya yang belum terlalu nyenyak, Nara menggigil kecil. Ia secara tidak sadar bergerak mencari sumber panas, mengerutkan tubuhnya dan bergeser mendekat ke arah pusat gravitasi di tengah ranjang. Arga, yang masih terjaga dalam lamunannya, merasakan pergerakan itu.
Ia menoleh ke samping. Dalam keremangan, ia melihat Nara yang meringkuk, jemari perempuan itu mencengkeram ujung selimut dengan kuat. Arga ragu sejenak. Prinsipnya mengatakan untuk tetap diam di posisinya, namun naluri di dalam dirinya bicara lain.
Perlahan, Arga menggeser tubuhnya. Ia tidak memeluknya, namun ia memposisikan dirinya cukup dekat sehingga panas tubuhnya bisa tersalurkan. Ia memperbaiki letak selimut yang sempat tersingkap di kaki Nara, menariknya pelan hingga menutupi seluruh tubuh istrinya.
Nara yang setengah sadar merasakan kehangatan itu. Bau parfum yang menenangkan itu kini terasa semakin pekat, semakin nyata. Tanpa sadar, ia menyandarkan keningnya di lengan atas Arga yang kokoh.
Arga membeku. Napasnya tertahan selama beberapa detik. Ia bisa merasakan kelembutan kulit Nara yang menyentuh lengannya. Ada dorongan kuat untuk melingkarkan tangannya dan menarik perempuan itu lebih dekat, namun ia menahannya. Ia hanya membiarkan Nara bersandar di sana, menjadi jangkar bagi kegelisahan masing-masing.
"Tidurlah, Nara," bisik Arga sangat pelan, hampir menyerupai hembusan angin.
Anehnya, perintah itu tidak terdengar seperti instruksi CEO yang kaku. Itu terdengar seperti sebuah janji bahwa untuk malam ini, tidak akan ada yang terluka, tidak ada yang perlu berpura-pura, dan tidak ada kontrak yang perlu dikhawatirkan.
Di bawah rintik hujan dan aroma yang menenangkan, mereka berdua akhirnya menyerah pada kantuk. Satu ranjang yang awalnya mereka takuti, kini justru menjadi tempat di mana mereka menemukan gencatan senjata paling damai sejak hari pertama mereka bertukar janji.
Pagi harinya, saat fajar mulai mengintip, Nara terbangun lebih dulu. Ia menyadari posisinya yang sangat dekat dengan Arga—tangannya bahkan tanpa sadar memegang ujung kaos Arga. Ia segera menarik diri dengan jantung berdebar, namun kali ini rasa paniknya tidak sebesar kemarin.
Ia menatap Arga yang masih terlelap. Pria itu tampak tenang, jauh dari bayangan "robot" yang ia kenal di kantor. Nara menyadari bahwa bau parfum yang ia hirup semalam telah meninggalkan jejak di ingatannya, sebuah jejak yang membuatnya mulai meragukan apakah ia sanggup mengakhiri semua ini saat sandiwara mereka selesai nanti.
---
Nara terdiam sejenak, memandangi wajah tidur Arga yang sangat tenang di bawah temaram fajar. Jika biasanya ia segera menjauh dengan rasa takut yang meledak-ledak, pagi ini ada rasa enggan yang aneh. Kehangatan yang ia rasakan semalam masih membekas di kulitnya, seolah aroma parfum Arga telah menyusup ke dalam pori-porinya, memberinya keberanian yang tidak masuk akal.
Perlahan, Nara bangkit dari tempat tidur agar tidak membangunkan Arga. Namun, saat kakinya menyentuh lantai yang dingin, ia mendengar suara serak yang memecah kesunyian kamar.
"Jam berapa sekarang?"
Nara menoleh cepat. Arga sudah membuka matanya, meskipun masih terlihat berat. Ia tidak bergerak dari posisinya, namun tatapannya langsung mengunci mata Nara.
"Baru jam setengah enam," jawab Nara lirih. "Ibu sama Tante Sarah pasti sudah di dapur. Aku harus turun sebelum mereka curiga."
Arga mengubah posisinya menjadi telentang, meletakkan satu lengannya di dahi. Kaos hitamnya sedikit tersingkap, memperlihatkan betapa maskulinnya pria ini bahkan di saat ia baru bangun tidur. "Tunggu lima menit. Kalau kamu turun sendirian dengan rambut berantakan seperti itu, Ibu akan langsung tahu kita tidak benar-benar tidur... atau justru akan berpikiran yang macam-macam."
Nara refleks menyentuh rambutnya yang memang acak-acakan. Wajahnya memanas. "Maksud kamu?"
Arga mendengus pelan, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa kecil—sesuatu yang sangat langka. Ia bangkit duduk, membuat Nara tanpa sadar mundur satu langkah. "Maksud saya, kita harus turun bersamaan. Beraktinglah seolah kita baru saja melewati malam yang sangat nyenyak."
"Tapi kita memang tidur nyenyak, kan?" Nara memancing, ingin tahu apakah Arga mengingat momen tengah malam tadi.
Arga menatap Nara cukup lama, seolah sedang menimbang apakah ia harus jujur atau kembali ke balik topeng robotnya. "Ya. Aroma vanila dari lotion kamu ternyata cukup... membantu."
Jawaban itu membuat jantung Nara seolah berhenti berdetak sesaat. Arga mengakui keberadaannya secara tidak langsung. Tanpa berkata apa-apa lagi, Arga berdiri dan berjalan menuju lemari, mengambil handuknya.
Saat Arga masuk ke kamar mandi, Nara menarik napas panjang. Ia menghirup udara di sekitarnya yang masih menyisakan bau parfum Arga yang menenangkan. Ia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan; satu jalan menuju pintu keluar dari kontrak ini, dan jalan lainnya menuju sesuatu yang jauh lebih dalam dan tak terduga.
