Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Ujian Kedua
Dua hari setelah kejadian di gubuk, desa Cheonho dikejutkan oleh pengumuman yang tidak biasa.
Genderang berbunyi di pelataran utama sebelum matahari sepenuhnya terbit. Bukan genderang perayaan, tetapi genderang panggilan—bunyi yang biasanya hanya digunakan untuk pertemuan darurat atau pengumuman penting dari tetua.
Seluruh anggota klan, dari keluarga utama hingga cabang termiskin, berkumpul di pelataran dengan wajah-wajah penuh tanya. Tetua Ryu Dohwan berdiri di atas panggung batu, wajahnya yang keriput tampak lebih serius dari biasanya.
“Pagi ini,” suaranya bergema di tengah hening, “aku menerima kabar bahwa tiga tahun lagi, Sekte Pedang Surgawi akan mengadakan Turnamen Persilatan Sejati. Klan Ryu mendapat kehormatan untuk mengirim satu wakil utama dan satu wakil cadangan.”
Murmur mulai terdengar di antara kerumunan. Turnamen Persilatan Sejati adalah impian setiap pendekar muda. Nama itu sendiri sudah cukup membuat darah para pesilat mendidih.
“Wakil utama,” lanjut Ryu Dohwan, “adalah Ryu Cheonmyeong.”
Tidak ada yang terkejut. Nama itu sudah diantisipasi semua orang. Cheonmyeong, yang berdiri di barisan depan dengan jubah hijau kebesarannya, membungkuk dengan anggun seolah itu sudah menjadi haknya.
“Wakil cadangan,” Ryu Dohwan berhenti sejenak, “adalah Ryu Seol.”
Keheningan yang tiba-tiba.
Kemudian bisik-bisik pecah seperti gelombang. Semua mata tertuju pada Seol yang berdiri di barisan paling belakang, seragam abu-abunya yang lusuh tampak seperti noda di tengah lautan jubah hijau.
“Dia? Wakil cadangan?”
“Sampah itu akan mempermalukan klan di depan seluruh Murim!”
“Apa yang dipikirkan tetua?”
Seol tidak bergerak. Wajahnya datar, tetapi di dalam dadanya, qi kecil yang ia sembunyikan berputar lebih cepat—bukan karena takut, tetapi karena konsentrasi. Ia sudah tahu ini akan terjadi. Gu telah memberitahunya semalam.
“Mereka akan mengumumkannya besok. Dan setelah pengumuman itu, mereka akan menguji. Bukan untuk melihat seberapa kuat kau, tetapi untuk memastikan bahwa kau cukup lemah untuk tidak mempermalukan klan. Kau akan dipasangkan dengan seseorang yang lebih rendah darimu secara resmi, tetapi jauh lebih kuat darimu sebenarnya. Mereka ingin kau kalah. Mereka ingin kau menunjukkan bahwa kau memang sampah.”
Seol mengepalkan tangannya di balik lengan bajunya.
“Tapi kau tidak akan kalah.”
---
Ujian Dadakan
“Sebelum nama resmi dikirim ke Sekte Pedang Surgawi,” kata Ryu Dohwan setelah keributan mereda, “kita akan mengadakan ujian kecil untuk memastikan bahwa wakil-wakil kita benar-benar layak. Ini adalah tradisi klan, dan tidak bisa dilewatkan.”
Cheonmyeong tersenyum tipis. Ia sudah tahu ujian ini akan terjadi. Bahkan, ia yang mengusulkannya kepada tetua tadi malam.
“Kita harus memastikan bahwa Ryu Seol tidak akan mempermalukan klan,” katanya dengan nada peduli. “Jika ia terlalu lemah, mungkin lebih baik mencari orang lain.”
Tetua setuju. Dan Cheonmyeong sudah mengatur segalanya.
“Ujian akan berlangsung dalam bentuk pertarungan satu lawan satu,” lanjut Ryu Dohwan. “Setiap wakil akan dipasangkan dengan lawan yang setara. Cheonmyeong akan bertarung dengan…”
“Aku meminta izin untuk tidak bertarung,” potong Cheonmyeong dengan hormat. “Sebagai wakil utama, aku ingin mengamati kemampuan wakil cadangan terlebih dahulu. Untuk… evaluasi.”
