Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Zira keluar dari kantor suaminya dengan hati mendidih. Amarahnya membuncah melihat Clara yang tanpa rasa malu terang-terangan menggoda suaminya, Nathan. Sesampainya di kantin, Zira langsung mendapati dua sahabatnya, Aliya dan Zita, sedang duduk santai.
"Kenapa wajahmu ditekuk kayak kanebo kering begitu?" goda Aliya sambil tersenyum.
"Iya nih, ada apa, Zira?" tanya Zita penasaran.
Zira mendesah berat lalu duduk di sebelah Aliya. "Aku kesel banget! Tadi lihat Clara di kantor sibuk godain Nathan depan mataku!"
Mendengar itu, Aliya menahan tawa sambil berkomentar, "Haha, si Clara tuh memang gak pernah kapok, ya?"
Zira mengangguk kesal. "Enggak tahu lagi, aku udah gak tahan sama ulahnya!"
Aliya mencoba menenangkan dengan nada bercanda. "Hahaha, kamu itu, Zira. Santai aja. Kamu harus lebih percaya diri dong. Nathan kan udah jadi milik kamu."
Zira sempat tersenyum, meski masih terlihat jengkel. "Iya sih, kamu benar. Aku harus lebih percaya diri." Ia kemudian menambahkan dengan nada kesal campur lega, "Untung aja Mas Nathan dingin banget sama tuh curut."
Namun, bukannya ikut simpati, Zita malah tertawa keras melihat raut kesal Zira. "Lho, kamu kenapa ketawa sih? Gak ada yang lucu tau! Aku ini lagi marah!" tukas Zira, menatap Zita dengan pandangan tajam.
"Tapi cara kamu marah itu lucu banget, bukan serem," balas Zita sambil terkekeh.
Zira menggeleng frustrasi sambil berdiri dari kursi. "Udah deh, aku ke kelas dulu. Gak nafsu makan gara-gara kamu!"
Saat Zira berlalu, Aliya melirik Zita dengan wajah menyalahkan. "Tuh kan, gara-gara kamu sekarang Zira makin kesal."
Zita mengangkat tangan tanda menyerah. "Iya deh, maaf. Nanti aku minta maaf sama dia."
Untuk menebus kesalahannya, Zita segera menuju ke konter makanan untuk membeli sesuatu buat Zira. Ia sempat bertanya pada Aliya sebelum memesan. "Kamu mau pesan apa sekalian?"
"Aku nasi goreng aja sama es teh," jawab Aliya santai.
"Siap!" sahut Zita sambil bergegas memesan.
Zita beranjak untuk memesan makanan, sementara Aliya tetap duduk di tempatnya, mengawasi tas-tas mereka. Suasana kantin yang semarak dengan obrolan para siswa hampir tidak mereka pedulikan. Setelah beberapa menit berlalu, Zita kembali sambil membawa nampan berisi sepasang piring makanan dan dua gelas minuman dengan hati-hati. Tanpa berkata apa-apa, ia meletakkan salah satu gelas minuman di depan Aliya yang tersenyum kecil sebagai tanda terima kasih.
Setelah selesai menyantap makanan mereka, Aliya dan Zita sama-sama sepakat untuk membawa makanan tambahan ke kelas, khusus untuk rekan mereka, Zira. Mereka tahu betapa pentingnya permintaan maaf yang tulus, terutama setelah insiden kecil sebelumnya yang membuat Zira tersinggung.
Sesampainya di kelas, Zita dengan hati-hati menyodorkan bungkusan makanan kepada Zira sambil berbicara dengan nada sedikit ragu, "Maaf ya, Zira. Aku gak bermaksud bikin kamu marah tadi. Ini aku bawain makanan buatmu, sebagai permintaan maafku."
Zira yang sebelumnya masih terlihat enggan untuk berkomunikasi, akhirnya mengulurkan tangan dan menerima makanan itu. Meski ada sisa kekesalan di wajahnya, perutnya yang lapar lebih sulit untuk diabaikan. Sambil membuka bungkus makanannya, ia berkata dengan nada sedikit bercanda, "Iya, gue maafin. Gue juga butuh tenaga buat marah-marah sama kalian terus."
Melihat respons Zira yang mulai mencair, Aliya tertawa kecil dan menghembuskan napas lega. "Haha, emang ya, kalau lo lagi marah tuh lucunya minta ampun, Zir. Gak heran Zita sampe ketawa abis."
Zita yang berdiri di sebelah Aliya ikut tersenyum dan menambahkan, "Iya banget. Kamu emang suka meledak-ledak gitu, tapi untungnya gampang dibaikin."
Zira menggelengkan kepala pelan sambil mengulum senyum kecil di sudut bibirnya. Meski masih mencoba mempertahankan kesan kesalnya, tampak jelas ia sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Sudahlah, kalian berdua. Daripada ngomongin aku terus, mending kasih aku waktu makan dulu deh," ujarnya setengah bersungut-sungut tetapi sudah terdengar lebih santai.
Obrolan kecil itu pun usai dengan tawa ringan mereka bertiga. Suasana yang semula tegang kini berganti menjadi penuh kehangatan persahabatan. Bagi mereka, konflik kecil seperti ini hanyalah bagian dari dinamika yang semakin menguatkan hubungan mereka satu sama lain.
Zira mulai makan dengan lahap, sesekali melirik ke arah Aliya dan Zita yang tidak berhenti tersenyum melihatnya. Meskipun perhatian mereka mengganggunya sedikit, ia tetap menyantap makanannya dengan santai.
