NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 2

Kegelapan di tempat ini bukan sekadar ketiadaan cahaya; ia adalah substansi.

Sebuah keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jantung—yang seharusnya sudah berhenti—terdengar seperti dentuman genderang perang di dalam kepala Albus.

Albus melayang.

Tanpa gravitasi, tanpa pijakan.

Tubuhnya yang hancur bersimbah darah tampak seperti lukisan tragis di atas kanvas hitam abadi.

Luka menganga di jantungnya masih di sana, mendingin dan kaku.

Lengan kanannya yang terputus menyisakan rasa sakit imajiner yang terus berdenyut, seolah saraf-sarafnya masih menjerit meminta bagian tubuh yang telah hilang di medan perang Benua Vera.

Ia membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa seberat timah.

"Hanya... kegelapan?" bisiknya. Suaranya tidak keluar sebagai gelombang udara, melainkan hanya gema di dalam jiwanya yang koyak.

Ia mencoba menggerakkan jemari tangan kirinya, namun rasa sakit yang luar biasa langsung menghujam kesadarannya.

Sarafnya terbakar.

Setiap inci kulitnya terasa seperti disayat oleh ribuan sembilu es.

Ia hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya terombang-ambing dalam kekosongan yang dingin.

Dingin yang tidak hanya menusuk kulit, tapi seolah membekukan esensi keberadaannya.

Di tengah kesunyian itu, amarah mulai merayap naik, lebih panas dari api sihir mana pun yang pernah ia ciptakan.

*Sialan...* batinnya meronta. *Kenapa aku tidak menarik satu pun dari mereka? Kenapa aku membiarkan ketiga raja pengecut itu tetap menghirup udara Emelegrand sementara aku membusuk di ketiadaan ini?*

Penyesalan itu membakar batinnya.

Ia membayangkan wajah angkuh Raja Pedang, seringai munafik Raja Sihir, dan tatapan dingin Raja Tombak.

Kekesalan itu meledak-ledak di dadanya yang berlubang.

Ia merasa gagal. Sang jenius yang dianggap ancaman dunia, akhirnya mati tanpa membawa serta para penguasa tirani tersebut ke liang lahat.

"Tempat apa ini sebenarnya?!" Albus berteriak ke arah kehampaan. "Jika ini neraka, mana apinya? Jika ini surga, mana kedamaiannya? Ini hanya... kekosongan yang menyedihkan!"

Dalam keputusasaannya yang paling dalam, sebuah pemikiran melintas secara naluriah. Sesuatu yang selama ini ia benci dengan seluruh sel tubuhnya. Ia berpikir untuk memohon.

Memohon pada sesuatu yang lebih tinggi. Pada para Dewa yang selalu ia caci.

*Berikan aku kesempatan... sekali lagi...*

Namun, pemikiran itu segera ia ludahi dengan tawa yang parau dan getir.

Tawa yang memecah kesunyian ruang hitam itu dengan nada penghinaan yang dalam.

"Dewa? Hah!" Albus tertawa hingga darah kering di bibirnya pecah kembali. "Jika kalian benar-benar ada, kalian adalah entitas yang paling kejam. Kalian memberikan sihir, kalian memberikan 'berkat', namun kalian hanya duduk diam melihat manusia saling mencabik demi nama kalian. Kalian memberikan kekuatan hanya untuk melihat kehancuran. Cinta Dewa hanyalah racun yang dibungkus emas!"

Ia mendengus, matanya yang redup menatap nanar ke kegelapan di atasnya.

"Andai saja... andai saja aku bisa hidup kembali," suaranya bergetar antara amarah dan harapan yang mustahil. "Aku tidak peduli jadi apa. Jadikan aku bangsawan yang manja, atau rakyat jelata yang kelaparan... bahkan jika aku harus menjadi hewan yang merangkak di lumpur sekalipun, aku rela! Asalkan aku bisa kembali menghirup udara dunia itu!"

Napasnya memburu, meskipun paru-parunya sudah hancur. "Jika aku hidup lagi... aku sendiri yang akan mencari kalian. Aku akan mendaki singgasana awan itu, meruntuhkan pilar-pilar emas kalian, dan menghajar wajah suci kalian hingga kalian tahu bagaimana rasanya menjadi manusia yang kalian permainkan!"

Keputusasaan itu berubah menjadi raungan murni.

Seluruh harga dirinya, seluruh rasa sakitnya, dan seluruh hasratnya untuk membalas dendam menyatu dalam satu teriakan yang menggetarkan ruang hampa tersebut.