Ryu Dohwan mengangguk. “Baik. Maka Ryu Seol akan bertarung dengan…”
Ia menoleh ke arah kerumunan. Matanya berhenti pada seorang pemuda bertubuh kekar dengan rahang persegi dan tangan yang dipenuhi kapalan.
“Ryu Kang. Maju ke depan.”
Ryu Kang melangkah maju dengan senyum lebar. Ia adalah murid kelas menengah Klan Ryu—tidak seberbakat Cheonmyeong, tetapi jauh di atas rata-rata. Tubuhnya yang kekar dan teknik tinjanya yang kuat telah membuatnya menang dalam delapan dari sepuluh pertarungan sparring di klan.
Dan ia adalah orang yang paling sering mengejek Seol setelah Cheonmyeong.
“Sabeom-nim,” kata Kang sambil membungkuk, “aku mohon maaf jika aku melukainya terlalu parah.”
Tawa kecil terdengar dari kerumunan.
Ryu Dohwan mengangkat tangannya. “Ini hanya ujian. Tidak ada yang boleh terluka parah. Mulai.”
Kang dan Seol berdiri di tengah arena. Lingkaran batu seluas sepuluh tombak itu menjadi pusat perhatian semua orang. Keluarga utama berdiri di sisi timur, keluarga cabang di sisi barat. Di atas panggung, para tetua duduk dengan wajah serius.
Cheonmyeong berdiri di samping panggung, tangan disilangkan di dada. Matanya tidak berkedip.
Tunjukkan padaku, sepupu kecil. Tunjukkan apa yang kau sembunyikan.
Kang tidak menunggu lama. Ia melesat maju dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya. Tinju kanannya melayang ke arah wajah Seol dengan kekuatan yang cukup untuk meretakkan tulang.
Seol menghindar.
Gerakannya tidak spektakuler. Tidak ada lompatan tinggi atau putaran indah. Ia hanya memiringkan tubuhnya beberapa inci ke kiri, tepat saat tinju Kang melesat melewati telinganya.
Angin dari pukulan itu menyentuh pipinya. Kencang. Keras. Jika terkena, ia mungkin akan pingsan seketika.
“Dia mengandalkan kekuatan,” bisik Gu dalam benaknya. “Tidak ada teknik. Tidak ada strategi. Dia hanya akan mengejar dan memukul. Ini adalah lawan yang sempurna untuk ujian pertamamu.”
Seol tidak menjawab. Ia fokus pada gerakan Kang.
Pukulan kedua datang. Kali ini dari kiri, menyapu ke arah rusuknya. Seol mundur selangkah, jaraknya tepat sehingga ujung tinju Kang hanya menyentuh bajunya tanpa mengenai kulit.
“Diam, tikus!” teriak Kang frustrasi. Ia menginjak maju dengan keras, kaki kanannya menghentak tanah hingga debu beterbangan. Kedua tinjunya meluncur dalam gerakan memutar—teknik andalannya, Tinju Ganda Membunuh.
Seol melihat serangan itu datang. Lambat. Tidak seperti yang ia bayangkan.
Atau mungkin, pikirannya yang bekerja lebih cepat dari sebelumnya.
“Qi mempercepat indramu,” kata Gu. “Bukan hanya kekuatan fisik yang berubah. Cara kau melihat dunia juga berubah. Apakah kau merasakannya?”
Seol merasakannya. Dunia di sekitarnya terasa seperti gerakan lambat. Debu yang beterbangan tampak melayang di udara. Otot-otot Kang yang tegang sebelum menyerang terlihat jelas, memberi petunjuk ke mana pukulan akan diarahkan.
Ia bisa menghindar lagi. Mudah.
Tapi Gu berkata ia tidak boleh kalah.
Ia tidak perlu menghindar.
Ketika tinju kanan Kang menghunjam ke arah dadanya, Seol tidak mundur. Ia melangkah maju.
