Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Rangga mengunyah lumpia itu perlahan, namun sesekali wajahnya berkerut.
Tangannya yang sebelah lagi menekan ulu hati, mencoba meredam rasa melilit yang kian menjadi.
Meski mulutnya mengecap rasa gurih, perutnya yang kosong sejak kemarin sore seolah sedang protes besar-besaran.
"Belum sarapan?" tanya Linggar datar, namun matanya tak bisa menyembunyikan kilat pengamatan yang tajam.
Rangga menelan suapan terakhirnya lalu menggelengkan kepala perlahan.
"Semalam aku makan di rumah Pak Richard, tapi, tidak banyak. Pikiranku sedang ke mana-mana," ucapnya dengan suara serak, melirik tipis ke arah Linggar.
Linggar mendengus pelan, seolah tidak habis pikir dengan pria di depannya ini.
Ia membuka tas ransel kecilnya, mengeluarkan sebuah kotak makan plastik berisi nasi putih dengan lauk ayam goreng dan tumis sayur yang masih tertata rapi.
"Makan ini. Habiskan," ucap Linggar sambil menyodorkan kotak makan dan sendok plastik ke arah Rangga.
Rangga tertegun melihat bekal yang seharusnya menjadi jatah makan siang Linggar kini berpindah tangan kepadanya.
"Tapi ini kan jatah makan siangmu, Linggar. Nanti kamu lapar."
"Aku masih punya kue kering. Cepat ambil," paksa Linggar.
"Kamu itu CEO perusahaan besar, pemilik jaringan gym ternama, tapi tidak menjaga kesehatan sendiri. Lucu sekali. Bagaimana mau mengurus ribuan karyawan kalau mengurus perut sendiri saja tidak becus?"
Sindiran Linggar terasa pedas, namun Rangga justru merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya.
Ia menerima kotak makan itu dan mulai menyuap nasi ke mulutnya.
Rasanya jauh lebih nikmat daripada menu restoran bintang lima manapun yang pernah ia santap di Jakarta.
"Maaf, aku memang kacau belakangan ini," gumam Rangga di sela makannya.
"Memang," sahut Linggar singkat.
Ia menyandarkan punggungnya di batang pohon beringin, menatap langit.
"Jangan sampai pingsan di sini. Fabian dan Pak Richard akan segera kembali, dan aku tidak mau mereka melihatmu dalam kondisi mengenaskan begini. Itu memalukan."
Rangga hanya bisa tersenyum kecut sambil terus menghabiskan bekal pemberian Linggar.
Di bawah pohon itu, untuk sesaat, hiruk-pikuk persaingan dengan Fabian seolah menghilang, digantikan oleh sisa-sisa perhatian yang membuat Rangga merasa masih memiliki harapan.
Meski perutnya sudah terisi, rasa nyeri yang hebat justru semakin menjadi.
Wajah Rangga berubah pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Ia meringis kesakitan sambil melipat tubuhnya, mencoba menahan ulu hatinya yang terasa seperti ditusuk-tusuk sembilu.
"Ngga? Kamu kenapa?" Linggar mulai panik melihat perubahan drastis pada wajah mantan bosnya itu.
"Hanya sakit maag. Sepertinya sudah akut," rintih Rangga dengan suara yang hampir habis.
Melihat kondisi Rangga yang memprihatinkan, Linggar tidak punya pilihan lain.
Ia segera merogoh tasnya dan mengeluarkan botol kecil minyak kayu putih yang selalu ia bawa.
"Buka sedikit kemejamu," perintah Linggar. Rangga menurut dengan lemas.
Linggar menuangkan minyak ke telapak tangannya dan mulai mengoleskannya ke perut Rangga dengan gerakan memutar yang lembut.
Rangga memejamkan mata, merasakan kehangatan minyak itu meresap ke kulitnya. Namun, yang lebih menenangkan adalah sentuhan tangan Linggar yang sudah sangat ia rindukan.
"Isi tasmu, selalu lengkap ya," gumam Rangga pelan, mencoba mengalihkan rasa sakitnya dengan pembicaraan kecil.
"Sama seperti dulu saat kita masih di Jakarta. Kamu selalu punya segalanya untukku."
Linggar tidak menjawab. Ia fokus memijat lembut perut Rangga agar gas di dalamnya berkurang.
Saat itulah, Rangga membuka matanya dan menatap wajah Linggar dari jarak yang sangat dekat. Mata mereka bertemu.
Suasana di bawah pohon besar itu mendadak hening, hanya ada suara desir angin perbukitan.
Rangga menatap bibir Linggar, lalu beralih ke matanya yang bening.
Ia seolah terseret kembali ke masa lalu, ke saat-saat ia belum menghancurkan segalanya.
Wajah mereka semakin mendekat, Rangga perlahan memajukan kepalanya seolah ingin mencari jawaban atas kerinduannya.
Tepat saat jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter, Linggar tersadar.
Ia segera mengalihkan wajahnya ke arah lain, memutus kontak mata yang terlalu intim itu.
Ia menutup botol minyak kayu putihnya dengan gerakan cepat.
"Sudah. Harusnya itu sedikit membantu," ucap Linggar dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menutupi kegugupannya.