"BERIKAN AKU SATU KESEMPATAN LAGI! HANYA SATU!"

Keheningan kembali menyergap. Satu detik... dua detik...

Lalu, di bawah kaki Albus yang membeku, sebuah titik cahaya muncul.

Kecil, namun sangat tajam. Warna kuning keemasan yang murni mulai berpendar, membelah kegelapan seperti fajar yang memaksa masuk ke dalam gua yang paling dalam.

Cahaya itu mulai naik.

Awalnya hanya menyentuh ujung kakinya, namun Albus merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari tubuhnya: kehangatan. Rasa hangat yang menjalar, perlahan meluluhkan es yang menyelimuti jiwanya.

Rasa sakit yang tadi tak tertahankan mulai mereda, tergantikan oleh sensasi seperti dipeluk oleh cahaya matahari musim semi.

"Apa... apa ini?" Albus tertegun. Ia melihat sekelilingnya yang perlahan mulai terang benderang.

Cahaya kuning itu semakin liar, semakin terang, menyelimuti tubuhnya yang hancur. Luka di jantungnya mulai bercahaya, lengan yang hilang itu seolah ditarik oleh energi misterius.

Kehangatan itu kini berubah menjadi kekuatan yang sangat besar, menekan kesadarannya hingga ia merasa seolah akan meledak.

"Apa yang sebenarnya terjadi?! Apakah ini... akhir yang lain?!"

Cahaya itu mencapai puncaknya. Begitu terang hingga Albus harus memejamkan matanya rapat-rapat.

Seluruh ruang hitam itu lenyap, digantikan oleh putih yang membutakan.

Tubuh Albus tersedot ke dalam pusaran cahaya tersebut, ditarik menjauh dari kegelapan menuju sesuatu yang ia sendiri belum pahami.

Di dalam dekapan cahaya kuning yang agung itu, Albus merasakan denyut nadi kehidupan kembali berdetak di ujung jemarinya, membawa sang jenius yang tak beriman itu kembali menuju takdir yang baru.

Namun kali ini, ia tidak akan membawa iman—ia membawa dendam yang akan membakar seluruh Emelegrand.

-----

Matahari pagi menyusup melalui celah-celah jendela besar yang berhiaskan ukiran emas murni, menyinari debu-debu halus yang menari di udara sebuah kamar megah.

Rumah itu lebih tepat disebut istana kecil; pilar-pilar marmer putih menjulang menyangga langit-langit yang dilukis dengan mitologi kuno, dan permadani beludru merah menutupi setiap inci lantai kayu ek yang dipoles mengkilap.

Di luar kamar, suasana begitu kontras. Para pelayan berseragam rapi berlarian dengan langkah kaki yang teredam permadani.

Ada yang membawa baskom perak berisi air hangat, ada yang memegang tumpukan kain linen halus yang baru saja disetrika, dan sebagian lagi sibuk menyalakan dupa aroma terapi untuk menenangkan ketegangan yang menggantung di udara.

Namun, di dalam kamar utama, hanya ada suara perjuangan hidup dan mati.

------

Di atas tempat tidur luas bertiang empat dengan kelambu sutra, seorang wanita bernama Lady Elara terbaring dengan wajah yang sudah memucat.

Keringat membanjiri keningnya, membuat helai-helai rambutnya menempel di pipi. Ia mencengkeram erat pinggiran sprei hingga buku-buku jarinya memutih.

"Arghhh! Sakit... Ini terlalu sakit!" jerit Elara, suaranya parau karena telah berteriak selama berjam-jam.

Di hadapannya, seorang wanita tua dengan wajah tenang namun cekatan sedang bekerja. Dia adalah seorang **Paraji**—dukun bayi atau bidan kerajaan yang telah menyambut ratusan nyawa ke dunia Emelegrand.

Tangan Paraji itu dengan sigap mengatur posisi Lady Elara.

"Tarik napas dalam-dalam, My Lady! Jangan buang tenagamu untuk berteriak," perintah Sang Paraji dengan nada tegas namun menenangkan. "Bayinya sudah sangat dekat. Aku bisa melihat puncak kepalanya. Kau harus mendorong lebih kuat!"

"Aku... aku tidak kuat lagi..." isak Elara, air mata mengalir menyatu dengan keringatnya. "Rasanya tubuhku seperti terbelah dua!"

"Lihat aku!" Sang Paraji memegang tangan Elara, menyalurkan ketegangan. "Kau adalah keturunan bangsawan yang kuat. Demi anakmu, demi masa depan rumah ini, dorong sekali lagi saat kontraksi berikutnya datang! Sekarang! Dorong!"