Sambil mengunyah makanan di mulutnya, Zira berkata, "Udah deh, gak usah nontonin aku makan. Fokus aja sama urusan kalian sendiri."
Aliya dan Zita tidak menahan diri untuk tertawa kecil. "Haha, oke deh, lagian kami sudah makan di kantin tadi. Jadi sekarang cuma nemenin kamu."
Suasana kelas pun terasa lebih rileks. Zira terus makan, sementara Aliya dan Zita masih memandanginya dengan senyuman di wajah mereka.
Setelah selesai makan, Zira menyeka mulutnya, merasa lebih ringan hati. "Udah, ya. Sekarang aku gak marah lagi. Tapi inget baik-baik ya, kalau aku marah lagi nanti, kalian harus siap nerima."
Aliya dan Zita langsung mengangguk penuh semangat. "Iyah, kami siap kok!" jawab mereka hampir serempak.
Melihat reaksi mereka, Zira akhirnya mengulas senyuman kecil. "Udah deh, aku tahu kalian gak sengaja tadi. Jadi gak ada apa-apa lagi sekarang."
Aliya dan Zita tersenyum lega, namun tetap memastikan. "Beneran nih? Kamu udah gak marah?"
Dengan nada meyakinkan, Zira mengangguk. "Iyah kok, beneran ini. Aku udah makan dan sekarang puas. Udah lupa sama kekesalan tadi."
Kelas pun kembali terasa damai, diiringi canda tawa ringan antara ketiganya yang membuat suasana menjadi hangat. Percakapan mereka terhenti sejenak ketika dosen memasuki ruangan dengan membawa materi pelajaran.
"Baiklah, anak-anak," ujar dosen seraya meletakkan buku di mejanya. "Kita lanjutkan pembelajaran hari ini."
Suasana berubah menjadi serius saat dosen mulai menjelaskan topik terbaru. "Hari ini kita akan membahas tentang analisis data statistik. Pastikan kalian mencatat dan memperhatikan semua poin penting."
Zira, Aliya, dan Zita pun segera merapikan buku tulis mereka dan mulai mengikuti penjelasan dosen dengan saksama. Sambil sesekali mengangguk paham atau mengajukan pertanyaan ketika ada hal yang kurang jelas, ketiganya tampak fokus pada materi yang diberikan.
Di tengah-tengah penjelasan yang intens itu, tiba-tiba ponsel Zira bergetar di meja. Ia buru-buru mengambilnya untuk melihat siapa yang menelepon. Dengan cepat ia menyampaikan permohonan maaf kepada dosen. "Pak, maaf sekali. Saya harus angkat telepon sebentar. Ini penting sekali."
Dosen berhenti sejenak, lalu mengangguk tanda mengizinkan. "Silakan, tapi jangan lama-lama ya."
Zira segera meninggalkan kelas untuk menerima panggilan tersebut, meninggalkan Aliya dan Zita yang saling pandang penasaran.
Aliya mendekatkan wajahnya ke arah Zita sambil berbisik pelan, "Siapa sih yang nelpon?"
Zita hanya mengangkat bahu sambil menjawab lirih, "Gak tahu juga, sepertinya urusan penting banget."
Sementara itu, dosen kembali mengarahkan perhatian kelas pada materi pelajaran. "Baiklah, kita lanjutkan kembali... seperti yang saya sampaikan sebelumnya tentang metode dalam analisis data."
Meski rasa penasaran masih tampak di wajah Aliya dan Zita, mereka mencoba untuk kembali fokus mendengarkan penjelasan dari dosen. Di sela-sela itu, sesekali mata mereka melirik ke arah pintu kelas sembari menunggu kembalinya Zira.
Beberapa menit kemudian, Zira muncul kembali ke dalam kelas. Wajahnya tampak berbeda—lebih serius daripada sebelumnya. Dosen berhenti menjelaskan dan menatap ke arah Zira.
"Sudah selesai?" tanya beliau singkat.
Dengan anggukan ringan, Zira menjawab. "Sudah, Pak. Maaf mengganggu."
Dosen pun tersenyum kecil dan melanjutkan pelajaran tanpa membahas lebih lanjut insiden tersebut. "Tidak masalah. Silakan kembali duduk."
Begitu Zira menduduki bangkunya lagi, Aliya langsung memanfaatkan kesempatan untuk bertanya pelan-pelan bersama Zita di sebelahnya. "Kenapa sih? Siapa yang nelpon? Ceritain dong!"
Zira berbicara dengan lembut, nyaris seperti berbisik, sambil berkata kepada ibunya, "Mama, ngabarin kalau Aryan mengalami kecelakaan. Sebentar lagi kelas mata kuliah Pak Budi akan selesai, dan setelah itu aku akan langsung ke rumah sakit bersama Mas Nathan." Sementara itu, Aliya yang mendengar pembicaraan tersebut terkejut dan tak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia pun berkata, "Innalillahi... Apakah kami boleh ikut? Kami sudah menganggap Aryan seperti adik kami sendiri."
Mendengar permintaan Aliya, Zira mengangguk kecil, menunjukkan rasa lega bahwa ada yang bersedia ikut serta. Dengan nada yang tenang namun tegas, ia menjawab, "Iya, tentu saja. Kita pergi bersama-sama saja. Bareng aku sama mas nathan." Respon itu membuat suasana sedikit lebih tenang, meski bayangan tentang kondisi Aryan masih terus membayang di benak mereka.