NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Ada rasa dingin yang tertinggal di ujung jari Mahesa bahkan setelah Pierre menutup pintu kamar belakang dengan bantingan pelan. Mahesa tetap diam di posisinya, duduk di kursi kayu yang permukaannya terasa kasar menembus celana jinsnya. Di atas meja, lembaran uang Euro yang tadi mereka bagi masih tergeletak dalam tumpukan kecil yang tidak rapi. Mahesa tidak segera menyentuhnya lagi. Ia membiarkan kedua telapak tangannya bertumpu di pinggiran meja, merasakan getaran halus dari mesin pemanas ruangan tua yang bekerja terlalu keras di sudut apartemen.

Pandangannya tertuju pada satu lembar uang lima puluh Euro yang posisinya sedikit melenceng dari tumpukan. Ia memperhatikan detail cetakan pada kertas uang itu—garis-garis tipis yang membentuk gambar jembatan klasik, warna oranye yang tampak kusam di bawah cahaya lampu gantung yang redup. Baginya, uang itu bukan sekadar alat tukar. Uang itu adalah bukti fisik dari sebuah pengkhianatan kecil yang baru saja ia lakukan terhadap nuraninya sendiri.

Mahesa menarik napas panjang, membiarkan dadanya naik-turun dalam gerakan yang sangat lambat. Bau asap rokok yang tadi ditinggalkan Pierre masih menggantung pekat di udara, bercampur dengan aroma kopi basi dan debu yang sudah mengendap lama di tirai jendela. Mahesa meraih kotak rokoknya yang tergeletak di dekat asbak kaca. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyelipkannya di antara bibir, lalu memicu pemantik api. Bunyi cetrek dari pemantik itu memicu api kecil yang sempat menerangi lekuk rahangnya yang menegang sebelum akhirnya ujung rokok itu membara merah.

Ia menghirup asapnya dalam-dalam, merasakan sensasi panas yang memenuhi rongga parunya. Nikotin itu mulai bekerja, namun tidak mampu meredam gumpalan rasa muak yang sejak tadi mendekam di ulu hatinya. Mahesa mengembuskan asap rokoknya ke arah plafon yang catnya sudah mengelupas membentuk pulau-pulau kecil yang berantakan. Ia teringat bagaimana Felysha memandanginya di taman tadi—tatapan penuh syukur yang sangat tulus, seolah-olah Mahesa adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki di kota asing ini.

"Target yang mudah," gumam Mahesa pelan.

Suaranya sendiri terdengar parau dan asing di tengah kesunyian ruangan nomor 304 itu. Kalimat itu bukan sekadar observasi, melainkan sebuah fakta yang pahit bagi Mahesa. Selama dua tahun bertahan hidup di jalanan Paris, ia sudah belajar cara membedakan antara mangsa yang waspada dan mangsa yang tidak sadar. Felysha berada di kategori kedua yang paling ekstrem.

Mahesa memutar ingatannya kembali ke saat ia berdiri di bangku taman, memperhatikan bagaimana Felysha berjalan menjauh. Langkah kaki gadis itu tidak memiliki kewaspadaan. Bahunya tidak tegang saat memasuki area yang lebih gelap. Tas selempangnya hanya menggantung di satu bahu tanpa ada tangan yang memegangi talinya dengan erat. Bahkan saat tas itu dirampas Pierre, reaksi pertama Felysha bukanlah berteriak atau melawan, melainkan mematung seolah-olah dunianya baru saja dicabut paksa.

Ia mengetukkan abu rokoknya ke dalam asbak dengan gerakan jari yang mekanis. Mahesa kemudian meraih gundukan uang miliknya—enam ratus Euro. Ia meraba tekstur kertas uang itu, merasakan bunyi gesekan halus yang dihasilkan saat ia merapikan susunannya. Uang ini adalah hasil dari sebuah sandiwara yang ia rancang bersama Pierre. Pierre adalah si jahat yang berlari, dan Mahesa adalah si baik yang menolong. Sebuah pola klasik yang selalu berhasil menjerat korban-korban yang terlalu polos seperti Felysha.

Mahesa bangkit dari kursinya, langkah kakinya yang hanya beralaskan kaus kaki hitam tidak mengeluarkan suara saat menyentuh lantai kayu yang dingin. Ia berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan. Di sana, di bawah tumpukan buku arsitektur yang sudah berdebu, ia menyimpan sebuah kotak besi tua. Mahesa menggeser buku-buku itu, menimbulkan bunyi gesekan yang berat di atas meja. Ia memasukkan uang enam ratus Euro itu ke dalam kotak, lalu menutupnya dengan bunyi klik yang solid.

