NovelToon NovelToon
SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ruby Jingga

Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
​Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
​Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Ruang Kosong

​Sore itu, langit Jakarta berwarna abu-abu pekat, seolah hendak menumpahkan beban mendung yang menggantung rendah. Di depan gerbang kediaman Gendis yang bergaya minimalis modern namun megah, sebuah mobil sedan tua terparkir dengan posisi yang agak miring.

Di dalamnya, keluarga besar Indra, Ibu Indra, Ayahnya, dan kakak tertuanya, duduk dengan gelisah. Mereka sudah menunggu hampir tiga jam.

​Bi Sumi, asisten rumah tangga Gendis yang baru bekerja di kediamannya, hanya sesekali mengintip dari balik tirai. Ia sudah diperintahkan untuk tidak membiarkan siapa pun masuk sebelum nyonyanya pulang, namun ia tetap merasa tidak enak hati melihat orang tua itu menunggu di bawah pohon mangga di depan rumah.

​"Bi, buka pintunya! Kami ini mertua Gendis! Masak kami disuruh menunggu di luar seperti pengemis?" teriak Ibu Indra dari balik pagar, suaranya melengking tinggi, menarik perhatian beberapa tetangga yang sedang berolahraga sore.

​Bi Sumi hanya bisa membalas dengan sopan dari balik pagar, "Maaf, Bu. Nyonya Gendis sedang dalam perjalanan pulang. Saya tidak berani membuka pintu tanpa izin beliau."

​Tepat saat ketegangan itu memuncak, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik meluncur halus memasuki area carport. Gerbang otomatis terbuka pelan. Gendis turun dari kursi belakang setelah sopirnya membukakan pintu.

Penampilannya sore itu luar biasa elegan, ia mengenakan blazer berwarna gading yang dipadukan dengan celana kain senada, rambutnya yang hitam legam dibiarkan tergerai rapi, dan tas kulit bermerek melingkar di lengannya.

​Tatapan matanya dingin, sedingin udara AC di dalam kantor yang baru saja ia tinggalkan. Ia melihat mantan mertuanya dengan pandangan datar, seolah mereka hanyalah dekorasi jalanan yang tidak sengaja lewat.

​"Gendis! Akhirnya kamu pulang!" seru Ibu Indra, mencoba mendekat dengan wajah yang dipaksakan tersenyum, meski matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam.

​Gendis tidak langsung menjawab. Ia memberikan tasnya kepada Bi Sumi, lalu menoleh perlahan. "Persilakan mereka masuk, Bi. Buatkan teh hangat. Tapi hanya di ruang tamu depan," ujarnya tenang.

​Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah yang dulu sering mereka datangi sebagai penguasa. Namun sekarang, atmosfernya berbeda. Rumah itu terasa asing bagi mereka. Gendis duduk di kursi tunggal, menyilangkan kakinya dengan anggun, sementara keluarga Indra duduk berderet di sofa panjang di hadapannya.

​"Gendis, kami datang ke sini dengan niat baik," buka Ayah Indra dengan suara yang berusaha dibuat sebijak mungkin. "Kami tahu Indra salah. Dia sangat bodoh. Tapi, apakah harus sampai seperti ini? Dia anak laki-laki kami satu-satunya, Gendis. Kalau dia masuk penjara karena kasus korupsi itu, siapa yang akan menjaga kami di masa tua? Tolong, cabut tuntutannya. Kita bicarakan secara kekeluargaan. Kami akan pastikan Indra minta maaf bersimpuh di kakimu."

​Gendis menyesap tehnya perlahan, membiarkan keheningan mengisi ruangan selama beberapa detik yang menyiksa.

"Ayah," sebutnya pelan, "Niat baik tidak bisa menghapus angka-angka yang hilang di buku audit perusahaannya juga malunya aku sempat mendampingi seorang koruptor nakal. Niat baik juga tidak bisa mengembalikan lima tahun kesetiaan yang dikhianati secara menjijikkan. Indra sudah dewasa. Dia tahu apa yang dia tanda tangani dalam perjanjian pranikah, dan dia tahu juga risiko mengambil uang yang bukan haknya."

