Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Baja Melawan Jenderal Buas
Makhluk raksasa itu melangkah keluar sepenuhnya dari balik bayangan pohon. Tingginya mencapai sepuluh meter. Sekujur tubuhnya ditutupi bulu hitam kaku yang setebal paku besi. Di kepalanya, melengkung sebuah cula panjang yang memancarkan aura buas tingkat Jenderal. Itu adalah Kera Lapis Baja, penguasa mutlak di wilayah Hutan Hitam ini.
Monster itu menatap tumpukan mayat di dekat kaki Zian, lalu menatap Zian dengan mata merahnya yang menyala marah. Ia merasa wilayah kekuasaannya telah diinjak-injak oleh semut kecil.
"Hooaarrgh!" Kera Lapis Baja itu mengaum sangat keras. Suaranya menciptakan gelombang angin yang merontokkan ribuan daun dari pohon di sekitarnya.
Zian hanya mengorek telinganya santai dengan jari kelingking. "Suaramu terlalu berisik, Kera Jelek. Telingaku sampai sakit."
"Bocah gila! Hati-hati!" suara serak leluhur Asura tiba-tiba berteriak di dalam kepalanya. "Itu Kera Lapis Baja tingkat Jenderal! Ototnya sekeras baja pusaka kelas satu. Satu pukulannya bisa meratakan bukit kecil!"
Zian tersenyum dingin. Dia melangkah maju menipiskan jarak. "Baja pusaka? Kebetulan sekali. Tulangku kebetulan sedang butuh samsak dari baja."
"Kau mau menahan pukulannya langsung?! Jangan gegabah!" tegur leluhur itu panik.
"Diam dan tonton saja, Pak Tua," balas Zian datar. Dia mengangkat wajahnya menantang monster raksasa itu. "Majulah! Tunjukkan sekeras apa pukulan seorang Jenderal!"
Seolah mengerti ejekan Zian, Kera Lapis Baja itu mengamuk. Makhluk itu melompat tinggi ke udara, menutupi cahaya bulan. Kedua tangan raksasanya saling bertaut, membentuk palu daging raksasa, lalu menghantam turun dengan kecepatan meteor. Targetnya tepat di atas kepala Zian.
Angin berdesing tajam. Tekanan udara dari pukulan raksasa itu bahkan sudah membuat tanah di sekitar kaki Zian retak sebelum pukulannya mendarat.
Zian tidak bergeser satu sentimeter pun. Dia mengangkat tangan kanannya ke atas, menyongsong palu daging raksasa itu hanya dengan telapak tangan terbuka.
Buum!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh Hutan Hitam.
Tanah di bawah kaki Zian langsung amblas sedalam tiga meter, membentuk kawah besar yang hancur lebur. Debu tebal bergulung-gulung menutupi arena pertarungan. Ratusan burung malam terbang panik menjauhi pusat ledakan.
Di dalam kepulan debu itu, suara leluhur Asura tertawa terbahak-bahak memecah keheningan.
"Hahaha! Luar biasa! Benar-benar di luar nalar!" tawa leluhur itu menggelegar bangga.
Debu perlahan menipis. Kera Lapis Baja itu membelalakkan mata merahnya. Rahangnya seolah mau lepas melihat pemandangan di bawahnya.
Zian masih berdiri tegak di dasar kawah. Tangan kanannya menahan palu raksasa kera itu dengan sangat kokoh. Lengan baju Zian robek berkeping-keping, menampilkan otot lengannya yang terbentuk sempurna. Kulitnya tidak tergores sama sekali. Tulangnya bahkan tidak bergeser sedikit pun.
"Hanya segini kekuatan penguasa hutan?" Zian mendongak. Sorot matanya sangat tajam dan merendahkan. "Pukulanmu bahkan lebih ringan dari tepukan kapas."
Kera Lapis Baja itu menggeram marah dan panik. Ia berusaha menarik tangannya, tapi jari-jari Zian sudah mencengkeram bulu bajanya dengan kekuatan cengkeraman yang mematikan. Tangan raksasa itu terkunci rapat seolah dijepit oleh gunung besi.
"Lepaskan? Tentu. Tapi tinggalkan tanganmu di sini," bisik Zian dingin.
Zian memutar pergelangan tangannya dengan paksa.
KRAK!
Bunyi patahan tulang yang sangat nyaring terdengar. Lengan kanan kera raksasa itu melintir ke arah yang tidak wajar. Tulang tebalnya patah dan menonjol keluar menembus kulit bajanya.
Kera itu menjerit melengking kesakitan. Ia mundur terhuyung-huyung, memegangi lengannya yang hancur. Darah hitam menyembur deras membasahi tanah hutan.
"A-apa yang terjadi?!" leluhur Asura bergumam takjub. "Kau mematahkan tulang monster tingkat Jenderal murni dengan putaran pergelangan tangan?! Kebangkitan Brutal benar-benar membuat fisikmu setara iblis!"
"Aku belum selesai," sahut Zian santai.