Tubuhnya yang kurus menyelinap di bawah lengan Kang dengan gerakan yang sangat kecil hingga hampir tidak terlihat. Bahu Seol menyentuh dada Kang—sentuhan ringan, tetapi tepat pada titik keseimbangan lawan.
Kang kehilangan keseimbangan. Tubuhnya yang kekar bergoyang ke depan, terlalu banyak momentum untuk dihentikan.
Dan dalam sepersekian detik itu, Seol menggerakkan tangannya.
Ia tidak meninju. Tidak menendang. Ia hanya meletakkan telapak tangannya di punggung Kang, tepat di antara tulang belikat, dan mendorong.
Dorongan itu tidak kuat. Tidak ada qi yang dikeluarkan, tidak ada teknik rahasia. Hanya dorongan biasa.
Tapi karena Kang sudah kehilangan keseimbangan, dorongan kecil itu cukup.
Pemuda kekar itu tersungkur ke depan dengan keras, wajahnya membentur tanah berbatu dengan bunyi dug yang membuat seluruh pelataran hening.
Seol berdiri di atasnya, telapak tangannya masih terulur, ekspresinya datar.
Ia tidak menyakiti Kang. Ia hanya membiarkan kekuatan Kang sendiri yang menjatuhkannya.
Keheningan.
Kemudian bisik-bisik pecah seperti lebah terganggu.
“Apa yang terjadi?”
“Dia… dia menjatuhkan Kang?”
“Itu tidak mungkin. Kang pasti tergelincir.”
Kang bangkit dengan wajah merah padam. Debu menempel di pipinya yang tergores, darah mengalir dari bibir bawahnya yang tergigit.
“Itu kebetulan!” teriaknya. “Aku tidak siap! Ayo lagi!”
Ia melompat maju dengan amarah buta. Kali ini tidak ada teknik, hanya kemarahan murni. Tinjunya menghujam ke segala arah tanpa pola, berusaha menghancurkan pemuda kurus di depannya.
Seol bergerak.
Dan kali ini, ia tidak hanya menghindar.
Gu tidak memberinya perintah. Tidak ada bisikan di benaknya. Yang ada adalah sesuatu yang lebih dalam—naluri yang terbangun dari latihan selama lima malam, dari pusaran qi yang ia ciptakan dan sembunyikan, dari kesadaran baru bahwa tubuhnya tidak lagi menjadi musuh, tetapi sekutu.
Ia meliuk di antara pukulan Kang seperti daun yang ditiup angin. Setiap gerakannya minimalis, tidak ada energi yang terbuang. Ia hanya bergerak cukup jauh untuk menghindar, cukup dekat untuk membuat Kang terus mengejar.
Dan setelah sepuluh pukulan yang meleset, Kang mulai kehabisan napas. Amarahnya telah menghabiskan cadangan energinya. Gerakannya melambat, napasnya tersengal.
Seol melihat celah itu.
Ketika tinju Kang yang kelima belas meleset di samping telinganya, Seol melangkah masuk. Tubuhnya menempel pada Kang, tangan kanannya menyentuh siku lawan, tangan kirinya menekan bahu lawan.
Ia memutar.
Itu bukan teknik bela diri yang diajarkan di Klan Ryu. Itu adalah gerakan alami—cara seseorang membalikkan badan saat jatuh, cara sungai berbelok di antara batu-batu. Tapi karena dilakukan dengan ketepatan mutlak pada saat Kang sedang dalam posisi paling rentan, efeknya dahsyat.
Kang terlempar ke udara. Tidak tinggi, hanya beberapa jengkal, tetapi cukup untuk kehilangan seluruh kendali. Ia jatuh terlentang dengan bunyi thud yang membuat debu beterbangan.
Kali ini, ia tidak bangkit.
Ia hanya terduduk di tanah, mata terbelalak, napas tersengal, tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
Seol berdiri di hadapannya, tangan di sisi tubuh, napas teratur. Tidak ada bekas luka di tubuhnya, tidak ada keringat berlebih. Ia tampak seperti baru saja berjalan-jalan, bukan bertarung.
Seluruh pelataran sunyi.
