NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sejak pengakuan Arkan, Nara tahu satu hal dengan pasti yaitu Arkan jatuh cinta padanya.

Dan justru karena itulah, semuanya terasa berubah.

Nara tidak lagi sebebas sebelumnya.

Nara jadi lebih sering menunduk, lebih banyak berpikir sebelum berbicara, dan tanpa sadar menjaga jarak. Padahal Arkan tidak pernah berubah sikap. Tetap perhatian, tetap tenang, tetap memperlakukannya dengan cara yang sama. Namun perasaan seseorang, ketika sudah diketahui, selalu mengubah sudut pandang. Terutama bagi Nara.

Pagi harinya, saat Nara bersiap ke kampus dengan tas sederhana di bahunya, Arkan sudah berdiri di dekat pintu.

“Mobil sudah siap,” kata Arkan singkat.

Nara berhenti melangkah.

“Pak, saya bisa jalan kaki seperti biasa.”

Arkan menoleh, alisnya sedikit terangkat.

“Tidak.” Nada suaranya datar, tapi final.

“Saya tidak mau merepotkan,” Nara mencoba menjelaskan. “Saya sudah terbiasa sendiri.” jelas Nara.

“Dan mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan saya,” jawab Arkan tanpa ragu.

Kalimat itu membuat Nara terdiam.

Mobil hitam mengkilap menunggu di depan rumah, sopir sudah berdiri rapi. Pemandangan yang membuat Nara merasa tidak pantas.

“Pak Arkan,” ucap Nara akhirnya, memberanikan diri,

“Kalau soal antar jemput, bagaimana kalau Bapak belikan saya motor matic saja? saya bisa ke kampus sendiri.” Nara mencoba menegosiasi.

Arkan menatap Nara cukup lama.

“Tidak.” Jawaban Arkan tetap sama.

“Kenapa?” tanya Nara pelan.

“Karena saya tidak mau,” jawab Arkan jujur.

“Dan karena keamanan kamu lebih penting daripada rasa tidak enakmu.” lanjut Arkan.

Nara menghela napas.

“Orang-orang akan bicara yang aneh-aneh.” kata Nara.

“kalau mereka memang mau bicara, mereka seharusnya sudah bicara sejak kamu tinggal di rumah ini,” balas Arkan tenang.

“Dan perlu kamu ingat, saya tidak hidup untuk menenangkan asumsi orang.” lanjut Arkan.

Nara menggigit bibirnya. “Saya tidak nyaman,” ujar Nara jujur.

“Saya merasa berbeda. kalau seperti ini saya merasa bukan diriku sendiri.” jawab Nara.

Arkan melangkah mendekat, menjaga jarak secukupnya.

"Saya tidak meminta kamu berubah,” kata Arkan lebih lembut.

“Saya hanya memastikan kamu aman.” kata Arkan.

“Saya bukan anak kecil,” suara Nara sedikit bergetar.

“Saya tahu,” jawab Arkan. “Justru karena itu aku menjaga kamu.” lanjut Arkan tidak mau kalah.

Kalimat itu membuat dada Nara terasa sesak dengan perasaan yang tidak bisa ia beri nama.

Akhirnya, dengan langkah berat, Nara masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi belakang, menatap jalan yang biasa ia lalui dengan cara berbeda. Tidak lagi dengan keringat dan perjuangan, melainkan dengan kenyamanan yang terlalu mewah untuknya.

Di kampus, tatapan-tatapan mulai terasa.

Mobil yang membawa Nara terlalu mencolok.

Sopir yang membawa Nara terlalu resmi. Dan Nara terlalu sederhana.

Saat mobil berhenti, Nara turun dengan kepala tertunduk.

“Terima kasih,” ucap Nara pelan.

Arkan, yang ikut turun sebentar, berkata “Nanti saya jemput.”

"Saya bisa pulang sendiri,” Nara refleks menolak.

Arkan menatap Nara, kali ini lebih tegas.

“Tidak.”

Nara mengangguk pasrah.

Saat mobil kembali melaju, Nara berdiri diam di depan gerbang kampus. Untuk pertama kalinya, ia merindukan hidupnya yang sulit namun sederhana. Di satu sisi, ia bersyukur. Di sisi lain, ia takut.

Takut kalau perasaan Arkan akan menyeretnya terlalu jauh ke dunia yang bukan miliknya. Dan lebih takut lagi kalau tanpa sadar, hatinya mulai nyaman berada di sana.

