Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: JAM EMPAT SUBUH
Suara ketukan pintu kamar yang bertalu-talu memecah keheningan fajar di lantai dua rumah Aldi. Udara dingin pukul empat pagi berembus dari celah ventilasi, membuat Kenan dan Sendy semakin menggulung tubuh mereka rapat-rapat di dalam selimut lantai.
"Mas Aldi! Ayo bangun, ajak Kenan sama Sendy sekalian. Sudah jam empat lewat ini, buruan ke masjid komplek buat azan subuh!" seru Bu Baren dari balik pintu dengan nada ketukan yang tidak santai.
Aldi yang posisi tidurnya sudah melintang langsung mengerang pelan. Ia duduk sambil mengucek matanya yang masih lengket, lalu menendang bokong Sendy dan Kenan bergantian. "Heh, Kunyuk! Bangun lu pada. Nyokap gue udah ngamuk tuh di depan pintu. Ayo bangun, ke masjid!"
"Aduh, Al... lima menit lagi napa, masih ngantuk banget gue," racau Sendy dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, matanya bahkan sama sekali belum terbuka.
"Kagak ada lima-limaan! Buruan bangun atau gue siram pakai sup iga sisa semalam!" ancam Aldi sembari menarik paksa selimut yang membungkus tubuh Kenan.
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ketiga pemuda itu berjalan sempoyongan menuruni tangga menuju kamar mandi bawah. Mereka mengantre bergantian untuk mengambil air wudhu dan menyikat gigi demi mengusir rasa kantuk yang luar biasa. Setelah wajah mereka terlihat agak segar, mereka langsung melangkah keluar pagar rumah dengan mengenakan sarung, baju koko, dan peci yang posisinya agak miring di kepala masing-masing.
Jalanan kompleks perumahan RT 04 masih sangat sepi dan berkabut tipis. Lampu-lampu jalanan memantulkan cahaya temaram di atas aspal yang lembap oleh embun pagi. Sepanjang jalan menuju masjid, mereka berjalan beriringan sambil mengobrol santai dengan suara pelan agar tidak mengganggu warga yang masih terlelap.
"Gila ya, Al, nyokap lu bener-bener gak kasih ampun. Jam segini udah disuruh dinas ke masjid," gumam Kenan sambil merapatkan jaketnya karena kedinginan.
"Ya baguslah, daripada lu berdua mendengkur mulu di kamar gue sampai siang. Sekali-kali bersihin dosa lu yang numpuk itu di masjid," balas Aldi terkekeh.
"Sialan lu! Gini-gini gue juga kalau azan suaranya mirip muazin Madinah tahu," timpal Sendy pede setengah mati.
Begitu melangkah masuk ke dalam area halaman masjid Al-Ikhlas yang masih kosong, mereka melepas sandal jepit masing-masing. Di dalam ruangan utama masjid, lampu-lampu sudah dinyalakan, namun belum ada satu pun jemaah atau pengurus masjid yang datang karena waktu subuh memang baru akan masuk sekitar sepuluh menit lagi.
Mereka bertiga berdiri di dekat pembatas saf depan, tepat di samping meja kecil tempat mikrofon masjid diletakkan.
"Nah, sekarang siapa nih yang mau azan? Gak usah rebutan, entar malah kedengeran kayak suara knalpot brong di mic," ujar Aldi menatap dua temannya.
"Gambreng aja lah, biar adil dan gak ada unsur pemaksaan jabatan," usul Kenan.
"Oke, setuju. Hompimpa alaium gambreng!" seru mereka bertiga serempak sambil menunjukkan telapak tangan masing-masing.
Aldi mengeluarkan telapak tangan hitam, Kenan putih, dan Sendy putih. Karena Aldi kalah pertama, tersisa Kenan dan Sendy yang harus melakukan pingsut atau suit.
"Ayo, Sen, lu keluar apa?" tantang Kenan memajukan jempolnya.
Sendy mengeluarkan telunjuk. "Gue gunting, lu jempol. Lu kalah, Nan! Berarti lu yang—eh bentar, jempol kan gajah ya? Berarti gue yang kalah!" seru Sendy mendadak bingung dengan hitungannya sendiri.