​"Kamu ini bicara apa, Gendis?" potong Ibu Indra, suaranya mulai bergetar karena emosi yang tertahan. "Kamu itu kaya! Keluargamu punya segalanya! Apa susahnya menutup lubang itu dan memaafkan suamimu sendiri? Kamu ingin melihat dia membusuk di penjara? Di mana rasa baktimu sebagai istri?"

​"Bakti saya sudah habis saat saya melihat foto-foto suami saya sedang bersenang-senang dengan perempuan lain menggunakan uang yang seharusnya menjadi masa depan kami," jawab Gendis tanpa menaikkan nada bicara sedikit pun.

​Ibu Indra tiba-tiba berdiri, wajahnya memerah padam.

"Kamu memang wanita dingin! Pantas saja Indra mencari kehangatan di tempat lain! Kamu tahu kenapa suamimu selingkuh? Itu karena kamu tidak berguna! Lima tahun nikah, satu anak pun tidak bisa kamu berikan! Kamu itu wanita mandul yang hanya tahu cara bekerja dan menghitung uang! Kalau saja kamu bisa memberikan cucu untuk kami, Indra pasti akan betah di rumah!"

​Maya, kakak Indra, mencoba menarik tangan ibunya. "Ibu, sabar dulu, kita ke sini untuk negosiasi..."

​"Tidak bisa sabar, Maya! Dia ini egois!" Ibu Indra kembali menunjuk wajah Gendis. "Kamu menghancurkan karier Indra karena kamu dendam karena dia bisa mendapatkan kebahagiaan dari wanita lain yang lebih 'subur' darimu! Kamu iri, kan? Kamu ingin Indra hancur karena kamu sendiri merasa gagal menjadi wanita sempurna!"

​Gendis terdiam. Ia menatap mantan mertuanya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasihan dan rasa muak yang mendalam. Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak balik. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tampak begitu tenang, seolah serangan verbal itu hanyalah angin lalu.

​"Ibu sudah selesai?" tanya Gendis dengan nada lembut yang justru terasa sangat mengancam.

​Ibu Indra terengah-engah, dadanya naik turun karena emosi.

​"Lucu sekali," Gendis memulai, bibirnya membentuk senyuman tipis yang sangat sinis. "Ibu selalu menyalahkan rahim saya selama lima tahun ini. Setiap kumpul keluarga, Ibu menyindir saya tentang jamu, tentang dokter, tentang dosa apa yang saya perbuat sampai Tuhan belum memberikan keturunan. Ibu tahu berapa kali saya pergi ke dokter kandungan sendirian? Berapa kali saya menjalani prosedur yang menyakitkan hanya untuk memastikan saya baik-baik saja?"

​Gendis menjeda sejenak, matanya menajam.

"Hasil medis saya selalu sempurna. Dokter mengatakan saya sangat subur. Tapi tahukah Ibu? Selama lima tahun ini, setiap kali saya meminta Indra untuk ikut tes sperma atau sekadar konsultasi kesehatan reproduksi pria, dia selalu menghindar. Dia marah, dia bilang saya menghina kejantanannya. Dia selalu merasa paling sehat hanya karena dia laki-laki."

​Gendis mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat di bola mata Ibu Indra yang kini mulai tampak goyah.

"Saya jadi bertanya-tanya, apakah sebenarnya di sini yang tidak subur adalah putra Ibu sendiri? Apakah kejantanan yang selalu ia banggakan itu sebenarnya hanya omong kosong belaka? Pernahkah Ibu berpikir bahwa selama ini Ibu memaki orang yang salah?"

​"Tutup mulutmu, Gendis!" teriak Ibu Indra, meski suaranya kini sedikit mencicit. "Di keluarga kami tidak ada yang mandul! Kakeknya, ayahnya, semua punya banyak anak! Jangan coba-coba membalikkan fakta hanya untuk menutupi kekuranganmu!"

​Gendis tertawa kecil. Suara tawa yang sangat merdu namun menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya.

"Ah, logika kuno. Di keluarga tidak ada sejarah. Ibu, ilmu kedokteran tidak peduli dengan sejarah keluarga jika gaya hidup anak Ibu saja hancur dengan alkohol dan perempuan malam di klub remang-remang. Tapi ya sudah, saya tidak punya kepentingan lagi untuk membuktikan siapa yang mandul di sini. Toh, hubungan ini sudah berakhir."

