Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Cincin Dimensi dan Memulai Perjalanan Lagi
Suasana di alun-alun pusat kota Sabana Emas saat ini begitu sunyi.
Wira berdiri di tengah lapangan luas itu, menggendong Sekar dalam dekapannya dengan penuh kelembutan.
Wajahnya yang tenang menyimpan duka yang dalam, namun pundaknya tegak memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar satu kerajaan.
Di hadapannya, sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya terbentang, ribuan rakyat, para prajurit dengan zirah berkilauan, para jenderal, hingga para raja dari tiga benua yang kini bersatu, semuanya berdiri membisu dalam barisan yang rapi.
Adiwangsa, Prabu Yudhistira, Jenderal Sabrang, Dewi Ratnawati, dan Putri Arum Sari berada di barisan paling depan.
Mereka menatap Wira dengan tatapan yang campur aduk antara rasa syukur, hormat, dan kesedihan karena harus berpisah.
Tepat saat Wira hendak melangkah, Raja Tirta Kelana dari Kerajaan Embun Pagi tiba-tiba tersentak. Seolah teringat akan sebuah wasiat kuno yang hampir terlupakan, ia berteriak kecil dan berlari dengan kecepatan penuh menuju arah istana.
Tak butuh waktu lama, sang raja kembali dengan napas tersengal-sengal, menggenggam sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu gaharu hitam.
"Gusti Kaisar, tunggu!" seru Raja Tirta sambil membungkuk dalam di depan Wira.
Wira pun langsung menatap Raja Tirta dengan dahi berkerut.
"Ada apa lagi, Paman Raja? Bukankah segalanya sudah kita selesaikan semalam?" ucap Wira dengan kebingungan.
Raja Tirta membuka kotak itu dengan tangan bergetar. Di dalamnya, tergeletak sebuah cincin perak sederhana dengan permata berwarna biru keunguan yang jernih. Namun, Wira bisa merasakan getaran ruang yang sangat kuat memancar dari permata tersebut.
"Ini adalah Cincin Cakrawala Ruang, pusaka turun-temurun para penguasa tertinggi di Benua Pasir Emas," ucap Raja Tirta dengan khidmat.
"Ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah pusaka dimensi tingkat tinggi yang mampu menyimpan benda mati, harta, bahkan manusia hidup di dalamnya tanpa terpengaruh oleh waktu luar." lanjutnya menjelaskan.
Wira tertegun dan matanya langsung tertuju pada Sekar yang berada di pelukannya.
Selama berhari-hari ia berpikir keras bagaimana cara membawa Sekar menembus badai salju di Benua Salju Abadi tanpa membahayakan tubuhnya yang kini hanya manusia biasa.
Ide membangun tandu energi memang sempat terlintas, namun beban energinya akan sangat menguras konsentrasi selama perjalanan.
"Terimalah ini, Gusti. Ini adalah milik Kaisar sejati," lanjut Raja Tirta.
Wira menerima cincin itu dengan rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih, Paman Raja. Kau baru saja meringankan beban terbesarku." jawab Wira dengan tatapan syukur yang dalam.
Wira pun segera mengalirkan energinya ke dalam cincin tersebut. Seketika, ia merasa jiwanya terhubung dengan sebuah ruang hampa yang luas namun nyaman.
Di dalam pikiran Wira, ruang itu terlihat seperti sebuah paviliun indah yang dikelilingi oleh cahaya tenang.
Tanpa ragu, pikiran Wira membentuk bayangan kekasihnya, membaringkan Sekar secara perlahan, dan tubuh wanita itu pun lenyap, berpindah ke dalam dimensi cincin.
Sekarang, Wira bisa merasakan detak jantung Sekar melalui koneksi energinya pada cincin itu, memastikan kekasihnya tetap aman di dalam kantong dimensinya sendiri.
"Aku juga telah mengisinya dengan harta melimpah dan logistik terbaik dari benua ini untuk perjalananmu," tambah Raja Tirta.
"Dan... ada sebuah benda kuno di dalamnya. Kami tidak tahu gunanya, bagi kami itu hanyalah batu hitam yang berat, namun firasatku mengatakan itu mungkin berguna untuk seorang sepertimu, Gusti Kaisar." lanjut Raja Tirta.
Wira mengangguk, ia akan memeriksanya nanti bersama Siwa.
