Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Sari Mulai Luluh
Pagi itu, suasana di Wisma Lavender terasa ganjil, seolah ada instrumen penting yang mendadak hilang dari simfoni harian mereka. Biasanya, suara denting sendok Sari yang sedang mengaduk sereal sambil bergumam menghafal istilah anatomi atau membaca jurnal medis terbaru sudah terdengar sejak pukul enam pagi di dapur. Sari adalah jam weker berjalan bagi penghuni lantai bawah; jika ia sudah turun, berarti hari resmi dimulai. Namun, hingga jarum jam menunjukkan angka delapan, pintu kayu jati kamar nomor 04 itu tetap tertutup rapat, tanpa ada tanda-tanda kehidupan di baliknya.
Ziva yang kebetulan lewat untuk mengambil air minum sempat mengetuk pintu itu dengan ragu, namun tidak ada jawaban tegas seperti biasanya. Yang terdengar hanyalah erangan lemah dan suara batuk kecil yang tertahan, terdengar sangat tidak bersemangat dan jauh dari kesan Sari yang selalu sigap dan otoriter.
Kabar bahwa "Si Dokter Galak" jatuh sakit menyebar dengan kecepatan cahaya di antara penghuni kos melalui grup WhatsApp. Sari, yang biasanya menjadi tumpuan medis darurat, tempat bertanya soal dosis parasetamol, atau orang pertama yang mengomel jika ada yang nekat makan mi instan tiga kali sehari, kini justru yang terkapar tak berdaya. Badannya panas tinggi, wajahnya pucat, dan ia bahkan tidak sanggup untuk sekadar turun tangga mencari asupan makanan.
"Dia harus makan sesuatu yang hangat dan lembut, Arka. Perutnya kosong sejak semalam dan asam lambungnya bisa naik kalau tidak segera diisi," ujar Dira dengan wajah cemas yang tidak bisa disembunyikan saat mereka berkumpul di dapur lantai bawah, melakukan rapat darurat kecil-kecilan.
Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sedikit canggung berada di tengah kepanikan para gadis. "Ya sudah, kenapa repot? Gue beli bubur ayam di depan kompleks saja yang biasanya mangkal itu, kan beres dalam lima menit?"
"Masalahnya, Arka, bubur di depan itu pakai kaldu instan yang banyak MSG-nya, belum lagi kerupuknya yang digoreng pakai minyak entah berapa kali pakai. Sari itu sangat rewel, bahkan bisa dibilang ekstrem soal nutrisi kalau lagi sakit. Dia pasti menolak mentah-mentah," sahut Dira sambil membuka kulkas dengan gusar, mencari bahan yang bisa diselamatkan. "Stok beras kita masih ada. Tapi tanganku lagi alergi detergen parah, perih banget kalau kena air terus. Gendis? Dia sedang ada pemotretan outdoor sejak subuh. Ziva? Yah, kita semua tahu Ziva bisa membakar dapur atau setidaknya membuat nasi menjadi arang kalau disuruh menyalakan kompor tanpa pengawasan."
Pandangan Dira beralih dengan tajam dan penuh selidik ke arah Arka yang sedang bersandar di pintu. Arka mundur selangkah, insting bertahannya menyala hebat; ia sudah bisa menebak dengan sangat akurat ke mana arah pembicaraan ini akan berakhir.
"Enggak, Dira. Jangan lihat gue kayak gitu. Aku ini mekanik, tangan gue penuh oli dan baut, bukan koki bintang lima. Aku tahu cara ganti oli dan setel klep, bukan cara bikin nasi jadi lembek bin estetik," tolak Arka cepat dengan lambaian tangan tanda menyerah.
"Arka, ini adalah misi kemanusiaan tingkat tinggi. Aku yang akan bertindak sebagai bimbingan teknis, kamu yang melakukan eksekusi fisiknya. Ayo, ini demi Sari. Anggap saja ini sebagai bentuk diplomasi atau permintaan maaf karena kamu sering banget memanaskan mesin motor yang berisik itu tepat di depan jendela kamarnya setiap pagi," bujuk Dira dengan nada yang sangat persuasif, perpaduan antara perintah dan permohonan yang sulit ditolak pria mana pun.
Maka dengan berat hati, dimulailah "Operasi Bubur Darurat" di dapur Wisma Lavender. Arka berdiri di depan panci stainless steel dengan spatula kayu di tangan, tampak seperti gladiator yang salah masuk arena dan terpaksa bertarung melawan karbohidrat. Di bawah komando Dira yang duduk manis di kursi makan dengan tangan yang diperban kain tipis, Arka mulai mencuci beras.
"Jangan cuma sekali bilasnya, Arka! Sampai airnya agak bening, jangan sampai ada kutu atau kotoran yang tersisa!" teriak Dira saat melihat Arka melakukan pekerjaan itu dengan gaya "koboi" alias asal-asalan.
