Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapten Song
Setelah acara selesai Hwang zin langsung kembali.sekarang pukul 9 siang,jam ini hari yg dijanjikan Gong Yin untuk mengambil pesanan.
Kemarin sebelum pergi dia sudah membuat air dingin dan menyimpannya dipending ditoko,saat sampai rumah dia segera mengeluarkannya dan menaruhnya di guci arak besar.
Hwang zin membuka pintu rumahnya,karena lelah dia tak berniat membuka toko.jadi dia hanya akan menunggu orang suruhan Gong Yin mengambil Air dingin.
Tak lama kereta datang,dengan 2 pria yg mengendarainya. Dia ingat mereka adalah penjaga Tuan Gong.
Pria itu menyapanya dan Hwang zin meminta mereka masuk untuk menawa Guci berat itu. Kedua guci iya berat baginya tapi tidak bagi keduanya yg sudah sering berkerja kasar
Mereka mengangkat dan memindahkan ke dalam kereta dengan mudah. Hwang zin melihat dengan itu."Hati-hati saat membawanya..."
"Baiklah...aku pergi dulu..."sapa pria itu, sambil memaju kudanya,kereta berjalan menuju dermaga kota.
Hwang zin masuk ke dalam kamar untuk kembali tidur dia benar-benar kelelahan.
pada pukul 1 siang dia terbangun.
Udara masih panas diluar,Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi sebelum pergi memasak didapur.
Dia akan membuat sup telur dan sayuran pedas. Dia menyiapkan semuanya dan mulai memasak.
Kereta berhenti didepan toko yg tutup.Song Wen turun dan melihat bahwa pintu rumah Hwang zin juga tutup.
Apa anak ini pergi, Song Wen ingin kembali ke kereta saat suara pintu terbuka Dia segera berbalik.
"Kapten Song?"saat dia membuka pintunya,Hwang zin melihat pria Didepan nya dengan heran.
pria itu melihatnya dengan senyum ramah."Bos kecil...apa kamu tak buka?"
"Yah ini akan musim dingin sulit bagiku membuat air dingin,dan biji selasih tak bisa tumbuh..."Jawabannya sambil melihat terik matahari yg mulai tertutup awan.
"Begitu..." Song Wen merasa agak sedih,Dia tak bisa makan pei telur hari ini.melihat ekspresinya Hwang zin tertawa." Masuklah dulu.."
Song Wen tak menolaknya,dia masuk ke halaman rumah,Hwang zin menutup pintu depan.
bau sedap makanan segera tercium.
"....apa yg sedang kamu buat?"tanya Song Wen menoleh padanya dengan semangat.
"....." Hwang zin merasa orang ini pasti adalah seorang pencinta makanan."ini bubur...apa kamu mau?"
"Tak apa-apa..."jawaban dengan canggung. Hwang Zin tersenyum dan meminta untuk masuk dan duduk dimeja makan.
"tidak aku akan makan dihalaman saja..."Tolaknya, lagi pula disini udaranya cukup segar walaupun agak mendung.
"Baiklah...." Hwang zin tak memaksa,dia pergi kedalam untuk mengambilnya makanan.
Dia selesai makan siang dan ini makan bubur buah jadi dia membuatnya lagi dan baru selesai matang.Lalu Hwang zin ingat belum mengambil barang yg dipesan jadi dia keluar.
Siapa kira kapten Song ada didepan rumahnya.
Hwang zin membawa mangkuk itu pada Song Wen,dan memberinya sendok."Cobalah...."
Song Wen menerima sendok,dan segera mencicipinya.matanya melebar." Enak!"
Hwang zin tersenyum dengan bangga."Ini adalah menu baru saat musim dingin nanti...."
"Kamu benar-benar pandai memasak...."pujinya dengan tulus.
Hwang zin menjawab dengan santai." Saat kamu tumbuh sendiri,secara alami kamu harus belajar lebih banyak untuk bertahan hidup...."
"Kamu benar...."jawabannya. Karena keadaan tak akan beradaptasi dengan mu,jadi kamu sendiri yg harus bertahan.
