NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Aku berdiri mematung di depan pintu, menatap layar intercom dengan perasaan campur aduk. Rendra. Pria yang selama enam bulan terakhir ini tak lelah mengetuk pintu rumah orang tuaku, kini menemukan celah untuk mengetuk pintu benteng pribadiku.

"Rania? Aku tahu ini sudah malam, tapi ayahmu bilang dokumen ini sangat mendesak untuk rapat besok pagi," suara Rendra kembali terdengar, tenang namun penuh penekanan.

Aku menghela napas panjang. Ayah selalu punya cara untuk menjodohkanku, termasuk menggunakan alasan pekerjaan. Dengan gerakan kaku, aku membuka kunci pintu, namun hanya membukanya sedikit—hanya selebar celah agar dokumen itu bisa lewat.

"Terima kasih. Kamu bisa tinggalkan di situ," ucapku datar tanpa menatap matanya.

Rendra tidak bergeming. Dia justru menahan pintu itu dengan tangannya yang kokoh. "Apa kamu selalu menyambut tamu dengan cara seperti ini, Ran? Aku bahkan baru saja menempuh perjalanan satu jam hanya untuk mengantar ini."

Aku terpaksa mendongak. Rendra adalah sosok pria yang nyaris sempurna di mata banyak wanita. Mapan, tampan, dan memiliki pembawaan yang sangat tenang. Tapi bagiku, setiap kebaikannya adalah ancaman. Setiap perhatiannya adalah jaring yang siap menjeratku dalam luka yang sama.

"Aku tidak memintamu datang, Rendra. Taruh dokumennya, dan silakan pergi," tegasku.

Rendra menatapku lamat-lamat. Ada kilatan rasa ingin tahu di matanya, mungkin dia menyadari mataku yang sedikit sembab atau wajahku yang lebih pucat dari biasanya. "Kamu terlihat lelah. Apa terjadi sesuatu di kantor baru?"

"Bukan urusanmu," aku mencoba menutup pintu, tapi dia lebih cepat.

"Arlan kembali, kan?"

Pertanyaannya membuat jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Aku terpaku. Bagaimana dia tahu?

"Ayahmu bercerita kalau ada rekan kerja baru dari cabang Jogja di timmu. Aku hanya menebak, dan melihat reaksimu sekarang... sepertinya tebakanku benar," Rendra menurunkan tangannya dari pintu, suaranya melunak. "Rania, jangan biarkan hantu masa lalu menghancurkan apa yang sudah kamu bangun dengan susah payah."

"Kamu tidak tahu apa-apa tentang masa laluku, jadi jangan berlagak seolah kamu peduli!" suaraku naik satu nada. Emosi yang kutahan sejak di lobi kantor tadi mulai meluap.

"Aku peduli karena aku ingin menjadi masa depanmu, bukan sekadar penonton masa lalumu," jawabnya mantap.

Aku terdiam. Kalimat itu seharusnya terdengar romantis, tapi di telingaku, itu terdengar seperti beban. Aku segera menarik pintu dan menguncinya rapat-rapat tanpa membalas ucapannya. Aku bisa mendengar langkah kaki Rendra yang perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang semakin mencekik di dalam apartemen ini.

Aku melemparkan dokumen itu ke meja makan dan merebahkan tubuhku di sofa.

Bayangan Arlan, Siska, dan kini Rendra berputar-putar di kepalaku seperti komidi putar yang rusak. Rasa mual itu muncul lagi, tapi kali ini bercampur dengan rasa sesak yang luar biasa.

Tiga tahun aku berlari, menyibukkan diri dengan angka dan target perusahaan, mengunci hati dengan ribuan gembok es. Tapi hanya dalam satu hari, semua gembok itu terasa mulai retak.

Aku meraih bantal, menutupi wajahku, dan berteriak dalam diam.

Besok... besok aku harus kembali ke kantor itu. Kembali menghadapi Arlan yang pengecut, Siska yang bermuka dua, dan tumpukan pekerjaan yang kini terasa seperti penjara.

Aku tidak boleh tumbang. Jika Arlan mengira kehadirannya bisa menggoyahkanku, dia salah besar. Aku akan menunjukkan padanya bahwa Rania yang ceria sudah mati, dan yang tersisa hanyalah wanita yang akan menghancurkan setiap harapannya.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!