"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
♦♦
"Galvin, bangun. Udah waktu subuh, shalat dulu."
Khaira membangunkan Galvin dengan suara pelan, tanpa menyentuhnya.
Dia belum berani melakukan itu, walaupun sudah jelas bahwa saat ini mereka sudah sah untuk bersentuhan.
"Sebentar lagi. Masih ngantuk," gumam Galvin, dengan suaranya yang berat, khas orang yang baru bangun dari tidurnya.
"Nanti boleh lanjut lagi tidurnya. Sekarang shalat dulu, ya?" Khaira kembali membujuk dengan suara yang terdengar lembut.
"Duluan aja," balas Galvin kembali.
Kedua bola matanya masih terpejam sempurna, dia benar-benar enggan untuk membuka mata.
"Aku udah. Giliran kamu."
Khaira memang sudah lebih dulu melaksakan shalat. Bahkan dia juga baru selesai membaca Al-Qur'an.
Setelah beberapa saat Khaira berusaha untuk membangunkan Galvin, akhirnya Galvin mendengarkannya untuk bangun, walaupun dengan sedikit terpaksa, karena rasa kantuknya.
"Semalam tidur pake cadar?" tanya Galvin.
Dia menyadari saat Khaira membangunkaninya tadi, Khaira sudah menggunakan cadar.
"Hm." Khaira menjawab dengan sebuah gumaman.
Selama Galvin melaksanakan shalat subuh, Khaira memilih untuk melanjutkan bacaan qur'an-nya, tentu saja dengan suara yang pelan, sehingga tidak mengganggu kekhusyuan Galvin dalam shalat.
Dia baru berhenti membaca Al-Qur'an, bersamaan dengan Galvin yang selesai shalat.
"Bisa napas?" tanya Galvin kembali, sambil melipat sejadah yang baru saja dia gunakan untuk menunaikan shalat subuh.
"Bisa," jawab Khaira.
Setelah menyimpan sejadah itu di atas nakas, Galvin melangkah pelan ke arah sofa, di mana Khaira juga duduk di sana.
Dia duduk di samping Khaira, dengan jarak yang masih tersisa di antara mereka.
"Cadar tidak mempersulit seseorang untuk bernapas," ucap Khaira, sambil tersenyum tipis.
Dia sedikit terhibur oleh pertanyaan Galvin yang menurutnya lucu.
"Kalau lagi di kamar gak perlu pake cadar. Gak masalah juga kalau cuma gue yang liat, kan?" tanya Galvin, tanpa melihat ke arah Khaira.
Dia memilih untuk menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa, dengan kedua tangannya yang dilipat di depan dada.
"Iya, ga masalah kalau kamu liat, karena kamu suami aku," jawab Khaira, tanpa menoleh menatap Galvin.
Mereka berbicara tanpa saling pandang satu sama lain. Mereka sudah terbiasa berbicara seperti itu, mengingat bahwa mereka adalah sepasang sekretaris dan ketua osis yang tentu saja sering berdiskusi perihal kegiatan sekolah.
"Terus kenapa masih dipake?" Galvin kembali bertanya.
Khaira menundukkan kepalanya dengan pelan. "Aku cuma malu, karena belum terbiasa."
"Biasakan."
"Biasakan? Biasakan apa makudnya?" tanya Khaira, langsung menoleh menatap Galvin yang masih bersandar nyaman.
Galvin langsung membalas tatapan Khaira.
"Biasakan ga pakai cadar pas lagi di kamar," jawab Galvin dengan tenang.
"Itu perintah atau saran?" tanya Khaira, dia hanya ingin memastikan.
Galvin mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"
"Jawab dulu, itu perintah atau saran?" Khaira kembali bertanya, dengan sedikit mendesak.
"Saran."
"Oh." Khaira mengangguk paham. "Makasih sarannya, tapi saran itu ga bisa aku lakuin sekarang."
Khaira kembali mengalihkan pandangannya, tidak lagi menatap Galvin.
Sementara itu, Galvin mencoba memahami maksud dari jawaban yang baru saja Khaira katakan.
"Kalau itu perintah?"
Pertanyaan itu terlintas begitu saja di pikiran Galvin.
Khaira diam. Dia tidak langsung menjawab.
Wajahnya yang semula menunduk, kini terangkat kembali, menoleh menatap Galvin.
