NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tertinggal

Hujan di Kota Flora belum juga menunjukkan tanda-tanda akan usai. Suasana di lobi penginapan terasa lembap dan dingin, membuat siapa pun enggan melangkah keluar. Fajri, yang sedari tadi mondar-mandir menunggu pesanan makanan, tiba-tiba mematung saat melihat sosok tegap yang baru saja masuk sambil mengibaskan tetesan air dari jaketnya.

"Bang Jack!" teriak Fajri, memecah kesunyian lobi yang sepi.

Laki-laki bernama Jack itu menoleh. Alisnya bertaut sebelum akhirnya senyum tipis terukir di wajahnya yang keras. "Hey! Sedang apa kamu di sini?"

"Aku bersama Kakak. Niatnya mau ziarah, tapi gagal total karena hujan," keluh Fajri.

"Sayang sekali. Kota ini memang sedang dilanda curah hujan tinggi minggu ini. Di mana Gisel?" tanya Jack, matanya menyisir lobi.

"Ada di kamar. Aku sedang menunggu..." Kalimat Fajri terputus saat kurir makanan datang membawa bungkusan hangat. Dengan sigap, Fajri mengambil pesanan itu, lalu menoleh kembali pada Jack yang masih berdiri menanti. "Ayo, Bang! Naik ke atas saja."

Jack mengikuti langkah Fajri menuju kamar nomor 14. Saat pintu dibuka, Gisel muncul dengan kaus santai dan rambut yang diikat asal. Ia terkejut sesaat, namun kemudian tersenyum ramah menyambut kawan lamanya itu.

Mereka bertiga adalah produk dari kerasnya Jalan Bunga. Namun, garis nasib mereka sedikit berbeda. Di saat Gisel dan Fajri mati-matian mengejar studi sebagai tiket keluar dari lokalisasi, Jack memilih jalan pintas. Ia putus sekolah lebih awal dan masuk ke lingkaran kekuasaan Om Arman sebagai tangan kanan yang bisa diandalkan.

Sudah beberapa tahun Jack tidak terlihat di Jalan Bunga. Ibunya, yang sudah tidak lagi melayani pelanggan karena usia dan fisik yang menurun, memilih pulang kampung. Jack pun ikut mendampingi.

"Apa yang Bang Jack lakukan di kota ini?" tanya Gisel sambil meletakkan beberapa kotak nasi di atas meja kecil.

"Ada urusan pekerjaan selama beberapa hari. Urusanku baru saja selesai sore ini," jawab Jack. "Kapan kalian kembali?"

"Besok pagi, Bang. Kami tidak bisa lama-lama bolos sekolah," sahut Fajri.

"Kalau begitu, aku ikut kalian. Kebetulan aku ada urusan dengan Om Arman."

Gisel mengangguk setuju. "Tidak masalah."

Malam itu, di tengah rintik hujan Kota Flora, ketiganya berbincang hangat. Jack menceritakan kehidupannya yang sekarang jauh lebih tenang bersama ibunya yang mulai sakit-sakitan. Mereka bernostalgia tentang masa kecil di Jalan Bunga—sebuah tempat yang mereka benci namun tak bisa mereka lupakan, karena di sanalah akar mereka tertanam.

Di waktu yang bersamaan, di Kota Fauna yang jaraknya ratusan kilometer, Arlan sedang bergelut dengan badainya sendiri. Ia mendekap Keira dengan protektif, mencoba menembus kerumunan perempuan di Jalan Bunga yang menatapnya dengan pandangan genit dan penuh rasa ingin tahu.

Langkah Arlan terhenti seketika saat sebuah motor besar menderu masuk ke gang dan berhenti tepat di depannya, menghalangi jalan. Om Arman turun dengan gerakan yang sengaja diperlambat, memberikan tekanan psikologis yang nyata. Ia mengepakkan jaket kulitnya, menatap Arlan dengan tatapan yang bisa membuat nyali pria biasa menciut.

"Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah aku sudah mengatakan jika lingkungan ini tidak cocok untuk anak-anak?" tanya Om Arman dengan suara rendah yang mengancam.

"Mama!" Keira tiba-tiba berteriak, suaranya melengking membelah ketegangan.

Arlan yang sedang fokus menghadapi Om Arman sedikit lengah. Keira berhasil meronta lepas dari dekapannya. Bukannya lari menjauh, gadis kecil itu justru berlari ke arah Om Arman—pria yang paling ditakuti di kawasan itu.

Dengan jari-jari kecilnya, Keira menarik bagian celana jeans Om Arman yang robek di lutut, menatap pria sangar itu dengan pandangan penuh harap yang menyayat hati.

"Jika yang kalian cari adalah Gisel, dia sedang tidak ada di sini. Sebaiknya kalian pulang sekarang!" tegas Arman, mengabaikan tarikan tangan Keira.

"Mama... Mama..." Keira mulai terisak.

Ia seolah tahu bahwa Gisel—sosok yang ia labeli sebagai mama—tidak ada di sana. Isak tangisnya semakin kencang, berubah menjadi jeritan pilu yang mengundang perhatian penghuni Jalan Bunga yang baru saja memulai aktivitas pasar malam mereka.

Dada Arlan sesak. Ia merasa seperti pecundang. Bagaimana mungkin ia bisa menjauhkan Keira dari Gisel, jika baru beberapa kali bertemu saja anaknya sudah memiliki keterikatan emosional yang sedalam ini? Arlan mencoba menarik Keira kembali ke pelukannya, namun anak itu menolak mentah-mentah.

Om Arman, yang sedari tadi menahan amarah, akhirnya tidak tega melihat tangisan Keira yang semakin histeris. Ia menyambar tubuh kecil Keira dengan satu tangan yang kuat, membawanya masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan tatapan acuh Tante Ira yang sedang bersandar di pintu.

Di dalam rumah, suasana terasa lebih dingin. Om Arman memanggil Reyhan, putranya yang masih berumur sepuluh tahun. "Reyhan, bawa anak ini ke kamar Gisel. Biarkan dia tenang di sana."

Reyhan mengangguk patuh dan menggendong Keira yang masih sesenggukan menuju kamar Gisel yang berada di bagian belakang rumah. Di ruang tamu, hanya tersisa Arlan dan Om Arman dalam keheningan yang mencekam.

"Aku tidak suka ada orang luar masuk ke sini, apalagi yang membawa urusan pribadi yang merepotkan keponakanku," Om Arman membuka suara.

"Gisel punya masa depan yang sedang aku bangun dengan susah payah. Jangan kira aku tidak tahu maksudmu! Aku tidak ingin ia dicap sebagai 'pengasuh' atau apa pun oleh orang-orang berjas sepertimu!"

"Aku tidak bermaksud..." Arlan mencoba membela diri.

"Jika benar kamu tidak bermaksud begitu, kenapa kamu membawa anakmu kemari lagi?" sergah Om Arman menusuk.

.

.

.

.

.

Maaf tidak up dua hari, author adalah pengangguran banyak acara... hehehe

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!