Zian menekuk lututnya, lalu melesat maju dari dalam kawah. Tanah pijakannya meledak. Kecepatannya meninggalkan bayangan buram di udara. Dalam sekejap, dia sudah berada tepat di depan wajah kera raksasa yang sedang melolong kesakitan itu.
"Tadi kau mau meratakan bukit, kan?" Zian menarik kepalan tangan kirinya ke belakang. Urat-urat di leher dan lengannya menyembul keluar. "Biar aku ajari cara memukul yang benar."
Bugh!
Tinju kiri Zian meluncur ganas dan mendarat telak di dada kera tersebut. Pukulan tanpa energi sihir itu menghasilkan ledakan sonik di udara.
Brak!
Zirah alami di dada kera itu langsung hancur berkeping-keping. Kera seberat puluhan ton itu terpental ke belakang, menabrak dan mematahkan belasan pohon raksasa sebelum akhirnya jatuh bergulingan di tanah.
Makhluk itu memuntahkan darah dalam jumlah besar. Ia berusaha merangkak bangun, tapi Zian sudah melompat dan mendarat keras tepat di atas punggungnya.
Zian mencengkeram cula besar di kepala kera itu dengan kedua tangannya.
"Pinjam culamu sebentar," kata Zian tanpa belas kasihan.
Dia menarik cula itu ke belakang dengan tenaga penuh. Kera raksasa itu meronta liar, merobek tanah dengan sisa tangannya yang utuh. Tapi cengkeraman Zian tidak goyah sama sekali.
KRAAAK!
Cula kebanggaan sang Jenderal hutan itu tercabut paksa dari tengkoraknya. Darah segar menyembur seperti air mancur. Kera itu kejang-kejang sesaat, menahan rasa sakit yang tidak tertahankan.
"Akhiri sekarang, Bocah! Jantungnya sudah terbuka!" teriak leluhur Asura semangat.
"Tanpa kau suruh pun akan kulakukan," gumam Zian.
Zian membuang cula itu ke samping. Dia berdiri tegak di atas dada kera yang sudah hancur zirahnya. Dia mengepalkan tangan kanannya, memusatkan seluruh sisa beban fisik Tulang Asuranya ke satu titik ujung kepalan.
"Tidurlah selamanya, Kera Jelek," bisik Zian.
Dia meninju lurus ke arah jantung monster itu.
BOOM!
Pukulan Zian melesak dalam menembus daging tebal kera itu. Gelombang kejut dari tinjunya merambat langsung ke organ dalam sang Jenderal. Jantung raksasa itu meledak hancur berkeping-keping di dalam rongga dada.
Kera Lapis Baja itu mendelik kaku, mengeluarkan napas terakhirnya yang berbau anyir, lalu tubuhnya lemas tak bernyawa. Pertarungan antara manusia tanpa energi melawan monster Jenderal itu berakhir murni dengan kemenangan fisik mutlak.
Zian menarik tangannya yang berlumuran darah dari dada kera itu. Dia merobek sedikit dagingnya dan menarik keluar sebuah inti monster seukuran buah melon yang bersinar merah terang. Inti monster tingkat Jenderal.
"Hahaha! Kau benar-benar monster, Zian!" leluhur Asura kembali tertawa puas. "Kekuatan fisikmu sekarang murni setara dengan kultivator tingkat Jenderal menengah. Kalau kau memukul manusia dengan tinju tadi, jangankan tulang, jiwa mereka pun pasti hancur!"
Zian menimbang inti monster itu di tangannya, lalu memasukkannya ke dalam kantong kainnya. Matanya menatap datar sisa mayat raksasa di bawah kakinya.
"Tian Ao dilindungi oleh Tetua Wu. Aku dengar orang tua itu ada di tingkat Jenderal awal," kata Zian pelan sambil tersenyum kejam. "Mari kita lihat apakah kepala orang tua itu lebih keras dari tengkorak kera ini."
"Apa rencanamu sekarang?" tanya leluhur itu penasaran.
Zian menatap bongkahan kepala kera raksasa yang sudah mati itu. "Aku akan membawa bingkisan pertemuan yang pantas untuk mereka."
Zian meraih leher kera raksasa itu. Dengan satu tarikan kasar, dia mematahkan dan merobek kepala kera tersebut dari tubuhnya. Zian mengangkat kepala monster yang besarnya melebihi tubuh manusia itu dengan satu tangan, seolah dia hanya sedang menenteng sebuah keranjang buah ringan.
Dia berbalik arah, menatap ke utara hutan. Suara gemuruh air terjun terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Niat membunuhnya kembali mendidih, kali ini jauh lebih fokus dan mematikan.
Zian berjalan santai menyeret kepala raksasa itu menembus hutan. Langkahnya meninggalkan jejak garis darah yang panjang di atas tanah kering.
Sementara itu, di kamp sementara Air Terjun Hitam.
