Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Istana di Balik Sebutan Jenius Rendahan
Matahari sore Pontianak mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di depan minimarket, sesi makan es krim yang canggung itu akhirnya selesai.
Zea, Rara, dan Dinda masih menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara shock, kagum, dan ribuan pertanyaan yang tertahan di tenggorokan.
"Mam, aku pulang duluan ya," pamitku pada Mam Genevieve yang baru saja membuang bungkus es krimnya.
"Lho? Nggak mau bareng mobil Mam aja? Sepedanya bisa dimasukin bagasi kok, muat," tawar Mam, menunjuk sedan putih mewahnya.
Aku menggeleng pelan. "Nggak usah. Aku mau nikmatin angin sore. Lagian... aku nggak mau nambah perhatian orang di jalan."
Mam Genevieve cemberut sedikit, tapi dia paham. Dia tahu betul betapa aku membenci sorotan. "Ya sudah. Hati-hati ya, Sayang. Jangan ngebut-ngebut naik sepedanya."
Aku beralih menatap Zea dan dua temannya. "Duluan ya. Besok ketemu di sekolah."
"E-eh, iya Cal. Hati-hati!" sahut Zea cepat, sedikit tergagap.
Aku menaiki sepedaku, mengayuh pedal yang berdecit pelan, meninggalkan mereka yang masih terpaku di sana. Dari spion, aku melihat Zea masih memandangiku sampai aku berbelok di tikungan.
Jarak dari komplek sekolah ke rumahku sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi rasanya seperti melintasi dua dimensi yang berbeda. Aku mengayuh melewati jalanan kota yang ramai, masuk ke jalan protokol, lalu berbelok ke sebuah kawasan residensial elit yang dijaga ketat oleh pos keamanan berlapis.
Disini, suara bising kota lenyap. Tergantikan oleh ketenangan jalanan lebar yang diapit pohon-pohon palem raja.
Aku berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam setinggi empat meter. Kamera pengawas di atas pilar berkedip merah, memindai wajahku. Detik berikutnya, gerbang raksasa itu terbuka otomatis tanpa suara.
Inilah duniaku yang sebenarnya.
Bukan rumah tipe 36 atau 45 seperti yang mungkin dibayangkan teman-temanku melihat sepeda bututku. Di depanku berdiri sebuah bangunan tiga lantai bergaya klasik modern. Pilar-pilar marmer putih menjulang kokoh, jendela-jendela kaca besar memantulkan langit sore, dan air mancur kecil di halaman depan gemericik menenangkan.
Istana.
Aku menuntun sepeda bututku masuk, memarkirnya di garasi yang luasnya bisa menampung enam mobil—kontras yang menggelikan. Sepeda karatan bersanding dengan Alphard, Mercy, dan beberapa koleksi motor gede milik Papa.
Begitu aku melangkah masuk ke pintu utama yang terbuat dari kayu jati ukir, hawa dingin AC sentral langsung menyapa kulit.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Callen," sapa dua pelayan wanita muda berseragam rapi yang sudah menunggu di foyer. Mereka membungkuk hormat dengan presisi yang sempurna.
"Sore, Mbak Sari, Mbak Yuli," jawabku datar.
"Biar saya bawakan tasnya, Tuan," ucap Sari sigap mengambil alih tas sekolahku yang berat. "Air hangat untuk mandi sudah disiapkan di kamar mandi Tuan."
"Makasih."
Aku berjalan menaiki tangga marmer yang melingkar, langkah kakiku menggema di ruangan yang terlalu luas dan terlalu sepi ini. Lampu kristal chandelier di langit-langit void belum dinyalakan, membuat suasana rumah terasa remang dan megah, namun dingin.
Masuk ke kamar pribadiku di lantai dua, aku langsung menuju kamar mandi.
Di bawah guyuran shower air hangat, aku membiarkan semua debu, keringat, dan topeng "siswa biasa" luntur. Aku memejamkan mata, menikmati satu-satunya momen di mana aku tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun.
Tiga puluh menit kemudian.
Aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan setelan piyama sutra berwarna biru gelap. Kainnya jatuh pas di tubuhku, jauh lebih nyaman daripada seragam sekolah yang kaku.
Aku berdiri di depan cermin besar di walk-in closet.
Sosok di pantulan cermin itu bukan lagi Callen si murid ranking 30 yang kucel.
Rambutku yang biasanya sengaja kubiarkan berantakan dan menutupi dahi, kini kusisir rapi dengan gaya middle part (belah tengah) yang memperlihatkan kening dan alis tebalku. Wajahku terlihat segar, bersih, dan... harus kuakui, darah Eropa Mam Genevieve dan ketampanan khas Asia Papa tercetak jelas di sana. Tanpa kacamata atau gaya membungkuk yang biasa kulakukan di sekolah, aura di cermin ini terasa tajam dan dominan.
"Inilah aku yang asli," gumamku pelan, menyentuh permukaan cermin.
Aku melangkah keluar kamar, berniat turun ke dapur untuk mengambil minum sebelum makan malam. Namun, baru saja kakiku menapaki anak tangga pertama, sebuah suara berat menghentikanku.
