Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
BAB 1
SIMETRI YANG CACAT
Lantai 47 gedung Aratama Tower adalah sebuah kuil bagi keteraturan. Di sini, tidak ada debu yang berani hinggap, dan tidak ada suara yang lebih keras daripada detak jam dinding Patek Philippe di ruang kerja sang CEO. Bagi Adrian Aratama, hidup adalah tentang variabel yang bisa dikendalikan. Segala sesuatu yang tidak presisi adalah gangguan. Dan gangguan, dalam kamus Adrian, harus segera dimusnahkan.
Pagi itu, atmosfer di ruangan tersebut terasa lebih tipis dari biasanya. Adrian berdiri membelakangi pintu, menatap panorama Jakarta yang tertutup polusi melalui dinding kaca setinggi plafon. Tangan kanannya menggenggam tablet yang menampilkan draf akhir proyek "Green Oasis"—proyek ambisius yang ia gadang-gadang akan menjadi legacy keluarganya.
"Jelaskan padaku, Gunawan," suara Adrian rendah, nyaris berbisik, namun memiliki daya rusak yang cukup untuk membuat pria di belakangnya berkeringat dingin. "Mengapa sudut kemiringan pada atrium timur ini melenceng 0,5 derajat dari konsep awal yang aku minta?"
Gunawan, seorang arsitek senior dengan pengalaman dua dekade, berdeham cemas. "Pak Adrian, secara struktural, 0,5 derajat itu tidak akan memengaruhi stabilitas. Kami harus menyesuaikannya karena kontur tanah dan efisiensi pencahayaan alami—"
Adrian berbalik perlahan. Matanya yang tajam seperti elang menatap Gunawan tanpa kedip. Wajah Adrian adalah perpaduan antara pahatan maskulin yang sempurna dan kedinginan es kutub. Baginya, kompromi adalah bahasa orang-orang yang malas.
"0,5 derajat bagi Anda mungkin hanya angka kecil," Adrian melangkah mendekat, sepatu kulit custom-made miliknya berdentum di lantai marmer. "Tapi bagiku, itu adalah cacat. Jika aku ingin membangun gedung yang 'hampir' sempurna, aku tidak akan menyewa konsultan mahal. Aku bisa menyewa mahasiswa tingkat dua."
"Tapi Pak—"
"Cukup." Adrian mengangkat satu tangan, memotong kalimat Gunawan dengan mutlak. "Anda dipecat. Tim Anda punya waktu dua jam untuk mengemasi barang-barang. Sekretarisku akan mengurus sisa pembayaran kontrak kalian. Keluar."
Gunawan mematung. "Hanya karena 0,5 derajat? Pak Adrian, kami sudah bekerja untuk keluarga Anda selama sepuluh tahun!"
Adrian kembali ke meja kerjanya yang bersih dari kertas satu lembar pun. Ia duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura otoritas yang menindas. "Waktu tidak menjamin kualitas, Gunawan. Hanya hasil yang bicara. Dan hari ini, Anda gagal bicara."
Setelah pintu tertutup dengan dentuman keras yang sedikit menggetarkan ruangan, Adrian mengembuskan napas panjang. Ia memijat pangkal hidungnya. Proyek "Green Oasis" adalah pertaruhan besar. Ia ingin membangun sebuah ekosistem mandiri di tengah beton Jakarta, sebuah gedung yang mampu bernapas sendiri. Namun, setiap arsitek yang ia temui tampaknya terlalu terikat pada aturan lama atau terlalu lemah untuk mengeksekusi visinya yang radikal.
Adrian adalah pria yang tidak percaya pada keajaiban. Baginya, dunia ini digerakkan oleh logika, angka, dan hukum fisika. Tuhan, menurutnya, hanyalah sebuah konsep yang diciptakan manusia untuk mengisi celah ketakutan mereka akan ketidakpastian. Dan Adrian? Dia tidak takut pada ketidakpastian; dia mengeliminasinya.
Pintu ruangannya kembali terbuka setelah ketukan singkat. Sarah, sekretaris pribadinya yang sangat efisien, masuk dengan langkah cepat.
"Pak, pemecatan tim Gunawan akan menjadi berita hangat di kalangan kontraktor. Kita butuh pengganti secepatnya," lapor Sarah tanpa basa-basi.