Tetua Ryu Dohwan menatap Seol dengan mata menyipit. Tetua kedua, Ryu Jong, membuka mulut hendak berkata sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Dan Cheonmyeong…
Cheonmyeong tidak bergerak. Tangannya yang semula disilangkan di dada kini terjatuh ke sisi tubuh. Rahangnya mengeras. Matanya—yang biasanya penuh percaya diri—kini dipenuhi oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ketidakpercayaan.
“Ryu Seol menang,” kata tetua Ryu Dohwan akhirnya, suaranya datar tetapi ada nada yang sulit diartikan. “Ujian selesai. Semua kembali ke tugas masing-masing.”
Kerumunan mulai bubar dengan perlahan, masih gempar dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Seol berbalik untuk pergi, tetapi sebelum ia bisa melangkah…
“Tunggu.”
Suara itu memotong udara seperti pedang.
Seol berhenti. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.
Cheonmyeong melangkah maju ke tengah arena. Kakinya yang bersepatu kulit membuat jejak di debu. Ia berdiri di hadapan Seol, jarak antara mereka hanya tiga langkah.
Dari dekat, kemarahan di matanya tidak bisa disembunyikan. Bukan kemarahan karena Kang kalah—Kang tidak berarti apa-apa baginya. Tapi kemarahan karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dan Cheonmyeong tidak bisa mentolerir sesuatu yang tidak ia mengerti.
“Ryu Seol,” katanya, suaranya cukup keras untuk didengar oleh semua orang yang belum pergi. “Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Mungkin keberuntungan. Mungkin Kang terlalu meremehkanmu. Tapi satu hal yang aku tahu…”
Ia mengambil langkah maju. Tekanan qi-nya keluar tanpa ditahan—bukan serangan, tetapi peringatan. Seol merasakan beban itu menekan dadanya, mencoba membuat lututnya melemah.
Tapi ia tidak berlutut.
Cheonmyeong melihat itu. Matanya menyipit.
“Kau telah berubah,” katanya pelan, hanya untuk Seol dan orang-orang terdekat yang mendengar. “Dan aku ingin tahu seberapa jauh perubahannya.”
Ia mengangkat suaranya.
“Ryu Seol! Sebagai wakil utama Klan Ryu, aku menantangmu untuk duel resmi satu minggu dari sekarang! Di arena yang sama, di depan seluruh klan!”
Kerumunan yang mulai bubar berhenti. Semua mata tertuju pada dua pemuda yang berdiri berhadapan di tengah arena.
Seol tidak menjawab. Ia menatap Cheonmyeong dengan mata yang tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditantang oleh jenius klan.
“Kau takut?” tanya Cheonmyeong dengan senyum tipis. “Kau bisa menolak. Tapi semua orang akan tahu bahwa kemenanganmu tadi hanya kebetulan. Bahwa kau masih sampah seperti dulu.”
Seol menarik napas dalam-dalam. Di dalam dadanya, qi kecil itu berputar lebih cepat, hampir tidak bisa ia kendalikan. Amarah. Bukan amarah yang meledak-ledak, tetapi api dingin yang membakar dari dalam.
“Terima,” bisik Gu tiba-tiba. “Terima tantangannya.”
“Tapi aku belum siap—” pikir Seol panik.
“Kau tidak akan pernah siap jika terus menunggu. Terima. Aku akan membantumu.”
Seol mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menatap langsung ke mata Ryu Cheonmyeong—sepupu yang selama ini ia hindari, yang ia takuti, yang ia benci.
“Aku terima,” katanya.
Suaranya tidak keras. Tidak penuh amarah. Tapi ada keteguhan di dalamnya yang membuat Cheonmyeong tersenyumnya menghilang.
Keheningan yang tegang menyelimuti arena.
Kemudian Cheonmyeong tertawa. Tertawa pendek dan tajam.
“Bagus. Satu minggu. Bersiaplah, sepupu kecil. Karena aku tidak akan selembut Kang tadi.”
Ia berbalik dan pergi, jubah hijaunya berkibar tertiup angin. Kerumunan mulai bubar dengan bisik-bisik yang semakin keras.
Seol berdiri sendirian di tengah arena.
