Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Kabar Teman Lain
Tak lama, Beben datang bersama Astrid. Kala itu Astrid tampak membawa tas cukup besar karena berniat menginap di kantor polisi. Rangga benar-benar tak menyangka cewek itu akan mengikuti sarannya.
"Aku kira kau tak akan ke sini. Kau benar-benar nggak punya satu pun teman?" timpal Rangga.
"Kau tahu aku, Ga. Hanya orang tertentu yang bisa menjadi temanku. Jadi nggak masalahkan aku menginap di sini?" tanya Astrid.
"Kau nggak masalah tidur di penjara?" balas Rangga.
"Jadi kau benar-benar ingin aku tidur di penjara? Jahat banget sih!" sahut Astrid cemberut.
"Lalu kau mau tidur dimana? Di sini nggak ada ranjang. Ini kantor polisi, bukan hotel. Gimana kalau aku menelepon pamanmu, biar nanti dia jemput kau ke sini. Untuk sementara kau tinggal bersamanya dulu," saran Rangga.
"Aku? Tinggal di desa? Enggak! Gimana kerjaanku dong. Kau pikir aku nggak punya kerjaan?"
"Kau kerja?"
Astrid memutar bola mata jengah. Lalu memasang tatapan kesal sambil melipat tangan di dada. "Apa aku terlihat seperti pengangguran di matamu?"
"Mungkin..." Rangga tersenyum geli.
Astrid semakin cemberut. "Aku kerja loh! Aku dokter sekarang. Sebenarnya aku pengen kau mengetahuinya sendiri tanpa harus aku kasih tahu," ucapnya.
"Wah... Jadi kau sudah jadi dokter? Tercapai dong cita-citamu. Aku merasa senang mendengarnya," ungkap Rangga.
"Kau juga. Berhasil jadi polisi. Pas pertama kali melihatmu tadi, aku sangat senang." Astrid membalas.
"Apa kalian akan terus berdiri di sana? Aku sudah buatkan teh hangat nih," sergah Beben yang tampak meletakkan teko dan tiga gelas ke meja. Ia juga mengambil toples berisi biskuit untuk teman minum teh.
"Benar. Ayo masuk! Nanti kita pikirkan kau tidur dimana malam ini," ajak Rangga yang masuk ke kantor lebih dulu. Ia mempersilahkan Astrid duduk. Kemudian Rangga dan Beben ikut bergabung.
"Jadi saat memeriksa CCTV, apa kau merasa mengenali perawakan pelakunya?" tanya Rangga. Dia menyesap teh hangat agar pikirannya lebih rileks.
"Entahlah. Aku tidak bisa menebak. Perawakan orang itu terasa mirip tetangga dan rekan kerjaku itu. Aku bingung," jawab Astrid.
"Besok kami akan mencoba menemui dua orang yang kau curigai dan melakukan penyelidikan," sahut Beben.
"Makasih ya," ungkap Astrid. "Ngomong-ngomong, Ga. Gimana kabar yang lain? Ifan dan Junaidi?" lanjutnya. Ifan dan Junaidi sendiri adalah sahabat dekat Rangga saat di kampung dan masih sekolah. Kebetulan mereka diketahui juga akrab dengan Astrid.
"Mereka baik-baik saja. Junaidi udah jadi ustadz di kampung. Terus Ifan pergi merantau ke Jakarta, katanya dia kerja jadi admin di pabrik kecap," jawab Rangga.
"Syukurlah. Terus... Kak Dita?" Jujur saja, sebenarnya Astrid ingin menanyakan tentang Dita sejak awal bertemu Rangga. Dia penasaran apakah lelaki itu dan Dita berakhir bersama.
Rangga menggeleng sambil tersenyum kecut. "Kak Dita pergi... Aku rasa dia udah nggak mau ngurus aku," ungkapnya.
"Pergi? Kemana?" Astrid semakin penasaran.
"Aku lagi nggak mau bicarain ini. Oke? Kalian bicara aja dulu. Aku mau ke toilet." Rangga sengaja pergi karena dirinya memang tak mau membahas tentang Dita. Jika dia membicarakan perempuan itu lagi, maka hanya ada Rangga semakin rindu.
Ponsel Rangga mendadak bergetar. Dia mendapat pesan dari janda di sebelah rumahnya. Sebenarnya Septi cukup sering mengirimi Rangga pesan. Namun Rangga hanya membalas singkat karena menurutnya pesannya tidak terlalu penting.
'Kau nggak pulang hari ini, Dek?' Itulah isi pesan terbaru dari Septi. Saat itulah Rangga terpikirkan sesuatu.
"Benar! Mbak Septi katanya nyari orang yang mau sewa salah satu kamarnya. Astrid bisa tinggal bersamanya untuk sementara," gumam Rangga.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