Sepuluh menit kemudian, mereka berdua sudah siap. Arga dengan kemeja kantornya yang rapi—meskipun tanpa jas—dan Nara dengan pakaian kerjanya yang simpel. Sebelum membuka pintu kamar, Arga berhenti. Ia mengulurkan tangannya, merapikan satu anak rambut yang menempel di dahi Nara dengan gerakan yang sangat lembut.
"Siap, Istriku?" tanya Arga, kali ini dengan nada yang sedikit menggoda, meskipun wajahnya tetap datar.
Nara menelan ludah, mencoba mengendalikan debaran di dadanya. "Siap, Pak CEO."
Mereka membuka pintu dan berjalan bersisian menuruni tangga. Dari lantai bawah, suara tawa Widya dan Tante Sarah sudah terdengar, bercampur dengan aroma nasi goreng mentega yang menggugah selera. Namun bagi Nara, aroma yang paling ia ingat tetaplah aroma yang ia hirup semalam di bawah satu selimut yang sama—bau parfum yang membuatnya mulai ragu bahwa semua ini hanyalah sebuah kewajiban.
---
Saat mereka menapakkan kaki di anak tangga terakhir, Widya dan Tante Sarah langsung menoleh. Pemandangan itu tampak begitu sempurna di mata kedua wanita paruh baya tersebut: Arga yang berjalan dengan tangan di saku celana, dan Nara yang berjalan sangat dekat di sampingnya, meski sebenarnya Nara sedang berusaha menetralkan rasa gugupnya.
"Wah, pagi-pagi sudah segar semua ya?" goda Tante Sarah sambil meletakkan sepiring nasi goreng yang masih mengepul. "Gimana tidurnya semalam? Nyenyak?"
Nara merasakan pipinya menghangat. Ia melirik Arga yang justru tampak jauh lebih tenang darinya. "Nyenyak kok, Tante. Kamar Arga... eh, kamar kami udaranya dingin, jadi enak buat tidur."
"Dingin ya? Pantesan," Widya menyela dengan senyum penuh arti sambil menghampiri Nara. Ia membetulkan kerah baju kerja Nara yang sedikit terlipat. "Tidur nyenyak atau karena ada yang meluk, nih?"
Nara hampir saja tersedak udara sendiri. "Ibu!"
Arga hanya berdeham pelan, lalu menarik kursi untuk Nara sebelum ia duduk di sampingnya. "Ibu jangan goda Nara terus. Dia harus fokus karena hari ini ada presentasi lanjutan di kantor."
"Duh, Arga... Arga. Di rumah masih saja panggilnya fokus kantor. Sekali-kali panggil Sayang kenapa sih di depan Ibu?" Widya duduk di depan mereka, matanya berbinar-binar. "Ibu itu senang sekali lihat kalian begini. Rasanya tenang hati Ibu tahu kamu ada yang mengurus, Arga. Dan Nara, Ibu harap kamu betah ya sama sifat kakunya si Arga ini."
Nara menatap piringnya, merasakan sebersit rasa bersalah yang menusuk. Kehangatan ibu mereka sangat tulus, sementara mereka sedang membangun istana di atas pasir kepura-puraan. Namun, saat ia melirik ke arah Arga, ia melihat pria itu sedang menatap ibunya dengan tatapan yang lembut—sesuatu yang sangat jarang ia tunjukkan.
"Nara betah kok, Bu," jawab Nara akhirnya, suaranya terdengar lebih tulus dari yang ia duga. "Arga memang kaku, tapi... dia punya cara sendiri buat bikin orang di sekitarnya merasa aman."
Tangan Arga yang sedang memegang sendok sempat berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Nara, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan apresiasi atau mungkin sesuatu yang lebih dalam di balik mata hitam itu.
Sarapan pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya. Bau parfum Arga yang masih samar menempel di baju Nara seolah berbaur dengan aroma kopi dan masakan ibu, menciptakan suasana rumah yang sesungguhnya. Untuk sesaat, Nara lupa akan kontrak, lupa akan Rio, dan lupa akan prinsip-prinsip kaku Arga.
Namun, saat Arga berdiri dan berkata, "Ayo berangkat, kita tidak boleh terlambat," Nara tersadar kembali. Dunia luar dan kenyataan kantor sudah menunggu untuk memisahkan mereka kembali ke dalam peran masing-masing.
"Ibu, Tante, kami berangkat ya," pamit Arga.
Sebelum keluar pintu, Widya sempat membisikkan sesuatu pada Nara sambil memeluknya. "Nara, nanti kalau pulang, Ibu sudah siapkan jamu khusus di dapur ya. Biar kalian tetap bugar."
Nara hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah semerah kepiting rebus. Saat mereka sudah berada di dalam mobil—yang kali ini hanya ada mereka berdua karena Arga bersikeras ingin menyetir sendiri demi "menjaga citra"—suasana kembali hening.
"Maafkan Ibu saya," ucap Arga tiba-tiba saat mobil mulai membelah jalanan pagi. "Beliau memang sering terlalu jauh mencampuri urusan pribadi."
Nara menyandarkan kepalanya di jok mobil, menghirup aroma parfum yang sama dengan yang ia rasakan semalam di ranjang. "Nggak apa-apa, Arga. Ibu kamu cuma sayang sama kamu. Lagian, ucapan aku tadi... itu bukan cuma bagian dari akting."
Arga tidak menjawab, tapi tangannya yang memegang setir tampak sedikit mengetat. Bau parfum yang menenangkan itu kembali memenuhi kabin mobil, menjadi satu-satunya hal yang menghubungkan mereka sebelum gedung kantor yang kaku kembali menjulang di depan mata.