NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sembilan — RESPON AGRESIVITAS

Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka!

Setelah membaca dokumen tentang distribusi vaksin itu, ketiganya terdiam cukup lama bukan karena tidak mengerti. Tapi karena terlalu mengerti. “Jadi… ini bukan sekedar kecelakaan,” gumam Niki pelan. “Mereka tahu ada resiko mutasi agresivitas.”

Jay menatap halaman terakhir dengan rahang mengeras. “Bukan cuma tahu. Mereka melanjutkan tetap menyebarkan.” Arsya merasakan amarah bercampur mual di dadanya. “Sebenarnya siapa yang membuat ide dari semua ini?”

Pertanyaan itu menggantung di ruang gelap.

Siapa dalangnya?

Ilmuwan ambisius?

Pejabat haus kuasa?

Atau keduanya?

Jay mengusap wajahnya pelan. “Kalau ini proyek sebesar ini, pasti ada satu nama utama di atasnya.”

Niki langsung menoleh pada map terakhir di tangan Arsya. “Coba baca yang tentang Subjek Alpha,” ujarnya tegas. “Kalau ada 0,3% yang menunjukan kecerdasan adaptif dan pola kepemimpinan… mungkin di situ ada jawabannya.”

Jay menganggukan kepala pelan. “Malam ini kita baca semuanya. Setelah itu, kita harus sembunyikan berkas-berkas ini di tempat aman. Jangan sampai jatuh ke tangan ke siapapun.”

Atau… ke tangan sesuatu.

Arsya membuka map bertulisan SUBJEK ALPHA. Halaman pertama langsung berbeda dari dokumen sebelumnya. Bukan sekedar data statistik melainkan sebuah foto pria. Usia sekitar akhir dua puluhan. Tatapannya tajam, mengenakan jas laboratorium.

Di bawah fotonya tertulis:

Kode Subjek: A-01

Nama Asli: Dirahasiakan

Status: Peneliti Senior – Proyek V-AX13

Tahap Injeksi: Sukarela (Eksperimen Mandiri)

Arsya menahan nafas, “dia.. Seorang ilmuwan?” bisiknya. Jay membaca cepat baris berikutnya.

Catatan Insiden:

Subjek A-01 menunjukan respon imun luar biasa cepat.

Dalam 12 jam, terjadi peningkatan agresivitas ekstrem.

Dalam 24 jam, subjek tidak lagi merespon perintah verbal.

Dalam 48 jam, subjek memimpin 6 subjek mutasi lainnya keluar dari fasilitas.

Niki menelan ludah. “Dia bukan korban pertama,” gumamnya. “Dia yang memilih.” Arsya membalik halaman berikutnya.

Observasi Tambahan:

Subjek A-01 mempertahankan fungsi kognitif tingkat tinggi.

Mampu mengkoordinasikan subjek lain melalui sinyal vokal frekuensi rendah.

Menunjukkan perilaku strategis dan kemampuan adaptasi cepat terhadap ancaman.

Jay menatap foto itu lebih lama.  “Jadi Alpha…” suaranya berat. “...bukan hanya hasil mutasi.” Arsya melanjutkan kalimatnya pelan.

“Dia penciptanya.”

Di luar, angin malam berhembus lebih kencang, membuat jendela bergetar halus. Dan kini mereka benar-benar mengetahui bahwa Alpha bukan sekedar monster. Melainkan manusia yang memilih menjadi awal dari kiamat.

Arsya menarik nafas panjang sebelum membuka map terakhir, Respon Agresivitas Pasca-Injeksi.

Kertasnya lebih tipis, namun isinya dipenuhi grafik, tabel, dan catatan observasi yang jauh lebih teknis. Cahaya senter memantul di permukaan lembaran saat ia membukanya.

“Ini yang terakhir,” bisik Arsya pelan. “Setelah hari ini… akan ada perjalanan panjang.”

Jay menatapnya sesaat sebelum berbicara, suaranya lebih tenang dari sebelumnya. “Dan tujuan kita kembali ke semula, datang ke gedung Akasia, mencari adikmu.”

Arsya terdiam. Ia baru menyadari sesuatu yang hangat menyentuh tangan kirinya.

Jay.

Tanpa sadar—atau mungkin sangat sadar—tangan Jay menggenggam erat tangannya. Bukan sekedar sentuhan singkat. Tapi genggaman yang menenangkan. Meyakinkan.

Seolah berkata: kita akan sampai di sana.

Arsya tidak langsung menarik tangannya. Disisi lain, Niki yang tadi serius membaca grafik mendongak perlahan. Alisnya terangkat. Tatapannya berpindah dari tangan mereka ke wajah Jay.. lalu ke Arsya.

Ekspresinya berubah dari fokus menjadi penuh tanda tanya. Namun ia memilih diam. Arsya kembali menatap dokumen terakhir itu, berusaha menjaga fokus meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Halaman pertama langsung terbuka dengan suara kertas yang bergesekan pelan. Di bagian atas, terdapat tulisan tebal berwarna hitam pekat. Tepat di bawahnya, kalimat bercetak miring seolah menjadi jawaban dari semua pertanyaan yang sejak tadi menggantung di kepala mereka.

RESPON AGRESIVITAS PASCA-INJEKSI

Peningkatan agresivitas bukan efek samping.

Itu adalah tujuan utama.Ketiganya terdiam. Niki adalah yang pertama bersuara. “Tujuan utama…?” Arsya menelan ludahnya. Ia melanjutkan membaca bagian penjelasan di bawahnya.

