ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20—Ig Poster
Besoknya, di ruang OSIS yang tenang dan sepi, Anissa menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
Di depannya menumpuk berkas pendaftaran unit kegiatan siswa untuk Farewell Party kelas 12.
Sebagai Ketua OSIS berjuluk Iron Lady, biasanya ia hanya memindai cepat tanpa ekspresi.
Namun, saat tangannya menarik selembar kertas pendaftaran yang baru saja masuk dari kotak deposit digital, gerakan tangannya terhenti.
Mata tajam itu terbelalak. Di kolom nama kelompok, tertulis sebuah nama yang cukup narsis:
"THE TRIO STAR".
Namun, bukan nama grupnya yang membuat jantung Anissa berdegup lebih kencang, melainkan daftar anggotanya:
* Rahmat Pratama (11 IPA 2)
* Alya (11 IPA 1)
* Kanaya Arcelia (11 IPA 2)
"Rahmat... dia ikut mendaftar pentas seni?" gumam Anissa lirih.
Bibirnya yang biasa terkatup rapat kini perlahan membentuk lengkungan senyum tipis yang langka.
Ia sedikit terkejut melihat hal ini karena dia mengira bahwa Rahmat bukan tipe orang yang akan melakukan kegiatan pentas seni yang menarik perhatian.
Selain itu dia jadi menantikan permainan macam apa yang akan diberikan oleh adiknkelas favoritnya.
Terlebih.
"Siapa sangka Kanaya Arcelia juga ikut bergabung."
Ia teringat betapa sulitnya ia membujuk Kanaya untuk sekadar tampil formal di acara sekolah, namun Rahmat—pemuda yang sering ia panggil lewat toa sekolah itu—justru berhasil menyeret sang idol nasional ke dalam sebuah kelompok (trio).
"Kombinasi yang gila. Primadona sekolah, Idol Nasional, dan si anak populer yang baru baru ini naik daun"
Anissa terkekeh pelan sembari membubuhkan stempel [APPROVED] dengan tekanan yang mantap.
"Pentas seni tahun ini... sepertinya akan heboh."
Beberapa saat sebelum poster itu meledak di media sosial, ada sebuah momen di balik layar yang tidak kalah menegangkan di ruang OSIS.
Ini adalah senjata untuk meningkatkan ketenaran sma garuda, dan ini mungkin tugas anisa terkahir kali sebelum lulus.
Ia ingin membuat konser ini meriah dan sampai di telinga - telinga orang. Maka dari itu dia ingin membuat sebua poster promosi.
Pesta faravel kelas 12 sma garuda yang bisa diakses oleh siapapun. Rahmat dan lain lain adalah sebagai bintang utama acara.
"Panggilan untuk murid atas nama Rahmat Pratama kelas 11 IPA 2, Alya kelas 11 IPA 1 dan Kanaya Arcelia IPA 2. Diharapkan segera datang ke ruang osis."
"Saya ulangi untuk tiga murid ini saya harap segera datang ke ruang osis."
Suara Anissa menggema lewat toa sekolah di jam istirahat pertama.
Panggilan itu sontak membuat seisi kantin menoleh. Danu yang sedang mengunyah bakso hampir tersedak. "Tuh kan, Mat! Baru juga kemarin dipanggil, udah dipanggil lagi saka 'Ratu Toa'. Sebenarnya lo buat masalah apa sih?"
Rahmat hanya menghela napas, berdiri dengan santai. Sungguh kakak kelas yang merepotkan.
Alya yang kebetulan juga di kantin, menghentikan acara makan dan terpaksa menuju ruang osis. Jarang jarang dia dipanggil begini.
sementara Kanaya yang kebetulan lewat di koridor langsung bergabung dengan kedua orang itu.
Begitu mereka masuk, Anissa sudah berdiri dengan kamera DSLR di tangan dan beberapa kru OSIS bagian dokumentasi.
Ruangan itu sudah disulap menjadi studio foto dadakan dengan background polos.
"Anu ... Kak Anisa?" Rahmat memulai pembicaraan. Ruang osis yang tiba tiba jadi studio foto buat dia heran soalnya. Terlebih suasana serius ini.
"Kita buat masalah apa ya?" Sekarang tanya Kanaya.
