NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Aku buru-buru menyeka sudut mataku dengan punggung tangan begitu mendengar bunyi ding dari lift di depanku. Pintu stainless steel itu bergeser terbuka, dan duniaku rasanya makin runtuh saat melihat siapa yang ada di dalamnya.

Pak Adrian berdiri tegap di sana, dan di sampingnya ada seorang wanita cantik berblazer modis dengan rambut tertata sempurna—Ariana, sekretaris yang asli.

Aku tersentak, berusaha memaksakan senyum terbaikku meski aku tahu mataku saat ini pasti sudah memerah dan sembap.

“Eh... siang Pak Adrian. Mau makan siang di luar ya?” tanyaku dengan nada suara yang sengaja diceria-ceriakan, mencoba bersikap sesopan mungkin.

Mendengar pertanyaanku, Ariana langsung mengernyitkan alisnya yang diukir rapi. Ia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan tidak suka. “Maaf, Anda siapa ya? Dan jadwal makan siang Pak Adrian sepertinya bukan urusan Anda,” sahutnya ketus, merasa privasi bosnya diganggu oleh staf yang tidak dikenalnya.

Wajahku makin memanas karena malu. Aku baru saja hendak mundur dan bilang akan menunggu lift berikutnya, tapi suara bariton Pak Adrian langsung menginterupsi.

“Masuk,” perintah Pak Adrian tegas. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah mataku yang memerah, membuatku langsung menunduk gelisah.

Karena tidak berani membantah, aku melangkah masuk ke dalam lift dengan canggung, memilih berdiri di pojok paling belakang, dekat dengan dinding lift. Suasana di dalam lift mendadak terasa begitu sempit dan mencekam. Ariana tampak bersedekap dada sambil membuang muka, sementara Pak Adrian berdiri membelakangiku.

Tiba-tiba, lengan tegap Pak Adrian bergerak maju. Jemarinya yang panjang menekan tombol angka 3.

Ding.

Pintu lift terbuka di lantai tiga. Aroma harum masakan kantin langsung menyeruak masuk, berbaur dengan suara riuh rendah ratusan karyawan yang sedang menikmati jam istirahat mereka.

Aku masih bergeming di pojok lift, menatap lantai perak di bawah kakiku dengan pandangan kosong. Pintu lift terbuka lebar selama beberapa detik, tapi tidak ada satupun orang yang masuk maupun keluar.

Pak Adrian perlahan membalikkan tubuhnya. Sepasang alisnya bertaut tajam saat menyadari aku masih berdiri mematung di sana.

“Aruna? Kenapa tidak keluar? Bukankah ini jam makan siangmu?” tanya Pak Adrian, suaranya terdengar menuntut penjelasan.

Pertanyaan itu menjadi tetes terakhir yang meruntuhkan bendungan pertahananku. Air mata yang sejak tadi kutahan sekuat tenaga langsung luruh membasahi pipi. Bahuku berguncang hebat.

“S-saya... saya diusir, Pak,” ucapku di sela-sela tangis yang mulai pecah. Aku mendongak, menatapnya dengan mata yang basah dan merah. “Saya dipecat sama Pak Danu... h-hari ini juga saya disuruh pulang.”

Adrian tampak tertegun, matanya melebar karena syok.

“Dan... dan ini semua karena Bapak!” tangisku makin kencang, tapi aku tetap berusaha menjaga artikulasi suaraku agar tetap sopan. “Maaf, Pak Adrian... tapi kalau saja tadi Bapak tidak menarik saya masuk ke lift dan memaksa saya ikut rapat, saya tidak akan dicap sebagai pembohong! Pak Danu tidak percaya kalau saya membantu Bapak! Dia bilang saya Cuma lulusan SMA yang beruntung dan halu!”

“Heit! Jaga bicara kamu ya!” potong Ariana dengan wajah ketus dan penuh kilat amarah. Ia melangkah maju, memasang badan di depan Adrian. “Kamu itu Cuma staf biasa, tidak sopan sekali menuduh dan menyalahkan Pak Adrian seperti itu! Cara kamu mencari perhatian ini benar-benar murahan!”

Beberapa karyawan di luar lift mulai menoleh ke arah kami karena mendengar keributan. Sadar dirinya akan menjadi pusat perhatian, Pak Adrian dengan cepat mengulurkan tangan tegapnya, menekan tombol close untuk menutup pintu lift, lalu menekan tombol lobi utama.

Sret. Pintu lift menutup kembali, memutus pandangan kepo orang-orang di kantin.