***

Sedangkan di rumah Arkan, Indah bergerak ke sana kemari dengan langkah sigap, seolah rumah Arkan adalah pusat logistik sebuah acara besar. Kotak-kotak berjejer rapi di ruang tamu, ada yang berlapis kain beludru, ada yang dibungkus kertas eksklusif dengan pita tebal. Aroma bunga segar memenuhi udara.

Nara berdiri di tengah ruangan itu, mematung. Nara yang baru pulang dari kampus merasa heran dengan apa yang sedang terjadi.

Nara menelusuri satu per satu barang yang terus berdatangan. Tas bermerek. Kain-kain mahal. Kotak perhiasan yang bahkan belum dibuka pun sudah terasa berat nilainya. Beberapa hampers makanan premium tersusun rapi, seolah siap dipamerkan.

“Ini semuanya untuk orang tua saya?” tanya Nara pelan, nyaris tak percaya.

Indah berhenti sejenak, menoleh sambil tersenyum puas.

“Iya. Besok kita langsung ke rumah orang tuamu. Ibu ingin menjelaskan semuanya dengan baik dan terhormat.”

Nara menelan ludah. Dadanya terasa sesak.

“Bu,” Nara memberanikan diri bicara, “sepertinya ini terlalu berlebihan.”

Indah langsung menggeleng, tegas namun tidak kasar.

“Tidak. Ini justru sudah sepantasnya.”

“Tapi keluarga saya sederhana,” lanjut Nara lirih.

“Ayah dan ibu saya tidak pernah menerima hal seperti ini. Saya takut mereka malah merasa terbebani.”

Indah melangkah mendekat, menatap Nara dengan sorot mata penuh keyakinan.

“Justru karena itu, Nara. Ibu ingin mereka tahu satu hal, bahwa kamu datang ke keluarga kami bukan sebagai siapa-siapa, tapi sebagai calon menantu yang dihargai.”

Nara terdiam. Indah menggenggam tangan Nara lembut.

“Kamu mungkin merasa kecil, tapi di mata ibu, kamu berharga. Arkan tidak pernah berubah karena banyak hal, Nara. Tapi sejak kamu datang, dia berubah. Itu tidak bisa dibeli dengan uang.”

Nara menunduk. “Aku tidak ingin orang tua saya merasa terintimidasi.”

Indah tersenyum tipis.

“Ibu yang akan bicara. Ibu yang akan berdiri di depan. Kamu cukup berdiri sebagai dirimu sendiri.”

Kotak terakhir diletakkan di lantai. Jumlahnya membuat Nara hampir kehilangan napas.

“Bu…” suara Nara bergetar,

“Saya ke luar kota itu untuk kuliah. Aku tidak pernah membayangkan sampai sejauh ini.”

Indah menatapnya lama, lalu berkata pelan,

“Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Tapi bukan berarti jalan yang datang itu salah.”

Nara memejamkan mata sejenak. Di hadapannya, masa depan terasa terlalu cepat. Terlalu besar. Terlalu megah.

Dan untuk pertama kalinya, Nara benar-benar menyadari, ia hanyalah gadis biasa yang datang dengan ransel lusuh dan mimpi kecil. Tapi sekarang Ia sedang dipersiapkan untuk menjadi istri Arkan.

"Pokoknya sesuai rencana saja, menikah disini, nanti keluarga kamu yang datang kesini."kata Indah.

Nara menatap Arkan meminta pendapat, dan tentunya Nara bingung, dia tidak dimintai pendapat, apakah dia mencintai Arkan atau tidak, intinya Arkan bilang cinta Nara, maka Nara harus menurut.

"Tapi.."

"Tidak ada tapi-tapian, intinya usia kamu sudah cukup untuk menikah, dan kamu tenang saja, Arkan tidak akan menghalangi kuliah kamu dan tidak akan menghalangi karir kamu, yang ada Arkan malah akan mendukung kamu, Ibu pastikan kamu bakal bersinar di dunia fashion."

Nara diam, memang semuanya sangat menjanjikan, memiliki suami Arkan yang tampan dan kaya raya, apalagi memiliki ibu mertua yang mendukungnya dan menjanjikan kalau dia akan bersinar di dunia fashion, tetapi Nara hanya berpikir ini sebuah pernikahan yang seharusnya tidak untuk main-main, dan Nara menginginkan kehidupan pernikahan yang sesuai dengan mimpinya, bukan pernikahan yang tiba-tiba seperti ini.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!