NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata yang Mengawasi

Laras meremas kertas itu, matanya berkaca-kaca. Tawaran Julian adalah sebuah harapan, namun juga sebuah risiko maut. Jika Elang tahu ia mencoba melakukan pertemuan rahasia, Elang mungkin akan segera menerbangkannya kembali ke Jakarta dan mengurungnya di ruang bawah tanah selamanya.

​"Nona Laras? Anda baik-baik saja di dalam?" suara Amy mengetuk pintu bilik, terdengar curiga.

​Laras tersentak. Ia melirik kanan kirinya lalu segera memasukkan kertas itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan paksa hingga hancur, dan menelannya. Rasa pahit tinta dan kertas kering memenuhi kerongkongannya, namun itu adalah satu-satunya cara untuk melenyapkan bukti.

​"Iya, Amy. Aku hanya sedikit pusing," jawab Laras sambil menekan tombol flush untuk menyamarkan suaranya.

​Laras keluar dari bilik dengan wajah yang sedikit pucat. Amy menatapnya dengan selidik, matanya memindai pakaian Laras mencari sesuatu yang aneh. "Wajah Anda sangat pucat. Saya harus melaporkan ini pada Tuan Elang. Mungkin Anda butuh asupan vitamin tambahan."

Laras membasuh wajahnya dengan air dari wastafel, berkumur kumur demi menghilangkan rasa pahit tinta dan rasa kering yang melanda kerongkongan karena memaksa secarik kertas masuk ke dalam tubuhnya.

​"Jangan, Amy. Aku hanya lelah. Jangan buat Elang cemas dan akhirnya membatalkan pementasanku," mohon Laras sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang diberikan Amy.

​Amy diam sejenak, lalu mengangguk. "Mari kita pulang."

​***

​Di Jakarta, malam itu Elang tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi oleh layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari apartemen Laras di Sydney dan laporan GPS dari perangkat Amy.

​Ia melihat rekaman latihan siang tadi. Ia melihat Julian yang mendekati Laras. Ia melihat bagaimana Julian menyentuh jemari Laras. Elang memicingkan mata. Meskipun tidak ada suara, Elang bisa merasakan ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh kurator sombong itu.

​Sakit kepalanya kembali menyerang. Ia meraih ponselnya dan menelepon Amy.

​"Laras sedang apa?" tanya Elang tanpa basa-basi begitu Amy menjawab teleponnya.

​"Nona Laras sedang tidur, Tuan. Dia tampak sangat lelah setelah latihan tadi," jawab Amy dari seberang laut. Suaranya parau. Dering teleponnya telah membuat Amy tersadar dari mimpi singkat.

​"Apakah ada yang mendekatinya selain Julian?"

​"Tidak ada, Tuan. Namun Julian sempat memberikan beberapa instruksi yang menurut saya agak terlalu... personal."

​Elang meremas gelas wiskinya. "Awasi Julian. Jika dia mencoba membawa Laras keluar dari area penglihatanmu, meski hanya sedetik, gunakan protokol tingkat dua. Aku tidak ingin ada 'kecelakaan' komunikasi di sana."

​"Dimengerti, Tuan."

Amy meletakkan HP nya dan melirik kamar Laras sekilas. Memastikan Laras masih disana.

​Setelah telepon ditutup, Elang menatap foto Laras yang menjadi wallpaper ponselnya. "Sydney hanyalah panggung, Laras. Jangan pernah berpikir itu adalah pintu keluar. Karena ke mana pun kamu berlari, aku adalah langit yang menaungimu. Dan langit tidak pernah membiarkan burungnya terbang terlalu jauh."

​Di Sydney, di balik selimut sutranya, Laras terjaga. Ia memikirkan rasa pahit kertas yang baru saja ia telan. Besok pagi pukul delapan adalah taruhan nyawanya. Antara tetap menjadi tunangan Sang Elang yang patuh, atau mencoba mencuri satu detik kebebasan bersama Julian. Ketakutan dan harapan berperang di dalam dirinya, menciptakan badai yang lebih hebat daripada ombak di pelabuhan Sydney di luar sana.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!