"Aku sudah tahu. Cari seseorang yang belum tercemar oleh cara berpikir birokrasi lama. Cari seseorang yang punya 'jiwa' dalam desainnya, tapi tetap presisi," jawab Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
Sarah ragu sejenak. "Sebenarnya, ada satu portofolio anonim yang masuk melalui platform Inno-Arch minggu lalu. Desainnya... sangat berbeda. Sangat organik, namun perhitungan strukturalnya lebih akurat daripada yang pernah saya lihat. Saya sudah memverifikasi data teknisnya secara internal."
Adrian mengangkat alis. "Anonim?"
"Ya. Sang desainer menggunakan kode 'A.A'. Semua dokumen legalitasnya lengkap di balik sistem enkripsi, tapi mereka hanya akan mengungkapkan identitas jika draf awal mereka disetujui untuk presentasi tahap dua."
Adrian biasanya membenci kerahasiaan seperti ini. Baginya, transparansi adalah kunci bisnis. Namun, ia merasa penasaran. Ia mengklik tautan yang dikirim Sarah ke layarnya.
Seketika, sebuah model 3D muncul di layar besar di dinding ruangan. Adrian terdiam. Itu bukan sekadar gedung. Itu adalah simfoni antara baja, kaca, dan air. Desain itu memanfaatkan arah angin sedemikian rupa sehingga pendingin ruangan mekanis nyaris tidak diperlukan. Dan yang paling penting: setiap sudut, setiap garis, setiap titik koordinat berada dalam harmoni matematis yang sempurna. Tidak ada 0,5 derajat yang melenceng. Semuanya presisi.
"Jadwalkan pertemuan," perintah Adrian, matanya berkilat untuk pertama kalinya hari itu. "Besok pagi jam sembilan. Aku ingin bertemu dengan 'A.A' ini."
"Baik, Pak. Tapi ada satu catatan di email mereka," tambah Sarah.
"Apa?"
"Mereka meminta ruangan yang privat dan tidak ada dokumentasi visual selama pertemuan pertama."
Adrian mendengus remeh. "Artis memang selalu penuh drama. Turuti saja. Aku tidak butuh wajahnya, aku butuh otaknya."
Malam itu, Adrian pulang ke apartemen penthouse-nya yang luas. Ruangan itu tampak seperti galeri seni modern—monokrom, minimalis, dan sunyi. Ia menuang segelas wiski mahal, menyesapnya perlahan sambil menatap hujan yang mulai membasahi kaca jendela.
Ia sering bertanya-tanya, di tengah semua pencapaian materi ini, mengapa ada rasa kosong yang menganga di dadanya? Ibunya sering mengatakan itu karena ia telah membuang "iman", namun Adrian hanya akan tertawa sinis. Iman tidak membangun gedung pencakar langit. Iman tidak memenangkan tender miliaran dolar. Baginya, rasa kosong itu hanyalah tanda bahwa ia belum mencapai puncak kesempurnaan.
Ia melihat kembali desain dari 'A.A' di ponselnya. Ada sesuatu yang aneh dalam desain itu. Meski sangat matematis, ada kehangatan yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah-olah sang arsitek sedang mencoba berkomunikasi dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar beton.
"Kita lihat saja besok," gumam Adrian pada kegelapan. "Apakah kau benar-benar hebat, atau hanya pandai bersembunyi di balik anonimitasmu."
Adrian meletakkan gelasnya. Ia mematikan lampu dengan satu sentuhan di panel kontrol samping tempat tidurnya. Kegelapan total menyelimuti. Di dunia Adrian, cahaya dan gelap hanyalah masalah sakelar. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa jam ke depan, ia akan bertemu dengan seseorang yang hidupnya dipandu oleh cahaya yang tidak bisa ia lihat, dan seseorang yang akan meruntuhkan seluruh dinding logika yang telah ia bangun dengan susah payah selama tiga puluh dua tahun hidupnya.
Besok, pertemuan itu tidak hanya akan membahas tentang "Green Oasis". Besok akan menjadi awal dari runtuhnya kekaisaran skeptisisme Adrian Aratama. Dan di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tidak pernah tidur, takdir sedang menyusun sebuah pertemuan yang presisi—bahkan lebih presisi daripada 0,5 derajat kemiringan sebuah atrium.
Adrian memejamkan mata, membiarkan kantuk membawanya ke dalam mimpi tentang garis-garis simetris, tanpa menyadari bahwa hidup yang simetris itu akan segera berbenturan dengan keberadaan yang paling misterius yang pernah ia temui.