Ia berdiri dan merapikan pakaiannya. "Istirahatlah dulu di sini. Jangan banyak bergerak sampai Pak Richard dan Fabian kembali."
Rangga hanya bisa menarik napas panjang, merasakan sisa hangat tangan Linggar di perutnya.
Ia tahu, meskipun Linggar merawatnya, wanita itu masih membangun tembok yang sangat tinggi untuk ia lalui.
Langkah kaki Pak Richard dan Fabian yang mendekat memecah keheningan di bawah pohon beringin itu.
Pak Richard langsung menghentikan langkahnya saat melihat wajah Rangga yang sudah sepucat kertas, dengan butiran keringat dingin yang masih membasahi pelipisnya.
"Loh, Rangga? Kamu kenapa?" tanya Pak Richard panik sambil menghampiri Rangga.
Fabian berdiri beberapa langkah di belakang, menyilangkan tangan di dada sambil mencibir.
Matanya menangkap botol minyak kayu putih di tangan Linggar dan posisi duduk mereka yang canggung.
"Akal-akalan mungkin, Pak. Biar dapat perhatian lebih," sindir Fabian pedas.
"Biasanya orang kota kalau kena panas sedikit langsung drama."
Linggar menatap Fabian dengan tajam, merasa tidak suka dengan tuduhan itu.
"Ini bukan drama, Fabian. Dia sakit maag akut. Wajahnya tidak bisa bohong."
Pak Richard segera memegang dahi Rangga. "Badannya dingin sekali. Kita tidak bisa lanjut tinjau lokasi. Fabian, bantu saya bopong Rangga ke mobil!"
Meskipun dengan wajah dongkol dan bersungut-sungut, Fabian terpaksa membantu Pak Richard memapah saingannya itu.
Di dalam mobil, suasana berubah menjadi sangat tegang.
Pak Richard melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan perbukitan menuju pusat kota.
"Tahan sebentar ya, Ngga. Kita langsung ke Rumah Sakit di Yogyakarta," ucap Pak Richard sambil sesekali melirik spion.
Rangga hanya bisa bersandar lemas di kursi, matanya terpejam menahan rasa melilit yang luar biasa.
Sementara itu, Linggar yang duduk di kursi belakang hanya bisa menatap punggung Rangga dengan perasaan yang campur aduk antara cemas, kasihan, dan sisa-sisa kemarahan yang mulai memudar.
Lampu neon koridor rumah sakit berpendar pucat, senada dengan wajah Rangga yang kini sudah terbaring di atas brankar.
Setelah pemeriksaan singkat di UGD, dokter mengonfirmasi bahwa maag akutnya telah memicu peradangan lambung yang cukup serius akibat stres dan pola makan yang berantakan.
"Dia harus rawat inap paling tidak dua malam untuk observasi dan pemulihan cairan," ujar Dokter dengan tegas.
Pak Richard menatap jam tangannya, lalu beralih ke Linggar.
"Linggar, tolong temani Rangga sebentar di sini ya? Saya harus mengurus administrasi dan memberikan jaminan di depan. Fabian, kamu ikut saya?"
Fabian, yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan dengan wajah masam, tiba-tiba melangkah maju.
"Pak Richard urus administrasi saja. Biar saya yang urus kenyamanan Pak Konsultan ini."
Ia menatap Rangga dengan pandangan yang sulit diartikan—antara benci dan gengsi yang terluka. Ia kemudian berpaling ke arah Linggar.
"Linggar, kamu tidak perlu repot-repot menjaganya sendirian. Aku akan mencarikan perawat pribadi terbaik di rumah sakit ini untuk menjaga dia 24 jam. Jadi kamu bisa tetap fokus pada proyek kita."
Linggar terdiam. Ia tahu maksud Fabian baik—atau setidaknya, Fabian ingin menjauhkan dirinya dari Rangga. Namun, melihat tangan Rangga yang lemas dan matanya yang masih terpejam menahan sisa nyeri, Linggar merasa ada tanggung jawab moral yang mengikatnya.
"Terima kasih tawaranmu, Fabian," ucap Linggar tenang.
"Tapi untuk saat ini, biarkan aku di sini sampai Pak Richard kembali. Perawat pribadi bisa kita cari nanti kalau kondisinya sudah stabil."
Fabian mendengus halus, tangannya terkepal di saku celana.
"Baiklah. Aku akan cari perawat itu sekarang. Aku tidak ingin asistenku kelelahan hanya karena menjaga orang yang bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri."
Fabian melangkah pergi dengan langkah lebar, meninggalkan suasana hening di kamar perawatan kelas satu itu.
Hanya ada suara detak jarum jam dan deru pelan AC.
Linggar duduk di kursi samping tempat tidur. Ia memperhatikan selang infus yang tertancap di tangan Rangga.
Pria yang dulu begitu dominan dan tak tersentuh di Jakarta, kini tampak begitu rapuh di hadapannya.
"Kenapa kamu harus sampai begini, Ngga?" bisik Linggar sangat pelan, hampir tak terdengar.
Tiba-tiba, jemari Rangga bergerak pelan, seolah mencari sesuatu untuk digenggam.