“Ariana, diam! Ini juga gak bakal kejadian kalau kamu tidak telat,” perintah Pak Adrian dengan nada dingin dan mutlak yang membuat sekretarisnya itu langsung bungkam dengan wajah kesal.

Adrian kemudian berbalik menatapku sepenuhnya. “Bukankah tadi saya sudah bilang? Sampaikan pada manajermu kalau kamu terlambat karena membantu saya rapat.”

“Saya sudah bilang, Pak Adrian!” seruku frustrasi, air mataku makin deras. Aku begitu lemas hingga akhirnya terduduk jongkok di pojok lift, menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut. “Tapi Pak Danu tidak mau dengar! Dia langsung memotong omongan saya! Dia bilang mana mungkin CEO butuh bantuan admin kecil seperti saya... Saya harus cari kerja di mana lagi sekarang...”

Suaraku meredam di dalam lift yang bergerak turun. Suasana mendadak menjadi begitu sunyi, hanya menyisakan suara tangis sesenggukan dariku. Adrian menatap tubuh kecilku yang meringkuk di lantai lift dengan tatapan yang sulit diartikan ada rasa bersalah yang terkelebat di matanya.

Ding. Pintu lift lobi utama akhirnya terbuka.

Adrian melirik jam tangannya, mengingat para investor dan kolega bisnisnya sudah menunggu di restoran luar. Sebagai CEO, dia tidak bisa membatalkan janji penting itu begitu saja.

Adrian menghembuskan napas berat. “Ya sudah... kalau begitu, hari ini kamu pulang saja dulu. Tenangkan diri kamu,” ucapnya dengan suara rendah, terdengar agak tidak tega namun tetap harus tegas karena keterbatasan waktu.

Tanpa menungguku berdiri, Adrian langsung melangkah keluar dari lift dengan langkah lebar, diikuti oleh Ariana yang sempat memberikan lirik sinis terakhirnya ke arahku. Mereka berjalan cepat menembus lobi utama dan menghilang di balik pintu kaca, meninggalkanku yang masih menangis sendirian di lantai lift.

Aku keluar dari lift dengan langkah yang terasa sangat berat. Langkah kakiku menyeretku menuju meja resepsionis lobi utama. Si resepsionis yang tadi pagi tersenyum ramah padaku sekarang tampak terkejut melihat mataku yang sembab dan wajahku yang basah oleh air mata.

“Mbak Aruna? Ya ampun, ada apa? Kok nangis?” tanyanya panik.

Aku tidak menjawab. Aku Cuma meletakkan ID card bertali biru dengan logo perusahaan itu di atas mejanya dengan tangan yang masih gemetar. “Terima kasih, Kak. Saya sudah tidak bekerja di sini lagi.”

“Hah? Maksudnya gimana? Tapi Pak Adrian tadi—“

“Gapapa, Kak. Makasih ya,” potongku cepat sebelum suaraku kembali pecah. Aku tidak sanggup menjelaskan apa-apa lagi.

Aku melangkah keluar dari gedung megah itu. Udara panas Jakarta menyambut wajahku yang masih basah. Kontrakanku sebenarnya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar lima belas menit. Di tengah jalan, dengan tangan yang masih gemetar, aku mengeluarkan ponsel. Aku butuh seseorang. Aku butuh didengar.

Klik. Sambungan telepon terhubung.

“Halo? Raka?” suaraku parau, menahan isak yang masih tertahan di tenggorokan.

“Apa sih, Run? Gue lagi sibuk banget ini. Ada meeting klien. Kenapa lagi?” Suara Raka di seberang sana terdengar sangat tidak ramah. Bukan tanya apa yang terjadi, dia malah langsung menunjukkan ketidaksukaannya diganggu.

“Raka... gue... gue dipecat hari ini. Padahal ini hari pertama gue kerja,” ucapku, berharap dia setidaknya bertanya kenapa atau sekadar bilang sabar ya.

“Dipecat? Baru juga setengah hari udah dipecat? Gimana sih lo? Kerja yang bener napa, sih! Gue juga lagi pusing dikejar target, jangan nambah-nambahin masalah gue deh. Dah dulu, gue harus kerja!”

Tut.

Panggilan itu diputus sepihak. Aku berdiri mematung di pinggir trotoar yang ramai, dikelilingi orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ponsel itu masih menempel di telingaku, meski sudah tidak ada suara apa pun di sana selain dengung sunyi.

Rasanya, dunia benar-benar sedang bekerja sama untuk menghancurkan hariku. Aku merasa kecil, tidak berharga, dan benar-benar sendirian. Aku kembali melangkah, kali ini dengan kepala menunduk dalam-dalam agar orang-orang di jalan tidak melihat kalau aku sedang menangis lagi.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!