Dan ternyata Raja Tirta juga tidak pelit, ia memberikan cincin serupa kepada Prabu Yudhistira dan Adiwangsa, cincin-cincin yang ia ambil dari tiga raja yang sebelumnya berkhianat.
Ini adalah langkah diplomatik untuk mempermudah distribusi bantuan antar-benua di masa depan.
Sebelumnya keberadaan Wira di alun-alun sebenarnya hanya sekedar lewat dan ingin berpamitan kepada Adiwangsa yang sedang berada di sana, namun ternyata kedatangannya itu menarik perhatian banyak rakyat, sehingga membuat orang-orang di sekitar berkumpul untuk melihat siapa sosok yang telah menyelamatkan benuanya dan mampu menjadikan empat kerajaan menjadi satu.
"Apakah itu tuan pendekar yang ramai di bicarakan ini?" tanya seorang warga berbisik.
"Benar, terlihat muda, tongkat kayu itu sama dengam yang terlihat di patung." jawab orang lainnya.
Semakin lama alun-alun terlihat semakin banyak orang dan ramai, sehingga membuat Wira menatapnya dengan tatapan yang campur aduk, ada rasa bangga, senang, sedih, dan takut.
Tidak ada ceramah disana, hanya segerombolan orang dengan pemikiran dan tatapannya masing-masing, begitupun Wira, ia tidak bisa berbicara dengan banyak orang, jadi menyerahkannya kepada Raja Tirta saja nanti.
Setelah urusan pusaka selesai, suasana kembali hening. Kini tiba saatnya perpisahan pribadi, dan kebetulan beberapa warga sudah mulai bubar, karena sebelumnya sempat di tegur oleh para prajurit lain agar tidak terlalu berkumpul yang membuat Wira memiliki tatapan sedih.
Para prajurit memiliki inisiatif sendiri setelah melihat tatapan Wira yang selalu berubah-berubah, jadi langsung menegur halus para warga.
Para prajurit juga menambahkan, bahwa mereka boleh tetap melihat Wira, tapi jangan terlalu bergerombol.
Perpisahan pribadi yang diadakan mendadak ditengah alun-alun itu di awali dengan Dewi Ratnawati yang tiba-tiba melangkah maju.
Matanya yang indah tampak berkaca-kaca dan tampak mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk anyaman rumput suci yang diberkati doa, mirip dengan jimat yang pernah ia berikan dulu.
Namun, kali ini ia tidak hanya memberikannya. Dengan keberanian yang mengejutkan semua orang, Ratnawati menerjang maju dan memeluk Wira dengan erat.
Para pejabat, para raja, para rakyat, dan para prajurit yang melihat itu langsung terkejut, karena dalam pikiran mereka semua, Wira sudah memiliki kekasih yang baru di gendong di hadapan semua orang.
"Memang, lelaki yang gagah, kuat dan tampan sepertinya tak luput dari kejaran wanita." gumam seorang warga kepada prajurit di sampingnya.
"Benar juga paman, eh-..." jawab prajurit itu sebelum sadar.
"Hei, paman jangan membicarakan Gusti Kaisar di belakang." ucap prajurit memperingatkan.
"Hihihi.. Bukannya tuan prajurit juga baru saja menjawab ucapanku sebelumnya," jawab warga itu terkekeh membuat prajurit di sampingnya tak bisa menjawabnya.
Sedangkan di tengah alun-alun itu, Wira tampak terlihat berdiri kaku di pelukan Dewi Ratnawati.
Tangannya menggantung di udara, bingung harus berbuat apa. Ia bahkan bisa merasakan air mata Ratnawati membasahi bahunya.
Pelukan itu adalah pelukan penuh kerinduan dan janji yang tak terucapkan.
Putri Arum Sari yang berdiri tak jauh dari sana langsung merengut. Wajahnya yang jelita berubah menjadi kemerahan karena cemburu yang tak tertahankan.
Sebagai seorang putri dari Benua Pasir Emas yang keras, ia memiliki tekad yang tak kalah kuat.
Begitu Ratnawati melepaskan pelukannya dengan senyum kecut, Putri Arum Sari tidak mau kalah.
Ia melesat maju, mengabaikan protokol kerajaan, dan langsung memeluk Wira dengan sangat kencang, seolah-olah ia tidak akan membiarkan pemuda itu pergi meskipun ia mengenalnya belum lama.
"Kau harus kembali, Kaisar!" bisik Arum Sari dengan nada kesal namun penuh harap. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan memberikan sebuah kalung dari gigi hiu pasir raksasa.
