NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Kewajiban & Rasa

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Di dalam mobil jip hitam itu, hanya terdengar suara mesin dan napas mereka masing-masing. Putra menyetir dengan tatapan lurus ke depan, rahangnya mengeras, berusaha keras menahan gejolak di dada. Pengakuan Citra tadi bahwa hatinya berdebar setiap kali ia dekat berputar terus di kepalanya, seperti rekaman yang tak mau berhenti.

Di sampingnya, Citra duduk diam sambil memeluk tas tangannya erat. Wajahnya masih terasa panas karena keberaniannya yang meluap tadi. Ia menyesal sekaligus lega. Setidaknya, ia sudah jujur pada perasaannya sendiri, meski ia tahu itu hanya akan menjadi senjata yang bisa digunakan Putra untuk melukainya lebih dalam lagi. Atau justru senjata yang bisa menghancurkan tembok pertahanan pria itu?

"Kau tidak perlu menunggu jawaban," ucap Putra tiba-tiba, suaranya berat dan dingin, memecah keheningan. "Aku sudah katakan, jangan berharap. Perasaanmu itu... hanya kesalahan yang tercipta karena kita dipaksa bersama. Itu bukan cinta, melainkan rasa iba atau rasa terikat saja."

Citra menundukkan wajahnya, menahan perih di hati. "Mungkin kau benar, Mas. Mungkin aku yang salah menafsirkan semua ini. Tapi tubuh dan hatiku punya cara sendiri untuk merasakan, terlepas dari apa yang ada di pikiran kita."

Putra tidak menjawab lagi. Ia menggenggam setir semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin membantah, ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita ini hanyalah bagian dari rencana balas dendamnya, namun setiap kali matanya melirik sekilas ke arah Citra, keyakinan itu perlahan runtuh.

Sesampainya di kediaman mereka, suasana rumah yang besar dan sepi kembali menyambut. Citra langsung berjalan menuju kamar, ingin segera menyingkirkan lelahnya. Namun langkahnya terhenti saat suara berat Putra terdengar di belakangnya.

"Malam ini ada acara makan malam resmi di kediaman jenderal. Kau harus bersiap. Jam delapan kita berangkat. Pakai gaun yang elegan, jangan memalukan."

Citra berbalik, menatap punggung tegap suaminya. "Baik, Mas. Aku akan bersiap."

Malam itu, tepat pukul delapan, Putra sudah menunggu di ruang tengah. Ia tampak mempesona dengan seragam upacara lengkap, penuh dengan lencana dan tanda jasa yang menggambarkan betapa besarnya pengabdiannya pada negara. Saat Citra turun dari tangga, langkah kakinya terhenti sejenak.

Citra mengenakan gaun panjang berwarna biru tua dengan potongan anggun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya tanpa mengurangi kesopanan. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang dan telinganya yang berhias anting mutiara sederhana. Wajahnya bersinar dengan riasan tipis, memancarkan kecantikan yang tenang dan berkelas. Sekilas, Putra tertegun. Ia harus mengakui, istrinya adalah wanita paling cantik di ruangan mana pun ia berada.

"Kau... terlihat baik," ucap Putra pelan, berusaha tetap dingin meski matanya tak lepas dari wajah Citra. "Ingat, malam ini banyak petinggi militer dan keluarga berpengaruh. Jadilah istri yang cerdas. Jangan bicara sembarangan, cukup tersenyum dan angguk jika perlu. Kau mewakili namaku malam ini."

"Aku paham, Mas. Aku tidak akan mengecewakanmu," jawab Citra lembut, lalu berjalan mendekat dan merapikan sedikit kerah seragam Putra yang sedikit berantakan. Gerakan itu begitu alami, begitu keibuan, membuat napas Putra tercekat seketika. Ia menepis tangan Citra perlahan, namun tidak kasar.

"Sudah. Ayo berangkat."

Acara makan malam itu berlangsung meriah dan penuh protokol. Banyak pasangan yang hadir, saling bersapa, saling memuji, dan berbisik-bisik. Putra dan Citra menjadi pusat perhatian. Pasangan serasi, muda, dan berpangkat tinggi. Di luar mereka tampak pasangan yang sempurna, namun hanya mereka berdua yang tahu betapa tegangnya hubungan di antara mereka.