Elara mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Otot-otot lehernya menegang, wajahnya memerah padam. "Nngggghhhhhhh—!"

"Sedikit lagi! Hanya sedikit lagi, My Lady! Terus! Jangan berhenti!"

Ruangan itu seolah ikut bergetar oleh usaha luar biasa tersebut.

Aroma darah, air ketuban, dan dupa bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan namun sakral.

Lady Elara merasa kesadarannya hampir hilang, namun dorongan terakhir yang penuh keputusasaan itu akhirnya membuahkan hasil.

*Srak.*

Sebuah keajaiban kecil meluncur keluar. Detik berikutnya, keheningan kamar itu pecah oleh suara yang paling dinanti.

"Owekkk! Owekkk! Owekkk!"

Tangisan bayi itu melengking kuat, memenuhi setiap sudut ruangan yang luas.

Lady Elara langsung terkulai lemas di atas bantalnya. Napasnya tersengal-sengal, namun bibirnya yang pecah-pecah memaksakan sebuah senyuman.

Ia menangis, bukan lagi karena rasa sakit, melainkan karena kelegaan yang luar biasa.

-----

Sang Paraji dengan cepat namun lembut mengangkat bayi mungil itu.

Ia membersihkan sisa-sisa darah dan cairan ketuban dari kulit bayi yang masih kemerahan menggunakan kain linen paling halus.

Setelah memastikan sang bayi bernapas dengan baik, ia membungkus tubuh mungil itu dengan kain sutra hangat.

"Selamat, My Lady," ucap Sang Paraji dengan suara lembut yang penuh haru. Ia berjalan mendekat dan meletakkan bungkusan bayi itu ke dalam pelukan Elara. "Seorang putra. Anda melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat tampan."

Elara mendekap bayi itu ke dadanya yang masih naik-turun. "Anakku... putraku..." bisiknya dengan penuh cinta.

Namun, di balik mata bayi yang baru saja terbuka itu, ada sebuah kesadaran yang sama sekali tidak pasrah.

*Tunggu... apa ini?* Kesadaran itu adalah milik Albus. Sang jenius yang sebelumnya berdiri di tengah padang mayat, kini merasa tubuhnya sangat ringan, sangat kecil, dan sangat lemah.

Ia mencoba melihat sekeliling, namun pandangannya masih kabur dan terbatas.

Ia melihat langit-langit yang mewah, pilar-pilar yang jauh lebih besar dari yang pernah ia lihat, dan aroma ruangan yang sangat asing.

*Di mana ini? Tadi aku berada di kegelapan... tadi aku berteriak pada para dewa...*

Albus mencoba untuk bangun, mencoba menanyakan apa yang terjadi. Ia ingin bertanya siapa wanita yang sedang memeluknya ini.

"Siapa kau? Dan tempat apa ini?!" teriak Albus di dalam kepalanya.

Namun, yang keluar dari mulut mungilnya hanyalah: "Oeeekk! Aeungg! Owekk!"

Albus tersentak. Suaranya kecil, cempreng, dan sama sekali tidak memiliki wibawa.

Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya—tangan yang sebelumnya terputus di medan perang.

Ia merasakannya. Tangan itu ada, mungil dan lembut, tanpa bekas luka sedikit pun.

Ia menatap wanita di depannya. Wanita itu menatapnya dengan pandangan paling suci yang pernah Albus lihat sepanjang hidupnya. Mata wanita itu berkaca-kaca, penuh dengan pengabdian dan kasih sayang yang tulus.

*Wanita ini... aku tidak mengenalnya. Tapi kenapa dia menatapku seperti itu?*

Albus terdiam sejenak.

Ia mencoba mencerna segalanya. Rasa hangat dari kain sutra, rasa sakit yang hilang dari jantungnya, dan kenyataan bahwa ia kini dibungkus seperti kado.

*Suaraku... tanganku... kehangatan ini...*

Sebuah kesimpulan mengerikan sekaligus luar biasa menghantam benaknya.

*Jangan bilang... tidak mungkin...* Albus berteriak dalam diam, matanya yang mungil melebar menatap langit-langit kamar mewah tersebut. *Aku benar-benar terlahir kembali?!*

Ia kembali menjadi nol.

Sang penghancur tentara, sang jenius berambut putih, kini hanyalah seonggok nyawa mungil di pelukan seorang wanita bangsawan di dunia yang belum ia ketahui namanya.

Kesempatan yang ia minta dengan kemarahan di ruang hitam itu, kini benar-benar ada di genggamannya.

Bersambung...

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!