"Ini beras atau per klep motor, sih? Harus presisi dan steril banget?" gumam Arka pelan agar tidak terdengar, namun ia tetap menurut dan membilas beras itu untuk ketiga kalinya hingga Dira memberikan jempol tanda setuju.
Selama hampir satu jam berikutnya, Arka dipaksa berdiri tegak di depan kompor yang menyebarkan hawa panas. Dira bersikeras dengan teori kulinernya bahwa bubur yang enak dan bertekstur sempurna harus terus diaduk tanpa henti agar bagian bawahnya tidak gosong dan bulir berasnya pecah dengan lembut merata. Keringat mulai bercucuran di dahi Arka, membasahi kaus oblongnya. Ternyata, menjaga konsistensi bubur dan suhu api jauh lebih melelahkan secara mental daripada membongkar karburator tua yang berkarat.
"Masukkan jahenya sekarang. Geprek dulu sampai aromanya keluar, jangan dipotong dadu apalagi cuma diiris tipis!" instruksi Dira lagi dengan nada ala juri lomba masak.
Arka memukul jahe itu dengan tenaga yang agak berlebihan, melampiaskan sedikit rasa frustrasinya, hingga terdengar bunyi brak! yang cukup keras di atas talenan kayu. "Begini? Sudah cukup geprek atau perlu gue giling pakai ban motor?"
Dira tertawa kecil, suara tawanya memecah ketegangan di dapur melihat Arka yang biasanya gagah dan cuek kini tampak sangat serius, bahkan cenderung tegang, menghadapi sepanci beras yang mulai mengental dan meletup-letup pelan. "Ya, masukkan saja. Sekarang tambahkan sedikit garam dan kaldu jamur organik di rak atas. Ingat, sedikit saja, Sari itu lidahnya sensitif, dia sangat benci rasa asin yang berlebihan."
Setelah perjuangan panjang yang menguras kesabaran, bubur itu akhirnya matang. Aromanya sangat harum dan menenangkan—perpaduan antara jahe segar yang hangat, sedikit sentuhan minyak wijen, dan kaldu alami yang gurih. Arka menatap hasil karyanya dengan rasa bangga yang tidak terduga, jauh lebih bangga daripada saat ia berhasil menghidupkan mesin motor yang sudah mati setahun. Bubur itu terlihat putih bersih, memiliki tekstur yang lembut, dan tampak sangat menggoda selera.
"Nah, sekarang tugas terakhir dan paling krusial. Antarkan ke kamarnya selagi hangat. Aku harus segera lari ke kampus, ada janji bimbingan skripsi yang sudah tertunda dua kali," ujar Dira sambil membereskan tasnya dengan terburu-buru, meninggalkan Arka yang tiba-tiba merasa dadanya berdegup kencang karena gugup.
Dengan nampan kayu di tangan berisi semangkuk bubur mengepul, segelas air putih hangat, dan dua butir obat penurun panas, Arka berdiri kaku di depan pintu kamar Sari yang tertutup. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum mengetuk pelan dengan buku jarinya.
"Sari? Ini Arka. Gue bawa makanan," ucapnya lirih, mencoba menjaga agar suaranya tidak terdengar seperti sedang menagih utang.
Tidak ada jawaban verbal yang jelas. Arka mencoba memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci—sesuatu yang sangat jarang terjadi mengingat betapa protektifnya Sari terhadap privasinya. Ia masuk dengan langkah sangat hati-hati, hampir berjinjit. Ruangan itu terasa redup dan lembap karena gorden tebalnya tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari pagi. Sari tampak meringkuk di balik selimut tebalnya, tubuhnya yang biasanya tegap kini tampak mungil dan rapuh. Wajahnya yang biasanya pucat porselen kini tampak kemerahan yang tidak sehat karena serangan demam.
"Sar..." Arka berjongkok di samping tempat tidur, meletakkan nampan di meja nakas yang penuh dengan buku-buku tebal kedokteran.
Sari membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat. Pandangannya sayu, berkaca-kaca, dan tampak bingung melihat sosok Arka di kamarnya. "Arka? Sedang apa kamu di sini?" suaranya serak, parau, dan hampir hilang, sangat kontras dengan suaranya yang biasanya lantang saat mendebat Arka.
"Dira bilang kamu belum makan dari semalam. Ini, gue buatkan bubur jahe hangat. Kamu harus makan sedikit saja, dipaksa, supaya perutnya nggak kosong pas minum obat," Arka menyodorkan mangkuk itu, uap panasnya menari-nari di antara mereka.