Suasana di sana sangat mewah. Beberapa tenda sutra didirikan di tepi sungai. Tian Ao duduk bersandar di kursi berlapis kulit harimau, menikmati buah anggur yang disuapkan oleh seorang pelayan wanita. Di sekelilingnya, lima belas pengawal elit Sekte Api Emas berjaga ketat dengan pedang ditarik setengah.
Di sebelah Tian Ao, Tetua Wu sedang duduk bersila sambil menyesap teh hangat dari cangkir giok.
"Kenapa si Brewok dan anak buahnya belum kembali juga?" Tian Ao mulai menggerutu kesal. Dia melempar anggur di tangannya ke tanah. "Hanya menangkap satu orang cacat saja butuh waktu berjam-jam! Apakah mereka tersesat di hutan ini?"
Tetua Wu tertawa pelan. "Tenanglah, Tuan Muda. Kau terlalu memikirkan semut itu. Brewok dan timnya adalah elit tingkat Perwira. Pemuda cacat itu mungkin sedang berlari ketakutan dan bersembunyi di lubang tikus sekarang. Biarkan mereka bermain-main sebentar melacaknya."
"Aku tidak sabar ingin mematahkan jari-jarinya satu per satu," geram Tian Ao dengan wajah bengis. "Dia berani menghinaku di depan alun-alun kota. Penghinaan itu harus dibayar dengan nyawa seluruh keluarganya! Setelah turnamen ini selesai, aku akan perintahkan pasukan sekte untuk meratakan rumah Zian sampai jadi abu."
"Keputusan yang sangat bijak, Tuan Muda. Keluarga kecil seperti mereka memang pantas diinjak agar keluarga lain tahu kekuatan Sekte Api Emas," dukung Tetua Wu sambil mengusap jenggot panjangnya. "Dan kau tidak perlu khawatir soal keamananmu di sini. Ada aku. Jangankan pemuda cacat, monster tingkat Jenderal pun tidak akan berani mendekati kamp kita ini."
Tian Ao mengangguk puas. Dia baru saja mau mengambil cangkir araknya ketika suara siulan angin yang sangat aneh terdengar dari atas pepohonan.
Suaranya sangat deras dan kencang, seperti ada batu besar yang dilempar dari langit.
"Suara apa itu?" salah satu pengawal elit menunjuk ke arah kegelapan hutan di seberang sungai.
Tetua Wu langsung membuka matanya lebar-lebar. Firasat bahayanya berdering keras. Dia melompat berdiri dan menarik Tian Ao mundur. "Awas, Tuan Muda!"
WUSSS! BRAAAK!
Sebuah benda raksasa melayang deras dari balik pohon dan menghantam bagian tengah kamp mereka dengan suara ledakan keras. Meja kayu, kursi kulit harimau, dan tenda sutra hancur berantakan tersapu gelombang hantaman tersebut. Debu dan air sungai memercik tinggi ke udara.
Beberapa pengawal elit terpelanting jatuh karena tanah yang bergetar.
"Sialan! Siapa yang berani menyerang kamp Sekte Api Emas?!" teriak Tian Ao panik sambil berlindung di belakang Tetua Wu. Wajahnya pucat pasi.
Debu perlahan menipis, menampakkan benda raksasa yang menghancurkan kamp mereka.
Napas Tian Ao dan para pengawalnya seketika tercekik di tenggorokan. Benda itu bukan batu. Benda raksasa itu adalah kepala Kera Lapis Baja tingkat Jenderal. Mulutnya terbuka meneteskan darah segar. Matanya mendelik mati dengan sangat mengerikan. Tulang tengkoraknya hancur lebur seperti baru saja dipukul oleh palu raksasa.
"I-itu... penguasa Hutan Hitam..." gumam Tetua Wu dengan bibir bergetar. Keringat dingin langsung membasahi punggungnya. "Monster tingkat Jenderal... siapa yang sanggup membunuhnya sebrutal ini?"
Di tengah keheningan yang mencekam dan rasa ngeri yang menjalar, suara langkah kaki pelan terdengar dari arah hutan seberang sungai.
Langkah itu sangat santai, menginjak ranting kering satu per satu dengan ketukan yang teratur.
"Kau bilang kau sedang menungguku, Tian Ao?"
Suara yang sangat dingin dan merendahkan itu mengalun menembus suara gemuruh air terjun.
Tian Ao membelalakkan matanya sampai mau keluar. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Dia mengenal suara itu. Suara yang paling dia benci sekaligus suara yang baru saja dia remehkan.
Dari balik bayangan pepohonan, Zian melangkah keluar dengan santai. Pakaiannya penuh bercak darah hitam. Kedua tangannya bersembunyi santai di dalam saku celananya. Matanya yang gelap menatap lurus ke arah Tian Ao dan Tetua Wu dengan senyum iblis yang sangat lebar.
"Maaf aku datang terlambat," ucap Zian datar. Dia melirik kepala kera raksasa yang tergeletak di tengah kamp. "Aku harus memetik buah tangan dulu untuk menghibur kalian sebelum mati."
cuma tinju asal ajaaa