"Hahaha! Lu yang kalah, Kunyuk! Udah, buruan lu yang maju ke mic, jangan malu-maluin," ledak Aldi tertawa puas sambil mendorong pundak Sendy ke depan meja muazin.
Sendy akhirnya pasrah. Ia membetulkan letak pecinya, berdeham beberapa kali untuk membersihkan tenggorokannya, lalu meraih mikrofon panjang itu. Ketika waktu subuh tepat berbunyi dari jam digital di dinding, Sendy menarik napas dalam-dalam dan mulai mengumandangkan azan subuh. Harus diakui, meskipun kelakuannya sehari-hari gesrek, suara Sendy saat mengumandangkan kalimat takbir terdengar cukup merdu dan lantang, menggema ke seluruh penjuru kompleks perumahan melalui pengeras suara menara.
Setelah azan selesai dikumandangkan, suasana masjid kembali hening. Sambil menunggu kehadiran Pak Ustadz dan para jemaah lain datang untuk melaksanakan salat berjamaah, ketiga pemuda itu duduk melingkar di saf paling depan. Karena bosan dan masih ada waktu sekitar tujuh menit sebelum ikamah, Sendy mendadak mematikan fungsi pengeras suara luar masjid dan hanya menyalakan pengeras suara dalam.
Ia menarik mikrofon itu ke tengah-tengah lingkaran duduk mereka. "Bosan nih nungguin bapak-bapak pada dateng. Gimana kalau kita sholawatan aja bertiga? Biar berkah."
"Ayo, gue yang pegang nadanya ya," sahut Kenan bersemangat.
Tanpa pikir panjang, ketiga bocah ajaib itu langsung mendekatkan wajah mereka ke satu mikrofon yang sama dan mulai melantunkan sholawat bersama-sama.
"Shallallahu 'ala Muhammad... Shallallahu 'alaihi wasallam..." lantun mereka bertiga dengan nada yang awalnya cukup rapi dan syahdu.
Namun, namanya juga Aldi dan monyet-monyet kesayangan, baru masuk bait kedua, Sendy mulai bertingkah dengan memasukkan cengkok-cengkok melayu yang terlalu berlebihan. Kenan yang tidak mau kalah malah menyaut dengan suara bas yang sengaja diredam layaknya penyanyi religi profesional, sementara Aldi yang berada di tengah justru menahan tawa setengah mati sampai badannya bergetar hebat di depan mic. Suara sholawatan mereka di dalam masjid malam itu terdengar sangat kocak, perpaduan antara niat ibadah dan bakat lawak yang mendarat di tempat yang salah.
"Heh! Malah pada mainan mic! Yang bener sholawatannya!" tiba-tiba sebuah suara berat menegur dari arah pintu masuk.
Seketika itu juga Aldi, Kenan, dan Sendy langsung menjauhkan wajah mereka dari mic dengan gerakan kilat. Ternyata Pak Ustadz sudah berdiri di sana bersama beberapa jemaah bapak-bapak yang baru datang, termasuk Pak Dadang, ayahnya Aldi, yang langsung menatap tajam ke arah anak sulungnya itu dengan pandangan 'awas kamu ya kalau sampai rumah'.
Warga kompleks akhirnya mulai berdatangan mengisi saf demi saf. Setelah jemaah dirasa sudah cukup ramai, Kenan berdiri untuk mengumandangkan ikamah. Salat subuh berjamaah pun berlangsung dengan khusyuk di bawah imaman Pak Ustadz, dilanjutkan dengan ritual doa bersama yang berlangsung selama beberapa menit.
Sekitar pukul lima lewat lima belas menit, para jemaah mulai membubarkan diri. Aldi, Kenan, dan Sendy berjalan keluar dari teras masjid sambil memakai sandal mereka kembali. Langit subuh kini sudah mulai menampakkan semburat warna biru cerah, ditemani segarnya udara pagi yang belum tercemar polusi.
Baru saja mereka hendak melangkah keluar dari gerbang halaman masjid, langkah kaki mereka mendadak tertahan oleh suara panggilan dari arah belakang.
"Eh, Mas Aldi! Kebetulan banget ada kalian bertiga di sini," panggil Pak RW yang berjalan beriringan dengan Pak Lurah Slamet. Keduanya tampak masih mengenakan sarung dan baju koko lengkap.