"Iya kak, apa kita membuat kesalahan?" Tambah alya.
"Duduk," perintah Anissa singkat. Matanya menatap tajam ke arah kertas pendaftaran mereka yang tergeletak di meja.
"Kalian tahu apa salah kalian?"
Suasana jadi hening. Kanaya dan alya menundukkan kepala. Perasaan mereka gak salah apa apa.
Sementara Rahmat cuma menghela napas geli. Dengan kemampuan sistemnya dia sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Kalian pikir pendaftaran dengan nama-nama sebesar ini bisa dibiarkan begitu saja tanpa promosi? Sekolah butuh 'wajah' untuk menarik sponsor pentas seni tahun ini."
Seru anisa penuh semangat. Matanya berbinar binar seperti anak kecil. Sisi lain dari iron laidy yang terkenal dingin dan kaku.
Hening. Kanaya dan alya terkejut. Eh? Jadi bukan karena mereka melakukan sebuah dosa toh!
"Jadi... kita dipanggil buat jadi model?" tanya Alya polos.
"Tepat sekali! Kamu pintar, Alya," seru Anissa sembari menjentikkan jarinya. Ia seolah tidak memedulikan wajah bingung ketiga juniornya itu.
"Kalian bertiga adalah aset. Kalau aku membiarkan pendaftaran ini lewat begitu saja tanpa 'ledakan', aku tidak pantas disebut Ketua OSIS."
Kanaya menghela napas panjang, bahunya yang sempat tegang kini merileks. "Kak Anissa, hampir saja aku jantungan. Kupikir aku melanggar kontrak agensi atau semacamnya karena mendaftar tanpa izin resmi."
"Kontrak agensimu urusan nanti, yang jelas sekarang kalian harus terlihat ikonik di poster ini," balas Anissa tegas, kembali ke mode Iron Lady-nya. "Ayo, cepat ambil posisi. Tim dokumentasi sudah siap."
Sesi foto itu dimulai dengan suasana yang... unik. Anissa bertindak sebagai pengarah gaya yang sangat perfeksionis.
Seorang iron lady yang biasa kaku dan kolot akan aturan terlihat sangat bersemangat seperti anak kecil. Itu adalah pemandangan langka bagi kanaya dan alya.
"Rahmat, di tengah. Jangan kaku begitu, kamu ini bukan patung selamat datang!"
omel Anissa. Ia melangkah maju, menarik kerah seragam Rahmat agar lebih rapi, lalu menatap matanya dari jarak dekat.
"Pasang muka 'mahal' mu itu, mengerti?"
Rahmat hanya mengangkat bahu, mengikuti instruksi. "Siap dimengerti ibu ketua."
Sementara itu, persaingan terselubung mulai terjadi saat penentuan posisi berdiri.
"Alya, kamu di kanan Rahmat. Kanaya, kamu di kiri," instruksi Anissa.
Alya dengan sigap merapat, tangannya hampir bersentuhan dengan lengan Rahmat. Melihat itu, Kanaya tidak mau kalah. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, menempelkan bahunya ke lengan kiri Rahmat dengan gaya yang sangat natural layaknya seorang model profesional.
"Bisa lebih profesional sedikit tidak?" sindir Kanaya pelan ke arah Alya, suaranya hanya terdengar oleh mereka bertiga. "Ini foto promosi, bukan foto kenang-kenangan darmawisata."
Alya hanya tersenyum manis, senyum yang membuat Rahmat tahu bahwa dia sedang dalam mode 'siap tempur'.
"Aku hanya mencoba terlihat akrab di kamera, Kana. Bukankah kita satu tim?"
Cekrek! Cekrek!
Lampu flash menyambar berkali-kali. Anissa memeriksa hasilnya di layar kamera.
Ia tertegun sejenak. Di dalam bingkai itu, Rahmat tampak seperti pusat gravitasi; tenang, dominan, dan misterius.
Diapit oleh Alya yang memancarkan aura keanggunan yang murni dan Kanaya yang memiliki karisma bintang yang tak terbantahkan.
"Sempurna," gumam Anissa puas. "Tim kreatif, langsung edit. Masukkan logo Farewell Party dan tagline 'The Trio Star'. Upload di akun resmi sekolah dalam sepuluh menit!"