Sari mencoba duduk dengan sisa tenaganya, namun kepalanya tampaknya berputar hebat (vertigo) hingga ia hampir jatuh kembali ke bantal. Tanpa berpikir panjang dan didorong oleh insting untuk menolong, Arka meletakkan telapak tangan kirinya di punggung Sari untuk membantunya bersandar pada kepala ranjang, sambil menaruh bantal tambahan sebagai penyangga. Untuk beberapa saat, suasana menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding. Arka bisa merasakan panas tubuh Sari yang cukup tinggi menembus kaus tipis yang dipakainya, sebuah sensasi yang membuatnya sedikit bergidik.
"Bubur instan dari depan ya?" tanya Sari dengan nada sinis yang lemah, meskipun suaranya tidak memiliki kekuatan intimidasi seperti biasanya.
"Enak saja lo nuduh. Ini bubur hand-made, orisinal buatan tangan gue sendiri. Aku yang aduk sampai lengan gue mau copot, Dira yang jadi mandor galaknya di dapur. Dijamin bebas MSG, bebas pengawet, dan sudah lulus uji klinis versi dapur Wisma Lavender," jawab Arka sambil meniup perlahan sesendok bubur sebelum menyodorkannya ke arah Sari.
Sari menatap sendok itu dengan ragu selama beberapa detik, lalu perlahan membuka mulutnya. Begitu rasa hangat dan gurih jahe yang pas menyentuh lidahnya, matanya sedikit melebar. Ia benar-benar tidak menyangka rasanya akan senikmat dan senyaman ini. Ada rasa pedas hangat yang lembut dari jahe yang langsung menjalar ke tenggorokannya yang sakit, memberikan sensasi kenyamanan instan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Bagaimana? Layak dapet bintang Michelin atau minimal layak jual di kantin kampus?" Arka mencoba mencairkan suasana kaku itu dengan candaan ringannya.
Sari mengunyah perlahan, lalu menelan dengan susah payah namun tampak menikmati. Ia menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa terkejut, terima kasih yang mendalam, dan sedikit rasa malu yang tertahan. "Lumayan lah. Ternyata tangan yang biasanya pegang kunci inggris bisa juga pegang spatula. Tidak seburuk tampang koki-nya."
Arka terkekeh pelan, merasa bebannya terangkat. Ia terus menyuapi Sari dengan sabar, sendok demi sendok, hingga mangkuk itu kosong lebih dari setengahnya—sebuah prestasi besar untuk orang yang sedang hilang nafsu makan. Sari yang biasanya sangat protektif terhadap ruang pribadinya dan selalu menjaga jarak fisik dengan pria mana pun, kini membiarkan Arka berada begitu dekat dengannya, bahkan membiarkan Arka sesekali menyeka sisa bubur di sudut bibirnya dengan tisu. Ketegangan dan tembok tinggi yang selama ini selalu berdiri kokoh di antara mereka seolah perlahan mencair bersama uap panas dari mangkuk bubur itu.
"Terima kasih ya, Ka," bisik Sari dengan tulus setelah ia berhasil meminum obatnya dan membasuh mulutnya dengan air hangat. "Maaf kalau selama ini aku sering ketus, sombong, atau sering marah-marah nggak jelas soal suara motormu yang memang... yah, sedikit mengganggu konsentrasi belajarku."
Arka terdiam sejenak, menatap mata sayu Sari, lalu tersenyum tipis yang tulus. "Sama-sama, Sar. Santai saja. Lagipula, motorku memang berisik dan perlu diservis lagi sih. Besok-besok kalau aku pulang malam atau lewat depan kamarmu, aku janji bakal tuntun saja motornya dari gerbang biar kamu nggak bangun atau terganggu."
Sari tersenyum kecil—sebuah senyum tulus pertama yang benar-benar sampai ke matanya yang pernah Arka lihat selama mereka tinggal satu atap. Senyum itu membuat wajahnya yang sedang sakit dan pucat tampak jauh lebih cantik, manis, dan... sangat manusiawi.
"Sudah, sekarang tugasmu cuma satu: tidur lagi dan cepat sembuh. Kalau butuh apa-apa, nggak usah sungkan, ketuk saja dinding kamarmu yang sebelah kiri itu dengan keras. Kamarku tepat di baliknya, gue pasti dengar meski lagi tidur nyenyak," ujar Arka sambil mulai membereskan nampan dan merapikan selimut Sari.
Saat Arka melangkah keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan bunyi, ia merasakan ada sesuatu yang mendasar yang telah bergeser dalam dirinya. Sari bukan lagi sekadar tetangga kos "Dokter Galak" yang menyebalkan dan kaku. Dan bagi Sari, Arka bukan lagi sekadar mekanik berisik yang tidak punya tata krama dan sembrono. Di Wisma Lavender, mereka baru saja membuktikan bahwa satu mangkuk bubur buatan tangan yang penuh kehangatan ternyata bisa menjadi jembatan yang jauh lebih kuat dan efektif daripada perdebatan sengit yang melelahkan selama berbulan-bulan.