Tidak hanya wajahnya saja, bahkan tubuhnya ikut menghadap ke arah Galvin.
Galvin menatap Khaira dengan penuh tanda tanya. Dari gestur Khaira yang seperti itu, dia bisa mengetahui bahwa Khaira akan mengatakan hal yang serius.
"Kalau itu perintah, aku bakal lakuin perintah itu sekarang juga. Karena kamu suami aku, jadi udah jadi kewajiban aku buat patuh sama kamu, selagi itu benar," jelas Khaira.
Galvin masih diam, menunggu Khaira selesai bicara.
"Melihat wajah aku adalah hak kamu. Jadi aku akan melakukannya jika kamu mau," sambung Khaira kembali.
"Pernikahan ini bukan karena keinginan kita. Jadi ga perlu saling menuntut hak dan kewajiban," tutur Galvin, berbicara tentang dan serius.
"Aku tidak menuntut hak dan kewajiban. Tidak ada juga redaksi aku yang mengatakan hal itu," ungkap Khaira, protes dengan pernyataan Galvin yang ternyata sudah salah paham padanya.
"Terus kenapa lo bersedia saat gue perintahkan lo buka cadar?" Galvin menatap Khaira semakin dalam.
Khaira menghembuskan napasnya dengan pelan, sebelum dia menjelaskan.
"Bukankah dalam pernikahan ada aturan? Jika bisa, aku akan memenuhi kewajiban yang memang bisa aku lakuin sekarang sebagai istri. Salah satunya mematuhi kamu sebagai suami,"jelasnya.
Dia menerima pernikahan itu karena tidak ingin melanggar perintah Allah, di mana tinggal bersama orang yang bukan mahram adalah hal yang Allah larang.
Diana yang sekarang menjadi ibu mertua Khaira, terus memaksa Khaira untuk tinggal di rumah mereka.
Awalnya tentu saja Khaira menolak, karena dia tidak mungkin tinggal bersama Diana yang memiliki suami dan anak laki-laki.
Namun tanpa Khaira duga, Diana malah memintanya untuk menikah dengan anaknya.
Di mana saat itu, Khaira sama sekali tidak tahu siapa anak Diana.
Sampai akhirnya mereka dipertemukan dan ternyata anaknya itu adalah Galvin—orang yang Khaira kenal sebagai fatner dalam organisasi.
"Ekhm!" gumam Galvin dengan pelan.
Entah apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Tiba-tiba saja dia tidak tahu harus mengatakan apa, setelah mendengar penjelasan Khaira.
Apalagi Khaira menatapnya dalam waktu yang cukup lama.
Ini hal yang baru untuknya, karena dia tahu bahwa selama ini Khaira selalu menjaga pandangnya. Khaira tidak pernah menatap lawan jenis selama itu.
"Kamu kenapa?" tanya Khaira, sambil menatap Galvin dengan tatapan bingung.
Galvin tidak menjawab. Dia hanya menggeleng pelan.
"Jadi gimana?" tanya Khaira, yang ternyata masih membahas perihal saran atau perintah yang sebelumnya dia tanyakan.
"Jangan dibuka. Itu bukan perintah," jawab Galvin dengan cepat.
Khaira tersenyum tipis di balik cadarnya. Dia senang mendengar hal itu, karena faktanya, dia juga belum siap untuk menunjukkan wajahnya di hadapan Galvin.
…
Beberapa detik setelah itu, Khaira tersenyum kembali. Tiba-tiba saja dia berpikir untuk melakukan sesuatu.
"Kamu ga penasaran gimana wajah aku?" tanyanya tiba-tiba.
Galvin sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Dia tidak berpikir bahwa Khaira akan seberani itu untuk bertanya.
"Yakin, ga penasaran?" tanya Khaira kembali, karena Galvin masih diam.
"Ga, Khaira."
"Beneran? Ga ada rasa penasaran sedikit, pun?" tanya Khaira lagi, dan itu terdengar seperti sebuah tantangan untuk Galvin.
"Mau gue minta buka sekarang?" tanya Galvin yang sudah hilang kesabaran.
Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia juga menggeser posisi duduknya, menjadi sedikit lebih jauh dari posisi sebelumnya.
Galvin tersenyum samar, saat melihat Khaira yang panik karenanya.
"B-bukannya kamu masih ngantuk? Tidur lagi aja. Nanti aku bangunin kamu pas sarapan."
