NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Jenderal yang Berkhianat

Aula intelijen markas besar militer terasa mencekam. Di dinding besar, terpampang peta perbatasan d’Orléans dan sebuah potret sketsa yang sangat detail. Potret itu memperlihatkan seorang wanita dengan tatapan lembut namun cerdas—wajah yang sangat familiar bagi pria yang sedang duduk di kursi kebesaran di ujung meja.

Eisérre Valois.

"Lapor, Jenderal," Letnan Varg—pria yang sebenarnya adalah kaki tangan Camille namun kini gemetar di bawah tatapan Eisérre—berdiri tegak. "Informasi dari intelijen pusat mengonfirmasi bahwa target bukan sekadar tenaga medis. Dia adalah Yang Mulia Princess Geneviève d’Orléans. Ciri-cirinya: tinggi 165 cm, rambut cokelat bergelombang, mahir medis, dan memiliki fitur wajah yang jauh lebih muda dari usianya."

Seluruh perwira di ruangan itu menahan napas. Kehilangan seorang Putri Mahkota adalah aib nasional sekaligus pemicu perang.

Eisérre menatap sketsa itu tanpa ekspresi. Jantungnya berdegup, bukan karena takut, tapi karena rasa puas yang gelap. Gadis yang kini sedang tertidur di paviliunnya, memang benar seorang Putri.

"Tarik semua pasukan pencari dari area publik," suara Eisérre memecah kesunyian, dingin dan tak terbantahkan.

"Tapi Jenderal, Raja Alaric sangat mendesak—"

"Aku bilang tarik mereka!" Eisérre menggebrak meja, mata biru gelapnya berkilat berbahaya. "Jika berita ini bocor ke telinga rakyat atau musuh, stabilitas negara akan hancur. Lakukan pencarian secara tertutup di bawah komandoku langsung. Siapa pun yang membocorkan identitas Putri ini ke pihak luar atau pers... akan aku eksekusi dengan tanganku sendiri."

Para perwira menunduk patuh. Eisérre baru saja mengunci informasi itu. Kini, hanya dia yang memegang kunci keberadaan sang Putri. Di matanya, Geneviève bukan lagi milik Kerajaan d’Orléans. Dia adalah milik Valois.

Di Kediaman Valois. Lady Belle berjalan dengan anggun di sepanjang koridor taman yang menghubungkan kediaman utama dengan area hutan ek. Gaunnya yang berwarna kuning gading terseret halus di atas kerikil putih. Nenek Eisérre telah memberinya izin untuk menjelajah, namun Belle merasa ada sesuatu yang lebih menarik di arah paviliun pribadi sang Jenderal.

"Katanya Jenderal sangat kaku, tapi kenapa dia begitu sering berada di paviliun ini?" Gumam Belle penasaran.

Saat Belle sampai di pinggir sungai yang jernih, ia berhenti mendadak. Di sana, di bawah pohon willow yang rimbun, seorang gadis sedang duduk dengan buku catatan di pangkuannya. Gadis itu mengenakan gaun tidur sutra yang jelas-jelas milik keluarga Valois, namun tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil.

Wajah gadis itu... Belle tertegun. Begitu imut, seperti seorang remaja, namun cara dia memegang pena dan menatap kejauhan tampak sangat dewasa.

Geneviève menyadari kehadiran seseorang. Ia berdiri, menatap Belle dengan sopan namun waspada. Meski kehilangan ingatan, harga diri dan keanggunan alaminya sebagai d’Orléans tidak bisa hilang begitu saja.

"Siapa kau?" Tanya Belle dengan nada angkuh, matanya menyipit melihat kecantikan alami Geneviève yang tanpa riasan sedikit pun. "Apa yang kau lakukan di paviliun pribadi calon tunanganku?"

Geneviève sedikit terkejut mendengar kata 'calon tunangan', namun ia tetap tenang. "Aku... aku tamu Jenderal Valois. Beliau menyelamatkanku di perbatasan."

"Tamu?" Belle tertawa sinis, melangkah mendekat. "Eisérre tidak pernah membawa 'tamu' ke paviliun sucinya. Kau pasti hanya salah satu pelayan yang dia pungut, kan? Lihat wajahmu, kau tampak seperti anak kecil yang tersesat. Beraninya kau memakai pakaian semewah ini."

Baru saja Belle hendak melangkah lebih dekat untuk mengintimidasi, sebuah suara dingin yang sangat ia kenali menggema dari arah belakang.

"Lady Belle."

Belle tersentak. Eisérre berdiri di sana dengan aura yang sangat gelap, tangannya mengepal di samping tubuh.

"Eisérre! Aku hanya... aku hanya ingin menyapa gadismu ini," Belle mencoba tersenyum manis, meski ketakutan.

Eisérre mengabaikan Belle sepenuhnya. Ia berjalan lurus ke arah Geneviève, berdiri tepat di depan gadis itu seolah membentuk perisai manusia. Ia menunduk, menatap Geneviève dengan tatapan yang jauh lebih lembut—sesuatu yang tidak pernah ia berikan pada Belle.

"Masuklah ke dalam, Lady Ève. Udara sore tidak baik untuk pemulihanmu," ucap Eisérre lembut namun tegas.

Geneviève mengangguk pelan, memberikan tatapan tajam terakhir pada Belle sebelum berbalik pergi dengan anggun. Sebutan 'Lady' yang keluar dari mulut Eisérre terasa seperti tamparan bagi Belle.

"Eisérre! Kau memanggilnya 'Lady'? Siapa dia sebenarnya?!" Belle berteriak tidak terima.

Eisérre menoleh pada Belle, matanya kini sebeku es kutub. "Siapa dia bukan urusanmu. Dan jika aku melihatmu mengganggunya lagi, Belle... jangan harap pertunangan yang nenekku inginkan akan pernah terjadi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!