"Bawa ini. Agar kau selalu ingat bahwa ada yang selalu menunggumu di gurun ini!" lanjutnya sembari memberikan kalung gigi pasir dengan wajah yang merona merah.
Wira hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap kedua wanita cantik itu dengan wajah konyolnya yang kembali muncul sesaat.
Dewi Ratnawati hanya tersenyum kecut melihat kelakuan Arum. Ia tahu, sosok seperti Wira pasti akan menarik banyak hati, ia juga tahu bahwa di hati pemuda itu hanya ada nama Sekar yang sedang terbaring di dimensi cincin, setidaknya di saat Sekar tidak ada dia bisa menggantikannya untuk menghibur pemuda bermata biru itu.
Meskipun harus berpisah hari ini, mulai hari ini, jalinan rasa antara Wira, Ratnawati, dan Arum Sari telah terbuka.
Dalam benak Wira, ia kini memikul tanggung jawab lebih, ia tidak hanya harus menyelamatkan dunia untuk Sekar, tapi ia juga harus pulang untuk membalas budi dan janji kepada wanita-wanita yang telah mendukungnya.
"Aku pergi!" teriak Wira sambil melompat ke arah udara, menggunakan langkah kaki cahaya menuju pelabuhan utara.
Semua orang yang melihat itu langsung menunduk dengan hormat, Para Raja, jenderal, rakyat, dan prajurit berseru lirih dengan hormat.
"Hormat tulus pada Kaisar, kami menunggumu kembali." ucap lirih semua orang hampir secara bersamaan dengan tubuh yang membungkuk hormat menghadap langit tempat Wira melompat pergi.
Dua minggu kemudian.
Lautan Utara yang dikenal sebagai Lautan Embun Beku, kini terbentang luas di hadapan Wira.
Ia berdiri di atas sekoci kecil yang ia gerakkan menggunakan energi membelah ombak yang suhunya bisa membekukan darah manusia biasa dalam hitungan detik.
Langit di depannya mulai berubah kelabu. Bongkahan-bongkahan es raksasa mulai terlihat mengapung seperti gunung-gunung mati, Wira langsung menarik jubah bulunya lebih rapat.
Di jarinya, cincin dimensi itu berkilau samar, memberikan kehangatan karena ia tahu Sekar aman di dalam sana.
"Bocah, waspadalah," suara Siwa bergema dengan nada serius.
"Kita sepertinya sudah memasuki wilayah Batas Es. Di sini, hukum laut dan daratan sebelumnya juga mungkin tidak lagi berlaku bagi manusia." lanjut Siwa menjelaskan karena merasakan tekanan gravitasi yang sudah berbeda.
Tiba-tiba, permukaan laut di depan sekoci Wira meledak. Air laut yang membeku terlempar ke udara setinggi puluhan meter.
Dan dari kedalaman air yang gelap, muncul sebuah sosok yang mengerikan.
Itu adalah Gurita Salju Purba, monster laut raksasa dengan tentakel yang dilapisi oleh duri-duri es abadi.
Matanya yang sebesar rumah memancarkan cahaya biru dingin yang menakutkan.
Monster ini adalah penjaga perbatasan yang telah hidup ribuan tahun, ditugaskan secara alami untuk menghalau siapa pun yang mencoba memasuki Benua Salju Abadi tanpa izin dewa laut.
GROOOAAAAAARRRR!
Raungan monster itu menggetarkan permukaan air hingga menciptakan gelombang pasang setinggi sepuluh meter.
"Baru juga sampai, sudah disambut peliharaan raksasa," gumam Wira sambil tersenyum tipis. Ia menggenggam Siwa erat-erat. Cahaya biru mulai menyala dari tubuhnya, menerangi lautan yang gelap.
Wira berdiri di ujung sekoci, menatap monster purba itu dengan mata yang kini berkilat tajam.
"Maaf, Penjaga. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main. Ada seseorang yang harus segera kuselamatkan!" gumamnya pelan.
Namun monster itu tak mendengar perkataan Wira yang hanya bergumam lirih.
Dan seketika tentakel raksasa bermata duri es itu melesat turun dari langit, siap menghancurkan Wira dan sekocinya.
Pertempuran di gerbang es pun dimulai, menjadi pembuka dari perjalanan Wira mencari Jantung Kristal Es di benua yang tidak pernah mengenal matahari.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