Di tengah acara, saat Putra sedang berbincang dengan beberapa perwira tinggi, Citra berdiri agak menjauh, memegang gelas jusnya sambil mengamati sekitar. Sebagai dokter, ia terbiasa mengamati orang, dan malam ini ia mengamati suaminya. Ia melihat bagaimana cara Putra berbicara tegas, berwibawa, dihormati banyak orang, namun ada kesepian yang mendalam di balik sorot matanya.

Tiba-tiba, sebuah suara yang tidak asing terdengar di dekatnya.

"Jadi kau benar-benar menikah dengannya, Citra?"

Citra menoleh kaget. Di depannya berdiri seorang pria berpenampilan rapi, mengenakan jas malam yang mahal. Ia adalah Ardi, teman masa kecil sekaligus mantan rekan kerjanya di rumah sakit dulu. Ardi juga seorang dokter, dan ia tahu betul bahwa pernikahan Citra adalah perjodohan terpaksa.

"Ardi... Kau ada di sini?" tanya Citra kaget, sedikit gugup.

"Ayahku kenal baik dengan tuan rumah. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini," jawab Ardi sambil menatap Citra lekat-lekat dengan pandangan sedih dan prihatin. "Kau terlihat cantik, tapi... matamu menyimpan kesedihan, Citra. Apakah dia memperlakukanmu baik? Aku dengar banyak hal buruk tentang Letnan Kolonel itu. Katanya dia orang yang kejam dan penuh dendam. Apakah kau aman bersamanya?"

Pertanyaan itu membuat hati Citra bergetar. Belum sempat ia menjawab, sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya mendekat ke sebuah dada bidang yang keras. Citra menoleh dan mendapati wajah Putra yang sudah berada tepat di sampingnya. Wajah pria itu tersenyum, namun senyum yang sangat dingin dan mengancam. Matanya yang tajam menatap tajam ke arah Ardi.

"Terima kasih atas kekhawatiranmu, Tuan Dokter," ucap Putra dengan nada suara rendah namun berbahaya. "Tapi keamanan dan kebahagiaan istriku adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Dan sejauh ini, Nyonya Setiawan hidup sangat nyaman dan bahagia bersamaku. Benar bukan, Sayang?"

Kata terakhir itu. Sayang diucapkan dengan penekanan yang kuat, namun terasa penuh ancaman. Tangan di pinggang Citra mengerat sedikit, seolah memberi peringatan keras.

Citra bisa merasakan amarah yang meluap dari tubuh suaminya, meski senyum di wajah itu tak pernah luntur. Ia mengangguk pelan, berusaha menenangkan suasana. "Benar, Mas. Aku baik-baik saja."

Ardi menatap mereka bergantian, menyadari ketegangan yang terasa nyata di udara. Ia tahu dirinya tidak boleh memancing keributan di tempat ini, apalagi dengan sosok berpengaruh seperti Putra. "Baiklah kalau begitu. Maaf jika aku terlalu banyak bertanya. Selamat malam, Nyonya, Tuan."

Setelah Ardi pergi, senyum di wajah Putra seketika lenyap. Ia menarik tangan Citra dengan kasar namun tidak menyakitkan, membawanya menjauh ke teras belakang yang lebih sepi dan gelap. Angin malam berhembus dingin menerpa wajah mereka.

"Siapa dia?" tanya Putra tajam, melepaskan cengkeramannya namun berdiri sangat dekat hingga Citra terpaksa mundur bersandar ke pagar pembatas. "Mantan kekasihmu? Pria yang sebenarnya kau cintai sebelum dijodohkan denganku?"

Wajah Putra memerah menahan amarah. Bukan karena cemburu atau itulah yang ia yakini tapi karena ia merasa ada yang mengancam wilayah kekuasaannya. Baginya, Citra adalah miliknya, sebagai istri, sebagai bagian dari keluarganya, sebagai bagian dari rencananya. Tidak ada orang lain yang boleh mendekat, apalagi menatap dengan pandangan mengasihani seperti tadi.

"Dia hanya teman lama, Mas. Seorang rekan kerja dulu. Tidak ada apa-apa di antara kami," jawab Citra tenang, meski jantungnya berdebar kencang melihat amarah yang meledak itu. "Dan meski pun ada apa-apa, aku sekarang istrimu. Aku sudah berjanji."