Ia terdiam sejenak, tangannya masih menempel pada permukaan kotak besi yang dingin. Tatapannya jatuh pada sebuah sketsa bangunan yang sudah menguning di bawah tumpukan kertas. Itu adalah gambar yang ia buat saat pertama kali tiba di Paris—sebuah desain gedung masa depan yang ia impikan untuk dibangun. Sekarang, sketsa itu tampak seperti ejekan dari masa lalu. Mahesa menutup sketsa itu dengan buku tebal, seolah ingin menyembunyikan kegagalannya lebih dalam.

Langkahnya kembali ke meja tengah. Ia mengambil dompet cokelat milik Felysha yang sudah dikosongkan isinya oleh Pierre tadi. Mahesa membolak-balik dompet itu, meraba kelembutan kulitnya yang mahal. Di bagian dalam, ada inisial emas kecil bertuliskan F.A. Mahesa menyentuh inisial itu dengan ibu jarinya. Dompet ini adalah milik seseorang yang hidup di dunia yang sangat berbeda dengannya. Dunia yang berbau parfum mawar, dunia yang hangat, dan dunia yang selalu memiliki asuransi untuk setiap kehilangan.

Ia memasukkan dompet kosong itu ke dalam saku jaket denimnya yang ia gantung di belakang pintu. Ia akan membuangnya ke sungai Seine besok pagi, saat kabut masih tebal dan Paris belum sepenuhnya terbangun. Ia tidak ingin menyimpan jejak apa pun dari gadis itu di ruangan ini. Namun, saat tangannya keluar dari saku jaket, ia menyadari satu hal yang hilang.

Saputangannya.

Mahesa meraba saku-saku lainnya dengan gerakan yang mendadak terburu-buru. Ia tidak menemukannya. Ia baru teringat bahwa ia memberikan saputangan putih itu pada Felysha untuk menyeka darah di lehernya. Saputangan itu adalah satu dari sedikit benda yang ia bawa dari Jakarta—benda yang masih memiliki tekstur kain yang sama dengan yang disiapkan ibunya di lemari pakaian rumah mereka dulu.

Mahesa mendengus pelan, sebuah tawa getir keluar dari mulutnya. Ia kehilangan saputangan terakhirnya demi seorang gadis yang baru saja ia rampok. Ia kembali duduk di tepi tempat tidurnya, menumpukan kedua tangannya di atas lutut. Ia menatap ke arah jendela yang menyajikan pemandangan atap-atap gedung Rue des Martyrs di bawah langit yang berwarna biru tua pekat.

"Dia benar-benar terlalu gampang dipercaya," bisik Mahesa lagi.

Pikirannya terus membayangkan bagaimana Felysha menerima saputangan itu. Cara gadis itu menempelkan kainnya ke leher dengan tangan yang gemetar. Mahesa merasa muak bukan karena ia telah mencuri, tapi karena ia menyadari betapa murahnya harga kepercayaan seseorang di kota ini. Felysha menganggapnya pahlawan, menganggapnya orang asing yang berhati emas, padahal Mahesa adalah alasan mengapa ia berdiri di taman itu dengan leher berdarah dan dompet kosong.

Mahesa melepaskan kemejanya, melemparkannya ke atas kursi kayu yang tadi ia duduki. Ia mematikan lampu gantung dengan satu tarikan tali, membuat ruangan seketika ditelan kegelapan yang hanya menyisakan sedikit cahaya kuning dari lampu jalanan yang masuk melalui celah tirai. Ia berbaring di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh noda-noda kelembapan.

Di dalam keheningan itu, Mahesa bisa mendengar bunyi detak jam tangan analognya di atas meja. Setiap detikan itu seolah-olah sedang menghitung sisa-sisa harga dirinya yang kian menipis. Ia tahu besok ia akan bangun, mengambil uang di kotak besinya, membeli kopi di kedai bawah, dan kembali mencari target baru bersama Pierre. Karena di Paris, kelaparan adalah musuh yang jauh lebih nyata daripada rasa bersalah.

Namun, sebelum ia memejamkan mata, Mahesa kembali teringat nama gadis itu. Felysha Anindhita. Nama yang terdengar anggun namun juga sangat rapuh. Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan dari pekerjaannya malam ini: ia bukan hanya mencuri uang Felysha, tapi ia juga telah mengajari gadis itu untuk tidak lagi mempercayai kebaikan orang asing. Dan Mahesa tidak tahu, apakah itu adalah hal terbaik atau hal terburuk yang pernah ia lakukan pada seseorang.

Ia membalikkan posisi tidurnya, membelakangi jendela, membiarkan kegelapan kamarnya menutup hari yang panjang itu. Di tengah sunyinya Rue des Martyrs, Mahesa mulai mematikan pikirannya satu per satu, bersiap untuk menjadi orang asing yang berbeda lagi saat matahari terbit nanti. Kecepatan napasnya perlahan mulai stabil, meskipun di dalam rongga dadanya, rasa dingin dari logam kunci apartemen Felysha seolah-olah masih tertinggal di ujung jemarinya.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!