“Kau melakukannya dengan baik,” kata Gu. “Tapi mulai sekarang, latihanmu tidak akan semudah sebelumnya.”
Seol mengangguk pelan. Ia mengepalkan tangannya, merasakan qi kecil yang berputar di dalam dadanya.
Satu minggu.
Satu minggu untuk mempersiapkan diri melawan jenius yang telah berlatih sejak usia enam tahun.
Satu minggu untuk membuktikan bahwa ia bukan sampah.
---
Di Kediaman Utama – Sore Hari
Cheonmyeong duduk di kamarnya, pedang panjang tergeletak di pangkuannya. Ia tidak bergerak. Tidak berlatih. Ia hanya duduk, matanya terpaku pada dinding kayu di depannya.
Pintu terbuka. Moojin masuk dengan langkah tak bersuara.
“Tuan,” katanya, berlutut. “Aku sudah menyelidiki.”
“Apa kau menemukan sesuatu?”
Moojin menggeleng. “Tidak, Tuan. Gua di balik air terjun itu… aku sudah memeriksanya. Tidak ada apa-apa. Hanya batu kosong dan relief tua. Tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang pernah tinggal di sana.”
Cheonmyeong mengerutkan kening. “Tidak ada apa-apa?”
“Tidak, Tuan. Tapi…” Moojin ragu.
“Tapi?”
“Ada sebuah altar dengan dua belas patung. Di tengah altar itu, ada cekungan berbentuk lonjong. Seperti tempat sesuatu diletakkan. Tapi sekarang kosong.”
Cheonmyeong terdiam. Pikirannya berputar cepat.
Jadi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sekarang sudah tidak ada. Sesuatu yang mungkin dibawa oleh Seol.
“Terus selidiki,” perintahnya. “Cari tahu apa yang hilang dari gua itu. Dan awasi Seol. Setiap gerakannya. Aku ingin tahu rahasianya sebelum duel.”
Moojin membungkuk. “Baik, Tuan.”
Ia menghilang. Cheonmyeong kembali menatap pedangnya.
“Satu minggu,” bisiknya. “Cukup lama untuk menghancurkanmu, sepupu kecil. Dan mengambil apa pun yang kau sembunyikan.”
Pedang itu bergetar pelan, seolah menantikan darah.
---
Di Gubuk Cabang – Malam Hari
Seol duduk bersila di lantai gubuknya. Di luar, angin malam bertiup membawa dingin yang menusuk, tetapi ia tidak bergerak.
Di dalam benaknya, Gu sedang menjelaskan strategi untuk duel.
“Cheonmyeong adalah pendekar level Hwanung. Qi-nya sudah mencapai tahap di mana ia bisa mengeluarkannya dari tubuh dalam bentuk gelombang. Kau belum bisa melawan itu secara langsung.”
“Jadi bagaimana aku bisa menang?”
“Kau tidak bisa. Belum.” Gu terus terang. “Tapi kau tidak perlu menang. Yang kau butuhkan adalah bertahan. Bertahan cukup lama untuk membuatnya ragu. Bertahan cukup lama untuk menunjukkan bahwa kau bukan mangsa yang mudah.”
Seol menghela napas. “Itu bukan kemenangan.”
“Ini adalah awal, bocah. Kemenangan sejati bukan tentang mengalahkan lawan yang lebih kuat. Tapi tentang bertahan cukup lama untuk menjadi kuat. Dan percayalah…” Suara Gu menjadi lebih lembut. “Suatu hari, kau akan menjadi jauh lebih kuat darinya. Tapi untuk saat ini, bertahanlah.”
Seol menutup matanya. Ia membayangkan seminggu ke depan. Latihan setiap malam. Tubuhnya yang akan dipukul, terjatuh, bangkit lagi.
Tapi kali ini, ia tidak sendirian.
“Aku akan bertahan,” katanya.
“Aku tahu.”
Di luar, bulan sabit naik tinggi di langit, cahayanya pucat dan dingin.
Tapi di dalam gubuk reyot itu, ada api kecil yang mulai menyala.
Api yang tidak akan pernah padam.
---