Aarav Elias Kayler terbangun di sebuah dunia yang tak dikenal, tanpa ingatan apapun tentang dirinya. Semua yang dia tahu adalah bahwa dunia ini dipenuhi dengan sihir, dan dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ketika mencoba menggunakan sihir, tak ada hasil yang muncul, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.
Namun, tak lama setelahnya, Aarav menemukan sebuah rumah tua yang misterius, yang mengarah pada sebuah kejadian tak terduga yang mengubah segalanya. Di dunia yang penuh dengan rahasia dan kekuatan yang belum ia pahami, Aarav harus menghadapi takdir yang tersembunyi di balik masa lalunya yang terlupakan.
Dengan tekad untuk menguasai dunia sihir dan meraih kekuatan yang selama ini hilang, Aarav harus menavigasi sebuah dunia yang penuh dengan bahaya, misteri, dan konflik. Apakah dia akan menemukan jalan menuju kekuasaannya, atau justru terjerumus dalam kekuatan yang tak dapat ia kendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: System Mulai Terlihat di Aarav
Di dalam kastil yang sangat amat megah dan besar, seorang raja duduk di singgasananya. Dengan jubah sihir berwarna kemerahan yang sangat elegan, dan juga mahkota berwarna emas yang sangat amat megah.
Dia duduk, kakinya di taruh di atas satu kaki lainnya. Wajahnya datar, dialah raja Dearwin. Raja paling hebat sepanjang masa kerajaan Twier Agrav, raja yang hampir menjadi Geos pada tahun ke 2000.
Dialah sang pengusaha di wilayah Timur, kerajaan-kerajaan kecil yang ada di wilayah Timur. Mereka semua tunduk pada kerajaan Twier Agrav, terutama pada Dearwin dengan kemampuannya yang seperti seorang Geos.
Setiap tahunnya, seluruh kerajaan yang ada di wilayah Timur mengirimkan upeti pada kerajaan Twier Agrav. Mereka mengirim upeti bukan karena takut, tapi karena segan pada kerajaan yang sangat besar ini.
Walaupun sudah diberikan upeti oleh kerajaan-kerajaan lainnya, raja Dearwin tetap mengambil upeti dari desa-desa di kerajaannya sendiri dan tentu saja dengan jumlah upeti yang sangat tidak masuk di akal sehat.
Terutama di desa Fortuner, desa ini harus mengirimkan upeti dengan jumlah yang sangat besar setiap tahunnya. Karena desa ini adalah pemasok buah terbesar untuk kerajaan Twier Agrav.
Keesokan harinya, di desa Fortuner. Di dalam rumah Nuril.
Aarav yang tidur di dalam kamarnya sendiri, dia bangkit dengan perasaan yang tidak enak. Dan ada sesuatu yang berubah dari dirinya, yaitu mata biru milik Aarav tiba-tiba ada simbol aneh yang muncul saat dia pertama kali membuka matanya. Lalu menghilang sepersekian detik kemudian.
Dengan mata yang masih kantuk, "Mimpi aneh, bagaimana bisa aku ada di dalam sebuah arena sihir. Lalu tiba-tiba seseorang turun dari langit!! Aneh bangett!!!" ucap Aarav lirih.
Saat Aarav yang tengah berpikir tentang mimpinya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk beberapa kali.
"Aarav!! Bangun!!" suara Nuril dari luar kamar Aarav.
Aarav menoleh ke pintu kayu itu, dan secara aneh. Pintu kayu itu tiba-tiba terbuka sendiri saat Aarav menoleh ke pintunya, saat pintu terbuka. Dia langsung melihat Nuril yang berdiri di depan pintu.
Aarav terkejut saat pintunya terbuka sendiri, begitupun dengan Nuril, "Kok bisa?!" batin Aarav.
"Hebat ya... Udahh, kamu mandi sana!! Nanti aku cuci jubah kamu!!" ujar Nuril.
"Mandi? Aku nggak punya baju ganti!!" seru Aarav.
Nuril pergi, lalu kembali dengan membawa satu set pakaian laki-laki biasa. Seperti kaos polos dan celana pendek, "Nih," ucapnya sambil meletakkan pakaian itu di tempat tidur Aarav.
"Okey," ujar Aarav saat melihat pakaian itu.
Aarav mandi, mengganti jubah sihirnya yang megah jadi hanya sebuah kaos polos yang tidak terlalu mencolok.
Aarav duduk di depan rumah, saat dia sedang melamunkan sesuatu. Tiba-tiba kesadarannya menghilang, dia langsung tertidur dengan posisi duduk di kursi.
Di dalam alam bawah sadar Aarav.
Aarav duduk di sebuah singgasana yang sangat amat megah, jubah sihir yang ia kenakan juga sangat megah. Dia duduk di singasananya, dengan tiga orang bersujud di depannya.
Ketiga orang itu seperti para raja, mereka memakai mahkota yang menawan, dan jubah yang sangat indah.
"BUNUH SEMUANYA, TANPA TERKECUALI!!" ucap Aarav sambil tersenyum, dengan mata berwarna biru yang menyala. Dan juga sebuah aura berwarna ungu di belakang singasananya.
Ketiga orang itu berdiri, dan langsung menghilang seketika saat sudah menerima perintah dari Aarav itu.