"Udah ga ngantuk."
"O-oh!" Khaira berbicara dengan gugup.
"Terkait rapat besok—"
"Bukan waktunya bahas organisasi."
Khaira langsung memejamkan kedua matanya, sambil mengulum bibirnya di balik cadar.
Niatnya untuk mengalihkan topik pembicaraan langsung digagalkan begitu saja oleh Galvin.
"Untung saja hari ini kalian masih libur sekolah. Jadi ada waktu buat istirahat."
Saat ini, Khaira dan Galvin sudah berkumpul di lantai bawah hotel untuk menyantap sarapan bersama kedua orang tua Galvin, dan tentunya sudah menjadi orang tua Khaira juga.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk menyantap sarapan itu. Hingga kini mereka sudah selesai dan memutuskan untuk berbincang.
Resepsi semalam membuat mereka semua kelelahan, sehingga tidak ada waktu untuk saling mengobrol.
Maka pagi ini mereka menyempatkan waktu untuk mengobrol bersama.
"Gimana istirahatnya?" tanya Diana kepada anak dan menantunya.
"Alhamdulillah, kita bisa beristirahat dengan baik." Khaira memutuskan untuk menjawab, karena Galvin tidak kunjung berbicara.
"Syukurlah kalau gitu." Diana senang mendengarnya.
"Nanti pas sampai rumah, minta bibi buat pindahin barang-barang kamu ke kamar Galvin," ucapnya lagi.
"Kita mau pisah kamar," pungkas Galvin.
"Loh, kenapa?" tanya Hadi, selaku ayah kandung Galvin.
"Ayah pasti paham." Galvin hanya memberikan jawaban itu.
Hadi dan Diana saling pandang. Tampak rasa khawatir dari raut wajah yang mereka tunjukkan.
"Tujuan awal pernikahan ini, supaya bunda bisa jaga Khaira dan selalu memastikan dia baik-baik saja. Setidaknya, dia udah tinggal di rumah kita. Jadi itu udah cukup memastikan dia aman," jelas Galvin.
"Kenapa kamu bicara seperti itu di hadapan Khaira?" tegur Diana.
Tentu saja dia merasa bersalah atas ucapan Galvin. Bagaimana jika Khaira tersinggung dengan ucapan anaknya itu?
Begitulah pikir Diana.
"Kita sudah bahas ini sebelumnya. Keputusan ini atas kesepakatan kita berdua." Khaira ikut menjelaskan.
"Kamu juga setuju?" tanya Hadi kepada Khaira.
Khaira langsung mengangguk. "Iya, Ayah."
"Baiklah, kalau itu memang kesepakatan kalian. Ayah sama bunda setuju. Dengan begini, kalian bisa fokus pada sekolah kalian," ucap Hadi, dan langsung mendapat anggukkan dari Diana.
"Oh, ya. Ada yang mau kita sampaikan sama kamu," ucap Khaira langsung menggeleng.
"Bukan gitu maksudnya."
"Terus?"
"Aneh aja ga pernah ketemu," ungkap Khaira, jujur.
"Tempat itu luas. Lo ga mungkin bisa ngenalin satu per satu orang yang berkunjung ke sana," jelas Galvin.
Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel untuk menatap Khaira.
"Iya juga." Khaira mengangguk setuju.
Perpustakaan Galaksi adalah perpustakaan sekaligus toko buku besar yang dimiliki oleh keluarga Galvin. Semua buku tersedia di sana.
Bahkan, buku yang sulit sekali dicari sekali pun, kemungkinan besar ada di sana.
Perpustakaan itu sangat terkenal, tetapi tidak sembarang orang bisa datang ke tempat itu. Orang yang datang ke sana harus memiliki identitas dan tujuan jelas yang menjadi alasan mereka berkunjung ke sana.
"Gue masih ngantuk." Galvin meletakkan ponselnya di atas nakas, tepat di samping tempat tidurnya.
"Yaudah tidur aja. Mau dibangunin kapan?" tanya Khaira yang masih duduk santai di sofa, dengan sebuah buku di tangannya.
"Nanti siang," jawab Galvin.
"Waktu Dzuhur, ya?"
"Iya, Khaira."
Khaira tersenyum. Dia tidak bertanya lagi dan akhirnya membiarkan Galvin untuk beristirahat dengan tenang.