Sepuluh menit kemudian, ledakan digital terjadi.
Admin Instagram @SMAGaruda_Official mengunggah poster tersebut dengan caption:
"Bintang telah turun ke bumi. Siapkan diri kalian untuk kolaborasi paling mengejutkan dalam sejarah SMA Garuda. THE TRIO STAR is coming! 🌟
#FarewellParty2026 #TheTrioStar #GarudaPride"
Dalam sekejap, notifikasi ponsel di seluruh koridor sekolah berbunyi serentak.
"ANJIR! LIHAT IG OSIS!" teriak seorang siswa di depan kelas.
"SERIUS KANAYA ARCELIA?! SI IDOL NASIONAL JOIN PENTAS SENI DEMI APA?!"
"Gila Sekolah ternyata cukup kaya buat bayar dia ikut pentas ginian."
Semua orang yang biasa menganggap acara pentas seni hanya membosankan berubah pikiran. Idol nasional join bro, siapa yang gak tertarik.
Namun yang mereka tidak tahu bahwa idol itu tidak dibayar oleh sekolah melainkan cuma dibayar dengan spele seperti traktir es krim. Mungkin semua orang bisa iri dna dengki kalau tahu fakta itu keluar.
"Alya juga ikut? Wah, ini mah bukan pentas seni lagi, ini konser tunggal!"
"Si Rahmat juga join! Bajingan merusak pemandangan banget!"
"Si kunyut itu lagi lagi mencuri pemandangan!"
"Sialan bikin kita iri saja! Kapan gue dapat my kisah!"
Kabar itu melesat cepat, melampaui pagar SMA Garuda. Algoritma Instagram yang ganas membawa postingan itu ke explore anak-anak sekolah lain di Yogyakarta. Termasuk ke sebuah kantin di SMA Batu Bara
Di sebuah kantin yang masih ramai oleh murid-murid jam tambahan, Bella sedang berkumpul dengan teman-temannya. Ponsel di tengah meja berdenting bersamaan.
"Eh, liat deh! Ini bukannya Kak Rahmat yang kemarin?" seru salah satu teman Bella sembari menunjukkan layar ponselnya.
Bella menyambar ponsel itu. Matanya melotot melihat foto profil pendaftar yang terpampang di akun SMA Garuda. Di sana, Rahmat berdiri di tengah dengan ekspresi santai, diapit oleh dua gadis yang kecantikannya berada di level dewa.
"Demi apa?! Kak Rahmat beneran ikut panggung ginian?" Bella menutup mulutnya tak percaya.
"Gila, itu kan Kanaya Arcelia! Kok bisa Kak Rahmat satu grup sama dia?"
timpal teman Bella yang lain. "Eh, Bel, ini kan Kakak yang kemarin traktir kita belanja sampai jutaan itu kan? Yang baiknya nggak ngotak itu?"
Bella menatap foto itu dengan perasaan campur aduk—bangga, kagum, tapi juga ada sedikit rasa iri yang menggelitik saat melihat dia diapit oleh dua gadis yang kecantikannya level dewa.
Dia jadi minder sendiri, di sekolah ternyata kak Rehmat memang super populer.
Orang biasa sepertinya sangat sulit untuk bersaing, namun ia tidak mau kalah dalam hal. Supportter!
"Aku harus ke SMA Garuda. Teman-teman, kita harus beli tiketnya sekarang sebelum habis!"
"Gas, Bel! Kita bawa lightstick sekalian buat dukung Kak Rahmat!
"Ikut, Bel! Gue juga mau liat!"
"Gue penasaran dia main apa, jangan-jangan cuma jadi pajangan doang di antara dua cewek cantik itu?"
"Nggak mungkin! Aura Kak Rahmat kemarin itu beda banget, dia pasti punya kartu as!"
Bella segera mengetik pesan singkat di WhatsApp, namun ia ragu untuk mengirimnya. Akhirnya ia hanya menatap foto Rahmat di layar.
"Kak Rahmat... ternyata Kakak beneran bukan orang biasa ya," bisiknya dengan binar mata penuh kekaguman.
Pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak mengirim pesan apapun. Ia ingin membuat kejutan bahwa dia datang kesana untuk melihat acaranya.