"Apa anda akan kembali ke perbatasan?"tanyanya penasaran.pasalnya dia jarang melihat Hang Si dan lain'nya.
"Apa kamu mendengar nya?" Song Wen melihat nya,Hwang zin menggelengkan kepalanya.
"Tidak,asal menebak karena saudara Hang tak pernah kemari ,jadi aku kira kalian akan mempersiapkan keberangkatan...."
"Kamu benar Ahir Bulan saya akan kembali...."Mereka tak bisa liburan terlalu lama, bagaimana pun perbatasan titik yg paling rentan.
"semoga perjalanan anda aman..."doa Hwang zin dengan tulus, bagaimana pun mereka adalah pahlawan kota ini,atau juga negera ini.
"Terimakasih...." Jawab Song Wen dengan wajah malu,namun senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya.
Hwang zin melihat bahwa dia sangat menyukai bubur buah,jadi dia berkata." ...masih ada banyak di panci,apa kamu mau membawanya pulang?"
"Aku akan membayar nya!" Song Wen segera mengambil dompetnya.
Namun Hwang Zin menahan tangannya.tertawa tak berdaya." Tidak perlu,saya merasa beruntung bisa memberi makan Kapten Song....."
Pria 25 tahun itu merasa malu dan tersanjung.
Song Wen pulang dengan wajah bahagia,dia memeluk kotak makanan ditangannya dengan hati-hati takut menjatuhkannya.
Namun saat dia sampai dirumah dan melihat pria tinggi dengan baju besi dia hampir melempar kotak di tangannya.
" Oh Jendral!" Teriaknya dengan wajah kaku.
pria itu menoleh ,mata gelap dengan wajah tegas dan hidung mancung terlihat,bibir tipis itu bergerak melirik kotak makan dipeluknya Song Wen." Apa yg kamu bawa?"
Bau itu sangat enak.
Song Wen tertegun.laku menjawab dengan cepat."Ahk ..ini bubur....apa anda mau?"
"Tak apa-apa..."dia mengangguk.
"....." Kapten Song.tapi dia tak bersungguh-sungguh. dia ingin menangis.
Jadi dengan berat hati Song Wen duduk dimeja makan dikediaman nya melihat Jenderal' makan semua bubur dikotak makan tanpa tersisa.
"....Siapa yg membuatnya?" Suara dingin dan terdengar tenang membuat Song Wen menegakkan kepalanya.
"ini bos kecil Hwang,dia membuka kedai dan memiliki masakan yg enak, Aku dengar dia juga berbisnis dengan Gong Yin untuk menjual makanan padanya..."jawab nya dengan jujur.
Jendral itu mengenal Gong Yin,dia ditugaskan oleh Yang mulia Kaisar untuk menjaga dermaga kota.
"Menurutmu apa mungkin memintanya memasak untuk kita.....?" tanyanya pada Song Wen. Bubur ini terasa enak, lembut dan penuh rasa.
Cocok dengan seleranya.
"Apa...!" Song Wen benar-benar terkejut kali ini.Alis pria galak itu mengerut melihat reaksinya."..apa ada masalah?"
"Tidak Jendral... dia anak yatim pintu dia hidup dengan membuka toko,jika kita membawanya ke perbatasan.... keselamatannya..."takut dia salah paham Song Wen segera menjelaskannya.
Jenderal itu mengangguk,itu memang agak menyedihkan dan memberikan pendapatnya soal bubur yg dia makan.
"Makan ini akan sangat cocok di musim dingin untuk menghangatkan tubuh para prajurit....Untuk keselamatannya aku akan menjamin nya..."
" Tapi dia hanya anak-anak...."gumam Song Wen dengan tak berdaya.
"Berapa usianya...?" Jendral melihat nya begitu engan menjadi agak tak sabar. Song Wen segera menjawab." Ini.. 18 tahun..."
"Aku pergi ke medan perang saat berusia 15 tahun..."jawabannya dengan ringan.
"....." Jangan samakan Bos kecil dengan monster seperti mu!.pria kasar dan kaku seperti batu.