"Callen."
Aku berhenti. Tubuhku menegang sedikit, lalu rileks kembali. Aku tahu suara itu.
Aku menoleh ke belakang. Di ujung lorong lantai dua, berdiri seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah meski rambutnya sudah memutih di bagian pelipis. Dia mengenakan kemeja batik rumah yang rapi, tangan kanannya memegang tongkat kayu eboni—bukan karena dia lumpuh, tapi lebih sebagai aksesoris kewibawaan.
Papa. Tuan Adhitama.
"Ada apa, Pa?" tanyaku datar, tidak berbalik sepenuhnya.
Papa berjalan mendekat perlahan. Suara tongkatnya mengetuk lantai marmer terdengar berirama. Tuk. Tuk. Tuk.
"Bagaimana dua minggu pertamamu di sekolah negeri itu?" tanyanya tanpa basa-basi. Tatapannya tajam, menelisik penampilanku dari ujung rambut sampai kaki. "Apa kau sudah bosan bermain sandiwara?"
Aku menghela napas pelan. "Sekolah swasta, Pa. SMA Cendekia itu swasta."
"Sama saja. Bukan sekolah internasional yang kupilihkan," potongnya dingin. "Jika kau merasa tidak nyaman dengan fasilitas di sana, bilang saja. Papa bisa memindahkanmu besok pagi ke British School di Jakarta atau Singapura sekalian."
"Aku sudah nyaman di sana," jawabku tenang, menatap lurus ke mata elangnya. "Jadi nggak perlu repot-repot nawarin pindah lagi."
Papa mengangkat alis tebalnya. Ada sedikit rasa tidak percaya di wajahnya yang keras.
"Nyaman, katamu?" Papa mendengus pelan, senyum sinis tipis terukir di bibirnya. "Kau... anak yang menguasai Fisika Kuantum di usia 8 tahun, juara karate di usia 9 tahun, dan mengerti struktur pasar saham di usia 12 tahun... kau bilang nyaman berpura-pura menjadi siswa bodoh dengan nilai pas-pasan?"
Papa melangkah satu langkah lebih dekat, auranya menekan udara di sekitar kami.
"Kau seharusnya bersinar, Cal. Kemampuanmu itu anugerah. Tapi kau malah memilih menjadi sederhana, merendahkan dirimu di depan teman-temanmu yang—maaf kata—otaknya bahkan tidak sebanding dengan kelingkingmu. Inikah kepuasanmu? Menertawakan mereka dalam diam?"
Kata-kata Papa menusuk, tapi aku sudah kebal. Ini adalah debat yang sama yang kami ulangi setiap tahun sejak aku masuk SMP.
Aku berbalik sepenuhnya, menghadapnya. Meski tinggiku belum menyamainya, aku tidak menunduk.
"Ini bukan soal menertawakan orang, Pa," jawabku. "Ini soal ketenangan. Aku nggak mau hidup kayak Papa. Dikejar ekspektasi, dipuja orang, tapi nggak punya waktu buat napas."
Aku memasukkan tangan ke saku celana piyama.
"Ini hakku, Pa. Papa udah janji nggak bakal maksa aku lagi setelah kejadian SMP dulu, kan?"
Mendengar itu, ekspresi keras Papa sedikit goyah. Dia teringat masa-masa di mana aku hampir ambruk karena stres latihan yang dia berikan. Dia menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. Sisi ayahnya muncul sedikit di balik topeng otoriternya.
Dia menggelengkan kepala pelan.
"Ah... dasar anak keras kepala," gumamnya, nadanya terdengar menyerah tapi ada setitik rasa bangga yang aneh. "Darah Ibumu memang terlalu kuat di kamu."
Papa berbalik, hendak kembali ke ruang kerjanya. "Terserah kau saja. Tapi ingat, Cal. Emas mau disembunyikan di dalam lumpur pun, kilaunya akan tetap terlihat suatu hari nanti. Kau tidak bisa sembunyi selamanya."
Aku terdiam menatap punggungnya. Kalimat itu terdengar seperti ramalan.
Tepat saat ketegangan itu mulai mereda, pintu utama di lantai bawah terbuka lebar. Suara heels beradu dengan lantai dan suara ceria yang familier menggema ke seluruh penjuru rumah.
"Yuhuuu! Mam pulang!" seru Mam Genevieve, suaranya memecah kesunyian istana ini. "Cal! Papa! Ayo turun, Mam bawa Cheesecake enak nih buat dessert!"
Aku dan Papa saling pandang sejenak dari kejauhan. Papa hanya mengedikkan bahu, memberi isyarat 'ayo turun'.
"Iya, Mam! Sebentar!" sahutku.
Aku melangkah turun tangga dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Di luar sana, aku mungkin 'Jenius Rendahan' yang naik sepeda butut. Tapi di sini, di balik dinding istana ini, aku tetaplah seorang anak yang sedang mencari jalan hidupnya sendiri.
Makan malam sepertinya akan menarik malam ini.