Respon Agresivitas Pasca–Injeksi

Tahap 1 (0-6 jam): Peningkatan adrenalin ekstrem

Tahap 2 (6-12 jam): Gangguan kontrol emosi & dorongan predatorik

Tahap 3 (12-24 jam): Hilangnya empati & peningkatan insting berburu

Tahap 4 (24-48 jam): Mutasi fisik progresif (gigi, struktur mata, fleksibilitas sendi)

Niki kembali serius. “Jadi perubahan fisik itu bukan langsung.. Melainkan ada tahapannya.” Jay membaca bagian bawah halaman.

Formula injeksi dirancang untuk menstimulasi amigdala secara berlebihan dan menekan fungsi korteks prefrontal.

Hasil yang diharapkan:

- Insting bertahan hidup maksimal

- Penghapusan empati

-Peningkatan kepatuhan terhadap stimulus dominan (Subjek Alpha)

Jay mengetatkan rahangnya. “Jadi mereka memang ingin menciptakan makhluk agresif.” Arsya membaca bagian berikutnya, suara semakin pelan. “Catatan, Subjek dengan struktur mental kuat cenderung mempertahankan kesadaran. Resikonya, jika individu tersebut tidak dapat dikendalikan, ia akan berkembang menjadi entitas dominan.”

“Entitas dominan…” ulang Niki. “Catatan tambahan, subjek dengan tingkat kecerdasan tinggi menunjukkan kemampuan mempertahankan fungsi kognitif sambil mengalami mutasi fisik.”

Mereka bertiga saling pandang, “berarti..” Arsya berbisik pelan. Jay menyelesaikan kalimatnya pelan. “Alpha sadar sepenuhnya atas apa yang ia lakukan.”

Niki menelan ludah. “Struktur sosial.. Berarti kawanan mereka bukan kebetulan.” Jay mengangguk pelan. “Alpha bukan hanya bertahan hidup. Dia membangun sistem.”

Arsya merasakan dingin menjalar di tulang belakangnya. Jika Alpha sadar bahwa ia dijadikan eksperimen… jika ia tahu manusia ingin mengendalikannya… maka yang terjadi sekarang bukan sekedar wabah. Melainkan balas dendam yang terorganisir.

Dan mereka.. Baru saja mencuri dokumen yang membuktikan semuanya.

Di luar, malam semakin pekat. Di dalam ruangan kecil itu, tiga manusia duduk dengan kebenaran di tangan mereka. Dan di antara keheningan itu— Niki akhirnya berdeham pelan.

“Ehem…”

Tatapannya kembali pada tangan Jay yang masih menggenggam tangan Arsya. “Kita fokus dulu ke kiamatnya… atau ada subplot lain yang mau dijelaskan?” katanya datar, nyaris tanpa ekspresi.

Suasana yang tegang.. Retak sedikit.

Arsya langsung tersadar. Hangat di telapak tangannya terasa semakin nyata justru karena kini disadari. Ia sedikit gugup, berdeham pelan, berusaha tetap terlihat biasa saja meski tatapan Niki semakin menusuk, penuh tanda tanya yang tak terucap.

Namun Jay–seperti biasa–tetap tenang.

Tanpa tergesa, tanpa canggung, ia melepaskan genggaman itu. Gerakannya halus seolah memang hanya sentuhan tak sengaja. Wajahnya datar, fokus. Ia lalu mengambil map-map yang berserakan di lantai, merapikannya satu per satu.

“Fokus,” ucapnya singkat.

Kertas-kertas penting itu kembali dimasukan kedalam tas hitam milik Arsya. Resleting ditarik perlahan agar tak menimbulkan suara. Tangannya bergerak efisien, terlatih, seolah emosi bukan sesuatu yang perlu diumbar di situasi seperti ini.

“Besok sebelum matahari tinggi, kita bergerak ke Gedung Akasia,” lanjut Jay. “Kalau Alpha sadar dokumen penting ini hilang, radius pencarian mereka akan meluas.”

Niki melirik keduanya sekali lagi—tatapannya singkat, penuh makna yang tak ia ucapkan. Ia lalu berdengus pelan, tanpa komentar tambahan, tanpa sindiran hujatan. Ia berjalan ke sudut ruangan dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Sebuah selimut tipis yang tadi ia temukan dijadikan alas seadanya. Ia menariknya setengah badan, tangan terlipat di belakang kepala.

“Bangunin kalau ada apa-apa,” gumamnya pelan, menatap langit-langit yang gelap.

Namun matanya belum benar-benar terpejam.

Arsya, gadis itu memeluk tasnya erat. Hangat yang tadi sempat tinggal di tangannya kini hilang, tergantikan dingin malam yang merambat lewat celah jendela. Arsya duduk bersandar pada dinding, tas hitamnya masih ia peluk. Jay duduk tak jauh darinya, punggungnya tegak, pandangan sesekali mengarah ke jendela besar yang memantulkan bayangan malam.

Di kejauhan, samar-samar terdengar suara sesuatu jatuh… lalu sunyi kembali menelan semuanya. Niki akhirnya memejamkan mata, nafas mulai teratur. Entah benar-benar tertidur atau hanya memaksa tubuhnya beristirahat.

Arsya menatap bayangan kota yang remuk di luar sana. Besok mereka akan bergerak lagi ke gedung Akasia. Tempat yang mungkin lebih berbahaya dari gedung sebelumnya.

Ketempat dimana adiknya mungkin masih hidup—atau mungkin.. Sedang menunggu untuk diselamatkan.

Jay menoleh pelan ke arah Arsya. “Tidur sebentar,” bisinya rendah. “Aku jaga.”

Dan malam pun memeluk mereka dalam sunyi yang rapuh.

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa beri Like & Vote. kita lanjut jam 4 nanti ya..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!