" Saya tak bisa melakukan...jika anda ingin merekrut tanyakan padanya sendiri....saya tak berniat menentang anda ...tapi hidup anak itu tak begitu baik...." Song Wen menggelengkan kepalanya.
Jenderal itu juga tak terlalu memaksanya."Aku mengerti,jika dia tak mau akan tak akan memaksanya...."
Jadi keesokan Harinya mereka berdua pergi ke rumah Hwang zin pada pukul 4 sore.saat kedai Hwang sudah tutup.
Hwang zin yg baru saja berniat tidur lebih cepat mendapatkan tamu yg tak terduga.
Song Wen berdiri didepan pintu rumah, dengan diikuti pria tinggi, wajah tampan dengan muka datar.ada aura agak sulit didekati yg mengelilingi pria itu.
Saat Hwang Zin memperhatikannya, Jenderal juga menilai anak itu, wajah tampan dengan kulit putih,tubuh kurus ,dan anak ni cukup tinggi.
Dan suaranya sangat bagus.
"Masuklah...." Hwang zin menyambut keduanya ke dalam ruang tamu setelah tersadar. Jendral melihat bahwa tempat ini rapi dan berbau harum.
Mereka duduk diruang tamu ,dan Song Wen segera mengatakan alasan kenapa dia disini.begitu dia duduk." Begini Zin.an kami...."
"Aku sangat menyukai bubur yg kamu buat..." Jenderal segera menyela kata-kata Song Wen.
"......." Hwang zin menoleh melihat pria dengan wajah galak itu dengan bingung lalu pada Kapten Song.
" Dia merampok...memakan bubur yg kamu berikan padaku..."Song Wen berkata dengan enggan.Jendral meliriknya sekilas dan membuat tubuh nya kaku.
"Jadi aku ingin merekrut mu untuk menjadi koki di barak militer kami...."Ucap Jendral itu tanpa perduli pada bawahannya yg konyol ini.
"Apa...?" Koki militer?. Dia kira itu bisnis pembelian kenapa menjadi koki militer?. Hwang zin tak mengerti.
Melihat wajah kusutnya,Pria galak itu berkata dengan nada tenang."....Kami akan membayar gajimu sebulan dengan 200 koin....kamu juga bebas untuk berhenti jika mau...."
"...." Untuk memasak harga 200 koin itu sangat besar. Song Wen melirik prilaku pemimpinnya dan tak berkomentar.
Hwang zin merasa tertarik tapi dia juga ragu. klau dipikiri Kerjaannya sangat fleksibel,dia bisa berhenti kapan dia mau, tapi jika dibarak dia harus bekerja dengan tepat waktu.
Dan....dia tak siap untuk hal itu.
".. maafkan aku,hidup ku cukup baik disini...kalian juga tau aku hidup sendiri..." Hwang zin menolak lamaran mereka.
Song Wen menghela napas lega. Jenderal mengangguk walaupun sedikit kecewa, bagaimana diusianya,dia pasti memiliki tinggal ditempat yg menurutnya aman."Aku mengerti,maaf menganggu mu...."
Hwang zin berkata tak apa-apa,lalu melihat hari sudah gelap,jadi dia mengundang mereka untuk makan malam disini.
Jenderal melihat Song Wen lalu pada anak itu."..kami akan merepotkan mu.."
Hwang zin tersenyum."...tak masalah tunggu disini aku akan memasak..."
"Apa kamu perlu bantuan?" Tanya Song Wen canggung,tak nyaman karena mereka hanya numpang makan.
Hwang zin lalu ingat buah kering yg akan dia kemas namun tak sempat, tapi apa pantas meminta mereka untuk melakukannya.
" Tak apa-apa,aku akan bosan jika menunggu...." Ucap Jenderal sedikit lebih lembut.
Hwang zin mengangguk dan ke dapur untuk mengambil buah kering dan kertas minyak.
Hwang memberitahu mereka apa yg harus dilakukan,banyak buah yg ada dan biji-bijian, seperti biji melo dan bunga matahari.
Song Wen dan Jendela yg biasanya memegang pedang,kini dengan canggung mengemas buah-buahan itu dengan wajah serius.