Aldi buru-buru berbalik dan mengangguk sopan, diikuti oleh Kenan dan Sendy yang langsung memasang wajah mode 'anak magang penurut'. "Iya, Pak RW, Pak Lurah. Ada yang bisa kami bantu?"
Pak RW membetulkan letak kacamatanya sebentar sebelum berbicara. "Begini, Mas Aldi. Mumpung kalian bertiga ngumpul, nanti tolong umumin di grup WhatsApp Karang Taruna ya, kalau kegiatan kerja bakti komplek kita dimulai jam delapan pagi ini. Alat-alat seperti cangkul dan sapu lidi sudah disiapkan di pos ronda."
"Baik, Pak. Nanti langsung saya share ke grup anak-anak," jawab Aldi cekatan.
"Satu lagi yang paling penting, Mas," timpal Pak Lurah Slamet ikut angkat bicara. "Nanti jam dua siang, tolong agendakan seluruh anggota Karang Taruna buat kumpulan di balai desa. Soalnya untuk acara peringatan 17 Agustusan tahun ini, konsepnya bakal digabung sama gang sebelah. Jadi kita perlu koordinasi panitia bersama biar gak ada salah paham masalah dana dan pembagian lomba."
"Oh, digabung sama gang sebelah ya, Pak? Siap, Pak Lurah, nanti saya koordinasikan juga sama pemuda di sana supaya jam dua siang bisa kumpul tepat waktu di balai desa," sahut Aldi mengiyakan tanpa ada keberatan sama sekali. Bagi Aldi, urusan organisasi seperti ini memang sudah menjadi tanggung jawab barunya sebagai ketua.
"Ya sudah, kalau begitu terima kasih banyak ya, Mas Aldi dan teman-teman. Kami duluan," pamit Pak RW dan Pak Lurah sambil menepuk pundak Aldi pelan sebelum akhirnya berjalan mendahului mereka menuju arah jalan utama.
Begitu posisi Pak RW dan Pak Lurah sudah agak jauh dari jangkauan pendengaran, Kenan mendadak menghentikan langkah kakinya di tengah jalan. Matanya melotot kecil, seolah-olah baru saja menyadari sebuah fakta besar di balik pengumuman acara 17 Agustusan tadi.
"Eh, bentar, Di. Kalau acaranya digabung sama gang sebelah... berarti nanti pas kumpulan jam dua siang, bakal ada si Irene dong?" celetuk Kenan tiba-tiba dengan nada suara yang berbisik.
Sendy yang mendengar nama musuh bebuyutan Mbak Catur itu disebut langsung ikut menoleh bersemangat. "Oh iya bener juga lu, Nan! Si Irene kan emang tinggalnya di gang sebelah, yang tempo hari dibilang gatal sama Mbak Catur itu kan?"
Kenan mengabaikan sahutan Sendy, ia justru menyenggol lengan Aldi yang sedang sibuk mengetik pengumuman di HP-nya. "Eh, Di, gue mau nanya deh. Si Irene itu sebenernya kuliah di mana sih? Kok gue jarang banget liat dia di sekitaran kampus kita?"
Aldi menghentikan ketikannya sebentar, lalu mendongak menatap Kenan dengan ekspresi acuh tak acuh. "Gatau gue, keknya di Sinar Bangsa deh. Kenapa emang? Lu naksir sama kembang desa sebelah itu?"
"Ya kagak naksir juga sih, cuma nanya doang," kilat Kenan membela diri, walau matanya tidak bisa berbohong kalau dia penasaran dengan sosok perempuan yang sukses bikin heboh obrolan ibu-ibu PKK semalam.
"Halah, gak usah modus lu, Nan! Inget kata Mbak Catur, si Irene itu bahaya buat kesehatan jantung bujangan kayak kita," ledek Sendy sambil tertawa terpingkal-pingkal sepanjang jalan pulang menuju rumah Aldi, meninggalkan aroma obrolan pagi yang tampaknya bakal membuat agenda kerja bakti dan kumpulan Karang Taruna siang nanti berjalan jauh lebih seru dan penuh kejutan di RT 04.