​"Gendis, tolonglah, jangan seperti ini," Ayah Indra mencoba menengahi kembali, suaranya terdengar sangat putus asa. "Kita bicarakan soal aset. Setidaknya jangan biarkan rumah kami harus dijual untuk menebus Indra. Kami mau tinggal di mana?"

​Gendis berdiri, tanda bahwa pertemuan itu sudah berakhir. "Rumah itu dibeli dengan sebagian dana yang Indra korupsi dari harta bersama juga uang korupsi di perusahaannya. Secara hukum, itu adalah aset yang harus dikembalikan untuk menutupi kerugian. Saya tidak punya wewenang lagi, biarkan hukum yang bekerja. Ibu tadi bilang saya wanita mandul, bukan? Nah, setidaknya wanita mandul ini punya cukup kecerdasan untuk melindungi hartanya dari keluarga parasit."

​"Gendis! Kurang ajar kamu!" Ibu Indra hendak maju, namun Bi Sumi dan sopir Gendis yang sejak tadi berjaga di dekat pintu segera melangkah masuk, memberikan perlindungan bagi majikan mereka.

​"Bi, tolong antarkan mereka keluar. Saya lelah dan ingin beristirahat," ujar Gendis tanpa menoleh lagi.

​"Gendis! Kamu akan kualat! Kamu akan tua sendirian dan tidak ada yang merawatmu!" teriak Ibu Indra saat ia mulai digiring keluar oleh Bi Sumi dengan sopan namun tegas.

​Gendis hanya berdiri di tengah ruang tamu yang luas dan sunyi itu. Ia mendengarkan suara teriakan yang perlahan menjauh, suara mesin mobil yang menyala, dan akhirnya keheningan total kembali meraja. Ia memejamkan mata sejenak. Kata-kata "mandul" itu dulu selalu membuatnya menangis di kamar mandi, namun hari ini, kata-kata itu tidak lebih dari sekadar sampah yang tidak berarti.

​Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman. Di sana, ia melihat bayangan dirinya di kaca. Seorang wanita yang tegak, mandiri, dan merdeka. Ia menyadari satu hal, ia tidak pernah butuh pengakuan dari keluarga itu. Kebahagiaannya tidak ditentukan oleh rahimnya, tapi oleh ketenangan jiwanya yang kini telah lepas dari racun bernama Indra.

​Gendis mengambil ponselnya, melihat ada sebuah pesan dari Baskara yang masuk beberapa menit yang lalu.

​"Aku dengar ada keributan kecil di rumahmu. Kamu baik-baik saja? Perlu aku kirim tim keamanan tambahan?"

​Gendis tersenyum tipis. Kali ini, ia membalasnya. "Aku baik-baik saja, Baskara. Sampah-sampah itu baru saja dibuang ke tempatnya. Terima kasih tawarannya, tapi aku bisa menangani mereka."

​Malam pun jatuh di Jakarta. Gendis duduk sendirian di ruang makan yang mewah, menikmati makan malamnya dengan tenang. Tidak ada lagi sindiran, tidak ada lagi kebohongan, dan tidak ada lagi beban untuk menjadi sempurna bagi orang-orang yang tidak pernah menghargainya. Kehancuran Indra adalah kemenangan yang pahit, namun baginya, itu adalah pintu menuju kehidupan yang sebenarnya.

1
Susilawati Arum
Up lagi dong thor..maaf kemaruk thor
Susilawati Arum
Terimakasih banyak author untuk update terbarunya
july: sama² kak, bntr lagi aku up lagi ya
total 1 replies
Susilawati Arum
Baru kali ini baca novel pemeran utama wanitanya terbaik pokoknya..Ter the best lah Gendis
Susilawati Arum
Ceritanya bagus banget...msh update nggak author
Ruby Jingga: update kak sorean dikit yaaa
total 1 replies
arniya
makin seru....
arniya
tunggu tanggal mainnya indra.....
arniya
mampir kak
Ruby Jingga: makasih kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!