"Janji?" Putra tertawa sinis, namun tawanya terdengar getir dan penuh emosi. Ia mencondongkan tubuhnya mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Citra. Napas mereka saling beradu. "Kau tahu apa yang paling menyebalkan, Citra? Semakin aku berusaha membencimu, semakin aku berusaha menyakiti keluargamu, semakin banyak hal yang kau lakukan yang membuatku merasa... ingin melindungimu. Dan pria tadi... melihat cara dia menatapmu, rasanya aku ingin sekali menghancurkannya."

Citra menatap mata hitam itu lekat-lekat. Di balik amarah yang menyala, ia melihat sesuatu yang lain. Rasa memiliki yang kuat, ketidakrelaan, dan... cemburu. Apakah mungkin pria yang memegang dendam besar ini, mulai merasa takut kehilangan dirinya?

"Mas Putra..." bisik Citra pelan, tangannya perlahan terangkat menyentuh dada bidang itu, tepat di tempat jantungnya berdegup kencang. "Kenapa kau marah sekali? Apakah kau marah karena merasa wilayahmu diganggu? Atau kau marah karena... ada rasa lain yang kau coba sembunyikan dariku dan dari dirimu sendiri?"

Tatapan mereka terkunci, saling menembus hingga ke jiwa masing-masing. Keheningan panjang menyelimuti teras itu, hanya terdengar suara napas yang memburu. Di saat yang sama, di dalam saku jas Putra, ponselnya bergetar berkali-kali.

Putra tersentak, seolah terbangun dari mimpi panjang. Ia mundur selangkah, menjauhkan diri, lalu mengeluarkan ponselnya. Saat ia melihat nama pengirim pesan di layar, wajahnya yang tadinya penuh gejolak, berubah menjadi pucat pasi. Matanya membelalak tak percaya, lalu berganti menjadi sorot mata yang penuh amarah, kesedihan, dan keterkejutan yang luar biasa.

"Mas... ada apa?" tanya Citra khawatir, melihat perubahan drastis itu.

Putra tidak menjawab. Tangannya gemetar memegang ponsel itu. Ia membaca pesan singkat itu berulang kali, pesan yang dikirim dari nomor yang sudah lama hilang dan dianggap mati. Pesan yang isinya mampu mengubah seluruh sejarah kebencian yang ia bangun selama bertahun-tahun.

"Putra, aku masih hidup. Ayahmu tidak dibunuh Haris Lestari. Ada bukti rekaman asli siapa pelaku sebenarnya. Datanglah sendirian ke gudang lama di pelabuhan malam ini, jika kau ingin tahu siapa musuh sesungguhanmu."

Putra mendongak menatap Citra dengan pandangan yang sulit dijelaskan, campuran antara rasa bersalah yang luar biasa dan kebingungan yang mematikan. Selama ini ia hidup untuk membalas dendam pada keluarga Lestari. Ia menikahi Citra untuk menghancurkan mereka. Namun jika pesan itu benar... jika semua yang ia yakini selama ini hanyalah kebohongan besar...

Lalu apa yang sudah ia lakukan pada wanita di hadapannya ini? Apa arti semua rasa sakit yang ia berikan? Dan yang paling mengerikan: Siapa dalang sebenarnya di balik kematian orang tuanya? Dan mengapa nama Haris Lestari dijadikan kambing hitam selama ini?

"Mas Putra? Kau membuatku takut... pesan apa itu?" tanya Citra lagi, semakin khawatir melihat air mata yang hampir jatuh dari sudut mata suaminya.

Putra mengangkat wajahnya, menatap Citra lekat-lekat seolah ingin menghafal wajah itu untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi menghadapi kebenaran yang menakutkan itu. Ia tidak tahu, apakah setelah malam ini ia akan memeluk Citra sebagai wanita yang dicintainya, atau ia akan hancur karena mengetahui bahwa ia telah menyakiti orang yang tidak bersalah seumur hidupnya.

"Aku harus pergi," ucap Putra parau, suaranya bergetar hebat. Ia berbalik dan mulai berlari menjauh, meninggalkan Citra yang berdiri bingung dan cemas di tengah dinginnya angin malam.

"Mas Putra! Tunggu! Ke mana kau mau pergi?!" teriak Citra memanggil, namun punggung tegap itu terus menjauh hingga hilang di balik kerumunan tamu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!