Nuril keluar dari rumah, dan heran saat melihat Aarav yang tertidur di kursi. Dia lalu mencoba membangunkannya, "Aarav!!" ucap Nuril.
Dan tiba-tiba, Aarav bangun dari tidurnya.
"Bisa-bisanya tidur lagi, ini udah hampir siang!!" ujar Nuril yang heran.
"Tidur? Nggak!! Dari tadi mataku kebuka, aku melamun!!" ucap Aarav yang merasa dirinya tidak tertidur.
Nuril menggaruk kepalanya, "Cih, aneh!!"
Nuril menarik tangan Aarav, "Daripada tidur lagi, mending bantuin aku di ladang!!" ucap Nuril.
Aarav memalingkan wajahnya, "Iya, aku bantuin!!" seru Aarav yang hanya bisa pasrah saat diminta membantu.
Mereka berdua pergi ke ladang, saat di ladang. Aarav terkejut saat melihat hamparan ladang yang luas dan ditanami oleh buah apel dan strawberry.
"Ladang kamu?!" tanya Aarav.
"Bukan, aku kerja di sini!!" ujar Nuril.
"KERJA?! Kamu... Budak?!" tanya Aarav yang penasaran.
"Ya, bisa dibilang!!" ujar Nuril.
Saat mereka berdua tengah mengobrol, tiba-tiba seseorang datang, "HEH!! SUDAH DATANG SIANG, BUKANNYA LANGSUNG KERJA!!" ucap pria yang memarahi Nuril itu.
Nuril menundukkan kepalanya, "Maaf, Pak!!" ucapnya.
Pria itu terlihat sangat kesal, "Maaf... Sudah sering, diulang terus!!" ucapnya. Tiba-tiba, tangan kanannya mencoba untuk memukul Nuril yang ada di hadapannya.
Aarav yang ada di sampingnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, saat tangan kanan pria itu hampir menyentuh Nuril. Tiba-tiba tubuh pria itu terangkat beberapa meter dari tanah.
"AHHH!!" teriak pria itu.
Nuril menoleh ke Aarav, "Aarav? Kamu yang lakuin?!" tanya Nuril.
Aarav menoleh ke Nuril, "Hah?!" ucapnya yang juga kebingungan.
"Turunkan!!" mohon pria itu.
Aarav dan Nuril menoleh ke atas, terlihat aura berwarna ungu menyelimuti tubuh pria itu. Dia terangkat beberapa meter, mungkin hampir lima atau tujuh meter dari tanah.
Aarav coba menyesuaikan dirinya dengan apa yang terjadi, "Aku turunkan jika bapak tidak melakukan hal seperti itu lagi!!" ujar Aarav. Walaupun dia sebenarnya juga tidak memahami apapun.
"Baik!!! Baik!!! Aku tidak akan melakukannya lagi!!" ucap pria itu.
Saat selesai mengucapkan kalimatnya, aura ungu yang menyelimuti tiba-tiba hilang seketika. Membuat tubuh pria itu jatuh ke tanah dengan sangat keras, terlebih dengan ketinggian yang agak tinggi dari tanah.
Tubuhnya menghantam tanah dengan keras, tapi beruntung dia bisa langsung berdiri lagi. Dan menghadap ke depan Aarav, walaupun dengan tubuh yang sangat kesakitan.
Pria itu memperhatikan Aarav yang memakai baju sederhana, "Tunggu... Bukannya kamu, ahh... Penyihir tingkat S yang membantu wanita itu!!" ucapnya.
Saat menyadari itu, pria itu langsung berlutut di depan Aarav, "Maaf, maaf kan aku tuan. Aku tidak tau jika perempuan ini adalah teman tuan!!" ucap pria itu.
Tatapan mata Nuril langsung jijik saat melihat pria itu berlutut di depan Aarav, "Aarav, coba kamu berpura-pura jadi kayak tuan asli!!" bisiknya ke Aarav.
Aarav tersenyum saat mendengar itu, "Berdiri, aku akan memaafkan mu. Tapi, berikan perempuan ini 10 meter dari tanah yang kau miliki!!" ucap Aarav sambil sedikit menahan tawa.
Nuril terkejut dengan apa yang diucapkan Aarav, dan tentu saja pria itu sangat terkejut.
Wajah pria itu kebingungan, "Maaf, tuan. Daripada tanah, apa boleh hanya koin emas saja?!" tawar pria itu.
Aarav menoleh ke Nuril, "Gimana?!" tanya Aarav.
"Iya, koin emas saja!!" ucap Nuril.
Aarav kembali menatap ke pria yang berdiri di depannya itu, "Baiklah, berikan dia koin. Sejumlah 20 koin emas!!" ucap Aarav.
"Banyak sekali tuan? Tapi, akan aku berikan!!" ujar pria itu.
Pria itu langsung berlari mengambil koin yang diminta Aarav itu, sementara Nuril terkejut dengan permintaan Aarav yang aneh.
"Ngaco, itu banyak banget!!" ucap Nuril.
Aarav tersenyum, "Nggak papa, buat buka usaha kecil!!" serunya.
Pria itu datang lagi, sambil memberikan sekantong penuh koin emas yang diminta. Lalu Aarav dan Nuril pergi dari sana, tak lupa mereka juga mengucapkan terima kasih pada pria itu.
Bersambung...