Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Sumpah Palsu di Apron Halim
Terbangun saat fajar mulai mengintip dari celah gorden, kepala Bela serasa dihantam godam. Ia mengerang, mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang tajam dan berdenyut di area selangkangannya seketika membuatnya memekik tertahan. Rasanya panas dan perih, sebuah pengingat fisik yang brutal tentang bagaimana tubuhnya dihantam tanpa ampun semalam.
Ia meraba sisi kasur yang sudah dingin. Kosong. Pria semalam sudah hilang, meninggalkan jejak kekacauan di atas sprei. Mata Bela tertuju pada satu titik yang membuatnya membeku: bercak darah merah pekat yang telah mengering, mengotori sprei putih mewah itu.
Hatinya seolah dihantam martil bertubi-tubi. Meski matanya kering karena syok, jiwanya sudah melolong histeris. Ia tidak menyangka "malam pelepasan" yang direncanakan teman-temannya akan berakhir dengan perampasan paksa mahkotanya oleh orang asing.
"Brengsek..." desisnya serak. Tenggorokannya perih, sementara bagian bawah tubuhnya terasa kaku dan linu setiap kali ia mencoba bergeser.
Bela memaksa dirinya turun dari ranjang. Kakinya gemetar hebat, hampir tak sanggup menumpu berat badannya sendiri. Rasa perih di selangkangannya semakin menjadi saat ia melangkah, membuatnya harus berjalan tertatih menuju gaunnya yang terserak di lantai. Baru saja ia hendak memungut pakaiannya, sebuah suara menghantam pintu kamar dengan keras.
**BRAK! BRAK! BRAK!**
"Woi! Keluar!" sebuah suara berat membentak dari balik pintu.
Bela tersentak, rasa takut seketika mengalahkan rasa sakit fisiknya. "S-siapa?!"
"Nggak usah banyak tanya! Pakai baju lo sekarang atau gue seret telanjang!"
Panik menyerang. Dengan tangan gemetar dan tubuh yang masih linu, Bela mengenakan pakaiannya secara serampangan. Begitu ia berdiri, pintu kamar didobrak terbuka oleh dua pria bertubuh tegap berpakaian hitam. Tanpa belas kasihan, salah satu dari mereka merenggut lengan Bela.
"Sakit! Lepasin!" jerit Bela, namun ia diseret paksa melewati lorong rumah mewah itu, lalu didorong keluar hingga tersungkur di atas aspal jalanan di depan gerbang.
**BRAK!**
Pagar besi dikunci. Bela meringis, lututnya lecet, menambah rasa perih yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya. Ia menatap mobil dinas dengan plat biru khas TNI AU yang melaju pergi, meninggalkan dirinya yang hancur berkeping-keping.
Sementara itu, di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, suasana kontras tercipta. Raungan mesin jet tempur F-16 membelah langit biru, melakukan formasi *flypast* rendah yang menggetarkan aspal apron. Ratusan prajurit berbaju biru langit berdiri mematung dalam barisan presisi, ujung bayonet mereka berkilat ditimpa matahari pagi yang mulai menyengat.
Di tengah lapangan, Mayor Pnb Raka Aditya berdiri sebagai pusat gravitasi. Mengenakan Pakaian Dinas Upacara (PDU) lengkap dengan medali-medali jasa yang berderet di dada kiri, Raka tampak seperti pahlawan tanpa celah. Namun, di balik sikap tegapnya, Raka sedang bertarung dengan tubuhnya sendiri. Setiap kali ia melakukan gerakan "Hadap Kanan" yang tegas, otot paha dan pinggangnya terasa seperti ditarik paksa. Sendi-sendinya kaku, sisa dari pertempuran ranjang yang terlalu liar semalam.
Keringat dingin mulai merembes di balik kemeja putihnya yang tertutup jas biru tua. Kepalanya sedikit pening, dan rasa pegal di pinggangnya membuat setiap detak jantungnya terasa berat. Ia sebenarnya tidak dalam kondisi fit untuk upacara sepenting ini, namun kehormatan militer menuntutnya tetap tegak bak karang.
"Upacara Serah Terima Jabatan Komandan Skadron Udara, dimulai!" suara instruktur upacara menggema melalui pengeras suara, disusul oleh dentuman meriam kehormatan yang menggetarkan dada.
Raka melangkah maju menuju tengah lapangan. Langkah kakinya yang biasanya ringan dan mantap kini terasa berat, setiap hentakan sepatunya ke aspal memberikan sensasi linu di pangkal paha. Di hadapannya, Marsekal Pertama Prasetyo—sang ayah sekaligus Jenderal bintang satu—berdiri dengan tatapan dingin namun penuh kebanggaan.
Saat prosesi pelepasan dan penyematan tanda jabatan berlangsung, tangan Raka sedikit gemetar ketika melakukan hormat senjata. Ia harus mengerahkan seluruh sisa fokusnya agar tidak goyah di depan ratusan pasang mata. Jenderal Prasetyo menyematkan tanda jabatan di dada Raka, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar mereka berdua.
"Tegakkan punggungmu, Raka. Jangan permalukan baret birumu," bisik sang Jenderal, seolah menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi fisik putranya.
"Siap! Laksanakan, Jenderal!" sahut Raka dengan suara bariton yang sengaja dikeraskan untuk menutupi kelelahannya.
Begitu upacara selesai dengan parade pasukan yang memukau, Raka melangkah tertatih menuju tenda VIP, berusaha menjaga langkahnya agar tidak tampak pincang. Di sana, Dika, adiknya yang berpangkat Ipda, sudah menunggunya dengan senyum penuh arti.
"Selamat, Bang. Tapi kok muka lu pucat banget? Semalam lembur patroli atau 'patroli' lain?" bisik Dika nakal sambil memberikan hormat. Raka hanya membalas dengan tatapan tajam yang mematikan, menahan rasa sakit di punggungnya.
Perhatian segera beralih saat keluarga Melani mendekat. Melani tampil begitu anggun dengan kebaya modern, memancarkan aura wanita berkelas yang cerdas.
"Selamat atas jabatan barunya, Mayor Raka. Gue melani," ujar Melani sekaligus perkenalan diri singkat. Dia mengulurkan tangan dengan senyum profesional yang sempurna
Raka menjabat tangan Melani. Kontras sekali! wanita di depannya adalah tunangan yang sempurna secara status, namun pikirannya justru melayang pada wanita asing yang semalam merintih di bawah kuasanya, menyisakan noda merah di sprei yang kini menghantui benak Raka di tengah kemegahan pelantikannya.
Raka menyadari, di balik pangkat yang baru saja ia sandang, ia telah menanam sebuah rahasia gelap yang jauh lebih berat daripada beban jabatan mana pun. Malam itu bukan hanya tentang pelepasan nafsu, tapi awal dari kehancuran yang ia bungkus rapi dengan seragam biru kebanggaannya.